SLAVE to PANGERAN VAMPIRE

SLAVE to PANGERAN VAMPIRE
Eps. 26


__ADS_3

"Anda memanggil saya tuan?" Seorang pesuruh mendatangi Lauden yang sedang membaca bukunya.


"Cari tahu siapa yang membawa ayah Lucy sebagai persembahan big bang, dan jangan lupa tanyakan padanya, siapa dalang di balik semua ini," ujar Lauden dengan suara pelan.


"Masih ada lagi tuan?


"Sementara hanya itu saja,"


"Baik kalau begitu, saya pergi dulu. Permisi." Pemuda itu pergi setelah menganggukkan kepalanya.


Lauden bangkit dari tempat duduknya dan berniat untuk kembali ke kamarnya.


Di dalam kamar.


Lucy tengah mondar-mandir ke sana kemari karena bingung dan kesal bercampur sekaligus menjadi satu.


Pertanyaan Arthur tentang apakah Lucy akan menjadi budak Lauden selamanya benar-benar menghantui dirinya setiap bernafas. Ia mulai memikirkan apa yang akan terjadi ketika ayahnya pulih dari masa transisi nanti.


Dia merasa bahwa dunia vampir bukanlah tempat untuknya. Dia tidak bisa berada di sini selamanya. Tapi untuk pergi dari sini pun ia tak berdaya.


Ceklik...


Bunyi suara pintu yang terbuka membuat Lucy menolehkan kepalanya dan melihat siluet yang membuatnya resah sejak tadi.


"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Lauden.


"Apa? A-aku sedang olahraga otot. Ya olahraga otot," kata Lucy terbata karna merasa alasannya tidak logis.


"Apa yang akan terbentuk dari triplek sepertimu?" cibir Lauden sambil membuka jubah kerajaannya dan hendak berlalu ke dalam kamar mandi.


"Tunggu dulu," cegah Lucy.


Lauden menaikan sebelah alisnya ketika menatap Lucy, seolah berkata "Apa?"


Lucy memilin jemari tangannya, bingung harus mulai darimana. Tapi dia juga harus memberanikan diri meminta ijin. Hati kecilnya mengatakan bahwa ada kebaikan yang tersembunyi dalam diri Lauden. Lelaki itu pasti akan mengijinkannya, apalagi setelah menyelamatkan ayahnya, Lucy semakin yakin bahwa Lauden pasti mau menolongnya.


"Tuanku, bolehkah aku menanyakan sesuatu?" Kata Lucy.


Lauden tertegun dengan panggilan Lucy kepadanya yang mulai melunak. Tidak biasanya gadis itu menjadi penurut.


"Katakan," kata Lauden dingin. Dan jangan lupakan tatapan tajam mengintimidasi khasnya.

__ADS_1


"Aku telah hidup di dunia manusia selama satu dekade. Semua yang kulihat saat itu bisa dipahami dan masuk akal. Namun, semuanya tampak tidak masuk akal lagi sejak aku datang ke kastil ini. Aku merasa tidak cocok dengan kalian. Kau tak bisa mati, sedangkan aku bisa, kau bisa membaca pikiran orang lain, dan aku tidak, dan kau punya ritual aneh. Hal yang paling aneh adalah kau menyebutnya big bang. Semakin aku memikirkannya, semakin aku merasa semuanya tidak cocok untuk ku. Tidak ada telepon, tidak ada televisi, tidak ada toko. Tidak ada manusia, tidak ada yang normal bagiku. Kastil vampir ini bukan duniaku, Lauden. Bahkan menjadi budak mu bukanlah sesuatu yang aku inginkan?" Tanya Lucy dalam satu kali tarikan nafas saking panjangnya.


Lucy mencoba bernegosiasi dengannya. Ia berani mencurahkan isi hatinya setelah melihat Lauden dari kejauhan tadi. Ia pikir Lauden baik hati, dan akan memenuhi permintaannya setelah merasa kasihan padanya.


"Katakan yang jelas apa maksudmu?" Tanya Lauden.


"Jadi, aku mohon kau mau memenuhi keinginanku. Ketika ayahku sudah sembuh dan melewati masa transisinya, bisakah kau membiarkan kami berdua keluar dari sini?" Lucy memohon dengan wajah dibuat se-memelas mungkin.


Lauden melangkah mendekati Lucy dengan raut wajah yang sulit diartikan. Ketika tiba didepan Lucy, tangannya menyentuh rambut Lucy yang tergerai.


"Kamu tidak sepintar yang saya kira rupanya," kata Lauden sambil tersenyum sinis.


"Apa maksudmu?" Lucy bertanya.


"Jika ayahmu telah melalui masa transisinya, dia tidak akan lagi menjadi manusia seperti semula. Dunia manusia tidak akan cocok untuknya


Persis seperti yang kamu rasakan di dunia vampir. Membawanya pergi dari sini hanya akan menjadi bencana bagi umat manusia itu sendiri. Tidakkah kamu mengerti itu?" Kata Lauden.


"Tapi kemarin kamu bilang akan mengajarinya minum darah hewan kan? Jadi, dia tidak akan berbahaya seperti yang diceritakan kebanyakan orang dalam film?" Kata Lucy.


"Apa menurutmu naluri vampirnya tidak bisa terbangun setelah hidup di sekitar manusia?" Kata Lauden.


Lauden mencondongkan tubuhnya ke arah Lucy, mengendus lehernya dengan nafas yang memburu.


Lucy mundur selangkah.


"Itu sebabnya vampir dilarang meninggalkan wilayah kekuasaan Dysis. Kamu tidak bisa membayangkan bencana seperti apa yang akan terjadi jika vampir baru tinggal bersama para manusia lemah seperti kalian. Vampir baru memiliki naluri haus darah manusia yang lebih kuat daripada vampir senior. Kamu mungkin akan terbunuh." Lauden menjelaskan.


Sebulir air bening jatuh dari mata Lucy. Wanita itu menyentuh pipinya. Apa yang dikatakan Lauden membuatnya sadar bahwa ia akan terjebak dalam dunia vampir selamanya.


Jika dia melarikan diri dari kastil vampir ini bersama Arthur, bagaimana dengan ayahnya? Jika dia tidak melarikan diri, mungkinkah dia bisa hidup bersama Lauden selamanya?"


Dia mulai menangis di depan Lauden.


"Jangan menangis di depan saya," teriak Lauden.


Lucy menunduk, menyembunyikan air mata yang tidak mau berhenti menetes. Ia bahkan sampai tergugu karna menahan diri agar siakannya tak terdengar.


"Saya benar-benar akan menghukum mu jika kau tidak berhenti menangis sekarang juga Lucy," lanjut Lauden.


Sebisa mungkin Lucy mengecilkan isakannya, mengelap wajah dan hidungnya dengan punggung tangan dan menatap Lauden sendu.

__ADS_1


"Tapi... Bagaimana mungkin ayahku bisa tinggal di sini?" Kata Lucy.


Lauden menjawab, "ketika masa transisinya selesai, dia bukan lagi manusia, seperti yang kamu bayangkan. Dia beradaptasi dengan mudah ke dunia vampir."


Mendengar kata-kata itu, Lucy tiba-tiba merasa marah. Membayangkan ayahnya menjadi vampir dan hidup dari darah hewan membuatnya mengeram dalam diam.


Tangan Lucy mengepal, lalu ia mencengkeram kerah baju Lauden.


"Kenapa kau mengubah ayahku menjadi monster sepertimu? Hah? Apa tidak cukup kau membuat hidupku sengsara? Kenapa ayahku juga?"


Lucy yang tadinya menganggap Lauden adalah orang baik karena telah menyelamatkan ayahnya dari kematian, kini menganggap Lauden jahat karena telah mengubah ayahnya menjadi monster. Dia sendiri sebenarnya tidak tahu bagaimana dia harus melihat sosok Lauden. Apakah dia seorang pria yang baik? Ataukah dia orang yang jahat?


Namun demikian, Lucy baru menyadari bahwa sifat ayahnya yang seperti itu akan membuatnya semakin terpatri di kastil ini.


"Kau lupa bahwa saya lah yang menyelamatkannya?" Lauden berbisik.


Lucy melepaskan cengkramannya di baju Lauden. Sekarang, dia meletakkan tangannya di dahinya, bingung apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Kau bilang tadi saya yang mengubah ayahmu menjadi monster seperti saya kan? Jadi, menurutmu saya ini monster, begitu?" Tanya Lauden, mengulangi pernyataan Lucy sebelumnya.


"Tidak, maksudku..."


Lucy mundur beberapa langkah sambil mencoba merevisi kalimatnya. Ia mengira Lauden akan marah besar karena ucapannya yang menghina sang vampir secara terang-terangan. Namun, sesuatu di dalam mata Lauden menyiratkan bahwa pria itu juga tidak ingin menjadi monster seperti sekarang. Lucy tidak tahu mengapa dia mulai merasa kasihan pada pria itu.


"Maafkan aku. aku tidak bermaksud mengatakan bahwa kamu monster. Aku terlalu emosional karna ingin melampiaskan kemarahan saja. aku marah sebab tidak tahu bagaimana cara hidup di tempat yang asing ini." kata Lucy terbata-bata.


Lauden berkata, "Kenapa kamu meminta maaf? Saya benci caramu melihat saya penuh dengan rasa kasihan, seperti itu. Saya tidak butuh dikasihani."


Lucy mengalihkan pandangannya dari Lauden. Tidak tahan juga berlama-lama baku tatap dengan iris coklat yang tampak berkaca-kaca namun terlihat menghunus.


"Monster tidak butuh dikasihani.Tapi monster itu harus ditakuti," lanjut Lauden dingin.


.


.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG.!!!


Jangan lupa like, koment, share, vote, dan Rating juga ya bestie๐Ÿ’œ๐Ÿ™๐Ÿป


__ADS_2