SLAVE to PANGERAN VAMPIRE

SLAVE to PANGERAN VAMPIRE
EPS. 22


__ADS_3

"Good girl,"


Lelaki yang bertelanjang dada itu turun dari ranjang disertai makian dan nama hewan kebun binatang oleh Lucy.


"Dasar iblis, Psikopat, Vampir jelek, tuan muda mesum. I hate you, Violent!" Pekik Lucy setelah Lauden bangkit dari tubuhnya.


Lauden yang menerima caci maki dari budaknya pun hanya tersenyum datar, ia kira setelah ciuman panas mereka tadi Lucy akan luluh seperti kebanyakan karakter wanita di novel-novel bacaannya. Tapi ternyata tidak, bahkan sorot matanya kian menajam dan sarat akan kebencian.


"Saya akan segera kembali, ada sesuatu yang harus diurus dan itu lebih penting daripada mengurusi macan betina yang hobinya mengamuk seperti dirimu." Kata Lauden sambil mengenakan jubah kerajaannya sebelum melangkah keluar.


"Heii... Lepaskan aku bastard! Mau kemana kamu?"


"Tenanglah, saya pergi hanya sebentar saja. Jika ciumannya kurang, kau bisa memintanya lagi setelah saya kembali nanti." Ujar Lauden dengan nada mengejek.


Lucy mendelik geram sedangkan Lauden terkekeh. Bukannya terlihat menyeramkan, keadaan yang berantakan dengan pipi serta bibir yang mencuat itu tampak mengemaskan bagi Lauden.


"Ciuman pala bapak mu, aku ingin mati, Lauden. Lepaskan aku, biarkan aku tenang bersama orang tuaku di surga,"


Lucy terus meronta-ronta meski pergelangan tangannya mulai terasa perih akibat gesekan borgol.


"Dengar! Saya hanya pergi sebentar. Cobalah tenang dan jangan mengamuk, dan ketika saya kembali, kamu harus tetap ada disini." Titah Lauden.


Belum sempat tangannya menyentuh kenop pintu, langkahnya terhenti oleh jeritan Lucy yang terdengar pilu ditelinga nya.


"Kumohon lepaskan aku, aku ingin bersama ibu dan ayahku saja. Lauden, biarkan aku. Tolong"


Lauden menghembuskan nafasnya berat. Inilah alasannya pergi dan membiarkan tangan Lucy tetap terikat. Pria itu tidak ingin gadis itu bunuh diri selama, dia juga tidak bisa memantau Lucy sepanjang malam karna ada sesuatu yang harus ia kerjakan sekarang.


Lauden sangat sadar respon Lucy yang demikian adalah reaksi dari rasa kecewa dan marahnya terhadap takdir kedua orang tuanya yang telah tiada. Tapi Lauden juga ingin mengatakan pada gadis itu bahwa hidupnya masih lebih berharga jika dia tetap hidup.


"Kamu adalah budak saya. Mengikat atau melepasmu adalah kehendak saya." Jawab Lauden.


"Dasar iblis! Apa susahnya membiarkan ku mati? Toh kamu juga tidak mendapat kerugian apapun karnaku,"


"Kenapa kamu sangat ingin mati?" Tanya Lauden, berjalan mendekat kearah Lucy yang terbaring dengan posisi mengenaskan.


"Selain mati, memangnya apalagi yang bisa di harapkan?" Kata Lucy sambil membuang wajahnya kearah lain, dia tidak ingin Lauden bahagia karena melihatnya dalam keadaan lemah.


"Heh manusia! Kamu tidak mengerti betapa mengerikannya hidup tanpa kematian. Hidup abadi begitu menyakitkan bagi kami, kau tahu? Seharusnya kamu bersyukur dengan kehidupan singkat yang kalian miliki itu, dan tidak melakukan kematian konyol disaat ada orang yang menginginkan ada diposisi kalian." Lauden mengeram dengan suara rendahnya.


"..."

__ADS_1


"Kamu tahu kenapa kamu spesial? Itu karna waktumu di dunia ini terbatas, dan hargai selagi masih ada kesempatan." Ujar Lauden sungguh-sungguh.


"Kamu tidak tahu seperti apa hidup tanpa cinta, brengsek!" Pekik Lucy marah.


Yang gadis itu inginkan adalah bersama kedua orang tuanya, tapi kenapa Lauden malah menasehatinya panjang lebar?


"Kamu berkata demikian seolah-olah kamu adalah manusia paling menderita sejagat raya," Lauden berkata dengan nada sinis. Dia tahu Lucy sedang sedih, tapi seharusnya gadis itu berfikir bagaimana menjadi manusia kuat yang lebih hebat, bukannya malah ingin mengakhiri hidupnya sendiri.


"Bisa kamu bayangkan seberapa mengerikannya hidup tanpa jiwa? Tidak ada kematian untuk saya sebagai vampir, meski ingin. Kami terlahir abadi, sedangkan kamu? Kamu hanya perlu menunggu tanpa perlu bersusah payah mencari kematian. Apa sesudah itu bagimu menunggu?"


Lucy terdiam. Selain kata-kata Lauden yang terasa menampar wajahnya dengan keras, gadis itu juga terkejut saat melihat mata Lauden tampak gemetar dan berkaca-kaca saat pria itu mengatakan ia juga ingin mati.


"Kamu adalah ciptaan yang paling beruntung, Lucy. Bertahan lah sebentar lagi sampai kematian itu sendiri yang menjemputmu, Hmm?"


Lauden berusaha menenangkan Lucy agar gadis itu berhenti melakukan percobaan bunuh diri bukan semata karna ia merasa bersalah atas kematian orang tua gadis itu, tapi bagian lain dalam dirinya juga tidak mau kehilangan Lucy.


"Kamu tidak akan mengerti, Lauden. Sangat sulit bagiku untuk tetap hidup disaat kedua orang tua ku telah tiada, aku merasa buntu, aku kehilangan arah dan harapan." Balas Lucy dengan intonasi yang mulai melunak.


"Apa kamu akan akan kesulitan bernafas jika tidak memiliki orang yang dicintai?"


Lucy mengangguk, kemudian air matanya jatuh membasahi pipinya saat ingatannya kembali ke momen masa lalunya bersama ayah dan ibunya di rumah dulu.


"Jika kamu menginginkan seseorang untuk dicintai sebagai alasanmu tetap hidup..." Lauden memejamkan matanya sejenak dan membuka mata kembali sembari menghembus nafas berat.


Isak tangis Lucy terhenti seketika, dia melongo seolah tidak percaya lelaki arogan dan menyebalkan itu memperhatikan jiwanya.


"Hentikan tatapanmu itu!"


Lauden melempar handuk kecil ke arah Lucy, yang jatuh tepat di wajah budaknya itu. Dia malu. Dia sendiri juga bingung kenapa dia sangat ingin membuat Lucy tetap hidup disampingnya.


"Ish, menyebalkan sekali. Seharusnya aku sudah pergi sedari tadi," gerutu Lauden keluar dari kamar sambil menahan salting.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Ditengah hutan Dysis, ada mereka yang berjalan beriringan dalam gelapnya malam. Meski hutan itu dipenuhi pepohonan dan semak rimbun, tidak membuat kedua orang itu merasa gentar untuk menelusuri jalanan tersebut.


"Kamu memang berhasil membuat pertunjukan besar di upacara Big Bang, tapi kamu juga gagal menjatuhkan reputasi Lauden." Seseorang dari kedua orang itu memulai perbincangan.


"Dia mirip seperti Naruto yang memiliki Kurama (rubah ekor sembilan yang memiliki seribu kekuatan super berwarna orange) sebagai nyawanya." Kata orang yang lain.


"Dia tidak memiliki nyawa, Silver. Di dunia ini tidak ada vampir yang memilikinya." Bantah si topeng emas tak terima.

__ADS_1


Yah, kedua orang yang tengah menyisir hutan di bawah sinar bulan purnama itu adalah si topeng emas dan perak. Seusai Lauden menggagalkan upacara tadi, keduanya bergegas meninggalkan kastil dan pergi ke hutan. Entah sedang mencari apa.


"Sekarang kita punya satu,"


"Apa maksudmu?" Tanya si topeng emas lagi.


"Ku yakin kamu pasti tahu apa maksudku,"


"Maksudmu, gadis itu adalah belahan jiwanya?" Tebak si topeng emas.


"Seratus untukmu," si topeng perak menjentikan jari jempol dan manisnya hingga membunyikan suara kletak.


Si topeng emas menghentikan langkahnya dan menatap serius si topeng perak.


"Jiwa itulah yang menggerakkan Lauden untuk berontak. Lihat saja kan, selama ini dia begitu patuh dan mengikuti segala aturan tertulis dari para ancestor. Tapi sejak kedatangan gadis itu, dia mulai berubah. Gadis itu menjadi ancaman bagi misi kita karna dia belahan jiwanya Lauden."


"Mustahil," lirih si topeng emas.


"Tapi itu kenyataannya,"


"Apa yang harus kita lakukan? Lauden tidak boleh menjadi penerus. Aku tidak pernah rela dan tidak akan rela jika hal tersebut terjadi!" Tangan si topeng emas mengepal dikedua sisi, tatapannya berubah tajam dengan otot rahang yang mengeras dibalik topengnya.


"Tenanglah, ini baru permulaan. Anggap saja sebagai pemanasan." Si topeng perak menyeringai melihat kegelisahan yang kentara di tatapan mata di topeng emas.


"Apa rencana mu selanjutnya?"


"Kita akan ke...."


.


.


.


.


.


BERSAMBUNG.!!!


Hayoloh, udah sejauh ini ada yang bisa nebak ngga kira-kira siapa sih sosok si topeng emas dan perak?

__ADS_1


Kenapa mereka ingin sekali merebut tahta dan menghancurkan Lauden?


Kalau ada yang tahu jawabannya bantu koment, like, share, voting dan rating karya othor ya bestie๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ’œ


__ADS_2