
Ning Xian langsung bergegas ke kamar sang nenek. Kamar sang nenek adalah kamar dirinya juga. Awalnya Ning Xian mempunyai niat untuk menempati kamar sendiri, namun ketika ia melihat ruangan yang sangat luas ia mengurungkan niatnya dan akhirnya memilih untuk bersama sang nenek. Ning Xian sudah sampai di depan ruangan langsung mengetuk pintu beberapa kali.
"Nenek ayo makan, sudah ditunggu oleh tuan muda di meja makan." ucap Ning Xian sembari mengetuk-ngetuk pintu. Nenek Ning didalam kamar tersebut awalnya ingin menolak untuk makan bersama, karena menurutnya itu tidak pantas.
"Xian'er nenek makannya nanti saja. Setelah tuan muda makan." ucap Nenek Ning. Ning Xian yang mendengar itu sudah menduga hanya bisa menghela nafas. Setelah mendengar itu Ning Xian kembali berkata.
"Ini perintah tuan muda nenek. Tuan muda ingin kita ikut makan bersamanya." ucap Ning Xian. Nenek Ning yang mendengar itu menjadi bimbang lalu menghela nafas beranjak menuju pintu setuju ikut makan bersama.
Setelah sampai di meja makan terlihat Teng Huan sedang sibuk dengan ponselnya lalu melirik Ning Xian dan Nenek Ning dengan senyuman tercetak di wajahnya.
"Kenapa baru datang nenek, Ning Xian sudah capek-capek membuat makanan akan sayang nantinya kalau dingin." ucap Teng Huan dengan senyuman tercetak di wajahnya. Ning Xian yang mendengar itu menjadi salah tingkah dan hanya bisa menyembunyikan rasa senangnya dengan menundukkan kepalanya.
"Rasanya tidak nyaman jika ikut makan bersama tuan muda." ucap nenek Ning. Teng Huan yang mendengar itu paham, namun sedikit ingin menjahili nenek didepannya ini.
"Apakah nenek tidak ingin satu meja makan denganku, karena aku adalah orang yang tidak baik." ucap Teng Huan tersenyum. Nenek Ning yang mendengar itu lantas terkejut dan langsung menyanggahnya.
"Bukan tuan muda...Bukan seperti itu maksud nenek tua ini" ucap Nenek Ning buru-buru menyanggah Taku terjadi salah paham." Aku hanya merasa tidak pantas saja semeja dengan tuan muda. Tuan muda telah menolong satu-satunya cucuku dari penyakit anehnya, bahkan telah menyembuhkan sepenuhnya. Setelah menolong cucuku tuan muda juga menolong aku dan cucuku dari orang yang memanfaatkan aku. Nenek tua ini telah berhutang Budi terlalu banyak kepada tuan muda. Jadi nenek tua ini merasa sangat tidak pantas duduk sebanding dengan penyelamat nenek dan cucu nenek. Walaupun hanya sekedar menjadi pelayan dari rumah ini, nenek akan berusaha sepenuh hati dan akan terus mengikuti tuan muda sampai mati sekalipun." kata Nenek Ning panjang lebar. Ning Xian yang mendengar itu merasa terharu dengan neneknya. Sementara Teng Huan cukup takjub dengan hati yang dimiliki dari nenek tua dihadapannya.
"Baiklah aku menghargai niat dari nenek. Namun, aku bukan orang yang arogan seperti itu. Kemarilah, kita makan bersama aku dan Ning Xian tidak akan bisa menghabiskannya sendiri." ucap Teng Huan dengan senyuman yang masih tercetak di wajahnya mengajak nenek tersebut. Nenek Ning yang mendengar itu merasa sangat tersentuh dengan perkataan Teng Huan. Akhirnya nenek Ning luluh dan mau ikut makan bersama. Selama acara makan tersebut tidak ada yang bersuara sedikit pun selain dentingan alat makan diatas meja.
Setelah acara makan-makan tersebut selesai Teng Huan langsung membuka pembicaraan sebelum Ning Xian berinisiatif membersihkan peralatan makan.
"Tunggu dulu Ning Xian ada yang ingin kubicarakan denganmu dan nenek Ning." ucap Teng Huan. Ning Xian yang mendengar itu langsung mengurungkan niatnya dan kembali duduk.
"Silahkan saja jika tuan muda ada yang ingin dibicarakan dengan kami, aku dan nenek tidak keberatan selama itu mampu kami jawab." ucap Ning Xian. Nenek Ning hanya diam saja namun tetap mendengarkan dengan serius tentang apa yang ingin disampaikan oleh Teng Huan.
__ADS_1
Teng Huan yang mendengar itu menganggukkan kepalanya dan langsung berbicara keintinya.
"Apakah kalian bagian keluarga Ning dari empat Keluarga yang berkuasa dikota ini ?" ucap Teng Huan langsung pada intinya. Ning Xian dan nenek Ning yang yang mendengar itu tidak terlalu terkejut. Mereka sedari awalnya menebak bahwa Teng Huan mau membawa mereka, karena nama besar Keluarga mereka. Namun tidak disangka Teng Huan tulus membantu mereka dari kesulitan tersebut.
Ning Xian yang mendengar itu menghela nafas sebentar lalu menceritakan tentang kejadian yang dialaminya.
"Aku dulunya adalah seorang pewaris tunggal dari keluarga Ning yang tuan maksud. Namun sampai kejadian itu terjadi." kata Ning Xian dengan sorot mata yang berubah. Nenek Ning yang melihat sorot mata itu langsung mengelus-elus punggung Ning Xian. Teng Huan yang melihat sorot mata itu sedikit tersenyum simpul.
"Hehhhh, sepertinya Ning Xian mengalami sesuatu yang sangat mengerikan sampai mempunyai sorot mata seperti itu." batin Teng Huan tersenyum simpul namun tidak terlihat oleh Ning Xian dan Nenek Ning. Ning Xian langsung sadar kembali setelah neneknya mengelus-elus punggungnya.
"Mohon maaf tuan muda hamba tidak bermaksud-" ucap Ning Xian ditelan kembali melihat lambaian tangan Teng Huan yang menandakan bahwa ia tak Masalah.
"Tidak masalah Lanjutkan saja ceritanya alasan kau bisa sampai ke distrik kumuh itu." ucap Teng Huan tidak mempermasalahkan meminta Ning Xian melanjutkan ceritanya. Ning Xian yang mendengar itu menganggukkan kepalanya mulai menceritakan kembali semua kejadian yang dialaminya. Cerita itu menghabiskan waktu ½ jam lamanya untuk benar-benar tuntas.
Ding
[Misi baru !]
[Bantu Ning Xian membalaskan dendamnya]
> Berhasil : Kesetiaan mutlak Ning Xian, PS 100.000
> Gagal : Alat Penyambung Keturunan tidak akan ereksi selamanya.
Teng Huan yang mendengar pemberitahuan misi sistem langsung terbatuk-batuk mendengarnya.
__ADS_1
"Sia*an sistem, kau itu punya dendam apa kepadaku." ucap Teng Huan kepada sistemnya. Sistemnya tidak menjawab sama sekali melainkan hanya berkata.
[Selesaikan misi dengan sepenuh hati tuan :)]
"Kemarin emoticon tertawa...Sekarang tersenyum...Jika kau mempunyai wujud ingin rasanya ku mengoyak-ngoyakmu." batin Teng Huan merasa kesal kepada sistemnya.
Ning Xian melihat Teng Huan tertawa, langsung buru-buru mendekatinya memberi segelas air minum. Teng Huan langsung menerima itu dan menenggaknya habis seketika.
"Tuan muda tidak apa-apa ?" tanya Ning Xian khawatir mendekati wajahnya. Teng Huan yang mendengar itu langsung sedikit memundurkan wajahnya.
"Ning Xian bisakah kau sedikit mundur I-Ini terlalu dekat." ucap Teng Huan dengan mata yang terus menatap dua melon Ning Xian. Ning Xian yang mendengar itu melihat arah mata Teng Huan seketika langsung memerah wajahnya dan buru-buru menjauh dari Teng Huan.
"M-Maafkan aku tuan muda." dengan kepala menunduk kebawah menutupi wajahnya yang sudah Semerah tomat. Teng Huan yang mendengar itu mengatur gejolak yang ia rasakan. Walaupun begitu Teng Huan masihlah laki-laki normal.
Nenek Ning hanya tersenyum melihat reaksi Ning Xian yang tersipu. Padahal sebelumnya Ning Xian akan bertindak dingin, angkuh, dan mendominasi. Sehingga tidak ada yang berani menatapnya seperti itu. Namun siapa sangka Ning Xian akan mengeluarkan ekspresi wajah seperti itu.
"Sudahlah tidak perlu meminta maaf, aku akan langsung ke intinya saja kau berkehendak atau tidak, itu pilihanmu." ucap Teng Huan serius menatap Ning Xian mengalihkan topik pembicaraan agar tidak canggung. Ning Xian yang mendengar itu mendongak kepalanya mendengarkan dengan serius Walaupun masih dengan wajah yang memerah.
"Aku bisa saja membantumu membalaskan dendam mu itu kepada keluarga Ning" ucap Teng Huan yang bagaikan Sambaran petir ditelinga nenek dan cucu tersebut.
>>>>> Bersambung
( Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan like, favorit, vote, dan komennya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku )
( Blizzardauthor)
__ADS_1