SLAVE to PANGERAN VAMPIRE

SLAVE to PANGERAN VAMPIRE
EPS. 32


__ADS_3

"Siapa kau?" Tanya petugas penjaga gerbang kastil.


"Mati aku," Batin Lusy.


Semakin panik lagi gadis itu ketika para tamu Lethia yang hendak keluar ikut berhenti. Entah khawatir, Kepo atau merasa terganggu karna keributan yang terjadi antara penjaga gerbang dan Lucy.


Gadis itu berusaha membuat detak jantungnya tidak berdebar. Ia membalas tatapan cutiga penjaga gerbang dengan tajam.


"Tidak bisakah kamu melihat bahwa aku adalah tamu Lethia atau Hornour di pesta itu?" kata Lucy.


Lucy menunjukkan ekspresi kesal dengan intonasi yang meninggi. Dia tidak punya pilihan lain selain bersikap seolah-olah dia adalah seorang tamu yang merasa terhina karena penjaga kastil mencurigainya.


"Kasar sekali kau!" teriak Lucy.


"Aku hanya ingin memastikan..."


"Apa yang ingin kau pastikan? Apa kau ingin aku mengkonfirmasi tindakanmu yang tidak sopan ini kepada Nyonya Lethia? oh atau langsung saja kepada raja?"


"Maafkan saya nyonya," bisik penjaga kastil sambil melepaskan tangannya dari lengan Lucy.


Ternyata penjaga gerbang merasa risih karena cibiran serta ejekan yang terdengar dari tamu lainnya. Mereka mengecam penjaga kastil dengan buruk, karena tindakannya menghentikan Lucy terkesan kasar.


"Syukurlah aku sempat mengikuti adu peran dikelas seni dulu, kupikir tidak akan ada gunanya. Thank Miss. Rachel." Kata Lucy dalam hati.


Dia bersyukur karna para vampir percaya dengan aktingnya.


"Sekali lagi maaf atas kelancangan saya nona. Semoga selamat sampai tujuan," ucap penjaga gerbang.


"Hmm..." balas Lucy dengan wajah enggan, seolah-olah masih merasa kesal dengan sikap penjaga gerbang yang menjegalnya. Tidak tahu saja mereka Lucy tengah mengatur deru nafas dan detak jantungnya yang berdebar karena hampir gagal lagi.


Penjaga kastil akhirnya membiarkan Lucy keluar bersama beberapa vampir lain yang baru saja kembali dari pesta Lethia.


Setelah keluar dari lingkungan kastil, semua tamu vampir bubar, meninggalkan Lucy sendirian, mendongak ke atas. Di sekelilingnya, hanya ada kegelapan dan keheningan.


"Akan kemana aku?"


...****************...


Hutan Dysis.


Setelah galau memutuskan akan kemana dirinya pergi, pilihannya jatuh ke hutan Dysis. Entahlah, padahal jika memang ingin pergi ke hutan Dysis dia tidak harus melewati drama ditangkap penjaga kastil dan membuat keributan.


Kalian masih ingatkan kalau Lauden pernah mengajaknya ke pusat Dysis melalui ruang rahasia di kamar pria itu? ah tapi sudahlah, kita berdoa saja Lucy bisa menemukan ayahnya dengan selamat.


Setelah memasuki hutan Dysis, gadis yang masih berpakaian pesta itu tidak tahu harus ke mana. Hutan ini terlalu luas, semua arah pandangnya terasa sama. Buntu.

__ADS_1


Dia mengeluarkan ponselnya, berharap bisa menggunakan maps atau menghubungi seseorang untuk mengabari keberadaanya saat ini. Tapi tidak ada sinyal di sana. Ia merasa kesal.


"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang?" gerutunya pada diri sendiri.


"Baiklah Lucy, yang perlu kau lakukan adalah tenang dan terus berjalan ke depan. Kau pasti bisa melewati hutan ini," kata Lucy kemudian.


Gadis itu mulai berjalan meski tanpa tujuan. Dia memeluk dirinya sendiri untuk mengurai takut yang mendera.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


"Kemana kita harus pergi? Kota atau Xandified?" tanya Vladimir.


Sang putra mahkota tidak menjawab.


Dia malah berhenti di tengah jalan. Hidungnya mencium sesuatu yang aneh. Itu adalah bau manusia di antara pepohonan di hutan yang mati. Ketika langkah kakinya berhenti, Vladimir juga berhenti sejenak.


"Kenapa berhenti tuan muda?" tanya Vladimir.


"Kau tidak mencium bau manusia?" tanya Lauden.


Vladimir mengendus-endus sekitar. Indera penciumannya sepertinya kalah dengan indra penciuman Lauden karena dia tidak bisa merasa ada bau asing di hidungnya.


"Pergilah ke kota. Lihat situasi di sana. Lalu, laporkan padaku. Aku akan mengikuti bau manusia ini terlebih dahulu," kata Lauden.


"Tapi, tuan. Aroma manusia yang anda cium pasti bukan dari pria yang baru saja menjadi vampir itu." Kata Vladimir menolak.


"Tapi kita sedang terburu-buru. Kita harus menangkap Damien secepatnya. Jika kastil vampir mengetahui ada vampir baru yang kita sembunyikan, kita dalam bahaya, Tuanku," kata Vladimir.


Dia berusaha meyakinkan Lauden bahwa bau manusia yang ia ikuti tidak akan membantu mereka menemukan ayah Lucy karena tidak ada hubungannya dengan itu.


"Aku tidak akan butuh waktu lama. Jangan khawatir. Aku akan menyusulmu secepatnya," jawab Lauden.


Vladimir akhirnya hanya bisa mendesah ribut saat melihat punggung Lauden menghilang dibalik pohon dan gelapnya malam. Mereka terpaksa pisah dengan keyakinan yang berbeda.


...****************...


Di sisi lain hutan Dysis.


Tubuh Lucy bergetar karena takut. Sepanjang jalan keringat dingin terus menemaninya.


"Ayolah, Lucy, yang kuat. Ini semua juga untuk ayahmu,"


Tiba-tiba, beberapa orang muncul dari kegelapan. Tiga orang dengan wajah pucat mendekatinya. Bibirnya berwarna biru. Setelah tinggal berhari-hari di kastil vampir, Lucy sudah tahu mana yang manusia dan vampir, jadi dia mundur perlahan, mengetahui bahwa pria itu adalah vampir.


"Sebelumnya aku mencium aroma manusia. Rupanya... ada seorang wanita cantik di sini," kata vampir berambut panjang.

__ADS_1


Lucy semakin mengeratkan pelukan pada tubuhnya sendiri. Melihat sekeliling yang terasa percuma. Karna tidak bisa menemukan apa atau siapapun disana.


Dia meneliti ketiga orang dihadapannya kini, dilihat dari pakaian mereka, pria-pria itu adalah tamu dari Lethia yang baru saja kembali dari pesta juga.


"Ah... dia adalah putri milik putra mahkota," kata vampir yang memiliki tubuh agak kecil di sampingnya.


"Persetanlah... Lagian itu hanya berlaku jika dia berada di dalam kastil. Di dalam kastil, dia adalah milik Lauden. Tapi, di luar, dia hanyalah manusia biasa dari kalangan manusia yang memiliki darah yang lezat..." kata vampir berambut panjang dengan tatapan laparnya.


"Kenapa Tuhan tidak pernah membiarkan ku tenang, kenapa harus mereka lagi? lebih baik aku mati diterkam serigala daripada berurusan dengan ciptaan tak berjantung ini" Keluhnya dalam hati.


Lucy tidak mengerti mengapa ia harus selalu berurusan dengan orang-orang jahat seperti ini.


Gadis itu lalu mencoba peruntungan dengan kembali berakting seperti yang dilakukannya pada penjaga kastil tadi.


"Aku akan membunuh kalian bertiga jika berani mendekat!" Teriak Lucy.


Teriakan Lucy hanya membuat ketiga pria itu terkekeh.


"Kau tidak lupa siapa dirimu kan nona?" Tanya si vampir berambut panjang.


Sial! Lucy menyadari bahwa sendirian, tidak mungkin bisa melawan mereka bertiga yang memiliki kekuatan supranatural vampir.


Pria itu *******-***** tangannya seolah-olah dia akan menghajar wanita ini dan menghisap darah Lucy sebagai makanan yang lezat.


Kedua pria di sampingnya tampak hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh pria berambut panjang ini.


"Apa yang kau lakukan? Jangan coba-coba menyentuhku!" teriak Lucy sambil mundur.


Tiba-tiba saja, ingatannya kembali pada saat ia akan diperkosa malam itu. Entah mengapa, dia memiliki ingatan yang buruk pada saat seperti ini. Dia ingat hal seperti ini pernah terjadi sebelumnya di kota itu.


Traumanya kembali.


.


.


.


.


.


BERSAMBUNG.!!!


Pake acara kembali lagi traumanya si neng Lucy Tah🤧

__ADS_1


Kira-kira neng Lucy bisa ngga ya ngalahin ketiga vampir lapar itu disaat traumanya kambuh?


Penasaran? makanya klik tombol subscribe, like, koment, share, vote dan ratingnya biar ngga ketinggalan update ya bestie💜🙏🏻😍


__ADS_2