
Keesokan harinya, Lin Feng terbangun dari tempat tidur nya, Lin Feng dan Li Dan kembali ke tempat tinggal Li Dan dulu.
"Rumah ini, jika di tinggalkan sangat sayang sekali, lebih baik aku renovasi dan mencari anak-anak yang tinggal di pinggiran jalan, membawa mereka kemari dan urus di sini". Gumam Lin Feng.
Jika Lin Feng melakukan itu, berarti Lin Feng harus merenovasi rumah Li Dan terlebih dahulu. Sebelum itu, jika bisa Lin Feng membeli beberapa tanah kosong di pinggir rumah, agar ketika di renovasi jadi luar.
Setelah memikirkan nya sejenak, Lin Feng sudah buat keputusan, jika Li Dan tidak mau rumah ini di renovasi buat anak-anak jalanan, terpaksa Lin Feng harus membayar nya yang Li Dan minta.
Lalu Li Feng berjalan keluar dari kamar, dan berjalan menuju Li Dan berada.
"Kak, baru bangun, kita tidak bisa sarapan pagi di rumah, bagaimana kalau kita makan di luar?". Tanya Li Dan.
"Baik tidak masalah, kakak juga ada yang kau di omongin sama kamu". Jawab Lin Dan.
Lalu keduanya keluar dari rumah, berjalan menyusuri ramai nya kota, mencari sebuah restoran.
Setelah melihat dari beberapa kejauhan, Lin Feng melihat ada sebuah restoran, lalu keduanya berjalan ke sana.
"Selamat datang tuan, mau pesan apa saja?". Tanya pelayan wanita.
"Siapkan makanan dan minuman saja, buat dua orang yang". Jawab Lin Feng,
"Baik tuan, mohon di tunggu pesanan nya". Balas pelayan wanita itu.
Lin Feng dan Li Dan langsung berjalan ke tempat meja, setelah sampai kedua nya langsung duduk.
"Li dan ada yang ingin kakak sampaikan kepadamu". Ucap Lin Feng.
"Kelihatan penting kak, tidak usah sungkan kak, berbicara saja, kenapa harus minta ijin juga". Jawab Li Dan.
"Baiklah jika kau jika kau sudah bilang begitu, aku akan langsung dengan inti pertanyaan nya saja". Ucap Lin Feng.
"Apa kau akan mengijinkan ku, jika aku merenovasi rumah mu?". Tanya Lin Feng.
Li Dan yang mendengar ucapan Lin Feng, langsung memandang ke arah Lin Feng dengan tatapan terharu.
"Apakah itu benar kak"?. Tanya Li Dan.
"Benar". Jawab Lin Feng.
"Tapi kenapa kak?". Tanya Li Dan penasaran yang tiba-tiba Kakak nya ingin merenovasi rumah nya.
"Kak berniat menggunakan rumah mu itu, untuk menampung banyak anak kecil di pinggir jalan". Ucap Lin Feng.
Li Dan benar-benar terharu dengan ucapan Lin Feng, selain baik ternyata banyak rencana tulus dan baik dari Lin Feng.
"Tapi kak, rumah itu kan kecil, jika pun kita renovasi, pasti hasilnya pun sama"m ucap Li Dan.
"Kau tidak usah khawatir tentang itu, habis makan kita samperin pemilik tanah di samping rumah, kau pasti tau kan?". Tanya Lin Feng.
"Tau kak, nanti akan aku tunjukan rumahnya di mana" balas Li Dan.
__ADS_1
"Baiklah". Balas Lin Feng.
Kenapa Lin Feng tiba-tiba ingin membuat seperti tempat asuhan, bukan tempat asuhan, lebih tepatnya nya menolong dan memberikan mereka pekerjaan juga di masa depan nanti.
Lin Feng akan mengumpulkan semua anak, atau pun orang di setiap kota, setiap kota juga ada sebuah rumah khusus mereka yang Li Feng cari dari pinggir jalan.
Lin Feng ingin membuat pasukan tersembunyi nya, jika kalau di massa depan akan ada sebuah perang besar, setidaknya Lin Feng sudah harus siap dalam jenis perang apapun.
Kebulatan hati Lin Feng sudah besar, hanya tertuju pada suatu tujuan ini, Lin Feng tidak akan memikirkan yang lain terlebih dahulu.
Lin Feng dan Li Dan kini sedang berjalan ke tempat orang yang mempunyai hak, atas tanah kosong di pinggir rumah Li Dan.
Beberapa saat kemudian, Lin Feng dan Li Dan sudah sampai di rumah pemilik tanah.
"Permisi pak". Ucap Li Dan sedikit berteriak.
Dari dalam rumah, terdengar suara langkah kaki orang berjalan mendekat ke arah pintu.
Tap...tap..tap..
Ceklek...
Pintu rumah terbuka, terlihat seorang pria tua, malahan sudah tua banget mungkin, tapi masih terlihat masih agak segar di mata Lin Feng.
"Ada nak?". Tanya pria tua itu.
"Gini kek, saya orang yang punya gubuk di lahan kakek itu". Jawab Li Dan.
"Kami berniat membeli tanah kosong di samping rumah itu". Jawab Lin Feng kini yang menjawab.
Pria tua di depannya kaget, pasalnya dari dulu kakek tua ini menawarkan, tidak ada yang mau beli tanah di sana.
"Berapa harga akan kakek jual, tanah itu kepada kami?". Tanya Lin Feng.
"Kakek jual murah saja nak, jika tidak di jual, kakek juga takut malah tidak laku, kakek selalu menawarkan pada orang lain, tapi tidak ada yang pernah mau membeli tanah itu". Jawab Kakek.
"Kakek jual tanah itu kepadamu, dengan harga dua ribu lima ratus koin emas saja nak, bagaimana menurut?". Tanya kakek.
"Baik kek, tidak masalah". Jawab Kakek.
Kakek di depannya langsung terkejut, karena Lin Feng langsung menerima begitu saja, tanpa tawar menawar.
"Nak apa kau serius?". Tanya kakek memastikan.
"Iya kek, aku serius ingin beli tanah itu". Jawab Lin Feng.
"Kau begitu, kau tunggu sebentar nak, akan kakek ambilkan terlebih dahulu surat-surat tanah nya". Ucap kakek.
Kakek itu, bergegas masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa, Karena dirinya tidak menyangka akan ada orang yang mau beli tanah di pinggir hutan.
Setelah beberapa menit kemudian, kakek tua itu datang dengan sebuah kertas dan pena.
__ADS_1
"Silahkan tanda tangan di sini nak". Ucap kakek sambil menunjuk ke arah kertas.
"Baik kek". Balas Lin Feng.
Lalu Lin Feng mengambil kertas di tangan si kakek, Lin Feng langsung tanda tangan di atas kertas, bahwa tanda kepemilikan surat tanah sudah pindah.
"Kek ini uang nya". Ucap Lin Feng, sambil menyerahkan sekantong emas kepada sang kakek.
Si kakek yang menerima sekantong emas, dirinya benar-benar senang. Pada saat kakek itu membuka kantong, si Kakek kaget dengan isinya.
"Nak kenapa ada seribu koin emas nak, ini kelebihan dari kesepakatan kita?". Tanya sang kakek bingung.
"Tidak apa-apa kek, buat kakek aja". Balas Lin Feng.
"Diman orang yang mau jadi tukang kek dan tempat membeli bahan bangunan?". Tanya Lin Feng.
"Saya ada teman yang jadi tukang, dan juga seorang penjual bahan bangunan". Jawab Kakek.
"Berapa uang yang di butuhkan, untuk membeli bahan bangunan nya?". Lin Feng.
"Tergantung kita bikin nya besar atau kecil nak". Jawab Kakek.
"Kek, boleh minta kertas kosong nya?". Lin Feng.
"Bentar nak". Jawab Kakek.
Si kakek mengambil kertas dan menyerahkan kepada Lin Feng.
"Ink nak". Ucap si kakek.
"Makasih kek". Balas Lin Feng.
"Sama-sama nak". Balas kakek.
Lin Feng langsung menggambar sebuah desain bangunan rumah, bangunan rumah dengan tanah luas sangat bagus, Lin Feng tidak akan menyia-nyiakan semua nya.
Lin Feng menggambarkan sebuah desain, tiga lantai dengan sebuah ruang bawah tanah yang luas, setelah menggambar desain bangunan rumah itu, langsung Lin Feng serahkan pada si kakek.
"Ini kek, kira-kira habis berapa". Tanya Lin Feng.
"Kalau besar seperti ini, menurut kakek, akan habis banyak kira-kira lima ribu koin emas dan juga tukangnya harus lebih banyak". Jawab Kakek.
Lin Feng tidak banyak omong, langsung melemparkan kantong emas agar besaran.
"Tolong Carikan tukang sepuluh kali lipat yang kakek perkirakan, didalam kantong emas itu, ada sepuluh ribu koin emas". Ucap Lin Feng.
Kakek di depannya sangat terkejut, tapi Kakek itu tidak banyak omong, hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda iya.
***
Jangan lupa like dan komentar nya ya.
__ADS_1
Terimakasih...