
...Author point of view....
Jessie menatap tangannya yang di cekal cukup erat oleh Troy. Troy mengunci pintu kamarnya, membuat Jessie bergidik ngeri membayangkan Troy akan memarahinya.
Troy melepaskan cekalan tangannya pada Jessie. Lalu ia berdiri di hadapan wanita itu. Jelas sekali perbedaan tinggi mereka yang sangat kontras. Jessie tak berusaha untuk mendongak menatap Troy, jadilah pandangannya jatuh pada dada bidang Troy. Sedangkan mata Troy, tak lepas menatap Jessie dalam.
“Emang kenapa kalo nafsu Mas tinggi? Mas bakalan bercinta sama Efsun gitu?” tanya Troy tanpa basa-basi. Ia tak merasa malu membahas hal ini, karena Jessie lah yang membuatnya harus bersikap jujur.
Jessie membuang wajahnya ke samping, ia panas mendengar hal itu. Namun kembali lagi, dirinya bukan siapa-siapa bagi Troy. Jessie merasa dirinya tak memiliki hak apapun untuk cemburu pada pria itu.
“Nggak tau, bukan urusan aku.” jawab Jessie ketus. Mendengar hal itu, Troy tersenyum dalam hatinya.
“Masa sih bukan urusanmu? Terus tadi kenapa ngomong gitu?” tanya Troy lagi, berusaha memojokkan Jessie lewat pertanyaannya.
“Nggak, aku cuma asal bicara aja.” balas Jessie acuh tak acuh. Sungguh ia menahan dirinya yang ingin berteriak pada Troy, bahwa sebenarnya ia sangat-sangat cemburu.
“Oh gitu, yaudah jadi nggak mau Mas jujur?” Troy mengangguk-anggukkan kepalanya. Jessie langsung mendongak cepat,
“Aku mau Mas jujur. Tapi aku nggak berhak tahu, itu bukan hak ku. Aku bukan siapa-siapa kamu.” jawab Jessie jujur. Tanpa wanita itu sadari, intonasi nadanya merendah di akhir kalimat.
“Kamu ini gimana sih. Kamu bilang kamu bukan remaja labil lagi. Tapi kamu nggak bisa baca cara Mas perhatiin kamu. Sebelumnya Mas nggak pernah kaya gini sama siapapun. Mas nggak pernah mesumin orang, Jessie. Kalo Mas mau, Mas bisa aja langsung nyoba sana sini. Apalagi kamu bilang nafsu Mas itu gede.” ujar Troy mulai tak bisa bersabar. Ia tak ingin Jessie menganggap bahwa wanita itu tak memiliki hubungan apa-apa dengan dirinya.
__ADS_1
“Tapi Mas nggak pernah lakuin itu semua, karena Mas ngerasa berselingkuh di belakang kamu kalo sampai ada wanita lain yang berhubungan sama Mas. Mas emang tinggal satu rumah sama Efsun, tapi hubungan kami nggak lebih. Nggak ada yang spesial. Efsun menyayangi Nessie, begitu juga dengan Mas.” lanjut Troy jujur. Ia tak ingin Jessie berpikir buruk tentangnya.
“Kalo Mas lagi pengen, ya kamu yang jadi objek fantasi Mas. Iya, Mas emang kurang ajar 'kan.” Troy menatap arah lain saat mengatakan hal itu. Ia sudah mengungkapkan rahasia besar tentang dirinya, yang selalu menjadikan foto-foto Jessie sebagai objek fantasi ketika libidionya sedang menaik.
Jessie membuka kedua belah bibirnya ke atas. Ia sangat terkejut dengan penuturan Troy barusan. Matanya hampir saja mau keluar karena Troy mengatakan hal itu. Troy menghembuskan nafasnya kasar, ia mengacak rambutnya frustasi.
“M-mas serius?” tanya Jessie gugup. Troy merengkuh pinggang Jessie kuat. Ia menarik pinggang Jessie agar tubuh wanita itu menempel padanya.
“Serius. Mas serius, Sayang. Mas nggak pernah bisa lepas dari bayang-bayang kamu. Nggak pernah. Sekarang justru Mas takut kamu ninggalin Mas lagi.” ujar Troy lemah. Ia lesu membayangkan jika Jessie akan pergi kembali dalam hidupnya.
Jessie langsung menggeleng. Ia merangkum wajah Troy dengan telapak tangannya. “Maafin aku ya, Mas. Udah salah sangka terus.” Jessie menatap Troy sendu, Troy menggelengkan wajahnya enggan.
“Nggak, Sayang. Kamu wajar cemburu. Tapi kalo cemburu itu bilang dong, jangan ngomong mau pergi dari Mas. Jangan bilang juga kalo kamu nggak berhak atas diri Mas. Dengerin ya, Sayang..” Troy menggantungkan ucapannya. Jessie terperangah mendengar nada lembut yang keluar dari bibir Troy.
“Tadi aku nggak sengaja liat pesan dari Efsun. Maafin aku, aku nggak bermaksud lancang. Aku nggak sengaja liat, terus jadi kepikiran.” ujar Jessie menjauhkan tangannya dari pipi Troy. Ia merasa malu karena sudah berani cemburu tanpa alasan yang kuat.
“Terus aku liat Mas namain kontak Efsun pake Buna'. Manis banget, Mas. Kalo di lihat-lihat kalian emang cocok.” lanjut Jessie kembali tenggelam pada pikirannya. Jessie turunkan tangan Troy yang berada di pinggangnya.
“Jessie...” panggil Troy begitu laki. Nada suaranya yang menyiratkan ketegasan tak berhasil membuat Jessie takut padanya.
“Mas, maafin aku cemburu gini.” ujar Jessie cepat. Dengan raut wajahnya yang menyesal.
__ADS_1
“Jadi kamu menyesal udah cemburuin pria tua ini. Iya?” tanya Troy menyelidik. Jessie menggeleng cepat, ia ingin merajuk karena menyadari Troy mulai mengingatkan perbedaan umur di antara mereka.
“Ih enggak gitu, Mas.” cicit Jessie menunduk dalam. “Aku cuma sadar posisiku sekarang.” lanjut Jessie semakin menundukkan wajahnya.
Troy mengehela nafas panjang, ia selipkan beberapa helai rambut yang berantakan ke balik telinga wanita itu. “Jessie, Mas namain kontak Efsun pakai Buna' itu karena Nessie sering mainin ponsel aku. Dia sering telfon Efsun kalo aku bawa ke kantor. Biar Nessie nggak bingung, jadi aku namain itu. Jangan salah paham, Sayang.” ujar Troy menjelaskan dengan sabar.
Perlahan wajah Jessie terangkat, menatap Troy dengan wajahnya yang terlihat memerah. “Beneran?” tanya Jessie memastikan. Troy mengangguk mantap.
“Jangan ngomongin soal posisi kalau kamu masih nggak sadar seberapa besar rasa cinta Mas untuk kamu. Di hati Mas, disini ada Lauryn dan Nessie.” ujar Troy membawa tangan Jessie kedalam genggamannya. Troy taruh tangan Jessie itu di atas dadanya.
“Lalu disini, ada kamu. Kamu yang paling spesial. Dari dulu hanya ada kamu, kamu, kamu.” lanjut Troy menggeser tangan Jessie ke samping kiri dadanya.
Perlahan kedua sudut bibir Jessie terangkat. Sudut bibirnya berdenyut tak bisa menahan senyuman. Jessie tersenyum manis mendengar hal itu. Troy seperti melihat Nessie di hadapannya, wajah lugu wanita di depannya seketika membuat Troy ingat bagaimana wajah lugu Nessie saat menatapnya.
Troy juga ingat, bagaimana sikap angkuh Nessie yang kadang gadis kecil itu tunjukkan. Mirip sekali dengan Jessie dulu, Jessie yang benar-benar angkuh dan sombong. Berbeda sekali dengan Jessie yang kini berada di hadapannya.
“Nikah yuk, Sayang. Besok ya?” tawar Troy tak main-main. Mata Jessie membulat terkejut, lamaran macam ini. Tidak ada romantis-romantisnya.
“Mas serius, Jessie. Mas nggak pengen kamu pergi lagi dari hidup Mas. Mas nggak main-main soal pernikahan, Mas mau nikah sama kamu. Kita nikah disini dulu, nanti resepsi bisa di adakan belakangan.” ujar Troy berusaha meyakinkan Jessie.
“I-iya.” jawab Jessie tak dapat menolak. Ia sangat mencintai Troy, rasa tidak ingin kehilangan Troy juga hinggap di hatinya.
__ADS_1
“Yes!!” Troy berteriak keras. Ia merasa senang karena Jessie mau menerimanya. Walau harus dengan paksaannya terlebih dahulu.
...Author point of view off....