
Ruang Makan Apartemen Teng Huan
Terlihat Teng Huan sedang duduk disalah satu kursi sedang menunggu kedatangan Ning Xian dan Nenek Ning.
"Salam tuan muda" Nenek Ning memberi salam. Mendengar itu Teng Huan mendongakan kepalanya tersenyum dan berkata.
"Ayo temani aku makan malam. Jika menunggu aku selesai makan, yang ada sudah menjadi dingin dan tidak enak nantinya " ucap Teng Huan sembari tersenyum. Nenek Ning yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan, asalnya sudah diberitahu oleh Ning Xian terlebih dahulu. Pada akhirnya Teng Huan makan malam ditemani oleh kedua nenek dan cucu tersebut.
Setelah makan malam nenek Ning berinisiatif untuk langsung membersihkan peralatan makan yang berada di meja. Awalnya Ning Xian yang pasang badan, namun Teng Huan berkata padanya ada yang ingin dibicarakan.
"Jadi tuan muda apa yang ingin anda bicarakan dengan saya ?" tanya Ning Xian. Teng Huan yang mendengar itu bertanya terlebih dahulu kepada sistemnya.
"Sistem apakah benar tentang pil budak yang kau katakan itu ?" tanya Teng Huan dalam hati kepada sistemnya.
[Jika tuan tidak percaya gunakan saja kepada Ning Xian sebagai uji coba]
Mendengar pernyataan sistemnya, Teng Huan sedikit berpikir bahwa sistem ini sedikit terlalu vulgar.
"Haihhhhh Baiklah aku beli satu buah pil budak" ucap Teng Huan kepada sistemnya.
Ding
[Membeli satu buah pil budak seharga 50.000 PS. Apakah tuan ingin membelinya ?]
> Y
> N
Teng Huan langsung menganggukkan kepalanya berkata kepada sistemnya.
__ADS_1
"Aku beli" ucap Teng Huan dalam hati kepada sistemnya.
Ding
[Berhasil membeli satu buah pil budak PS dikurangi 50.000]
"Jika aku yang kemarin mungkin sudah jantungan Mendengar harga yang begitu tinggi hanya untuk sebuah pil seperti ini." batin Teng Huan mengeluarkan pil budak dari saku celananya.
Melihat Teng Huan hanya diam saja tidak berbicara apapun. Ning Xian menjadi bingung dan memanggil tuan mudanya lagi.
"Tuan muda ? Kalau boleh tau apa yang tuan muda ingin bicarakan dengan saya ?" tanya Ning Xian sekali lagi. Mendengar Ning Xian bertanya Teng Huan langsung membuyarkan lamunannya.
"Ohhhhh iya, maaf Ning Xian aku sedang sedikit berpikir tadi." ucap Teng Huan tersenyum canggung. Ning Xian yang mendengar itu hanya mengiyakan saja perkataan Teng Huan.
Setelah sudah tenang, Teng Huan langsung mengeluarkan pil budak tersebut dan meletakan diatas meja makan lebih tepatnya Teng Huan menyondorkan kepada Ning Xian. Melihat sebuah pil yang dikeluarkan oleh Teng Huan, Ning Xian menjadi heran akan hal itu. Lalu mengalihkan pandangannya ke Teng Huan menunggu Teng Huan menjelaskan maksudnya.
"Kutanya kembali Ning Xian. Apakah kau sungguh berniat untuk balas dendam kepada keluarga mu ?" ucap Teng Huan dengan sorot mata yang serius. Ning Xian yang mendengar itu dengan tegas dan tekad dendam yang besar berkata.
"Kenapa kau ingin balas dendam terhadap keluarga mu ? bukankah kau mempunyai hubungan darah ?" tanya Teng Huan. Mendengar itu Ning Xian dengan tegas berkata.
"Setelah kedua orang tuaku meninggal, mereka bukan lagi Keluarga ku lagi." ucap Ning Xian dengan nada tegas dan acuh tak acuh. Teng Huan yang mendengar itu tersenyum simpul, namun tidak dapat dilihat oleh Ning Xian.
"Baiklah. Aku akan membukakan jalan untukmu, namun aku mempunyai persyaratan terakhir." ucap Teng Huan. Ning Xian yang mendengar itu mengangguk kepalanya berkata.
"Selama itu bukan kematian. Saya Ning Xian akan melakukan sepenuh hati." kata Ning Xian dengan tegas. Mendengar itu Teng Huan berkata kembali.
"Pil yang didepanmu adalah persyaratan terakhir yang kumaksud. Pil ini adalah pil budak" ucap Teng Huan. Ning Xian yang mendengar itu terkejut tidak menyangka, bahwa ada hal seperti itu didunia ini.
"Kau mungkin tidak percaya, hal mustahil seperti itu tidak mungkin ada didunia ini kan ? Namun aku dengan tegas mengatakan bahwa jika kau bersungguh ingin membalaskan dendam mu, pil ini adalah persyaratan terakhir ku." Ning Xian yang mendengar itu masih tidak percaya bahwa tuan mudanya mempunyai cara seperti ini. Melihat tatapan Ning Xian, Teng Huan kembali melanjutkan perkataannya.
__ADS_1
"Kau sudah menjadi orang ku, namun jujur saja aku tidak sepenuhnya percaya kepada mu dan untuk mencegah kau berkhianat kepadaku telan pil ini maka aku akan sepenuhnya mendukung mu untuk membalaskan dendam mu." ucap Teng Huan. Ning Xian yang mendengar itu akhirnya paham maksud tuan muda nya. Tanpa basa-basi Ning Xian langsung mengambil pil tersebut dan langsung menelannya. Melihat ketegasan Ning Xian yang tidak ragu sama sekali akhirnya Teng Huan percaya bahwa Ning Xian sudah sepenuhnya setia kepadanya.
Pasca setelah Ning Xian menelan pil tersebut, ia merasakan sesuatu didalam dirinya seperti ada yang menyegelnya.
Ding
[Ning Xian sudah resmi menjadi budak dari tuan. Jika tuan ingin memusnahkan jiwanya hanya perlu mengatakan "Hancur" makan akan otomatis jiwa Ning Xian akan hancur dan mati]
Melihat pemberitahuan sistemnya itu Teng Huan tidak menyangka bahwa Ada hal seperti itu.
"Aku sudah melakukan persyaratan terakhir yang tuan muda maksud apakah aku sudah lulus ?" ucap Ning Xian sedikit memburu nafasnya. Melihat Ning Xian yang seperti itu Teng Huan tersenyum puas.
"Kita bicarakan itu esok hari saja, lebih baik kau istirahat dulu" ucap Teng Huan bangkit dari kursinya meninggalkan ruang makan. Ning Xian yang mendengar itu hanya diam saja, ia sedang mengatur nafasnya yang sedang memburu ini.
"Tidak kusangka tuan muda bisa melakukan hal seperti ini. Aku merasa jika aku berkhianat entah aku pergi keujung dunia sekalipun pasti akan mati saat itu juga." gumam Ning Xian lalu tersenyum sedetik kemudian.
"Sepertinya aku tidak salah mengikuti orang" ucap Ning Xian tersenyum lebar lalu tiba-tiba teringat dengan kedua orang tuanya.
"Ayah....Ibu....Kalian yang tenang di alam sana ya, anakmu ini akan membalaskan dendam kalian" ucap Ning Xian matanya berkaca-kaca teringat kembali dengan kematian tragis orang tua nya dan seluruh keluarganya tidak ada yang peduli sama sekali. Mengingat hal itu membuat marah, benci, dendam Ning Xian semakin dalam.
"Keluarga Ning....Aku Ning Xian bersumpah tidak akan membiarkan kalian hidup aman mulai saat ini." Ucap Ning Xian dengan tekad dendam yang begitu besar.
"Buktikan jika kau memang mampu untuk melakukannya Ning Xian." ucap Teng Huan yang ternyata belum pergi dari ruang makan. Ia masih bersandar di dinding sebelah ruang makan. Setelah mendengar Ning Xian berkata seperti itu, barulah ia berjalan kembali ke kamarnya.
"Kita lihat hari esok apa yang akan datang nanti" gumam Teng Huan menggeleng-gelengkan kepalanya.
>>>>> Bersambung
( Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan like, favorit, vote, dan komennya. Author do'akan semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku )
__ADS_1
( Blizzardauthor)