
Lethia, yang kesal karena tidak berhasil membuat raja menangkap Lauden pun berjalan kembali ke kamarnya. Di tengah perjalanan, tanpa sengaja dia berpapasan dengan Lucy.
Dia teringat bahwa gadis ini membuat putranya jatuh cinta padanya juga. Lethia melihat Lucy dari ujung rambut hingga ujung kaki, mencari hal apa yang membuat putranya menyukai gadis itu. Sementara itu, Lucy yang berada di depannya, sedikit takut pada wanita dengan eyeliner gelap itu.
"Saya dengar kamu dekat dengan anak saya," kata Lethia.
Pundak kedua wanita itu sejajar satu sama lain. Keduanya saling mengobrol tanpa saling berhadapan. Keduanya melemparkan pandangan ke arah depan.
Lucy menjawab, "anakmu? Maksudnya Arthur?"
"Siapa lagi kalau bukan dia?" Jawab Lethia ketus. Mungkin dia lupa jika Lucy adalah penghuni baru di kastil vampir, jadi wajar bukan jika dia tidak tahu siapa saja anggota keluarga De Pompadour?
Gadis itu diam, tidak berniat menjawab pertanyaan Lethia. Selain tidak ingin ada perbincangan lebih lanjut dengan wanita itu, Ia juga tidak tahu harus menjawab apa perihal hubungan dengan Arthur. Toh pada kenyataanya mereka tidak pernah memiliki hubungan yang spesial kecuali rekan kabur yang gagal.
Karna Lucy selalu mengira bahwa Lethia tidak menyukainya sejak pertama kali mereka bertemu. Wanita ini adalah orang yang meminta agar Lucy dibunuh karena telah menyaksikan keberadaan vampir. Wanita ini juga yang menangkapnya saat ia hendak melarikan diri dari kastil.
Lethia menyeringai saat melihat Lucy yang terlihat enggan menjawab pertanyaan darinya yang terlampau sederhana itu.
"Ngomong-ngomong, kami tidak pernah terlihat begitu ramah pada mu, kan. Bagaimana kalau kita mengadakan pesta penyambutan untukmu?" Kata Lethia.
"Aku tidak tahu sebenarnya apa niatmu terhadapku, tapi tetap saja aku harus mengucapkan terimakasih atas niat baikmu yang ingin menyiapkan pesta penyambutan untukku, kan? tapi ku rasa tidak perlu, tidak usah repot-repot." Kata Lucy yang secara tidak langsung menolak tawaran Lethia. Karna sejujurnya gadis itu tidak mengharapkan sambutan apa pun darinya.
"Omong kosong macam apa itu?" Sanggah Lethia.
"...."
"Bersiaplah, kita akan membuat pesta yang menarik besok." bisik Lethia sambil berjalan pergi meninggalkan Lucy sendirian.
Sepeninggalan Lethia, Lucy pun melanjutkan perjalanannya yang tadi sempat tertunda sambil memikirkan apa yang sedang direncanakan oleh Lethia, ibu dari Arthur.
Dia juga berusaha mengingat suara topeng emas dan perak malam itu, mencoba membandingkannya dengan suara Lethia. Lethia adalah orang pertama yang dicurigai Lucy karena perilakunya yang aneh. Namun, dia tidak bisa memastikan apapun dari segala keanehan Lethia tersebut.
Lucy menoleh ke arah Lethia, melihat punggung yang semakin menjauh dari pandangannya. Lucy pun bertanya-tanya mengapa wanita itu tiba-tiba ingin mengadakan pesta atas namanya.
"Perduli apa aku tentangnya?"
...****************...
Bualan Lethia tentang pesta yang ia inginkan ternyata benar adanya. Sebuah pesta mewah ala vampir yang hanya mengundang para bangsawan kerajaan vampir pun digelar dengan meriah.
"Lauden sudah seperti anak saya. Dan aku merasa bersalah karena menyeret Lucy ke sini dengan perlakuan buruk seperti itu," kata Lethia kepada para tamu saat mereka bertanya mengapa dia mengadakan pesta penyambutan yang tidak ada hubungannya dengan Lucy.
"Jika saya menganggap lauden sebagai anak saya, maka saya harus menganggap Lucy sebagai anak saya juga, kan?" lanjutnya.
Lucy melihat gerak-gerik Lethia dari kejauhan. Merasa ada sesuatu yang tidak baik dari sikap baik hati dari seorang Lethia yang tiba-tiba baginya.
"Aneh," bisik Lucy dalam hati.
Arthur mendekati Lucy, yang menatap ibunya dengan heran.
"Apanya yang aneh?" Tanya Arthur.
"Mengapa ibumu tiba-tiba mengadakan pesta atas nama ku? Bukankah sudah jelas dia membenciku? Mengapa dia mengadakan pesta untuk orang yang dia benci?" Lucy bertanya.
__ADS_1
Arthur tertawa dan menjawab, "mungkin ibuku berniat untuk berubah setelah aku menyatakan ketertarikanku padamu."
"Apa? kenapa kau bilang pada Lethia kalau kau menyukaiku?" Tanya Lucy terkejut.
"Apakah itu salah?" Arthur menjawab kalem.
Meraih jemari lucy dan menggenggam tangan gadis itu yang terasa hangat dalam genggamannya.
"Hari itu, aku hanya memberitahu ibuku. Lain kali, aku pasti akan menceritakannya juga pada dunia." Kata Arthur dengan hangat.
Lucy merasa nyaman dengan sikap Arthur yang selalu manis padanya. Lelaki itu berhasil menyentuh hati Lucy.
"Pantas saja kemarin wanita itu tiba-tiba menanyakan hubunganku dengan arthur, ternyata..." batin Lucy bermonolog ketika ingatannya kembali ke hari kemarin, hari dimana ibu Arthur memulai pembicaraan dengan menanyakan hubungan Lucy dengan anaknya.
"Mungkinkah Lethia mencoba untuk menyukai dan berdamai denganku?" Lucy bertanya pada dirinya sendiri.
"Sure!" Jawab Arthur yakin saat hati Lucy penuh keraguan terhadap ibunya.
"Sudah ku katakan jangan pernah menyentuh hal yang bukan milikmu!" Kata Lauden, yang tiba-tiba muncul di depan Lucy, menghalangi Arthur yang hendak mencium tangan Lucy.
"Kenapa kau hobi sekali menggangu momen romantis kami hah?" Serka Arthur jengkel karna kebersamaan dirinya dan Lucy selalu saja berakhir buruk.
"Kau saja yang tidak tahu diri," tukas Lauden.
"Ckck!"
Pesta tersebut diwarnai dengan perkelahian kecil antara Lauden dan Arthur yang memperebutkan Lucy.
"Kau pilih pergi sendiri dengan kaki dan tangan utuh, atau ku buat kau dikenang hanya nama?" Desis Lauden tajam.
Lauden berbalik dan menghadap Lucy.
"Bagian mana saja darimu yang disentuh olehnya?" kata Lauden sambil meneliti sekujur tubuh Lucy, sudah kelihatan kan bahwa Lauden tidak ingin Lucy tersentuh siapapun selain dirinya? Posesif! satu kata yang pas untuk menggambarkan si putra mahkota itu.
"Tidak ada," jawab Lucy sekenanya.
"Jangan pernah lupa siapa tuanmu disini," bisik Lauden sambil menyusupkan satu tangannya berada di pinggul Lucy.
"Apa yang kau lakukan?" Lucy bertanya, terkejut dengan sentuhan itu.
Ini adalah kedua kalinya Lauden menyentuh pinggul Lucy dan membuatnya berlari dengan kekuatan supranatural yang dimiliki vampir, tapi kali ini tidak terjadi apa-apa. Mereka berdua masih berdiri di tempat.
"Kau tidak ingin berdansa atau tidak pernah berdansa? kenapa ada manusia senorak dirimu? Ini adalah pesta dansa. Tentu saja kita akan berdansa" Kata Lauden sambil menggenggam tangan Lucy yang lain.
Lagu Romantis diputar, menciptakan suasana romantis di ruangan itu.
Keduanya bergerak seirama dengan lagu, meski sedikit kikuk dan beberapa kali kaki Lucy kedapatan menginjak kaki Lauden.
"Berhentilah, aku tidak mau berdansa lagi." Rengek Lucy yang merasa malu karena selalu melakukan gerakan yang salah.
"Santai saja dan ikuti musiknya." Bujuk Lauden yang masih betah berlama-lama bersama Lucy.
Lucy mendongak, membuat tatapan keduanya bertemu.
__ADS_1
Saat Lucy menatap mata Lauden, ia mulai mengingat semua hal yang telah dilakukan pria itu selama ini. Pertama, menyelamatkannya dari kejaran preman, Kedua Lauden telah menyelamatkan dirinya saat ingin bunuh diri. Lauden juga menyelamatkan ayahnya dari kematian.
Walau sikapnya kadang membuat tekanan darah tinggi Lucy meningkat, tapi jika diingat kembali belum pernah ada satu pun tindakan jahat yang Lauden lakukan terhadapnya.
Semakin Lucy mengingat semua hal tentang Lauden, semakin ia ingin tahu apa yang ada di dalam pikiran pria itu. Jika saja ia memiliki kemampuan seperti Arthur, pria pertama yang ingin ia temui adalah Lauden, pria dengan seribu misteri.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Lauden bertanya pada Lucy, tanpa menghentikan dansa mereka.
"Aku ingin melihat hatimu." Kata Lucy jujur.
"Vampir tidak memiliki hati." Jawab Lauden dingin.
"Mustahil." Kekehnya.
Lauden meraih salah satu tangan Lucy dan meletakkannya di dadanya. Lucy terkejut karena dia menyentuh dada seorang pria, dan itu adalah tuannya.
"Apa yang kau rasakan? adakah debaran seperti milikmu?" Tanya Lauden.
"Ada getaran di sana?" Tanya Lauden lagi karna Lucy hanya diam.
Lucy menggeleng.
"Itu karna vampir tidak memiliki jantung, apalagi hati."
Bukannya merenung, Lucy malah merona saat ini. Padahal sudah jelas dia tidak merasa ada debaran di hati Lauden, malah jantungnya yang berdebar.
"Apakah kamu masih ingin memberikan hatimu pada saya?" Tanya Lauden sambil menempelkan bibirnya di leher Lucy, membuat detak jantung Lucy berdetak lebih cepat. Pada titik ini, jauh di dalam hati Lucy, ia mulai jatuh cinta pada pria ini secara perlahan.
Kalian tahu cerita "the beauty and the beast"?
Cerita yang mengisahkan seorang putri yang jatuh cinta pada monster yang menolongnya dari kejaran serigala hutan, begitu juga Lucy yang mulai jatuh cinta pada penolongnya, Lauden.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG.!!!
Aduh, Arthur keknya perlu siapin tisue segepok nih untuk move on🤧 belum apa-apa udah di ulti aja si Abang.
Hayo pada readers tercinta, kalian tim siapa nih?
Arthur-Lucy
atau...
Lauden-Lucy?
__ADS_1
Yuk bagi pendapatmu dikolom komentar ya😉 jangan lupa like, share, vote dan juga rating karya othor ya bestie🙏🏻💜