SLAVE to PANGERAN VAMPIRE

SLAVE to PANGERAN VAMPIRE
EPS. 10


__ADS_3

"Siapa dia?" tanya pria berkuda tersebut kepada Lauden. Ia sangat penasaran akan siapa gadis yang kali ini membersamai putra mahkota itu.


"Budak baru ku," jawab Lauden.


"Lagi?" keningnya mengkerut dengan alis naik sebelah. "Bagaimana dengan yang terakhir kali?


"Yang ini berbeda," jawab Lauden Engan.


"Entah kenapa, tapi percakapan mereka ini sangat menyakiti ya Tuhan. Mereka membicarakan aku seolah aku adalah benda mati. Dan apa katanya tadi, lagi? berarti bukan hanya aku budaknya dan kemana yang lain?" batin Lucy bermonolog.


"Iya sih, dari tampilannya saja sudah berbeda," kata pria berkuda mengamati.


Dia turun dari kudanya dan mendekat kearah Lucy. Tanpa bisa mengelak lelaki itu dengan lancangnya mengendus aroma semerbak dari ceruk leher Lucy hingga gadis itu gemetar.


Lauden yang menyaksikan kejadian itu pun kesal karena miliknya disentuh sesuka hati tanpa ijin darinya. Ia langsung menarik pria itu dan berdiri di depan Lucy, menjadi tembok bagi Lucy dan pria berkuda.


"Sudah ku katakan dengan jelas, bukan? She is mine! DIA MILIKKU," ulang Lauden dengan menegaskan sekali lagi kata milik agar pemuda berkuda menjauhi Lucy.


"Tapi..." pria berkuda menyeringai, bergerak kesamping Lauden demi bisa melihat Lucy dengan jelas.


Lauden mendengus kesal tapi dibalas seringain jahil dari pria berkuda.


"Dia manusia,"


Pria itu meneliti Lucy, sama persis seperti dirinya dan Lauden. Namun begitu, ada sesuatu yang membedakannya dan membuat pria berkuda itu yakin jika lucu adalah manusia seutuhnya.


Ditatap seintens itu oleh pria berkuda, Lucy tanpa sadar memepetkan tubuhnya dan menenggelamkan kepalanya dipunggung Lauden dengan tangan gemetar mencengkram ujung jubah milik Lauden. Takut.


"Hei gadis manis, jangan takut!" kata pria itu kelabakan karna melihat wajah pucat Lucy dan tubuhnya yang gemetar.


Lucy masih menyembunyikan kepalanya dibalik punggung kokoh Lauden dan mengangguk. Entah pria berkuda itu sadar atau tidak,

__ADS_1


"Baiklah, maafkan aku karna sudah membuatmu takut. Tapi aku tidak berniat menyakitimu." kata pria itu menyesal karna telah membuat Lucy ketakutan.


"Pergi!" usir Lauden dingin.


"Ckk selalu saja begini," pria itu memutar bola matanya malas, tetapi kembali ceria ketika berpamitan kepada Lucy.


"Aku pergi dulu gadis kecil, Sampai juga lagi."


"Siapa dia?" Lucy keluar dari persembunyiannya dan berdiri menghadap Lauden dengan raut wajah kepo tentang pria misterius tadi.


Lauden diam, tak berkeinginan untuk memberitahu Lucy tentang siapa pria berkuda tadi. Sikapnya berubah sangat dingin terhadap Lucy. Sebenarnya suasana hati Lauden benar-benar buruk sejak kedatangan pria berkuda tadi terlebih melihat tatapan tertariknya kepada Lucy, tapi masih ia tahan karna merasa getaran tubuh Lucy karena takut.


Merasa diabaikan, Lucy mengendikan bahunya menoleh kebelakang. Melihat punggung pria berkuda yang semakin mengecil di retinanya. Sebelum menghilang ditelan kegelapan, pria tersebut juga menoleh. Dan untuk beberapa saat pandangan keduanya terkunci satu arah, baru terhenti setelah mata Lucy tiba-tiba tertutup sesuatu.


"Jangan pernah jatuh cinta pada vampir!"


Lucy mengenyahkan tangan Lauden dari matanya dan menatap Lauden. Wajahnya merah, tatapannya tajam dan nada suaranya juga dingin.


"Why not?" tanya Lucy polos.


Lauden mendelik.


"Pernahkah kamu melihat seekor predator mencintai mangsanya?"


Lucy menggeleng dengan mata tetap fokus menatap manik coklat milik Lauden.


"Kamu pasti pernah mendengar cerita ini, kan? ada seorang pria memelihara seekor ular. Selama bertahun-tahun dia menjaga dan merawat baby ular ini dengan sepenuh hati, dia memandikan, membersihkan kotorannya, dan memberi makan layaknya anak manusia. Seiring berjalannya waktu, baby ular tersebut berubah menjadi ular dewasa dan tubuhnya tentu semakin membesar. Suatu hari, ketika mereka tengah tidur siang, tiba-tiba ular itu membelit seolah sedang memeluknya dan si tuannya pun membiarkan saja, karna merasa sudah terbiasa..."


"Lalu?" tanya Lucy penasaran.


"Lalu, ular tersebut melahap seluruh tubuh pria tersebut. Ternyata, selama ini ular itu bersikap manja dan selalu melilitkan tubuhnya pada sang tuan adalah karena ia tengah mengukur tubuh sang tuan, apakah tubuhnya cukup atau tidak menampung beban sebanyak itu."

__ADS_1


Lucy menggosok tengkuknya yang terasa meremang. Saking khidmatnya dia mendengarkan Lauden bercerita, ia bahkan tidak menyadari bahwa Lauden pun bisa menerkamnya kapan saja.


...****************...


Setelah kembali dari berburu, Lucy akhirnya menyadari bahwa kastil milik keluarga Lauden terletak di daerah terpencil dimana ia tidak akan bisa lari dari sana seorang diri dengan selamat. Lucy merasa seperti boneka yang tidak memiliki jiwa atas dirinya lagi.


Lauden masuk ke kamarnya sedangkan lucy berlalu ke dapur untuk menaruh hasil buruannya bersama Lauden.


Lucy terus berjalan dan mondar-mandir tanpa tahu harus melakukan apa, ingin masuk kedalam kamar dan beristirahat tentu akan canggung karna ada Lauden juga di sana. Ingin keluar sekaligus mencari jalan pulang juga mustahil ia lakukan.


"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?"


"Tidak ada yang bisa kamu lakukan."


Lucy menoleh dan....


.


.


.


.


.


.


BERSAMBUNG.!!


Jangan lupa like, koment, share, vote, dan rating jika suka ya bestie๐Ÿ’œ๐Ÿ™๐Ÿป

__ADS_1


__ADS_2