
"Putra mahkota, apakah kamu sudah bosan hidup sehingga melawan tradisi?" Teriak Merqueen, mencabut pedangnya dan mengarahkan pada Lauden.
Semua mata tertuju kepada Lauden dan raja yang bertikai. Meskipun vampir tidak bisa mati, terutama De Pompadour family. Namun, bahasa tubuh raja yang mengayunkan pedangnya pada sang putra mahkota menggambarkan kemarahan yang sudah tak terbendung.
"Kamu telah menghina tradisi dan para ancestormu, Lauden!" Kata Merqueen dengan suara menggelegar.
Di sudut ruangan.
Delila dan juga Lethia tampak menyeringai. Sejak tadi sebenarnya kedua orang itu sudah ingin membantah kata-kata Lauden. Tapi, melihat dukungan penuh yang rakyat tunjukkan kepada anak cucu mereka membuat keduanya mengurungkan niat.
Mereka harus memiliki image yang baik di depan masyarakat. Dan seperti mendapat jakpot puluhan juta dolar, sang raja justru berkubu dengan keduanya.
"Apakah kamu yakin dapat menjalankan tugasmu sebagai raja? Raja sudah pasti mengikuti apa yang ditulis oleh para pendiri kerajaan sebelumnya," peringat raja.
Rakyat yang tadi sempat memberi dukungan kepada Lauden pun berubah pikiran. Mereka kini menganggap Lauden sebagai pemberontak.
"Turunkan pangeran Lauden,"
"Turunkan pangeran Lauden!"
Lauden memandangi rakyatnya dengan sedih, minimnya pengetahuan mereka tentang sistem kerajaan membuat mereka hanya mengikuti arus. Tidak bisa konsisten dengan pendirian mereka masing-masing.
"Dan para pendahulu tidak mengetahui bahwa zaman dapat berubah seiringnya waktu. Mereka hanya menentukan aturan berdasarkan keadaan saat itu saja. Sedangkan kita? Kita adalah vampir modern, apakah kita akan meninggalkan diri di era yang semakin maju ini?" Kata Lauden semakin mendebat ayahnya. Pria itu menyerangnya dengan argumentasi berbeda.
"Menurutmu, untuk apa seorang raja bekerja? Tentu untuk melanjutkan perjuangan para pendahulu sebelumnya."
Ingat kata pepatah bahwa buah jatuh tak jatuh dari pohonnya? Begitulah umpamanya untuk ayah dan anak yang tengah beradu argumentasi itu. Sama-sama keras kepala dan tak mau mengalah.
"Kita butuh raja bukan semata untuk meneruskan perjuangan para pendahulu saja, tapi kita juga butuh raja yang dapat membuat hidup kita lebih baik, damai, makmur, sejahtera dan dapat menegakkan keadilan. Bukan begitu?"
Vampir yang sempat meragukan kualitas Lauden pun kembali mendukungnya setelah penjelasan yang lebih masuk akal Lauden lontarkan.
"Panjang umur pangeran Lauden!"
"Hidup yang mulia Lauden,"
"Kekuatan vampir tidak boleh dipergunakan untuk merusak, tetapi untuk perdamaian." Imbuh Lauden.
"Benar."
__ADS_1
"Setuju,"
Sahut para vampir gembira.
Melihat dukungan penuh mengarah ke Lauden membuat Merqueen menurunkan pedangnya dan merendahkan egonya.
"Semakin besar kekuatan seseorang, maka semakin besar pula tanggungjawabnya. Bukan begitu yang mulia?" Tanya Lauden.
Arthur yang sedari tadi berada di tangga atas menyaksikan perdebatan para De Pompadour family pun bertepuk tangan sepanjang ia ia menuruni tangga menuju aula.
Penampilannya yang kharismatik dan berwibawa itu berhasil mencuri atensi para peserta upacara.
"Pangeran Lauden tidak salah dalam hal ini. Dan saya pun menyetujuinya. Sebuah tradisi tidak boleh dipertahankan apabila tidak memiliki nilai yang sama dengan zaman kita." Kata Arthur dengan senyum ramah menghiasi wajah tampannya.
Rakyat vampir menganggukkan kepala mereka kompak, setuju dengan kata Arthur.
"Selain itu, manusia sudah lama tidak menganggu kita. Kenapa pula kita yang repot menjauhi mereka jika kita bisa berdampingan?"
Dari tempatnya Lauden merasa terheran-heran dengan Arthur. Tumben sekali bocah ingusan itu membela dirinya? Padahal setiap harinya selalu merusuh.
Sementara Arthur terkekeh melihat wajah Lauden yang kebingungan. Menurutnya Lauden tampak seperti orang bodoh, kocak sekali.
"Bertahun-tahun kita diajari untuk meminum darah hewan yang ada di hutan Dysis, bukan tanpa alasan. Hanya melewatkan satu moment tanpa darah tak akan membuat kita lemah kan?" Timpal Lauden.
Ketegangan yang sempat menguasai keadaan pun berangsur-angsur surut ketika kedua saudara sepupu itu menyampaikan pengetahuan dan pemahaman yang sederhana kepada rakyatnya. Meski ada beberapa vampir yang kelihatanya agak sedih Karan upacara tersebut dihentikan, tapi mereka juga melepaskan sajiannya dengan ikhlas.
"Jika kita tidak bisa melakukannya untuk manusia, marilah kita sama-sama belajar untuk melakukannya demi klan kita. Karna semakin banyak manusia yang hilang, maka semakin besar pula kesempatan bagi mereka untuk menemukan kita. Sebelum ada pertumpahan darah antar kaum manusia dengan kalan kita, maka kita harus menghentikan tradisi ini sedini mungkin." Kata Arthur.
Lethia, ralat! Bukan hanya sang ibu tapi juga seluruh peserta upacara dibuat tercengang olehnya. Bagaimana tidak? Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah Arthur berujar sedemikian panjangnya didepan khalayak ramai.
"Baiklah, berdasarkan beberapa pertimbangan dan demi kepentingan bersama, saya Merqueen De Pompadour dengan ini menyatakan bahwa tradisi big bang resmi ditutup."
Prok... Prok... Prok...
Suara riuh dari tepuk tangan para peserta upacara menggema di seluruh penjuru aula.
Lauden tersenyum. Padahal dia tidak berharap lebih, tapi tak urung juga ia merasa syukur karna rakyat mendukungnya dan didapati kesepakatan ini.
"Sebuah pesta harusnya berakhir bahagia kan?" Tanya Arthur setelah suara riuh itu mereda.
__ADS_1
"Benar pangeran,"
"Baiklah, mari kita lanjutkan pestanya dikamar ku saja. Saya sudah menyiapkan banyak anggur dan makanan yang enak untuk kita." Ajak Arthur.
Lethia menarik sebelah sudut bibirnya keatas. Merasa bangga atas kecerdikan Arthur memanfaatkan suasana.
"Hore,"
"Mari berpesta,"
"Arthur... Arthur..."
Begitulah sorak sorai yang mereka ucapkan ketika berpindah lokasi dari aula ke kamar Arthur. Bukan kamar juga sih sebenarnya, lebih kepada ruangan multifungsi yang kebetulan malam ini mereka gunakan untuk party.
Sementara semua vampir berpindah tempat, Lauden sibuk mengurusi kekacauan di aula ketika Arthur datang mendekat.
Manik biru itu berbinar dengan bibir menyeringai jahil dia berkata, " tidak akan ada gunanya lagi kamu melakukan semua ini. Karena pikiran dan juga jiwanya akan segera menjadi milikku,"
Arthur memang tidak menyebut siapa objek pembicaraannya, tapi Lauden yakin jika yang lelaki itu maksud adalah budaknya. Lucy.
"Jangan main-main denganku bocah ingusan! Dia budak ku, bukan milikmu." Lauden berbisik dan tersenyum sinis kearah Arthur.
Arthur tertawa, dia merasa senang sekali bisa menjahili Lauden berkali-kali hari ini.
"Kamu pikir dia masih mau tunduk padamu setelah kamu membunuh ayahnya?"
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG.!!!
Jangan lupa like, komentar, share, vote dan juga rating karya othor ya bestie๐๐ป๐
__ADS_1