
"Lucy, bersiaplah. Besok, saat bulan purnama tiba. Pakailah pakaian yang nyaman untuk berlari bersamaku. Kita akan meninggalkan kastil pada malam saat pembukaan," Arthur melirik wajah Lucy sekilas.
"Hmm... Maksudku, manusia. Kita akan pergi ketika manusia-manusia itu tiba, oke?" Kata Arthur membisikan rencananya untuk kabur.
Lucy mengangguk paham.
Arthur sengaja menyelinap ke dapur saat melihat gadis itu tengah sibuk mengantongi darah hewan ke dalam plastik untuk disimpan kedalam freezer seorang diri.
Dan kedatanganya disambut baik oleh Lucy, karna gadis itu merasa tenang. Setidaknya meski hanya satu, dia kini memiliki teman. Karna selama ini dia merasa kesepian, penghuni kastil tidak ada yang bersikap baik padanya. Termasuk Lauden, yang katanya tuannya justru bertingkah sombong dan ketus padanya.
Selain wajahnya yang tampan, sikap Arthur juga tampak lebih ramah daripada Lauden. Itu sebabnya mudah bagi Lucy untuk berteman dengan pria itu.
"Hmm... Arthur," Panggil Lucy.
"Apa?"
"Ada sesuatu yang sebenarnya inginku tanyakan pada mu,"
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
Lucy menjeda sejenak pertanyaannya dan menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat sekeliling apakah ada Lauden atau tidak. Setelah memastikan hanya ada dia dan Arthur di sana barulah ia melanjutkan pertanyaannya, "Apakah Lauden atau vampir yang lain juga memiliki kemampuan membaca pikiran? apa mereka memiliki kemampuan yang sama seperti kamu?"
Bukan tanpa sebab Lucy bertanya demikian, Lucy hanya takut ada orang lain yang akan mengetahui rencananya kabur jika memang semua vampir memiliki kemampuan untuk membaca pikiran orang lain.
Arthur menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Kamu tidak perlu khawatir. Dari catatan vampir, hanya aku yang memiliki kemampuan tersebut."
"Benarkah?" ada rasa syok dan juga senang yang terpancar dari wajah Lucy, untuk rasa yang paling dominan entahlah dia tidak tahu.
Arthur tersenyum sebagai respon.
"Amazing,"
"Kau tahu apa sebabnya?" tanya Arthur.
"Kenapa? apakah karna ibumu mengidam membaca koran setiap pagi saat dia hamil?" kata Lucy mencoba bercanda. Tidak dikatakan bercanda juga sih, sebab di desanya dulu. Para tetua kampung percaya pada mitos yang mengatakan jika ibu hamil menginginkan sesuatu hal untuk dilakukan atau dimakan, maka sebisa mungkin suami, orang tua atau siapapun korban ngidamnya harus mengikuti apa kehendaknya. Karna jika tidak, maka si debay dalam perut ketika lahir akan mengeluarkan liurnya sepanjang hari atau bersin di setiap pagi.
Arthur mentertawakan lelucon yang Lucy buat meski menurutnya tidak ada yang lucu sama sekali dari pernyataan gadis itu. Dia tertawa semata karena ekspresi Lucy saat menceritakan leluconnya tampak lucu dimatanya. Itu saja.
"Baiklah, katakan padaku kenapa hanya kamu?" tanya Lucy mode serius.
"Aku lahir ketika Acthurus, si komet langka turun ke bumi. Klan kami percaya, bahwa bayi yang lahir pada waktu itu akan memiliki kemampuan istimewa dan menjadi seorang leader untuk kaumnya. Dan siapa sangka kepercayaan itu menjadi nyata?"
"Itu sebabnya nama akhirmu Arthur?"
Arthur menganggukkan kepalanya dan menjentikkan tangannya, "Bingo!"
"Tapi..." Lucy menatap wajah Arthur lekat. Mencoba mengingat-ingat kapan si meteor itu jatuh, seingatnya dalam catatan sejarah belum pernah ada yang namanya komet Acthurus. Atau memang ingatannya tidak sebaik itu untuk mengingat setiap catatan sekolahnya?
__ADS_1
"Tapi apa?" tanya Arthur dengan alis naik sebelah.
"Kapan kamu lahirnya? kenapa aku belum pernah mendengar atau melihat adanya catatan sejarah tentang hal tersebut?"
Arthur terkekeh pelan dengan tangan terjulur gemas mengacak sayang pucuk kepala Lucy.
"Aku lahir pada tahun 1547. Tentang catatan komet itu, wajar saja tidak ada yang tahu. Karna hanya klan kami saksinya pada saat itu."
"What? 1547? tua sekali dirimu?" pekik Lucy spontan menutup mulutnya. Dia lupa bahwa saat ini sedang tinggal di kastil para vampir yang semuanya adalah mahluk purba. Wajar sebabnya Lucy kaget, karna jika dilihat dari wajahnya, Lucy pikir mereka seumuran. Ternyata...
Arthur menutupi wajahnya, "Aku seharusnya tidak mengatakan usiaku, kan?" Dia merasa malu karna umurnya berbeda ratusan tahun dari Lucy.
"Kenapa kamu di sini?" tanya Lauden yang tiba-tiba muncul diantara Lucy dan Arthur.
Meskipun terlihat tenang dan kalem, rona merah diwajahnya yang putih itu kontras sekali dia sedang marah.
Lauden yang tidak melihat adanya pergerakan dari Lucy untuk menjauh dari Arthur pun langsung menarik lengan gadis itu dan menyeretnya kebelakang punggungnya.
"Kamu lupa kalau dia milikku?" tanya Lauden sinis.
Arthur membuka tutupan wajahnya dan tertawa mendengar kalimat Lauden barusan.
"Manusia memiliki jiwa yang bebas, sedangkan vampir? tidak." jawab Arthur santai.
"Apa maksudmu?" teriak Lauden dengan intonasi melengking. Lelaki itu tidak suka apa yang sudah diklaim menjadi miliknya diusik.
"Finally... Manusialah yang akan menentukan untuk membagi hatinya pada siapa," kata Arthur sambil menyeringai. Seolah-olah dia adalah orang Lucy sukai.
"Jangan membuatku memukulmu, Arthur!" peringat Lauden.
"Takut kalah saing, eh?"
"Jangan main-main denganku, Brengsek."
Lauden maju selangkah dan mencengkram kerah bajunya dengan sengit. Tapi bukan Arthur namanya jika dia perduli dengan ucapan Lauden yang notabenenya adalah putra mahkota sekaligus saudara sepupunya itu.
"Ini peringatan terakhir dariku. Jangan sentuh apapun yang bukan milikmu! paham?" kata Lauden sambil membingkai wajah Arthur dengan jarinya.
Arthur menepis jari Lauden dari wajahnya dan membuat wajah semakin menantang, "Tapi aku tidak melihat adanya label pada tubuh Lucy yang mengatakan bahwa dia milikmu,"
"Berani kau sentuh dia, bersiaplah mati di api suci!" seru Lauden.
"Ckck! dasar kanebo kering, tidak bisa diajak bercanda sekali saja." Kata Arthur, pria itu mengerucutkan bibirnya lucu. Entah kenapa dia senang sekali menggoda Lauden begini. Tapi respon Lauden justru mematahkan moodnya.
"Baiklah Lucy, sepertinya aku harus pergi dari sini karna kalau tidak tuan mu yang arogan ini akan mengamuk," pamitnya pada Lucy.
Dibalik punggung Lauden, Lucy mengangguk. Tidak perduli apakah Arthur melihatnya atau tidak.
__ADS_1
Arthur lebih memili pergi dari dapur dan tidak lagi melanjutkan perdebatannya dengan Lauden karna sudah yakin dia tidak akan bisa mendebat Abang sepupunya itu.
Sepeninggalan Arthur dari sana, Lauden berbalik badan. Menatap Lucy yang menunduk.
"Ingat posisimu! Kamu budak saya, jangan kegatelan pada penghuni kastil. Apalagi Arthur."
Lucy mendongak, matanya menatap iris coklat didepannya dengan tatapan tidak percaya. Apa yang salah dengan interaksinya dan Arthur? Kenapa Lauden mengatainya kegatelan?
"Kenapa menatap saya seperti itu? cepat kembali ke kamar dan kerjakan apa yang harus dikerjakan."
Tanpa sepatah katapun Lucy beranjak dari sana sambil menghentak-hentakan kakinya kuat ke lantai. Sejak pagi memang para pelayan sibuk menyiapkan persiapan untuk upacara Big Bang, termasuk Lucy. Gadis itu sejak pagi sudah mengerjakan pekerjaan gadis dapur pada umunya, dia juga merapikan pakaian, membersihkan kamar, menyiapkan makanan, dan pekerjaan pelayan lainnya.
Sampai di undakan tangga antara ruang tengah dengan kamar Lauden, Arthur yang memang belum sepenuhnya pergi dari sana memberi semangat ketika mata keduanya bertemu pandang.
Lucy berhenti sejenak, dan tersenyum lega. Meski kata orang dunia sedang tidak adil untuknya, tapi Lucy bersyukur masih memiliki Arthur disisinya.
Lauden yang melihat interaksi keduanya pun merasa ada sesuatu yang mencurigakan. Dan entah kenapa, dia merasa tidak suka jika Lucy lebih merasa nyaman bersama sepupunya itu ketimbang bersama dirinya.
Dia ingin marah, tapi tidak tahu jelas apa alasannya. Dan ini adalah pertama kalinya dia merasa marah tanpa sebab.
"Katakan padaku kalau kalian berdua tidak saling mencintai?" tanya Lauden ketus dengan wajah suramnya.
Lucy berjengkit kaget saat tau Lauden tiba-tiba sudah dibelakangnya.
"Astaga, apa yang kau lakukan? kau bisa membunuh jantungku jika terus membuatku kaget seperti ini,"
"Bagaimana kalian berdua bisa saling mengenal?" tanya Lauden lagi. Lelaki itu begitu penasaran karna seingatnya pertemuan pertama mereka adalah saat di hutan Dysis. Di sana dia bahkan tidak mengenalkan Lucy pada Arthur, ataupun sebaliknya.
Lucy memutar bola matanya malas, merasa konyol dengan pertanyaan aneh yang Lauden lontarkan.
"Bukankah semua orang di kastil ini mengenal siapa itu Prince Arthur?"
"Setelah ini, saya tidak mau tahu apapun alasannya, kamu dilarang bertemu atau berbicara dengan Arthur lagi." kata Lauden dalam. Berusaha menekan logika Lucy agar tunduk padanya.
"Bukankah kalian bersaudara? kenapa aku dilarang berinteraksi dengannya?" tanya Lucy balik.
"Camkan ini baik-baik. Jika hukum vampir itu legal, saya akan membunuh semua pria yang melihatmu dengan cinta, bahkan jika saya yang akan dibunuh karenanya."
.
.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG.!!!
Jangan lupa like, koment, share, vote dan rating ya bestie๐๐๐ป