SLAVE to PANGERAN VAMPIRE

SLAVE to PANGERAN VAMPIRE
EPS. 11


__ADS_3

"Tidak ada yang bisa kamu lakukan." Kata seseorang yang tiba-tiba muncul dihadapan Lucy.


Lucy tidak menyadari bahwa sejak ia berada di dapur tadi ada yang memperhatikannya.


Lucy menoleh dan menatap si pemilik manik biru jernih itu dengan seksama, merasa familiar. Dan setelah mengingat-ingat kembali ternyata mereka memang pernah bertemu, tepatnya dia adalah pria berkuda di tengah hutan tadi.


Pria dengan mata berwarna biru jernih, alis tebal, rambut potongan two blok, hidung mancung meski tak seruncing Lauden, dan bibir yang merah merona seperti sedang menggunakan produk pelembap bibir.


Lucy yakin ia tidak salah ingat, meski di hutan hanya ada sinar bulan sebagai lampunya. Tapi suara dan juga bentuk tubuhnya Lucy ingat. Ia yakin tak salah terka.


"Tidak ada yang bisa kamu lakukan lagi setelah menjadi budaknya Lauden, karena pada dasarnya kamu hanya hewan peliharaan baginya ataupun sesudahnya." lanjutnya.


Lucy mundur beberapa langkah saat melihat pria itu tersenyum dengan arti yang tidak bisa didefinisikan.


"Who are you?" tanya Lucy.


"Haruskah aku memperkenalkan diri dulu?" sebelah alis pria tersebut naik ke atas dengan tangan mengetuk-ngetuk dagu.


Lucy mengangguk, "Iya, karna aku tidak berbicara dengan orang asing."


"Baiklah, kenalkan. Namaku Prince Arthur." katanya menyodorkan tangannya meminta dijabat.


Lucy memandangi uluran tangan tersebut dan pria yang mengaku sebagai prince Arthur bergantian.


"Prince? ku kira Lauden adalah satu-satunya pangeran di kerajaan ini, ternyata dia masih memiliki saudara kandung lainnya." pikir Lucy.


"Ckk! bagaimana kamu bisa begitu lancangnya berfikir bahwa kami bersaudara? hei... Aku dan si kanebo kering itu dua orang yang berbeda jika kamu mengenalku lebih dalam," katanya protes akan pemikiran Lucy.


Lucy kontan membelalakkan matanya, pikirannya mempertanyakan hal barusan.


"Bagaimana pria ini mengetahui apa yang sedang aku pikirkan?"


Pria di depan Lucy pun tertawa geli melihat raut bingung dan pikirannya yang berkecamuk.


"Kamu mempertanyakan kemampuanku?" tanyanya.

__ADS_1


Lagi. Lucy semakin kaget dibuatnya.


"Dasar gila! itu pasti hanya kebetulan kan? di dunia ini tidak ada yang bisa menembus pikiran seseorang," kata Lucy lagi dalam hati.


"Ish kau ini..." pria itu merengut gemas. "Aku tidak gila, kau tahu? aku mempunyai kemampuan istimewa, dan kemampuan istimewaku adalah membaca pikiranmu. Ralat! bukan hanya kamu, melainkan semua orang yang ada."


Lucy tertawa ngakak sambil menggelengkan kepalanya ribut tanda ia tidak percaya dengan apa yang Arthur katakan.


"Try me," kata Arthur menantang Lucy untuk mengatakan sesuatu di dalam hati dan ia akan menebaknya.


"Aku tidak perduli," kata Lucy dalam hati.


"Aku tidak perduli," kata Arthur.


"Bagaimana bisa~"


"Bagaimana bisa~"


Arthur meniru sama persis apa yang Lucy katakan dalam hatinya.


"Namaku Prince Arthur" memberi tanda kutip dengan kedua jari saat menyebut kata "Prince"


"Aku dan si kanebo kering bukan saudara serahim, no. Maksudku, bagaimana caranya kamu bisa berfikir kami bersaudara? dia kasar dan aku begitu imut. Jelas saja kami berbeda!" katanya dengan wajah merengut dan bibir mencuat Lucu. Entah kenapa setiap kali membicarakan Lauden dia tampak kesal sekali.


"Jika aku bisa memilih siapa diriku ini, aku bahkan tidak ingin menjadi bagian dari keluarganya. Dia begitu sombong, keras kepala, kasar dan dingin seperti es."


Lucy diam. Tidak tahu harus memberi respon seperti apa terhadap ocehan pria tampan nan imut di depannya. Tapi satu yang pasti, Arthur itu type orang yang friendly, ramah, lembut dan asik. Lihat saja, dia terus mengoceh meski Lucy kebanyakan diam. Benar-benar kebalikan dari Lauden.


"Aku anaknya mom Lethia, kamu pernah bertemu dengan ibuku kan?" tanya Arthur.


Deg!


Tubuh Lucy menegang seketika karna terkejut. Tentu dia tahu siapa Lethia. Lethia adalah wanita yang paling Lucy hindari. Wanita yang membuatnya berpikir seberapa ambisinya wanita itu membunuhnya.


"Bagaimana pria selembut ini memiliki ibu sekejam Lethia?" tanya Lucy dalam hati.

__ADS_1


"Aku suka aroma mu, bisakah aku menciumnya sebentar?" pinta Arthur dengan puppy eyes nya.


Lucy melangkah mundur. Dia kira Arthur orang baik seperti wajahnya. Tapi, dia justru mematahkan asumsi Lucy dengan bertanya sesuatu yang aneh.


"Hei, tenanglah! jangan takut, aku tidak akan menyakitimu." katanya berusaha menenangkan Lucy sambil berjalan kearah Lucy.


"Jangan mendekat!" Lucy menodongkan jari ke arah Arthur dengan gemetar. "Ku mohon jangan mendekat."


"Apa kau akan menggigitku? kau menginginkan darah manusiaku juga?"


"Tidak, aku hanya suka aroma mawar di tubuhmu. Aromanya sangat cantik, seperti wajahmu." kata Arthur enteng.


Arthur berjalan lebih dekat kearah Lucy, menyisakan jarak antara dirinya dan Lucy hanya beberapa senti saja. Kemudian menghirup udara disekitar tubuh Lucy seolah udara itu segar dan harum.


"Pantas saja Lauden sebegitu kekehnya mempertahankan mu sebagai wanitanya. Karena aroma darahmu yang manis dan harum..." katanya.


Lucy nyaris mati karena menahan nafas saat bibir basah yang mengkilap milik Arthur menggigit telinga bagian dalam dan mencium garis lehernya dengan intens.


"Bagaimana rasanya?"


"Hmm... Rasanya~"


.


.


.


.


.


BERSAMBUNG.!!!


Jangan lupa like, koment, share, vote dan rating karya othor ya bestie๐Ÿ’œ๐Ÿ™๐Ÿป

__ADS_1


__ADS_2