
Seusai membersihkan diri seperti perintah Lauden, Lucy keluar dengan pakaian lengkap dan tentunya menggunakan pakaian pemberian Lauden. Ia melihat sekeliling, mencari jalan untuk melarikan diri dari kastil menyeramkan ini.
"Ya Tuhan, tolong bantu aku." gerutunya dalam hati.
Sibuk memandang, akhirnya mata Lucy berhenti pada sebuah gerbang diujung lorong depan tak jauh dari kamar Lauden. Tiba-tiba dia merasa mendapat angin segar, tapi masalahnya dia saat ini sedang diikuti oleh satu, dua... ada lima belas pelayan. Gila! setakut itukah Lauden padanya hingga mengirimkan orang sebanyak ini untuk mengawasinya?
"Ekhem..."
Lucy sengaja batuk pelan untuk membuka obrolan.
"Apa kau memerlukan sesuatu nona?" tanya Lenore.
"Ya, aku butuh makanan. Dan aku ingin banyak karena aku sangat lapar," kata Lucy dengan dagu terangkat keatas. Biarlah dia dianggap tidak sopan kepada orang tua, tapi ini satu-satunya cara agar para maid itu benci akan sikapnya.
"Baik nona, aku akan memerintahkan beberapa pelayan untuk mengambilkan mu makanan."
"Jangan beberapa, tetapi kalian semua! aku tidak ingin makanan yang ada di kastil. Aku ingin makanan kota," Lucy terpaksa meminta mereka untuk mencari sesuatu yang belum tentu bisa mereka dapatkan.
Saat Lenore akan berkata lagi, Lucy dengan cepat memotongnya.
"Ini adalah perintah pangeran Lauden, cepat Carikan aku makanan. Dan jangan pernah kembali sebelum kalian menemukannya!" kata Lucy sedikit keras, seolah-olah itu benar perintah Lauden.
"Tapi tuan muda~" kata Lenore hendak menyela.
"Apakah kamu tidak mendengar berita yang dikeluarkan oleh pengadilan? sekarang aku adalah anggota kastil. Aku adalah istri dari pangeran Lauden! pergilah cepat dan segera beri aku makanan."
"Baik nona muda, kalau begitu kami permisi." pamit Lenore.
Lucy menatap punggung para pelayan satu persatu dengan tatapan lirih.
"Maafkan aku bibi, aku terpaksa berbohong. Aku hanya ingin hidup normal selayaknya manusia pada umumnya. Itu saja,"
Setelah memastikan keadaan aman terkendali, Lucy berjalan mengendap-endap dan menyelinap keluar dari kamar. Ketika tiba diperbatasan lorong dan kamar Lauden, gadis itu berlari sekuat yang dia bisa. Tapi, saat semakin dekat dengan gerbang, tiba-tiba dia menabrak seseorang yang berlari seperti Komeng dan berdiri tepat didepannya.
"Aduh!" seru Lucy spontan saat kepalanya terasa berdenyut karna terbentur sangat keras dengan tubuh atau gapura, entahlah.
Mata Lucy membelalak saat melihat seseorang yang ia tabrak tengah menatapnya garang.
"Kau..."
"Hallo, little girl. Where are you going? (Hallo, gadis kecil. Mau kemana?" tanya wanita yang berdiri di depan Lucy sambil menyeringai.
Kalian tahu Maleficent? tokoh wanita di film fiksi asal Amerika serikat yang memiliki tanduk di kepalanya. Ya, wanita yang sedang berhadapan dengan Lucy saat ini kira-kira begitulah bentukannya. Bedanya dia tidak memili tanduk.
Eyeliner gelap yang memenuhi matanya menajamkan tatapanya. Wanita itu mengambil satu langkah lebih dekat ke arah Lucy yang berjalan mundur ketakutan.
Wanita ini adalah orang yang sama dengan orang yang menghasut seluruh peserta sidang untuk membunuhnya. Meski dari suaranya Lucy menebak bahwa wanita itu sangatlah ganas, tapi ia tidak tahu jika faktanya wanita itu lebih menyeramkan dari apa yang dia perkirakan.
__ADS_1
Mata penuh dengan eyeliner gelap, bibir merah merona, taring yang mencuat keluar dan tatapan sinis mematikan. Dia adalah Lethia.
"Bukankah kamu istri dari Lauden keponakanku?" Kata Lethia.
"Hmm.. Anu..." gumam Lucy dengan suara serak, gadis itu hampir menangis karena takut.
"Kau memiliki mata yang indah dan rambut yang menawan, pantas saja Lauden begitu terpikat. Ternyata kau memiliki pesona yang memabukkan." Kata Lethia sambil memegangi ujung rambut Lucy.
Lucy tidak bodoh untuk dapat menyadari bahwa kalimat tersebut bukanlah pujian yang tulus untuknya.
Lethia menoleh kebelakang, ke arah gerbang utama. Lalu beralih menatap kearah Lucy lagi.
"Ingin lari dari kandang singa setelah tahu kau hanya seekor kambing, heh?"
"...?"
"Apakah kau pikir kau bisa masuk dan keluar dari kastil ini sesuka hatimu, begitu? maka teruslah bermimpi!" Kata Lethia sarkas.
"A-aku... Hmm, Tidak!" Lucy hendak menjawabnya dengan kalimat: "Aku tidak takut!" tapi kata itu justru tertelan didalam mulutnya saja.
"Ini sangat menarik, kau tahu? Lauden bahkan tidak tahu apa yang sedang ia pertahankan saat ini." Bisik Lethia ditelinga Lucy.
Lethia tiba-tiba mundur, memberi jarak antara dirinya dan Lucy. "Pergilah,"
"A-apa maksud mu?" tanya Lucy terbata-bata.
"Keluarlah, supaya aku mempunyai alasan untuk membunuhmu." kata Lethia sambil tertawa keras seperti orang gila.
"Apa yang akan kau lakukan?" seru Lucy kaget sekaligus takut melihat tindakan absrud Lethia.
Ssstt...
Tiba-tiba, seorang pria yang menjulang tinggi berdiri di depan Lucy, memberi sekat antara Lethia dan Lucy.
"Gadis itu hendak kabur dari sini, bukan salahku jika mencicipi sedikit darahnya, kan?" tanya Lethia dengan raut wajah kesal karena ada yang mengusiknya.
"Dia adalah milik saya, itu artinya hanya saya yang boleh menyentuhnya." balas Lauden.
"Dasar bucin!"
"Hanya jika dia kabur dari kastil ini baru kamu saya izinkan untuk menikmati darahnya, selebihnya jangan harap saya diam ketika ada yang mengusiknya."
Mata Lucy kontan melebar mendengar perdebatan dua orang didepannya. Bagaimana mungkin mereka saling mempertaruhkan satu dengan yang lain hanya karna dirinya?
Lethia mengangguk setuju dengan penawaran yang Lauden berikan dan hendak pergi dari sana, tapi sebelum pergi ia kembali menoleh kepada Lucy yang berada dibalik punggung Lauden.
"Semoga kau tidak berubah pikiran nak, sesungguhnya gerbang itu menunggumu untuk melewatinya." Kata Lethia dan berlalu dari sana dalam hitungan detik.
__ADS_1
Setelah Lethia pergi, Lauden membalikkan badannya menatap Lucy gemas. "Heh, gadis bodoh! apa yang kamu lakukan? berulang kali saya katakan, kamu adalah budak saya. Kamu milik saya, apakah ada budak yang tidak mematuhi tuannya?"
"Tapi aku tidak ingin menjadi budakmu," jawab Lucy dengan kepala tertunduk, malu.
"Bahkan sekarang kamu masih memberontak,"
Lauden menyeringai. Lalu mendekatkan tubuhnya ke tubuh Lucy, meraih lengan gadis itu dan pinggulnya sekalian tanpa izin membuat Lucy mendongak dan melotot.
"Apa yang Kau Lakuk~" belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya sudah dibuat melayang ke dimensi lain oleh Lauden.
Hebat! hanya dalam beberapa detik mereka sudah kembali kedalam kamar Lauden.
Masih dengan posisi yang sama, Lauden mengendus aroma darah Lucy dengan mata tertutup seolah-olah aroma manis itu menyebar melalui dirinya.
"Kenapa darahmu begitu harum, sengaja menggoda ya?" Bisik Lauden. Dia bahkan sengaja mengecup kecil beberapa kali kulit leher Lucy seperti benar-benar akan menggigitnya.
"Hentikan... Ahh" desah Lucy kegelian. Bulu tipis di sekujur tubuhnya meremang diperlakukan demikian.
"Kenapa? bukankah ini yang kamu inginkan?"
Lucy menggeleng ribut, membantah asumsi Lauden terhadapnya.
"Duduklah dilantai." Perintah Lauden dengan suara dalam. Sengaja dia lakukan hanya untuk menguji ketaatan Lucy padanya.
Lucy membuka matanya dan berkedip polos,
"Apa?"
"Hm."
Lucy pun menjatuhkan bokongnya kelantai dasar seperti kehendak Lauden dengan engan. Dia pikir kali ini mungkin tidak ada celah untuk melawan namun setelah Lauden lengah, dia akan membalas dan lari secepat mungkin.
"Angkat kepalamu," Kata Lauden.
Lucy mendongak dengan mata tertutup rapat. Dia mulai memikirkan kemungkinan yang harus dia bawa sebagai budak.
"Open your mouth!"
.
.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG.!!!
Jangan lupa like, koment, share, vote dan rating karya othor ya bestie๐๐ป๐