
"Baiklah paman keempat aku ingin kau mengucapkan perkataan yang aku ucapkan." Ucap Ye Rong sembari diam-diam menyalakan perekam dari ponselnya. Orang dari keluarga Ye yang dipanggil paman keempat itu menganggukkan kepalanya dan mengucapkan perkataan yang sama persis dengan Ye Rong ucapkan.
Paman pertama yang melihat itu hanya tertawa keras didalam hatinya, ia tidak menyangka bahwa anak dari adiknya ini sangat percaya dan mau dibodoh-bodohi oleh pemuda tersebut. Tentu saja ia tau bahwa ini adalah rencana yang dibuat oleh Teng Huan dan Ye Rong, namun ia tidak menyangka bahwa Ye Rong akan sangat percaya kepada pemuda itu.
Walaupun paman pertama tidak memperdulikan itu, berbeda dengan Xin Mengsang yang merasakan, ada sesuatu yang buruk terjadi sebentar lagi, firasatnya mengatakan bahwa ia akan dalam bahaya saat ini. Firasatnya semakin jelas ia rasakan saat setelah ia meminum air yang telah disediakan.
Teng Huan sendiri hanya berdiri dibelakang Ye Rong menutup matanya dengan tenang tidak terganggu ia sedang melihat tenggat waktu misinya yang lima belas menit lagi akan selesai.
"Ayo cepatlah kenapa lama sekali." batin Teng Huan tidak tenang, karena waktu tenggat misinya tidak sampai ½ jam.
Waktupun terus berjalan dan tenggat waktu misi Teng Huan juga tersisa tidak kurang dari sepuluh menit lagi. Pas juga pada saat itu sudah giliran paman pertama dari keluarga Ye kebagian untuk berbicara saat ini.
"Ini dia, ini dia, ini dia!! ayo cepat katakan." Batin Teng Huan tersenyum lebar. Sementara paman pertama tersebut hanya tersenyum sinis ketika dirinya kebagian berbicara saat ini.
"Cihhhhh, baguslah ternyata anak dari adik kedua ini sangat bodoh, karena mempercayai hal yang mustahil seperti ini." Batin Paman pertama tersenyum sinis.
"Baiklah paman pertama sekarang giliran mu untuk mengucapkan seperti apa yang aku ucapkan." Kata Ye Rong. Paman pertama yang mendengar itu tanpa ragunya ia berkata, "Aku bersumpah bahwa aku adalah dalang dari semua masalah keluarga Ye" Ucap Paman pertama tersenyum sinis, lalu beberapa detik kemudian ia langsung tersentak kaget, karena mulutnya tidak mengatakan sesuai apa yang dikatakan hatinya.
__ADS_1
Setelah paman pertama berkata seperti itu keadaan menjadi sangat hening, dan beberapa detik kemudian seluruh anggota keluarga Ye yang lainnya terkejut ketika paman pertama mengakui bahwa dirinya berkata seperti itu. Bahkan Ye Rong dan Paman Long sendiri tidak percaya bahwa paman pertama akan berkata seperti itu.
"Apa yang terjadi dengan diriku kenapa aku malah mengakui bahwa aku adalah dalang dari semua permsalahan ini. Apa yang salah dengan diriku ini?" Batin Paman pertama bergetar hebat. Dari sekian orang yang berada disana Xin Mengsang lah yang paling terkejut tidak menyangka.
"Orang bodoh ini kenapa malah mengakui dirinya sendiri!? Ternyata ini firasat buruk yang kurasakan sedari awal." Batin Xin Mengsang menahan amarahnya.
"Kau melakukan hal tersebut atas kemauan dirimu sendiri apa perintah orang lain?" Kali ini bukan Ye Rong yang bertanya melainkan Teng Huan yang bertanya. Mendengar hal itu mulut paman pertama refleks ingin menjawab, namun telapak tangannya ingin menutup mulutnya. Akan tetapi, sayang sekali Teng Huan dalam sekali langkah sudah berada dibelakang paman pertama dan dengan sekali gerak langsung menahan telapak tangan paman pertama.
"Aku melakukan ini diperintahkan oleh Xin Mengsang. Dia menghasutku berkata bahwa dengan melakukan perintahnya aku bisa menjadi kepala keluarga Ye ini" Jawab Paman pertama. Xin Mengsang yang mendengar itu langsung bangkit dari tempat duduknya dan berteriak dengan keras.
"Kau sampah baj*ngan!!, aku pernah berkata seperti itu." Teriak Xin Mengsang lalu sedetik kemudian menutup mulutnya. Teng Huan sendiri sudah tertawa terbahak-bahak dalam hatinya melihat adegan yang sangat lucu seperti ini.
Melihat gelagat Xin Mengsang yang ingin kabur, Ye Rong langsung bangkit dari kursinya dan berkata, "Paman jangan biarkan wanita ular itu pergi." Kata Ye Rong. Paman Long yang mendengar itu refleks bangkit dan bergerak cepat ke Xin Mengsang yang ingin melarikan diri. Tentu saja Xin Mengsang tidak bisa pergi semudah itu dari ruangan tersebut. Tentu saja Xin Mengsang memberontak ingin dilepaskan.
"Pandahal tinggal sedikit lagi rencana ku akan berhasil, tetap hanya dalam beberapa jam saja langsung hancur berantakan ini semua karena…" Batin Xin Mengsang yang sudah putus asa lalu menatap tajam Teng Huan yang tersenyum sinis dari tempat ia berdiri didekat paman pertama.
"Ini semua salah kau!!! Jika saja kau tidak datang kesini aku pasti sudah berhasil membunuh tua bangka itu dan menguasai Keluarga Ye!!!" Teriak Xin Mengsang memberontak ingin menerjang Teng Huan yang memandangnya sinis.
__ADS_1
Teng Huan sendiri dalam hatinya sudah ingin tertawa, namun ia menahan rasa tersebut, lalu berjalan mendekati Xin Mengsang dengan senyum sinis tercetak diwajahnya. Jika saja dengan hanya dengan tatapan, Teng Huan sudah mati ribuan kali oleh sorot mata ingin membunuh Xin Mengsang.
"Hehhhhh, bagaimana ini menjadi salahku? aku tidak melakukan apapun sebaliknya kalian sendiri yang mengakui perbuatan kalian sendiri." Ucap Teng Huan dengan senyum sinisnya. Xin Mengsang yang mendengar itu memberontak ingin sekali menerjang Teng Huan, tetapi ia tidak cukup kuat untuk mengalahkan kekuatan seorang pria.
"Sudahlah, sudahlah aku akan bertanya satu pertanyaan lagi." Ucap Teng Huan masih dengan senyuman tercetak diwajahnya, namun daripada disebut senyuman, seringai lebih tepat. Xin Mengsang yang awalnya meronta-ronta kini terdiam mendengar hal itu dan refleks ingin menutup mulutnya, namun sayang hal itu kalah cepat dari Teng Huan.
"Jika kau menutup mulutmu…bagaimana kau menjawab pertanyaan ku nantinya." bisik Teng Huan sembari terkekeh. Xin Mengsang yang mendengar itu merasakan firasat buruk sebentar lagi akan datang menerpa setelah Teng Huan berkata seperti itu.
"Kau hanya perlu menjawab satu pertanyaan ku saja, racun yang kau berikan kepada kepalan Keluarga Ye kau dapat dari mana?" Ucap Teng Huan dengan mimik wajah serius. Xin Mengsang yang mendengar itu mulutnya tiba-tiba refleks ingin menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Teng Huan. Sekeras apapun dirinya berusaha, mulutnya seperti punya kesadaran sendiri.
"Aku mendapatkan itu dari…"
Ding
[Bahaya! Bahaya! Bahaya!]
>>>>> Bersambung
__ADS_1
( Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan like, favorit, vote, dan komennya. Author do'akan semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku )
( Blizzardauthor)