SLAVE to PANGERAN VAMPIRE

SLAVE to PANGERAN VAMPIRE
EPS. 25


__ADS_3

Sejak hari itu, Lucy terus memperhatikan Lauden dari kejauhan. Dia masih tidak mengerti kenapa pria itu berusaha menyelamatkan ayahnya.


Pandangan Lucy lurus kedepan, menembus beningnya kaca jendela. Sementara itu, Lauden sedang berada di taman yang ada di depan kastilnya, dia bersantai sambil membaca buku.


Satu hal yang Lucy pelajari tentang Lauden adalah pria itu sangat menyukai buku, disela-sela waktu liburnya, pria itu gunakan untuk membaca buku. Terutama tulisan tentang vampir.


Tanpa disadari, sudut bibir Lucy tertarik menjadi senyuman ketika dia melihat wajah tegas milik Lauden tengah serius membaca buku ditangannya.


"Andai aku memiliki kemampuan seperti Arthur, orang pertama yang aku teliti pikirannya adalah kamu," gumamnya pelan.


Disudut lain, tatapan Arthur berhasil menembus pikiran gadis yang sedang termenung di jendela kamarnya dengan fokus tertuju pada Lauden dibawahnya.


Dari mata dan bisikan hatinya, Arthur dapat melihat bagaimana kagumnya Lucy terhadap sosok pangeran di kerajaannya itu.


"Cih, apa hebatnya si kanebo kering?" Desis Arthur tak suka, ia kemudian dengan kekuatan vampirnya masuk kedalam kamar Lucy dan membuatnya terkejut.


"Astaga, Arthur! Selalu saja mengagetkanku." Pekik Lucy sambil mengelus dadanya.


"Ayahmu meninggal, tapi kamu terlihat bahagia." Cibir Arthur, dia mulai tidak suka dengan perubahan wajah Lucy. Bukan berarti ia juga tidak senang pujaan hatinya itu bahagia, hanya saja, ah entahlah...


Sebelumnya gadis itu tampak murung dan tertekan. Tapi, apa yang Arthur lihat hari ini berhasil mengusik pikirannya. Gadis itu terlihat bahagia, bahkan saking bahagianya persis seperti remaja yang sedang jatuh cinta.


"Aku sedih," kata Lucy keberatan dituduh tidak sedih oleh Arthur.


Arthur mendekat, berusaha mencari sesuatu dari mata Lucy yang terus dialihkan darinya.


"Kamu menyembunyikan sesuatu dariku, kan?" Tanya Arthur penuh selidik.


Lucy terdia, sambil terus menghindari tatapan mata keduanya agar tidak bertemu.


Arthur akhirnya menyerah saat melihat Lucy terus menghindarinya. Dia tidak ingin egois meski rasa ingin tahunya begitu besar tentang sebab gadis itu tidak lagi bersedih.


"Baiklah, kalau itu mau mu."


"..."


Keduanya diam beberapa saat.


Lucy yang sibuk berfikir bagaimana menghindari komunikasi dengan Arthur, sedangkan Arthur berfikir kenapa Lucy menyembunyikan sesuatu darinya.


"Ekhem..." Arthur berdehem kecil, membuka kecanggungan antara mereka.


"Karna pelarian terakhir kita gagal. Aku sudah menyusun rencana baru untuk membawamu kabar," kata Arthur.


Lucy memberikan atensinya, jika sebelumnya tawaran itu Lucy sambil dengan antusias. Kali ini justru ia sambut dengan berat hati. Niat awal gadis itu memang sangat ingin keluar dari kastil ini, tapi setelah tahu ayahnya juga merupakan bagian dari mereka, Lucy merasa enggan.


Tidak ada alasan lagi untuk Lucy harus keluar dari sana. Ayahnya terikat di hutan Dysis, ibunya telah tiada karna depresi. Jadi apa?


"Kamu terlihat tidak bahagia dengan pembicaraan kita kali ini," cetus Arthur dengan wajah datar.


Wajah yang sejak pertama kali mereka bertemu selalu tersenyum cerah, kini lebih serius dan datar. Lucy bahkan sempat tertegun melihat perubahan itu.


"Tidak juga,"


"Kamu pasti sedih karna malam itu kita gagal melarikan diri, kan? Tenanglah, kita akan mencoba lagi nanti, kali ini aku yakin kita akan berhasil. Aku sudah menyusun rencana, kita akan pergi ketika..."


"No!" Potong Lucy cepat.

__ADS_1


Alis Arthur naik sebelah, "Why?" Tanyanya bingung.


"Aku berubah pikiran sekarang ini," jawab Lucy.


"Alasannya?"


"Bukankah sudah cukup jelas bagimu? Apapun yang kita lakukan endingnya pasti gagal lagi, gagal lagi. Aku lelah melakukannya, itu saja." Lucy menjawab dengan kepala tertunduk. Kentara sekali jika ia sedang berbohong.


"Aku tahu kamu berbohong, jadi katakanlah yang sebenarnya."


"Apa lagi yang harus diperjelas? Kamu sendiri melihatnya bukan, lalu alasan apalagi yang kupakai untuk pulang?" Tanya Lucy sendu. Tentang ini dia memang tidak berbohong, ia benar-benar merasa sedih saat keluarga yang selalu harmonis kini terpecah belah, tak tentu arah.


Secara logis, mungkin orang-orang akan menganggapnya gadis bodoh karna masih mau bertahan disisi Lauden, tapi dia juga tidak mungkin meninggalkan ayahnya sendirian di lingkaran vampir. Lagi pun, dia tidak mungkin memberitahu Arthur jika alasan terkuat ia ingin tinggal adalah karna Lauden satu-satunya orang yang tahu jika ayahnya masih hidup.


"Jadi, kamu memilih untuk untuk menyerah kepada Lauden dan menjadi budaknya selamanya, begitu?" Tanya Arthur yang masih tidak percaya akan keputusan yang tiba-tiba baginya.


Lucy menghela nafas berat.


"Itu keputusanku Arthur. Jika pun aku kembali, tidak akan ada tempat bagi seorang gadis yang telah kehilangan orang tuanya seperti ku, di kota."


"Jangan bilang kau tinggal karna jatuh cinta pada Lauden?" Tuduh Arthur. Kali ini dia bertanya dengan intonasi naik satu oktaf.


Pria itu baru sadar jika selama beberapa hari ini kedua orang yang mengaku sebagai tuan dan budak itu tampak akur dan harmonis.


Membayangkan Lucy jatuh cinta terhadap Lauden membuatnya marah. Dia cemburu karna Lucy dengan mudahnya memberikan hatinya kepada sepupu sekaligus pangeran di kerajaannya.


Lucy tertawa sumbang mendengar tuduhan Arthur barusan.


"Bagaimana mungkin aku jatuh cinta dengan pria sombong seperti dia? Hahaha... Ada-ada saja kau ini,"


"Kenapa bagus?"


"Bagus, karna aku tidak mungkin bisa masuk kedalam hati yang sudah terisi." Kata Arthur serius. Bahkan ketika ia berujar demikian, matanya fokus kearah Lucy.


"Arthur, kamu orang yang baik. Tapi, aku juga meragukan perasaanmu itu. Em, maksudku, bagaimana mungkin kamu bisa menyukaiku? Apa yang kamu sukai dari gadis sepertiku?" Tanya Lucy polos.


"Vampir tidak punya feeling, kan?" Tambahnya.


"Kuharap kau memiliki kemampuan membaca pikiran orang lain sepertimu, agar kau bisa membaca nama siapa yang selalu kupikirkan..."


Lucy menjawab, "aku juga berharapnya begitu..."


"..."


Krik... Krik...


"Ayo kita jalan-jalan," ajak Arthur.


Dia sadar Lucy adalah manusia pasif dan kaku. Jadi dia berfikir, dialah yang harus banyak mengambil peran agar komunikasi keduanya terus berjalan.


Sebelum mengiyakan, Lucy menoleh sebentar keluar. Di tempatnya, Lauden masih fokus membaca buku. Belum ada tanda-tanda akan beranjak dari sana.


"Baiklah." Lucy pun akhirnya menerima ajakan Arthur untuk melihat-lihat kastil. Hitung-hitung healing lah ya, sebab selama tinggal di sana tempat paling jauh yang Lucy kunjungi palingan sekitar dapur, dan perpustakaan yang ada di lorong atas dekat kamar Lauden.


Kembali ke sisi Arthur dan Lucy.


Mereka berdua berhenti di depan sebuah pigura yang dicetak dalam ukuran besar dan ditaruh di ruang keluarga lantai dua. Dalam pigura tersebut ada seorang pria gagah dengan pakaian tempur berdiri di samping kuda. Di tangan kanannya ada tameng, di pinggangnya tergantung sebilah pedang perak yang mengkilat.

__ADS_1


"De Pompadour family adalah vampir dengan darah murni," katanya sambil memandangi pigura tersebut.


"Apa maksudnya?" Tanya Lucy.


"Kamu, keluarga De Pompadour adalah vampir yang dilahirkan dari pasangan yang memang keturunan vampir asli. Bukan karna infeksi dari gigitan vampir lainnya. Itu juga yang menjadi alasan kenapa hanya kami yang bisa mewarisi kerjaan selatan."


Lucy menyimak cerita yang Arthur sampaikan meski tidak mengerti apa intinya.


"Keluarga De Pompadour juga tidak bisa mati hanya dengan peluru perak, kami hanya bisa mati karna api suci." Imbuhnya.


"Aku tahu, Lauden sudah menjelaskannya lebih dulu" batin Lucy.


"Oh, kamu sudah tahu tantang api suci rupanya..." Ucap Arthur saat matanya melihat kenangan yang Lucy pikirkan saat Lauden mengajaknya melihat api suci saat itu.


"Kematian adalah sebuah kemewahan bagi kami. Kehidupan yang terlalu lama seringkali membuat hidup manusia menjadi tidak bermakna. Aku saja tidak ah is pikir kenapa ada manusia yang menyia-nyiakan hidupnya dengan bunuh diri, padahal hidup mereka sangat singkat." Kata Arthur, mengingatkannya lagi kepada Lauden.


"Ngomong-ngomong, aku lihat sepertinya kamu memang jatuh cinta kepada sepupuku itu, kan?"


Lucy membulatkan matanya lebar. "Hah?" Katanya gelagapan.


"Mengaku saja jika benar demikian," todong Arthur.


"Kau mencintainya, kan?"


"Heh Arthur, aku bukan dirimu yang bisa mengatakan cinta tanpa rasa. Lagipula, bagaimana mungkin itu terjadi? Aku pastikan bahwa aku, Lucynda Spenser. Tidak akan dan tidak akan pernah jatuh cinta padanya. Kenapa juga kamu berfikir demikian?" Geram Lucy kesal.


"Karna aku sudah mengoceh tentang ini dan itu, tapi satu-satunya hal yang terlintas dalam pikiranmu justru si kanebo kering saja. Kau tahu? Aku cemburu padanya," Arthur dengan gamblang mengutarakan ketidaksukaannya terhadap perasaan Lucy yang lebih fokus pada Lauden saat bersama dirinya.


Lucy tertawa, mengelak tuduhan tak mendasar yang Arthur lontarkan.


"Kau tahu Lucy, aku tidak pernah menyatakan perasaanku pada manusia sebelum ini.


"Karna belum ada yang secantik diriku kan?" Kelakar Lucy.


"Aku serius, hanya kamu satu-satunya yang aku suka." Kata Arthur membela diri.


Wajah Lucy yang sejak tadi dibuatnya sejenak mungkin berubah datar, saat Arthur terus-terusan mengeluarkan kata pengoyah iman.


"Tolong jangan pernah jatuhkan hatimu pada Lauden. Jika kau ingin jatuh cinta, tataplah mataku, maka kau akan menemukan ketulusan di sana."


.


.


.


.


.


BERSAMBUNG.!!!


Ah, sibabang Arthur bisa aja🥱 ngga tau apa jodohnya si neng lucu udah othor tetapkan.


holla bestie-bestie othor, dimana pun kalian berada othor harap kalian sehat selalu ya😉 tau-tau udah Senin aja sekarang hehehe...


Ritualnya sepeti biasa ya bestie🙏🏻 tolong like, koment, share, vote dan rating karya othor seikhlasnya.

__ADS_1


__ADS_2