
Sementara di tempat pertarungan Li Dan.
"Anak kecil menyerah lah, lihat teman mu di sana sudah pasti kalah". Ucap tetua sembilan sambil menunjuk arah Lin Feng.
Mendengar itu, Li Dan memang sedikit cemas dengan keadaan kakak yang di kepung, tapi Li Dan sudah meneguhkan hatinya, bahwa kakak Lin Feng tidak akan kalah.
"Kakak ku tidak akan kalah,dia sangat kuat, lebih baik kau urus dirimu sendiri pak tua". Ucap tegas Li Dan.
Mendengar itu, tetua ke sepuluh lantas berteriak.
"Dasar bocah tidak tau diri, kau hanya bocah kemarin sore, tapi sok-sokan di depan kami berdua". Teriak tetua kesepuluh.
"Jangan panggil aku bocah tidak tau diri paman". Teriak Li Dan, sambil menerjang ke arah kedua pak tua di depannya.
"Dasar bocah tidak tau diri, akan aku kasih tau, bagaimana rasa nya mati". Ejek tetua ke sembilan.
Li Dan langsung menerjang ke arah depan, menggunakan elemen anginnya.
"Terimalah jurus ku". Teriak Li Dan.
"Elemen angin, cakaran angin"
Lin Feng langsung menyerang ke arah ke dua tetua, sedangkan ke dua tetua di depan Lin Feng, langsung menyambut serang dari Li Dan.
Bugh.
Duar.
Kedua tetua terkejut dengan kekuatan Li Dan, karena Li Dan di usianya yang belum genap sepuluh tahun sudah mencapai alam raja.
Uhukk...
Ke dua tetua itu, langsung mengeluarkan seteguk darah dari mulut nya.
"Ternyata dia kuat juga". Ucap tetua sembilan kepada tetua ke sepuluh.
"Kau benar kita telah meremehkan bocah ini". Balas tetua ke sepuluh.
Setelah menerima serang dari Li Dan, ke dua kesepuluh itu langsung menatap tajam ke arah Li Dan.
"Bocah, kau sudah bikin aku marah, maka jangan salah kan aku, kalau kau mati dengan mengenaskan hari ini". Teriak tetua ke sembilan.
"Kita tidak tau pak tua, yang mati kau atau aku". Balas Li Dan santai, sambil mengejek.
Ke dua tetua marah, mendengar ejekan dan ucapan Li Dan.
"Tetua ke sepuluh, sepertinya kita harus mengeluarkan kan jurusnya kita, kita tidak bisa membiarkan kan bocah ini hidup, di masa depan akan sangat merepotkan". Ucap tetua ke sembilan.
"Kau benar tetua ke sembilan, jika kita tidak membunuhnya, tidak ada tempat untuk kita berdua buat singgah". Balas tetua ke sepuluh.
__ADS_1
Ke dua tetua ke sepuluh langsung bangkit, lalu menatap tajam ke arah Li Dan, mereka berdua benar-benar kalah telak melawan seorang bocah.
"Elemen angin, tinju lima jari". Teriak tetua ke sembilan.
"Elemen angin, tendangan seribu angin". Teriak tetua ke sepuluh.
Ke dua tetua itu langsung menerjang ke Li Dan, mereka berdua sangat percaya diri dengan kekuatan mereka, sampai langsung mengeluarkan jurus andalan mereka.
"Serangan ini sangat kuat, seperti nya aku harus mengeluarkan semua kemampuan ku". Gumam Li Dan.
"Elemen angin, langkah angin"
Li Dan mengindari kedua serangan dari tetua di depannya, jika terkena serangan itu secara langsung, sudah di pastikan, Li Dan akan kalah telak.
Wushhhh..
Li Dan menghindari serangan itu, dan terdengar suara ledakan.
Duar...
Terlihat lubang di bawah tanah yang sangat dalam, benar-benar Li Dan selamat kali ini.
Ke dua tetua kesal, karena serangan mereka sama sekali tidak mengenai Li Dan.
"Ternyata kau punya kemampuan juga bocah". Ucap tetua ke sembilan.
"Tapi kau jangan senang dulu, pertarungan ini belum selesai". Lanjut tetua sembilan.
"Elemen angin, sayatan angin"
Ke dua tetua itu, kembali menyerang Li Dan, Li Dan kali ini tidak bisa menghindar dari serang Meraka.
Duar...
Li Dan terkena serangan itu, dan terpental beberapa meter.
Uhukk..
Li Dan mengeluarkan seteguk darah, Li Dan menatap ke dua tetua dengan tatapan marah.
"Hahaha, bagaimana bocah, apa kau sekarang udah tau kekuatan kita". Ucap mengejek tetua sembilan sambil tertawa.
"Kau benar tetua ke sembilan, bocah ini tidak tau perbedaan kekuatan kita". Balas tetua ke sepuluh.
Li Dan dalam ke adaan lemah, hanya bisa menatap marah ke dua tetua di depannya, jika Li Dan mengunakan elemen airnya sekarang, itu akan membuat kondisi badannya lemah.
Pada saat Li Dan memikirkan dirinya yang terkena serangan ke dua tetua, Li Dan mendengar suara ledakan begitu besar dari pertarungan kakaknya.
Duarrrrrrr...
__ADS_1
Li Dan langsung menatap ke arah pertempuran kakaknya, Li Dan benar-benar khawatir dengan keadaan kakaknya.
Ke dua tetua juga yang mendengar suara ledakan tadi, langsung memalingkan wajah ke duanya, ke arah di mana kepala klan dan tetua yang lainya bertempur, ke dua tetua itu langsung tersenyum senang, melihat yang lainnya bisa mengurus Lin Feng.
"Bagaimana bocah, lihat bocah bertopeng itu aja udah kalah, sekarang bagaimana dengan dirimu". Ucap tetua kesembilan.
"Apa kau mau bunuh diri sendiri atau kami yang melakukan nya, semua nya sama saja, kau akan tetap mati akhirnya". Timpal tetua ke sepuluh.
"Hahahaha"
Ke dua tetua itu langsung tertawa bahagia, melihat wajah Li Dan yang putus asa, mental Li Dan benar-benar hancur melihat kakaknya yang di kalahkan.
Li Dan tidak tau harus bagaimana, dalam hidup nya selalu sendiri, ketika di kasih sebuah keluarga baru lagi, tapi harus hilang lagi, Li Dan benar-benar sangat putus asa kali ini.
Li Dan tidak ingin kehilangan orang terdekatnya lagi, cukup masa lalu Li Dan kehilangan orang-orang yang di sayangi nya, Li Dan hanya berharap kakak nya Lin Feng selamat dari bahaya itu.
"Bocah, apa kau tidak mendengar ucapan ku tadi hah". Bentak tetua ke sembilan.
"Cepat bunuh dirimu, apa kau ingin aku yang melakukannya". Bentak tetua kesepuluh.
Dalam keheningan putus asa, Li Dan kembali menatap ke arah tempat pertempuran Lin Feng, banyak sekali asap, Li Dan terkejut dengan apa yang di lihat nya, kakaknya Lin Feng ternyata masih tegak berdiri di tengah-tengah asap yang mengepul tebal.
Tidak hanya Li Dan yang kaget, tetapi ke dua tetua juga kaget dengan apa yang di lihat nya, bocah yang melawan kepala klan dan tetua yang lainnya, ternyata masih hidup, kini ketegangan meliputi ke dua tetua itu, dalam rasa ketakutan, ke duanya langsung di kaget kan dengan suara Li Dan.
"Hei pak tua, sekarang kita lanjutkan pertarungan kita, kakakku tidak kan mungkin kalah begitu saja, maka dari itu, aku harus membuktikan kekuatan ku juga". Ucap Li Dan.
Li Dan langsung mengeluarkan elemen airnya di kedua kepalan tangannya, lalu Li Dan menggunakan elemen anginnya di ke dua kakinya.
Ke dua tetua itu terkejut, melihat Li Dan mempunyai dua elemen.
"Tidak usah terkejut, kalian berdua harusnya bangga, dengan begini kalian bisa mati dengan tenang". Ucap santai Li Dan.
Li Dan langsung menerjang ke arah ke dua tetua di depannya, dan memukul ke dua tangannya yang di lapisi elemen air secara bersamaan.
"Rasakan jurus ku". Teriak Li Dan.
"Elemen angin, hembusan angin malam"
"Elemen air, tinju gelombang kejut kembar"
Seraya berteriak, kedua pukulan itu berhasil mengenai telak di ke dua dada tetua, hasilnya sudah pasti, dada ke dua tetua itu berlubang.
Li Dan agak gemetar dengan ke adaan ya yang sekarang, karena bagaimanapun ini pengalaman pertama nya dalam membunuh.
"Hah hah hah". Hembusan nafas Li Dan.
***
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTAR NYA YA.
__ADS_1
TERIMAKASIH...