SLAVE to PANGERAN VAMPIRE

SLAVE to PANGERAN VAMPIRE
EPS. 36


__ADS_3

"Saya tidak mempercayai siapa pun," bisik Lucy.


"Tapi kau lebih mempercayai Arthur?" Kata Lauden, yang sedang dibakar api cemburu.


"Aku tidak mengatakan itu, aku hanya mengatakan bahwa aku tidak mempercayai siapa pun. Itu berarti aku juga tidak percaya Arthur," kata Lucy.


"Kau menyukainya,"


"Aku tidak menyukai siapa pun."


"Kau cenderung percaya bahwa ibumu bunuh diri daripada dibunuh oleh pamanmu,"


"Bukan karena aku percaya pada Arthur, maka aku tenang saat tahu ibuku bunuh diri tapi karna jauh dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku berharap dia bunuh diri, bukan dibunuh oleh pamanku. Itu akan membuat saya ingin membencinya, saya tidak ingin membenci siapa pun." Lucy mencoba menjelaskan mengapa dia berharap ibunya bunuh diri.


Mereka berdua saling bertatapan dengan tatapan tajam satu sama lain.


"Ssst..." Vladimir berbisik dari balik meja, mengingatkan putra mahkota dan budaknya yang sedang berseteru agar diam. Dia juga menarik ujung telunjuknya ke bibirnya.


Gerakan Vladimir membuat Lauden dan Lucy terdiam. Sementara itu, kedua dokter itu menengok ke kiri dan ke kanan mencari sumber suara.


"Kau dengar sesuatu?" Tanya dokter yang memakai stetoskop dilehernya.


"Tidak," jawab dokter satunya.


"Tapi aku mendengarnya," bantah si stetoskop.


Dokter dengan stetoskop dilehernya pun berjalan kearah lemari yang menyembunyikan Lauden dan Lucy.


"Kau takut?" Bisik Lauden saat mendengar detak jantung Lucy berdegup kencang.


"Tidak, aku hanya khawatir mereka menemukan kita di sini." Kilahnya.


Dari sela lemari, mata Lauden dan dokter itu bertemu. Entah sadar atau tidak tapi Lauden menyadari ada yang aneh dengan dokter tersebut. Samar-samar, ia melihat kulit dokter terlihat sangat pucat dan bercahaya. Padahal keduanya masih terlihat segar bugar.


"Dia seorang vampir?" Gumam Lauden.


Lucy pun ikutan menoleh.


"Kurasa begitu," jawab Lucy dengan berbisik.


Vladimir bertanya melalui isyarat, "haruskah kita menyerangnya?"


Vladimir melihat kepala Lauden bergerak di antara celah-celah lemari.

__ADS_1


"Hei, sudahlah. Tidak ada apapun selain para mayat disini. Cepatlah! kita harus menyelesaikan ini sebelum ada yang datang." Peringat dokter yang satunya.


Dokter dengan stetoskop itu pun berbalik lalu memberikan cairan ke seluruh tubuh paman Lucy dari suntikan.


Lucy mengerutkan alisnya. Dia merasa ada yang aneh dengan mereka berdua.


"Apa yang mereka lakukan?" desisnya.


Setelah memastikan cairan itu terserap ke dalam pori-pori kulit pamanya Lucy, kedua orang itu dengan tenang keluar dari ruangan.


"Kamu baik-baik saja?" Tanya Lauden saat ketiganya keluar dari persembunyian.


"Ya"


"Apa yang dilakukan vampir di sini?" Tanya Lauden bingung.


Vladimir segera memeriksa mayat paman Lucy. Lucy masih merasa tertegun setiap kali melihat mayat orang yang membesarkannya saat ia masih kecil.


Vladimir memeriksa cairan yang mereka berikan. Cairan itu telah mengering. Namun, Lauden melihat ke bagian belakang leher, di mana cairan itu masih tersisa.


Pria itu mengendusnya dengan hidungnya.


"Ini adalah jejak cairan vampir," kata Lauden dengan yakin.


"Cairan ini menghilangkan jejak apa pun yang menunjukkan adanya DNA asing dari manusia," kata Lauden.


"Berarti, kerajaan vampir sudah mengetahui kasus ini," kata Vladimir.


Lauden dan Vladimir saling berpandangan. Jika ada racikan penghilang DNA manusia berarti Keluarga kerajaan vampir sudah mengetahui tentang kasus ini, dan mereka pasti telah membentuk tim investigasi untuk mencari keberadaan ayahnya Lucy.


"Gawat!" seru Vladimir.


"Ada apa?" Lucy yang tidak mengerti apa-apa tentang peraturan di dunia vampir hanya tercengang. Ia merasa ada sesuatu yang menjebak ayahnya. Baginya, ada keluarga kerajaan yang sudah mengetahui keberadaan ayahnya di luar sana. Namun, waktu mereka sangat tepat dengan ayah Lucy yang meninggalkan penjara bawah tanah yang disediakan Lauden.


Lauden mulai mengelus-elus dagunya untuk berpikir lebih jernih. Satu tindakan yang salah akan mengakibatkan perang atau hukuman bagi semua orang.


Ia mulai berjalan menuju pintu kamar yang telah ditutup oleh kedua vampir yang menyamar sebagai dokter.


Satu-satunya cara untuk keluar dari masalah ini adalah dengan masuk terlebih dahulu. Jika kita tidak masuk ke dalam ruangan, kita tidak akan bisa menemukan jalan keluar. Itulah yang dipikirkan Lauden saat ini.


"Vla, pergilah ke Xandified sekarang juga. Cari tahu di mana Damien berada. Segera tangkap dia sebelum pasukan kastil. Dan jangan sampai kalian dikejar." Titah Lauden


"Baik tuan."

__ADS_1


Vladimir membungkukkan badannya membentuk busur sembilan puluh derajat, dan memutar langkah kebelekang, sesuai perintah Lauden.


"Ayahmu tidak membutuhkan darah pamanmu. Jika dia hanya membutuhkan darah untuk diminum, di tubuh pamanmu seharusnya terdapat bekas gigitan. Tapi ini tidak. Sepertinya dia hanya balas dendam," kata Lauden menyimpulkan pengamatannya.


Lucy mengalihkan pandangannya dari pamannya karena dia sendiri belum bisa menerima kenyataan ini.


"Ayahku tidak mungkin dendam pada adiknya sendiri. Pasti ada orang yang menjebak ayahku," kata Lucy.


"Apa maksudmu?" Tanya Lauden.


"Pasti ada vampir lain yang melakukan hal ini dan bertindak seolah-olah ayahku lah pelakunya." Pikir Lucy.


"Tapi, kau tahu sendiri, kan? Semua vampir berkumpul di istana untuk merayakan pesta penyambutan yang Lethia buat kemarin malam. Anggap lah benar tuduhan mu bahwa ada vampir lain yang membunuh pamanmu, tapi Mereka semua punya alibi." Kata Lauden.


Lucy pun menghembuskan nafas karena kecewa. Hanya itu yang ada di pikirannya agar ayahnya tidak menjadi tersangka yang dicari oleh para vampir. Tapi yang Lauden paparkan barusan juga ada benarnya.


"Paman ku adalah orang yang baik meskipun dia menyebalkan. Kau tahu? dia selalu memarahi ku jika saya tidak pulang ke rumah karena pekerjaan. Aku harap dia akan tenang di surganya Tuhan." Lucy berbisik sebelum menutup tubuh pria itu dengan kain putih dan mengembalikannya ke tempat semula.


Lauden hanya diam mendengarkan.


"Apakah kau berjanji untuk tidak membunuh ayahku saat kita bertemu nanti?"


Lauden menjawab, "Saya tidak bisa menjanjikan apapun."


Lucy tertawa sedih. "Begitu, ya?"


"Karena kerajaan vampir tidak memiliki toleransi kepada manusia yang menyakiti manusia lain, oleh sebab itu mereka juga akan mencari orang yang kita cari. Makanya jangan sampai mereka menemukan ayahmu sebelum kita. Lagi, jangan katakan apapun saat kau berhadapan dengan Arthur." Kata Lauden.


"Arthur tidak jahat," kata Lucy kepada Lauden yang terlihat membenci Arthur.


"Kau sendiri yang barusan mengatakan bahwa tidak ada yang bisa dipercaya di dunia ini."


.


.


.


.


BERSAMBUNG.!!!


Jangan lupa like, koment, share, vote dan rating ya bestie๐Ÿ’œ๐Ÿ™๐Ÿป

__ADS_1


__ADS_2