
...Author point of view....
Troy kembali ke Amsterdam hari ini. Ia merasakan hangat di hatinya, membuat moodnya kini kian membaik. Setelah semalam ia tak jadi berangkat ke Amsterdam, karena masih menyatukan rindu dengan Jessie. Wanita yang kini sudah menjadi Istrinya.
Lantas Troy keluar dari dalam mobil. Tujuan utamanya bukan kantor. Melainkan rumahnya yang besar. Berbeda sekali dengan rumahnya yang cukup sederhana di hutan sana. Troy masuk kedalam dengan tas di tangannya, seorang pembantu langsung mengambil alih tas itu beserta jas yang melekat ditubuhnya.
Efsun menatap kepulangan Troy dengan mata berbinar. Wanita muda yang umurnya beberapa tahun di bawah Jessie, merentangkan kedua tangan. Seolah meminta sebuah pelukan, dengan mata yang mengharapkan. Membuat Troy tak tega, lalu memeluk tubuh hangat Efsun.
Efsun merasa rasa cintanya kian membesar dalam lubuk hatinya. Ia berharap bahwa ada mukjizat Tuhan, yang dapat menyembuhkannya secara total dari penyakit yang menggerogoti nya itu.
“Dimana Nessie, Efsun?” tanya Troy setelah pelukan terlepas. Lantas Efsun melebarkan senyumnya. Hingga matanya menyipit begitu manis.
“Ada di atas. Omong-omong aku mau minta maaf soal malam itu. Aku nggak tahu kalau Kakak bakal se marah itu sama aku.” ujar Efsun pelan, dengan wajah sendunya.
“Iya, Efsun. Lupakan saja...... Aku ingin mengajak kalian makan malam nanti.” balas Troy dengan sikapnya yang tenang, seperti biasa. Raut wajahnya juga datar, hingga membuat Efsun kesulitan menebak kondisi hati pria itu.
“Seneng deh kita mau makan malem diluar. Udah lama banget ya Kak kita nggak makan diluar.” ujar Efsun merasa senang. Tangannya memeluk pinggang Troy dari samping, yang kini mereka berdiri bersisian. Sambil mengambil langkah keruang tamu.
Tiba-tiba saja hati Troy mencelos. Ia merasa bersalah karena telah membiarkan tubuhnya di sentuh oleh wanita lain yang padahal telah tinggal bertahun-tahun bersamanya. Di atap rumah yang sama. Namun tetap saja, kini statusnya telah berubah. Ia sudah resmi menjadi Suami orang.
“Kak nanti kita ke villa mau nggak? Udah lama 'kan Nessie nggak kita ajak jalan-jalan keluar.” ujar Efsun memberikan sebuah saran brilian yang memudahkannya untuk kembali merebut hati Troy.
Troy menghela nafas, ia duduk di atas sofa. Lalu menimang-nimang ajakan Efsun yang pasti ia akan langsung angguki. Jika saja dirinya masih lah seorang pria lajang. Namun mengingat kebersamaan mereka sangat mempengaruhi Nessie. Troy akhirnya mengangguk ringan. Seolah tak ada beban apapun yang sedang memikulnya.
Efsun duduk di samping Troy, ia sangat senang ketika melihat sikap Troy yang kembali membaik padanya. Efsun pun menjatuhkan tangannya di atas punggung tangan Troy, lalu menggenggamnya pelan. Melihat tak ada pergerakan apapun dari Troy, Efsun semakin berani menatap pria itu.
“Aku harap aku bisa segera sembuh. Kakak ingin 'kan melihat aku sembuh?” tanya Efsun tersenyum tipis. Hati Troy pun terenyuh, walau Efsun sendiri lah yang egois hingga berakhir membuat anak mereka tak terselamatkan. Namun tak ada seorang manusia pun yang menginginkan penyakit datang menggerogoti tubuh mereka.
“Iya. Nanti kamu pasti sembuh.” balas Troy melemparkan senyuman tipisnya. Efsun refleks langsung memeluk tubuh Troy, ia memeluk tubuh Troy erat. Hingga Troy tak tega untuk melepaskannya.
Walau Troy tak membalas pelukan Efsun, namun wanita itu cukup senang karena Troy tidak berusaha melepaskan pelukan mereka.
“Apapun kita lewatin demi Nessie. Anak aku dan kamu.” ujar Efsun tepat di dada Troy yang terbalut oleh kemeja hitam.
Ada rasa tidak terima saat Efsun mengucapkan hal itu. Karena yang sebenarnya terjadi adalah buah dari kesalahannya. Jika saja ia tidak memisahkan Nessie dari Ibunya, Jessie. Maka anak itu akan mendapatkan kasih sayang dari Ibu sesungguhnya.
...★★★...
Jessie sedang menggerutu sebal melihat banyak mainan yang baru saja datang. Ia tak senang ketika Lauryn mengabaikannya dan malah fokus pada mainan-mainan itu. Sejak Lauryn kecil, memang Jessie jarang membelikannya mainan. Bukan hanya karena ia tak memiliki uang yang cukup, namun Jessie juga tak ingin Lauryn tumbuh menjadi anak yang manja.
__ADS_1
Bila saja mainan yang datang dapat mengasah otak Lauryn, atau tidak mainan ini adalah mainan sederhana, Jessie tak akan mempersalahkan hal itu. Tapi yang datang bukan lah mainan biasa, melainkan mainan mahal yang nilainya melebihi penghasilannya sebagai seorang pembuat kue, selama 1 tahun.
“Lauryn, sini Mama ajarin tugas sekolahnya.” ucap Jessie sambil menggenggam ponsel yang menampilkan aplikasi hitung-hitungan anak kecil.
“Sebentar, Mama. Sini main sama Rynryn! Mainannya lucu banget.” gumam Lauryn polos, sambil memandang senang beberapa benda colour full di hadapannya.
“Tapi kamu udah main 1 jam, Rynryn. Udahan aja yuk? Temenin Mama bikin kue aja mau?” tawar Jessie berusaha mengalihkan perhatian anaknya dari mainan-mainan itu.
Kedua mata Lauryn mengerjap lugu, “Mau!! Lauryn mau, Ma!” pekik Lauryn semangat, segera menghampiri Jessie dengan langkah kecilnya.
Jessie langsung mengangkat kedua ketiak Lauryn kedalam pelukannya, ia menggendong Lauryn lalu berjalan menuju dapur rumah kayu tersebut.
Omong-omong penjaga masih lah berjaga di bagian depan rumah. Namun hanya ada beberapa, karena sebagian sudah ikut bersama Troy, menuju perjalanannya tadi pagi ke kota. Jessie pun tak memusingkan hal itu, lagipula ia juga tak berniat ingin keluar dari sini.
30 menit kebersamaan mereka di dalam dapur, membuat Jessie semakin semangat karena kue tart yang mereka buat akan segera jadi. Jessie menepukkan tepung ke pipi chubby anaknya dengan pelan. Menimbulkan rengekan manja Lauryn yang terdengar nyaring di dalam dapur.
“Iiihh Mama!!” pekik Lauryn berniat ingin membalas perbuatan Ibunya. Namun karena sulit sekali menangkap Jessie, Lauryn pun meneteskan air matanya dengan begitu mudah.
Melihat anaknya yang menangis. Sontak Jessie langsung menghampiri Lauryn, menyerahkan diri sepenuhnya pada Lauryn, membebaskan anaknya untuk menepukkan juga tepung itu ke wajahnya. Tangis Lauryn yang tadi hampir membesar pun kini langsung terhenti. Di gantikan oleh tawa anak itu yang tersenyum senang.
“Coba Rynryn pose ya, nanti Mama mau kirim ke Ayah. Biar Ayah liat anaknya udah main tepung-tepungan di dapur. Nanti pasti Ayah marah.” ujar Jessie berusaha menakut-nakuti Lauryn yang kini duduk di atas pantry dengan kaki menjuntai bebas ke bawah.
“Rynryn nggak takut tuh Mama. Ayah nggak bakal marahin Rynryn, wlee.” Lauryn menjulurkan lidahnya kearah Jessie. Membuat Jessie menggeleng-gelengkan kepalanya merasa tak percaya, jika Troy sudah memberikan banyak pengaruh pada Lauryn.
Jessie.
liat deh mas, anakmu itu jago
banget main tepung.
Tak butuh waktu lama, Troy pun segera membacanya.
^^^Masku sayang.^^^
^^^Anakku jago main tepung, Mama-nya kan pinter memasak. Apalagi pinter bikin suami seneng.^^^
Senyuman karena Troy langsung membalas pesannya saja belum luntur. Tapi kini pria itu berhasil membuat senyumnya kembali mengembang.
^^^Masku sayang.^^^
__ADS_1
^^^Loh kok cuma di read aja sih?^^^
^^^Sayang, mas kangenn banget sama kamu^^^
Jessie.
ih sebentar mas, Jessie lagi makan ini
mas udah makan belum?
^^^Masku sayang.^^^
^^^Belum, pengen di masakin kamu,^^^
^^^Kok kangennya Mas gak di bales sih?^^^
Jessie tertawa di samping Lauryn. Ia padahal sedang berada di samping anaknya, tapi sikap Troy yang menurutnya seperti remaja tak dapat membuat Jessie menahan kegeliannya.
Jessie.
mas kaya remaja baru pacaran aja sih
gemes banget suamiku jadi pingin peluk
^^^Masku sayang.^^^
^^^Loh gapapa dong, pacarannya kan sama Istri sendiri. Mas juga pengen meluk kamu, mau dusel-dusel di dada kamu,^^^
^^^Sabar ya sayang 😘😘^^^
Jessie.
ih apaan sih, lebay banget mas ini
udah ya mas Jessie mau makan dulu
^^^Masku sayang.^^^
^^^Iya sayaaaangggg^^^
__ADS_1
^^^Selamat makan istriku ❤️^^^
...Author point of view off....