
Orang biasa yang melihat itu tentu terkejut. Gerakan Teng Huan sama sekali tidak terlihat oleh mata telanjang. Dua puluh orang berbadan besar ambruk semua tidak ada yang tersisa oleh seorang pemuda. Tentu saja itu tidak mudah dicerna, namun didepan Ning Xian, nenek Ning, dan Tuan De semua itu nyata didepan mereka. Terutama yang paling terkejut adalah Tuan De. Teng Huan yang sudah selesai membuat babak belur dua lusin orang tersebut lalu langsung mengalihkan pandangannya ke arah Tuan De yang berusaha untuk pergi dari sana.
Ding
[Selamat ! Tuan berhasil menyelesaikan misi mengalahkan seluruh berandalan yang datang. Hadiah yang diperoleh otomatis dipindahkan ke storage]
Teng Huan yang mendengar notifikasi sistem tentunya sangat senang bahwa menandakan bahwa tidak ada lagi masalah. Walaupun dalam suasana hati yang baik Teng Huan tidak lupa langsung berkata.
"Ekhhhhmmmm, tuan De sebelum kau pergi ada yang ingin kau katakan terlebih dahulu ?" ucap Teng Huan sembari pura-pura batuk kecil dan tersenyum lebar membuat Tuan De langsung berhenti bergerak lalu menatap Teng Huan dengan tubuh bergetar.
"T-Tunggu aku adalah anak dari penguasa wilayah disini kalau kau berani memukuliku ayah ku nanti akan mengejar-ngejar dirimu sampai ke ujung dunia." kata Tuan De mundur selangkah demi selangkah menunjuk-nunjuk Teng Huan dengan tubuh yang bergetar. Walaupun sudah seperti itu dirinya masih keras kepala membuat Teng Huan menghela nafas panjang.
"Bahkan jika aku mau, membunuhmu itu adalah hal yang mudah kulakukan saat ini. Tidak peduli siapapun bahkan jika dirinya anak dari presiden sekalipun jika ia mengganggu diriku, maka ia sudah siap dengan konsekuensinya." kata Teng Huan dengan nada dingin membuat Tuan De yang mendengar itu langsung ketakutan.
"Jadi kau masih bersikukuh dengan pemikiran pendekmu itu atau meminta maaf atas kepada nenek Ning sekarang juga ? Tidak peduli yang mana pilihanmu semuanya akan ku apresiasikan dengan baik." bisik Teng Huan ditelinga Tuan De membuat Tuan De bergetar jiwa dan raganya mendengar perkataan Teng Huan.
Setelah mendengar itu Tuan De berjalan dengan langkah yang bergetar kehadapan nenek Ning. Setelah sampai tanpa bisa memikirkan apapun Tuan De langsung bersujud didepan Nenek Ning membuat nenek Ning terkejut melihat itu.
"Maafkan saya nek yang sudah bertindak tidak sopan selama ini. Maafkan atas semua sikap kelancangan anak muda yang sok berkuasa ini." kata Tuan De sembari bersujud meminta maaf. Teng Huan yang melihat itu hanya diam menatap saja.
Nenek Ning yang mendengar itu tentu saja terkejut, karena pasalnya orang yang terkenal suka memeras yang lebih lemah dari dirinya kini sedang bersujud meminta pengampunan atas dirinya. Nenek Ning yang bingung mendongakan kepalanya menatap Ning Xian yang dibelakangnya meminta pendapatnya. Ning Xian yang melihat tatapan sang nenek hanya menganggukkan kepalanya saja. Melihat Ning Xian yang menganggukkan kepalanya, nenek Ning mengalihkan pandangannya ke Teng Huan. Teng Huan yang merasa ditatap langsung mengalihkan pandangannya ke nenek Ning yang meminta pendapatnya. Teng Huan yang ditatap seperti itu hanya berkata.
__ADS_1
"Semua keputusan itu berada ditangan nenek. Aku hanya akan bantu mempermudahnya." kata Teng Huan santai membuat Tuan De menggertakkan giginya mendengar hal itu. Walaupun terlihat sudah pasrah, Tuan De nyata masih sangat panas didalam.
"Awas saja kalian......setelah aku pergi dari sini, akan kubuat kalian memohon-mohon ampun karena sudah menyinggung diriku ini." batin Tuan De marah diperlakukan seperti itu.
"Sudahlah Tuan De tidak perlu mempermasalahkannya lagi. lain kali jangan mengulangi hal itu lagi." kata nenek Ning memutuskan. Tuan De yang mendengar itu langsung mendongakan kepalanya lalu tersenyum dan berkata.
"Terimakasih nek" kata Tuan De bersujud sekali lagi lalu bangkit ingin langsung pergi namun naas itu tidak terjadi. Sebuah tangan bertengger dipundaknya membuat Tuan De sedikit bergetar namun tetap mengatakannya.
"K-Kau mau apa lagi ? aku sudah meminta maaf sepertinya yang kau mau itu. Jadi apalagi yang kau mau." kata Tuan De berusaha untuk tenang walaupun sudah cukup takut.
"Tunggu dulu teman, nenek Ning memang sudah berkata seperti itu, tetapi beda cerita jika kau menyinggungku." ucap Teng Huan terkekeh membuat Tuan De yang mendengar itu bergetar.
Dughhhk
Krekkkk
Nenek Ning dan Ning Xian yang melihat itu tentu terkejut. Berbeda dengan Ning Xian sendiri, walaupun terkejut dirinya tertawa melihat tindakan yang dilakukan oleh Teng Huan.
Teng Huan langsung menendang alat penyambung keturunan Tuan De sampai terdengar suara pecah. Tuan sendiri yang merasakan itu langsung jatuh terduduk dan berteriak sangat kencang.
"Akhhhhhhhhhhhhhhh" Tuan De berteriak sangat keras sembari memegang alat penyambung keturunan menahan rasa sakit yang luar biasa. Teng Huan sendiri tidak terlalu peduli walaupun sempat linu pasca dirinya menendang tadi.
__ADS_1
"Anggap saja itu adalah hukuman kecil yang kuberikan untukmu" kata Teng Huan lalu mengalihkan pandangannya berkata kembali. "Ayo kita pergi dari sini Nenek Ning, Ning Xian." kata Teng Huan berjalan keluar meninggalkan Tuan De yang tergeletak menahan sakit. Ning Xian dan nenek Ning mengangguk kepalanya mengekor dibelakang Teng Huan.
Tuan De sendiri yang tergeletak, melihat kepergian Teng Huan dengan kedua nenek dan cucu itu. Tuan De menatap Teng Huan sangat dendam.
"Tidak akan kumaafkan kau bajin*gan !!! akan ku balas dua kali lipat dari ini, bahkan tidak akan kubiarkan kau mati tanpa seijin ku." kata Tuan De dengan nada marah bercampur menahan rasa sakit.
Kembali ke Teng Huan
Teng Huan, nenek Ning, dan Ning Xian kini sudah keluar dari area kumuh dan sedang berjalan di daerah kota. Teng Huan sendiri hanya berjalan tidak mengatakan apa-apa.
"Kita akan kemana tuan muda ?" tanya Ning Xian kepada Teng Huan. Teng Huan yang mendengar itu tidak mengalihkan pandangannya namun menjawab pertanyaan Ning Xian tersebut.
"Kita akan pulang ke apartemen ku terlebih dahulu." kata Teng Huan menjawab pertanyaan Ning Xian. Namun sedetik kemudian langkah kaki Teng Huan terhenti, karena melihat toko baju. Ning Xian yang melihat Teng Berhenti berjalan bertanya kembali.
"Ada apa tuan muda ?" tanya Ning Xian kepada Teng Huan. Teng Huan tidak menjawab melainkan menatap Ning Xian dari atas kebawah. Ning Xian yang diperhatikan seperti itu oleh Teng Huan menjadi gugup dan salah tingkah.
"Kita beli pakaian terlebih dahulu. Kau dan nenek tidak membawa apapun setelah meninggalkan rumah selain pakaian yang kalian kenakan ini." kata Teng Huan sembari melangkah masuk kedalam toko pakaian tersebut.
"Tuan muda tidak per-" kata Ning Xian terhenti melihat Teng Huan sudah memasuki Toko pakaian tersebut. Mau tidak mau Ning Xian dan nenek Ning mengikuti Teng Huan masuk kedalam toko pakaian tersebut.
>>>>> Bersambung
__ADS_1