
Di tengah-tengah pesta, seorang pria yang Lucy yakini orang suruhan Lauden datang, menghentikan kegiatan tuannya yang sedang berdansa. Pria itu datang dengan tergesa dan menyampaikan kabar yang mengejutkan.
"Apa?" tanya Lauden pada orang suruhannya itu.
Pria itu tak langsung menjawab, melainkan melihat kearah Lucy yang juga terlihat ingin tahu. Mengikuti arah pandang sang ajudan, Lauden pun tersadar dan meminta jeda terlebih dahulu pada gadis itu.
"Kami kembalilah terlebih dahulu, saya akan menyusul setelah ini."
"Tidak, aku disini saja." Balas Lucy.
"Baiklah, sesuka hatimu saja." Jawab Lauden sebelum mengambil jarak sedikit menjauh dari Lucy.
"Katakan," cetus Lauden saat dirinya dan sang ajudan sudah berdua saja.
Pria muda itu mendekatkan bibirnya ke telinga Lauden karena dia tidak ingin ada yang mendengarnya.
Lucy melihat mereka dari jauh. Ada perasaan tak rela ketika Lauden terlihat sibuk dengan urusannya padahal dia sudah berhasil mengikuti musik dan dia sedang menikmati berdansa dengan pria yang katanya pangeran vampir, tapi situasi menghentikannya.
"Ayah Lucy hilang," bisik pesuruh itu pada Lauden.
"Apa?" Lauden berteriak spontan.
Sesuatu yang disembunyikannya dari kerajaan vampir kini berada di luar kendali jelas saja ia merasa panik.
"Apa saja yang kalian lakukan selama di sana, apa yang terjadi, kenapa mengurus satu orang saja tidak bisa?" Murka Lauden.
"Ayah Lucy mengamuk, dengan kekuatan vampir yang ada pada pria itu membuatnya melepaskan borgol dengan mudah, dia juga menghancurkan tembok besi di bagian belakang penjara. Kami kewalahan sampai akhirnya dia dilepaskan tanpa pengawasan." katanya menjelaskan.
"Di mana dia sekarang?" Tanya Lauden
"Dia sedang menuju ke kota, Tuan." Katanya.
Wajah Lauden tiba-tiba berubah menjadi serius. Dia beberapa kali mengusap pangkal hidungnya yang terasa gatal. Kepalanya terasa nyeri dan nyut-nyutan. Memikirkan masalah besar akan segera datang membuat pria tegap itu tidak fokus. Dia tidak pernah seserius ini sebelumnya.
Sebagai seorang vampir yang belum terlatih untuk mengendalikan nafsu makannya, ayah Lucy akan jadi sangat berbahaya bagi manusia.
"Apa yang terjadi?" Tanya Lucy, melihat tatapan serius di wajah Lauden saat dia mendekatinya.
Lucy sempat melihat pria yang memakai tuxedo hitam dengan kemeja putih itu berbicara dengan Lauden saat mereka melakukan kunjungan ke tempat ayahnya disekap. Karena itulah Lucy merasa penasaran. Dia pikir mungkin pembicaraan mereka ada hubungannya dengan sang ayah.
"Apa terjadi sesuatu pada ayahku?" tanyanya lagi.
"Tidak ada," pungkas Lauden.
"Benar begitu?" tanya Lucy penuh selidik.
Lauden pun menghembuskan nafas berat sebelum memberitahu Lucy kebenarannya. Dia pikir tidak akan baik juga menyembunyikan kondisi ayah gadis itu, toh mereka berdua juga adalah anak dan ayah.
Lauden lalu membisikkan sesuatu kepadanya,
Mata Lucy membelalak dengan mulut menganga.
"Tenanglah, Saya akan pergi mencarinya," kata Lauden.
"Aku ikut denganmu," rengek Lucy. Matanya mulai berkaca-kaca. Dia merasa sangat cemas memikirkan ayahnya. Dia juga kesal dalam waktu bersamaan ketika Ia ingin ikut bersama Lauden mencari ayahnya tetapi tidak diijinkan. Ribuan rasa khawatir berhasil memenuhi kepala Lucy.
"Tidak. Itu akan membuat Lethia curiga. Dia menyiapkan pesta ini untukmu. Setidaknya jangan tinggalkan pesta ini sebelum selesai," Lauden memeluk wanita itu demi menenangkannya.
"Aku ingin ikut, Lauden!"
"No! Tolonglah kerjasamanya. Tetaplah disini dan jangan memikirkan apapun, terutama saat kau bersama Arthur, mengerti?" Bukan tanpa sebab pria itu berkata demikian. Sepengetahuannya orang yang ditakdirkan menjadi adik sepupunya itu gencar sekali mendekati Lucy dan membaca pikirannya. Hal itu akan menjadi Boomerang baginya ketika Arthur membaca pikiran Lucy.
__ADS_1
"Kembali lah ke aula," titah Lauden kepada Lucy, gadis itu bergeming.
Dari kejauhan, ternyata Lethia ikut memperhatikan pangeran vampir itu tengah ribut dengan budaknya entah karna apa. Karna jiwa kepo emak-emak mendominasi, wanita itu pun mendekat.
"Ada apa dengan kalian berdua, dan kemana kau akan pergi? Kau tidak menghargai pestaku untuk teman-temanmu?" Tanya Lethia.
"Maafkan saya Lethia, Saya harus pergi dan tidak janji akan kembali segera. Ada masalah diperbatasan yang tidak dapat diselesaikan oleh prajurit utama." Kata Lauden memberi alibi sambil berjalan cepat. Dia tidak mau bertatap muka terlalu lama, membuat mereka semakin curiga.
Lethia melihat Lucy, yang terpaku melihat kepergian Lauden.
"Bagaimana? Apa kamu suka pestanya?" tanya Lethia.
"Tentu saja, saya menyukainya. Terima kasih," jawab Lucy dengan senyum ramah yang terpaksa.
"Kau tidak ingin bergabung dengan para wanita dari klan ku?" tawar Lethia.
"Untuk sekarang tidak dulu, dan terimakasih untuk pestanya." tolak Lucy sungkan. Selain tidak jago berdansa, dia juga sudah kehilangan mood untuk melakukannya. Pikirannya tengah bercabang saat ini.
"Baiklah, aku harus pergi untuk menyapa para tamu lagi kalau begitu."
Lucy mengangguk, membiarkan bibi dari tuannya itu pergi.
Lethia pun menyambut para tamu yang baru saja datang, meninggalkan Lucy yang berdiri sendirian.
Arthur yang memang tidak pernah melepaskan atensinya dari lucy pun menghampirinya. Sejak tadi ia menunggu Lauden meninggalkan Lucy agar ia bisa mendekati gadis itu.
"Lucy, maukah kau berdansa denganku?" Tanya Arthur sambil mengulurkan tangannya.
Lucy melihat ke kiri dan ke kanan. Sejujurnya dia sudah kehilangan mood untuk berdansa dan tidak ingin berdansa lagi, tapi jika dipikir akan tidak sopan rasanya dia menolak.
Akhirnya, dia menerima uluran itu dan berdansa dengan Arthur.
"Kenapa kau tidak mau menatap mataku?" Tanya Arthur.
"Tak mengapa," elak Lucy. Dia masih ingat pesan Lauden yang memintanya untuk berhenti memikirkan tentang ayahnya yang menghilang sebelum pria itu menghilang dari pandangannya. Namun sebagai seorang anak, tidak mungkin ia tetap tenang ketika ayahnya menghilang. Selain itu ia juga khawatir akan Lauden, dia memikirkan pria itu juga seandainya pikirannya terbaca Arthur maka Lauden akan mendapat hukuman.
"Baiklah,"
"Hm..."
"Aku punya hadiah untukmu," kata Arthur setelah keduanya lama berdiam diri, menyerahkan sebuah kotak berwarna merah muda.
"Apa ini?" Kening Lucy mengkerut dengan mata sibuk memperhatikan kotak yang Arthur berikan.
"Bukalah," jawab Arthur.
Lucy membuka kotak itu. Secara spontan, sudut bibirnya tertarik.Dia terlihat sangat senang dengan kotak yang Arthur berikan.
Dia membukanya setelah mereka berdua menepi dan berhenti menari.
"Ponselku!" Teriak Lucy sambil berjingkrak-jingkrak.
"Aku tidak menyangka aku masih bisa melihat ponselku lagi." Ucap Lucy kepada Arthur dengan mata berkaca-kaca, haru. Saking bahagianya, Lucy pun spontan memeluk Arthur.
Menyadari bahwa itu adalah Arthur, ia melepaskan pelukannya dengan canggung.
"Bagaimana kamu mendapatkannya?" tanyanya dengan penuh semangat.
"Apa sih yang tidak bisa aku dapatkan untukmu?" goda Arthur.
"Aku serius Arthur!"
__ADS_1
"Mommy yang memberikannya padaku,"
Lucy berdiri dan berseru. "Kalau begitu aku harus berterima kasih padanya,"
"Tidak perlu berterima kasih mommy" jawab Arthur.
"Tapi,"
"Jangan. Mommy ku tidak akan senang jika melihatmu bahagia," kata Arthur.
"Jadi benar kalau Lethia membenciku?" Tanya Lucy.
"Kamu tidak perlu memikirkan hal itu. Yang harus kamu pikirkan adalah bagaimana caramu berterima kasih padaku sekarang."
Lucy menukik kedua alisnya. Dia tidak menyangka Arthur memberikan ponselnya tidak dengan tulus. Ternyata, ada sesuatu yang harus dilakukan sebagai balasannya.
Arthur dapat melihat dari pikiran Lucy yang merasa jengkel saat harus menerima dan memberi.
"Kamu bisa membalasnya dengan memberikan hatimu padaku," jawab Arthur sambil tersenyum. Ini bukan pertama kalinya dia mengungkapkan perasaannya pada Lucy yang berujung penolakan dan tidak digubris sama sekali oleh gadis itu. Lihat saja sekarang, gadis itu mendengus dan memutar bola matanya malas dengan wajah datar.
"Mudah, bukan?" Lanjut Arthur.
Seperti sebelumnya, Lucy tidak menjawab rayuan Arthur. Selain beranggapan ucapan itu adalah candaan, gadis itu juga sudah mulai memberikan hatinya pada Lauden dalam diam.
"Aku tidak menuntut jawab sekarang, aku akan menunggu sampai hatimu sendiri yang memilihku," kata Arthur yakin.
"Aku tidak yakin akan itu,"
"Tak mengapa."
"Ngomong-ngomong, Arthur. Terima kasih atas hadiahnya," kata Lucy sambil tersenyum padanya.
"Nope," balas Arthur sambil tersenyum pula.
...****************...
Pesta itu berjalan dengan baik dan menyenangkan. Tapi, hingga pesta usai, Lauden belum juga datang. Dan membuat Lucy semakin khawatir.
Teng... Teng...
Lonceng berbunyi tepat ketika jarum jam menunjukkan pukul 00.00 malam. Lucy buru-buru masuk kedalam kamarnya, bukan karna ia seorang Cinderella yang akan berubah menjadi Upik abu seperti di animasi tapi karna dia sudah tak sabar ingin menggunakan ponselnya dan menelpon seseorang di kota demi menanyakan keberadaan ayahnya pada sanak family.
Semangat yang tadi sempat membara kini meredup juga. Dia harus menelan pil kecewa ketika membuka ponselnya yang ternyata tidak menerima jaringan.
"Apa yang harus kulakukan? Aku harus menelepon seseorang!" Gerutu Lucy ketika ingat kastil ini berada jauh dari pusat kota.
Detik demi detik, ia menunggu Lauden datang membawa kabar baik. Seperti yang telah Lauden janjikan, ia takut ayahnya yang telah menjadi setengah vampir akan menyakiti orang lain.
"Ayahku takkan menjadi tokoh antagonis berikutnya, kan?" gumamnya.
.
.
.
.
BERSAMBUNG.!!!
Jangan lupa like, koment, share, vote dan juga rating karya othor ya bestieπππ»π
__ADS_1