SLAVE to PANGERAN VAMPIRE

SLAVE to PANGERAN VAMPIRE
EPS. 27


__ADS_3

Setelah bertengkar kecil dengan Lucy, Lauden meninggalkan kamarnya karena pesuruhnya ingin menemuinya dan memberi sebuah informasi rahasia.


Sementara itu, Lucy naik ke tempat tidur. Namun, ia hanya bisa menatap langit-langit kamarnya dengan penuh pikiran. Ia memikirkan sosok Lauden.


"Apa aku keterlaluan menyebutnya monster begitu?" Lirihnya.


Ia masih bingung bagaimana sifat Lauden dan niat pria itu yang sebenarnya. Jika bukan untuk kebaikan, mengapa ia menolong ayahnya? tapi, gimana kalau itu hanya tipu muslihat Lauden agar dirinya tidak bisa lepas darinya? Lucy ingat bahwa Lauden sendiri lah yang mengirim pasukannya untuk mencari persembahan itu. Jadi, bukankah seharusnya Lauden tahu bahwa salah satu dari orang itu adalah ayahnya?


Bagi Lucy, Lauden adalah orang paling misterius, orang paling sulit dipahami meskipun mereka sudah hidup dan menghabiskan waktu bersama.


Lucy yang merasa kepalanya sesak dengan pikirannya sendiri merasa lelah, dia menutup mata dan tak berapa lama gadis itu pun tertidur. Tidak ada Lauden selain dirinya. Dia tidur dengan wajah sedih karena lelah berpikir.


Dua orang secara diam-diam muncul dengan mengenakan topeng emas dan perak di kamarnya. Lucy sudah terlelap, jadi dia tidak menyadari kedatangan dua orang asing di kamarnya. Keduanya berdiri sejajar di sisi sofa lauden. Keduanya memandang ke arah yang sama, wajah tidur Lucy yang lugu.


"Gadis lugu ini telah mengubah Lauden yang penurut menjadi pemberontak seperti sekarang ini. Sebenarnya apa yang dimiliki gadis ini?" Tanya si topeng emas. Bahkan topeng perak pun ikut menatap wajah Lucy dan bertanya-tanya pesona seperti apa yang dimiliki gadis ini.


Topeng perak menyeringai, menyadari bahwa keluguan dan kecantikan Lucy lah yang membuat Lauden nekat melakukan hal yang selama ini tidak pernah dilakukannya.


"Mungkinkah Lauden mencintainya tapi memperlakukannya seperti budak?" Tanya si topeng perak.


"Kau tidak akan pernah tahu siapa~"


"Vampir tidak memiliki jiwa. Bagaimana dia jatuh cinta?"


"Lalu mengapa Lauden mengorbankan segalanya untuk melindungi gadis ini dan keluarganya?" Tanya si topeng emas, yang masih tidak mengerti akan sikap Lauden.


"Selain cinta memangnya apalagi?"


"Seandainya saja aku bisa membaca pikiran Lauden..." Topeng emas itu berbisik.


"Itu tidak mungkin, tuanku. Tidak ada yang bisa membaca pikiran Lauden," kata si topeng perak sambil menarik salah satu sudut bibirnya.


Si topeng emas juga tertawa.


"Yah, kau benar. Lauden itu misterius."


"Jika kita tidak bisa menghancurkan reputasi Lauden, mungkin kita harus menghancurkan pribadinya," kata si topeng perak.


Mendengar sebuah suara, Lucy terbangun. Matanya mengerjap perlahan. Samar-samar ia melihat sosok bertopeng emas. Tapi belum sempat matanya terbuka sepenuhnya, mereka telah menghilang dalam sekejap, keduanya menghilang dengan cepat saat bulu mata Lucy mulai bergerak.


Lucy melihat ke sekeliling ruangan. Ia pun bangkit dari tidurnya dan mencari kedua sosok itu. Namun, tidak ada seorang pun di sana. Ia ingat ada manusia bertopeng yang sedang berbicara tentang lauden.

__ADS_1


"Aneh, ada suara tapi tidak ada wujud." Gumam Lucy.


Ia yakin bahwa telinganya tidak salah menangkap kalimat terakhir sosok tersebut yang mengatakan mereka tidak bisa menghancurkan reputasi Lauden, tetapi mereka akan berusaha menghancurkan Lauden. Lucy bergidik.


Siapa mereka?


Kenapa Lauden?


Kenapa mereka memakai topeng? Penghuni kastil kah? atau orang diluar kastil?


Pikiran Lucy kembali berkecamuk. Dia semakin tidak bisa tidur malam itu. Meskipun Lauden adalah tuannya yang membuat dirinya hipertensi dengan segala sikap menyebabkannya, dan seharusnya dia membencinya, Lucy tidak bisa menyangkal bahwa dia pun mengkhawatirkan pria itu.


***********


Di aula kastil, berjalanlah sepasang anak dan ibu dari arah yang berbeda. Keduanya bertemu di titik yang sama secara kebetulan. Lethia menyuruhnya untuk datang ke kamarnya karena ada sesuatu yang ingin disampaikan kepada putranya itu.


Di dalam kamar tempat Lethia dan Arthur berada, mereka membicarakan tentang apa yang terjadi pada peristiwa big bang.


"Kau luar biasa. Mommy bangga padamu. Kau mengakhiri acara big bang dengan baik dan setelah itu kau mengambil hati banyak orang. Bagaimana kau menyiapkan perjamuan untuk rakyat vampir? Apa kau tahu di mana akan terjadi keributan?" Tanya Lethia dengan penuh takjub pada putranya.


Arthur tertawa.


"Bagaimana mungkin? Apa ada vampir yang bisa meramal masa depan?" Arthur mengelak.


"Ngomong-ngomong, Mom, apa Mommy tahu di mana ponsel Lucy? Seharusnya memang tahu karna Mommy lah yang pertama kali membawanya kemari untuk diadili, kan?" Arthur bertanya.


Lethia mengkedutkan keningnya dengan alis naik sebelah, bingung mendengar pertanyaan Arthur.


"Apa maksudmu?" Tanya Lethia.


"Telepon genggam milik Lucy... Benda yang digunakan untuk berkomunikasi antar manusia," kata Arthur sambil menggerakkan tangannya membentuk lingkaran.


"Mommy tidak sekolot itu Arthur!" Desis Lethia geram. "Mommy tahu apa itu ponsel. Maksudnya, untuk apa kau mencari ponsel gadis itu?" Tanyanya.


Arthur meringis.


"Aku ingin memberikannya sebagai hadiah," jawab Arthur sambil menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal.


"Apa maksudmu? Jangan bilang kalau kamu jatuh cinta terhadap gadis itu juga?" Kata Lethia dengan nada melengking. Dia tidak menyangka putranya tertarik pada gadis lugu itu.


Diamnya Arthur semakin membuat Lethia panik. Wanita itu tidak ingin fokus Arthur untuk merebut posisi Lauden terbagi apalagi sampai gagal.

__ADS_1


"Arthur... Dengarkan ini baik-baik nak. Yang harus kau ambil dari Lauden bukanlah gadis itu tapi posisinya sebagai putra mahkota." Ucap Lethia kepada anaknya.


"Aku tidak tertarik dengan posisi kecil itu." Bantah Arthur.


Lethia mulai marah.


"Jangan buat mommy marah, lalu dengan terpaksa menghabisi gadis itu, Arthur!"


"Tenang dulu mom. Bagaimana jika kita melakukan barter?" Arthur berusaha membuat sebuah negosiasi.


"Barter?"


"Iya, artinya begini. Jika Mommy memberikan ponsel lucy padaku, aku juga akan memberikan hadiah untuk Mommy. Sesuatu yang mungkin berguna bagi Mommy untuk mengalahkan Lauden." Kata Arthur.


Ibunya mendengus kesal. Namun, demi anak semata wayangnya, tak ayal ia pun membongkar lemarinya, tempat ia menyimpan barang-barang milik Lucy. Lethia menyimpan barang-barang Lucy karena dialah yang menculik Lucy dan menyeret gadis itu ke kastil ini.


"Bagaimana kamu akan menggunakan ponsel ini? Daerah Dysis tidak memiliki jaringan seluler, Ponsel ini tidak akan berguna," kata ibunya.


"Tentu saja. Aku tahu, tapi. Terkadang kebaikan dilihat dari usaha, bukan dari hasilnya." Kata Arthur sambil menaik turunkan alisnya jenaka.


Lethia memutar bola matanya malas. Dia pikir anaknya sedang kerasukan jin bucin sehingga menjadi lembek terhadap perempuan dan rela melakukan apa saja untuk menyenangkan gadisnya.


Lethia menyerahkan ponsel itu kepadanya.


"Sekarang, katakan padaku. Hadiah apa yang ingin kau berikan pada Mommy? Kata Lethia, penasaran.


"Aku melihat dari pikiran gadis lugu itu," kata Arthur sebelum memberitahu ibunya apa itu.


Arthur mendekatkan bibirnya ke telinga ibunya, membisikkan sesuatu yang bisa membuat mata Lethia terbelalak seketika, bibir Arthur membentuk senyuman sinis ketika melihat ekspresi ibunya.


"Ayah Lucy?" Lethia berteriak setelah mendengar bisikan anaknya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG.!!!


Jangan lupa like, koment, share, vote dan rating jika suka karya ini ya bestie๐Ÿ’œ๐Ÿ™๐Ÿป


__ADS_2