SLAVE to PANGERAN VAMPIRE

SLAVE to PANGERAN VAMPIRE
EPS. 35


__ADS_3

Berada di punggung Lauden, membuat Lucy merasa nyaman hingga akhirnya tanpa sadar ia tertidur. Sementara itu, Lauden, yang tidak mengetahui bahwa Lucy telah tertidur. Masih mengoceh tentang dirinya dan dunia vampir.


"Dunia vampir sangat berbeda dengan mitos yang mereka ceritakan karena itu semua ditulis dari sudut pandang manusia yang tidak tahu apa-apa tentang vampir. Itu semua adalah imajinasi mereka," kata Lauden.


Namun, Lucy tidak menanggapinya.


"Kau dengar itu?" Tanya Lauden.


Masih tak ada jawaban. Lauden pun menoleh.


Ia menatap wajah Lucy yang berada di atas bahunya dari samping. Teduh dan damai. Berbeda ketika gadis itu dalam keadaan sadar, pipi bulat nya akan mengembung dengan sempurna dengan mata melilit lebar ketika berbicara dengan dirinya.


Lauden tanpa sadar terkekeh, merasa gemas ketika memorinya berputar ke waktu lampau. Pria itu merasa hidupnya sedikit berwarna sejak kedatangan Lucy dalam hidupnya yang selama ini terasa datar dan biasa saja.


Tak lama kemudian, Lauden tiba di perbatasan antara kota Gordon dan Xandified. Ketika pria tampan berkulit pucat itu mendongak, Matahari telah naik ke puncak. Mereka berdua tidak datang seperti yang direncanakan sebelumnya, di mana mereka harus tiba sebelum matahari terbit.


Tiba-tiba, seorang pria menghampiri Lauden.


"Saya ingin melaporkan sesuatu, tuan" katanya.


"Katakan," balas Lauden.


"Baru saja ada kerusuhan di Xandified," katanya sambil menoleh kearah Lucy yang bergerak rusuh dibalik punggung Lauden.


Orang yang ditatap terbangun setelah mendengar suara pria itu menyebut nama desa tempatnya tinggal. Lucy segera mengedipkan matanya, mengumpulkan kesadaran yang belum sepenuhnya, "Apa yang terjadi di Xandified?" Tanya Lucy.


"Ceritakan lebih jelas, Vla." Lauden memerintahkan.


Tepat sekali. Orang yang tiba-tiba datang menghadap Lauden adalan Vladimir. Pria itu segera berkunjung ke perbatasan saat tau Lauden telah tiba.


Kemudian menceritakan apa yang ditemukannya setelah mereka berpisah semalam.


"Ada kerusuhan. Hmm... Mungkin lebih tepatnya, ada pembunuhan yang berhasil menarik perhatian manusia. Seseorang ditemukan terbunuh dengan sangat menyedihkan. Jelas orang itu terbunuh bukan karena manusia karena manusia tidak akan membunuh dengan mencabik-cabiknya." Kata pria itu.


Lauden menurunkan Lucy dari punggungnya perlahan. Gadis itu mendengarkan kata-kata Vladimir , yang lebih dulu sampai di Xandified.


"Bukankah vampir membunuh manusia dengan cara menghisap darahnya dan bukannya mencabik-cabiknya?" Tanya Lucy, yang masih baru di dunia vampir.


"Seharusnya begitu, nona" jawab Vladimir.


"Apa kau sudah menemukan Damien?" potong Lauden.


"Sayangnya, belum. Jejaknya saja tidak terlihat oleh ku. Semua orang suruhan ku pun begitu sulit menemukan lelaki tua itu, seolah dia menghilang ditelan bumi," kata Vladimir.


Lauden mendesis, memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Kali ini pria itu tampak serius dengan kasus hilangnya salah satu tawanannya.


"Apakah korban ada hubungannya dengan Damien?" Tanya Lauden lagi.

__ADS_1


Vladimir langsung menoleh ke arah Lucy, putri Damien, yang diduga telah membunuh seseorang dengan sadis.


"Dia pamannya Lucy," bisik Vladimir sambil menunduk. Takut terdengar oleh Lucy, dan sayangnya memang terdengar olehnya.


"Apa?" Lucy berteriak spontan. "Tidak mungkin ayahku setega itu membunuh adiknya sendiri? Tolonglah jangan mengada-ngada di situasi begini," pinta Lucy yang enggan percaya jika ayahnya telah membunuh pamannya.


"Sayangnya fakta berkata lain," Sanggah Vladimir.


"Bagaimana mungkin?"


"Itu karena korban memiliki hubungan dengan Damien, saya berasumsi bahwa yang membunuh orang itu memang Damien." Kata Vladimir.


"Itu tidak mungkin! Bagaimana mungkin ayahku membunuh pamanku?" Kata Lucy dengan air mata berlinang. Dia meronta-ronta pada dirinya sendiri.


"Apakah mayatnya sudah dikuburkan?" Tanya Lauden.


"Saat ini korban sedang ada di rumah sakit X, katanya mereka perlu melakukan autopsi untuk mengidentifikasi lebih lanjut penyebab kematian pria itu."


"Tidak mungkin ayahku membunuhnya.


Ini adalah sebuah konspirasi, seseorang mencoba memfitnah ayahku dengan membunuh pamanku seperti itu," kata Lucy yang masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa ayahnya telah menjadi pembunuh.


"Bawa kami ke jasad paman Lucy," titah Lauden.


Vladimir menganggukkan kepalanya.


Ketiganya memasuki ruangan dalam keheningan.


Mata Lucy berkaca-kaca. Ia ingin berteriak tapi masih berusaha untuk sadar.


Wajah Lucy langsung memucat ketika melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana pamannya meninggal dengan cara yang menyedihkan. Beberapa luka terlihat seperti cengkeraman vampir. Jantungnya sudah tidak ada. Dan tubuhnya penuh dengan lubang, seolah-olah seseorang telah mencabik-cabiknya dengan tangan mereka.


"Kau baik-baik saja?" Lauden bertanya pada Lucy.


"Ini tidak mungkin terjadi karna ulah ayahku, kan? Tidak mungkin! Ini mustahil!" Teriak Lucy dengan tegas. Ia menutup telinganya dan tak ingin mendengar kata-kata yang menyudutkan.


Vladimir mencoba menenangkannya. Namun, Lauden menahan Vladimir.


"Biarkan dia melampiaskan kesedihan dan kemarahannya," bisiknya.


Lucy meraung-raung sambil menangis. Air mata mengalir di pipinya. Ia tidak pernah menyangka bahwa salah seorang yang teramat disayanginya akan menjadi seperti ini.


"Ada yang mengatakan bahwa orang ini adalah orang yang membunuh ibu Lucy," cetus Vladimir, mengulang informasi yang ia dengar lagi.


Mata Lucy membelalak sejenak. Ia masih teringat dengan jelas apa yang dikatakan Arthur saat itu.


"Ibuku tidak dibunuh. Tapi bunuh diri." Kata Lucy.

__ADS_1


Vladimir bertanya, "jadi kau sudah tahu ibumu sudah tiada?


Lucy mengangguk. "Arthur yang mengatakannya,"


"Jadi, yang benar itu ibu Lucy meninggal karena bunuh diri atau karena orang ini?" Tanya Lauden untuk mengkonfirmasi informasi yang diterima Vladimir.


"Saya hanya mengkonversikan apa yang saya dengar dari warga, tuan" jawab Vladimir.


"Itu jelas tidak benar. Paman ku mungkin menyebalkan, tapi dia tidak mungkin membunuh ibu ku..." Ucap Lucy sambil meneteskan air mata.


"Bagaimana Arthur tahu ibumu bunuh diri?" Tanya Lauden


"Dia membaca pikiran ayahku sebelum dieksekusi di big bang," jawab Lucy dengan pernyataan yang jujur sementara Lauden memikirkan mana yang benar. Jika pria ini adalah penyebab kematian ibu Lucy, ada kemungkinan besar bahwa ayah Lucy adalah pembunuh pria ini karena ia memiliki motif yang jelas.


Namun, jika ibu Lucy yang bunuh diri, maka tidak ada alasan bagi ayah Lucy untuk membunuh pria yang dikenalnya dengan cara yang tragis.


Brak.


Tiba-tiba pintu ruangan bergetar karna ada dobrakan dari luar.


"Bersembunyi!" Seru Lauden.


Lauden, Lucy dan Vladimir segera masuk untuk bersembunyi. Vladimir memilih bersembunyi di bawah meja. Sementara itu, Lauden dan Lucy pergi ke salah satu lemari yang berada di ujung ruangan.


Dari balik celah lemari itu, Lauden dan Lucy dapat melihat beberapa dokter telah masuk untuk memastikan kondisi mayat sebelum diautopsi.


Di dalam ruangan yang sempit itu, Lucy dan Lauden berdiri berdesakan. Tubuh keduanya saling berdekatan satu sama lain.


Lucy berusaha keras untuk menahan air mata yang mengalir di pelupuk matanya. Dia tidak ingin tangisannya terdengar dan membuat ketiganya terancam.


Tiba-tiba Lauden berbisik kepada Lucy dengan tatapan cemburu.


"Apa kau lebih mempercayai Arthur daripada pesuruhku?"


.


.


.


.


.


BERSAMBUNG.!!!


Jangan lupa like, koment, share, vote dan juga rating ya bestie๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ’œ

__ADS_1


__ADS_2