SLAVE to PANGERAN VAMPIRE

SLAVE to PANGERAN VAMPIRE
EPS. 34


__ADS_3

Lauden menyeringai ketika ciumannya terpaksa ia lepas. Lucy membeku di tempatnya.


"Lihatlah betapa mengemaskan wajahnya ketika tersipu. Dan, kenapa pula bibirnya semanis itu?" Kata Lauden dalam hati.


Merasa tidak ada niatan untuk bergerak dari Lucy, Lauden pun memutar tubuhnya dan mengendong Lucy ke punggungnya.


"Apa yang kau lakukan?" teriak Lucy karna pikirannya yang ribut terkejut dengan pergerakan Lauden yang tiba-tiba.


"Apa kau pikir kau bisa sampai di kota sebelum matahari terbit tanpaku?" Lauden menjawab.


Pikiran Lucy masih kosong setelah ciuman tadi. Dia sama sekali tidak mengerti kenapa akhir-akhir ini Lauden sering kali menciumnya. Namun, gadis itu malu untuk bertanya.


Ia merasa canggung berada di dekat Lauden. Itu adalah perasaan aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Terkadang, Lauden tampak seperti seorang ayah yang penuh kasih sayang daripada seorang majikan baginya.


"Bagaimana dia bisa bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa setelah menciumku?" Lucy bertanya dalam hati.


"Katakan padaku. Apakah ada kemungkinan ayahmu pergi ke Xandified?" Lauden bertanya pada Lucy.


"Hmm... Seumur hidup ayahku, dia tinggal di Xandified. Tidak mungkin dia akan berada di tempat lain." Kata Lucy.


"Baiklah. Aku akan mencoba untuk sampai di Xandified sebelum fajar," kata Lauden.


Lucy masih berada di punggungnya. Ia menatap langit. Sinar bulan samar-samar menjauhi mereka.


Langit di hutan Dysis semakin terang seolah-olah bersiap menyambut fajar.


"Tidak bisakah vampir tinggal di siang hari? Apa kau akan mati jika matahari terbit?" Tanya Lucy penasaran. Dia bertanya-tanya kenapa Lauden harus berpacu dengan waktu. jadi dia mengira bahwa tuannya itu takut pada matahari seperti diceritakan dalam dongeng atau film yang pernah ia tonton.


Lauden tidak menjawab pertanyaan bodoh itu. Sebelumnya, dia pernah membaca kisah tersebut dan menganggapnya sebagai lelucon bagi para vampir.


"Kamu akan mati jika terkena matahari, ya?" Lucy bertanya lagi.


Kali ini, dia seperti anak kecil yang sering bertanya pada sopir yang sedang bepergian.


"Sekali lagi, kau tidak sepintar yang aku kira." Cetus Lauden sinis.


"Kau ingin mengatakan aku bodoh? Kamu payah! Rasakan ini!" Lucy mengetuk kepala Lauden dengan lembut.


"Ow!" Lauden berteriak.


"Eh, apakah sesakit itu?" Lucy tampak panik sendiri dan mengusap sambil sesekali meniup bekas ketukannya di kepala Lauden.


"Kau tidak tiba-tiba amnesia, kan? Hei! Lauden!" Kejar Lucy panik.


Lauden sebenarnya tidak benar-benar kesakitan, dia hanya menggoda Lucy. Lagi


Lauden langsung tertawa melihat tingkah Lucy.


"Kenapa kau tertawa? ish, jangan bilang otak mu geser karna ku? huwaa, Lauden tolong jangan sedeng di sini kamu." Kata Lucy, dia memajukan wajahnya dari samping sehingga bisa melihat wajah Lauden yang berbinar karna berhasil menggodanya.


"Kau menipuku? kau tidak benar-benar sakit kan?" tuduhnya.


"Dasar bodoh!" kekeh Lauden.

__ADS_1


Lucy yang kesal pun semakin mengeratkan lingkaran tangannya dileher Lauden, tapi tidak berefek bagi pangeran vampir itu. Buktinya pria itu masih bisa bernafas dengan baik. Ia tidak merasa atau memang tenaga Lucy tidak sekuat itu? entahlah...


"Dengar, vampir adalah manusia yang tidak bisa mati. Pikirkanlah! Apa yang akan terjadi jika dia berkeliaran di siang hari?"


"Apa yang terjadi?" Lucy bertanya dengan polos.


"Orang-orang akan mengenalnya, lalu menyadari bahwa dia tidak akan bisa menua. Kemudian, mereka akan menemukan perbedaan di antara kita. Itulah sebabnya kami menghindari siang hari, bukan karna takut terbakar lalu menghilang seperti film atau cerita dongeng yang kalian ceritakan." Lauden menjelaskan mengapa tidak ada vampir yang keluar di siang hari.


"Jadi itu hanya mitos belaka?"


"Tentu saja... Sekarang aku yang ingin memenggal kepalamu," kata Lauden, kesal dengan pertanyaan bodoh Lucy.


"Jika kau tidak akan mati karena matahari, kenapa kau harus sampai di Xandified sebelum pagi?" Lucy bertanya lagi.


"Sepertinya otakmu harus dicuci dengan pembersih mahal agar bisa digunakan untuk berfikir." Dengus Lauden. Pria itu frustasi sekali menghadapi sikap lucu yang cerewet dan penuh keingintahuan seperti ini. Dia lebih suka Lucy yang diam dan penurut.


"Ya!" Sentak Lucy. "Tidak bisakah jangan mengatai orang sesuka hatimu?"


"Apa kau tidak mengerti sampai sini? Perjalanan kita ini adalah misi rahasia. Jangan sampai pasukan kerajaan menangkap ayahmu sebelum kita, karna jika itu terjadi, bukan hanya ayahmu saja yang mati tapi juga kita. Paham?" kata Lauden.


"Oke, aku mengerti." Lucy pun mengangguk-anggukan kepalanya dibelakang punggung Lauden.


"Lagipula, kita harus bergegas sebelum ayahmu memakan korban," lanjut Lauden.


Lucy tertawa kecil sambil menggeleng pelan.


"Aku masih percaya bahwa ayahku adalah orang yang baik, dia tidak akan melakukan hal seperti itu." Jawab Lucy.


"Tidak ada yang bisa menghentikan rasa haus akan darah manusia bagi seorang vampir."


"Begitu ya?"


...****************...


Merqueen sedang berdiri di dekat jendela kamarnya. Tangannya setengah membuka tirai, mengintip ke luar kamar.


"Kudengar, Lethia mengadakan pesta bodoh lagi," kata sang raja pada penasihat istana.


"Itu benar, Yang Mulia. Dan kami sedang mencari tahu apakah Lethia menggunakan uang kerajaan untuk keperluan pribadinya atau tidak." kata orang tua itu.


"Kali ini, apa tema yang diusungnya?" Tanya sang raja.


"Dia bilang pesta ini untuk menyambut Nona Lucy," jawab pria itu.


Sang raja tertawa kecil.


"Siapa yang akan mempercayainya? Dia adalah orang pertama yang menyangkal keberadaan Lucy untuk tinggal di kastil ini." Kata sang raja.


"Mungkin, dia telah berubah karena Pangeran Arthur, kudengar, dekat dengan Nona Lucy."


Raja tertawa lagi.


"Mereka hanya anak muda. Mereka lupa bahwa mereka sudah berusia ribuan tahun. Masih saja mendekati wanita." Jawab sang raja sambil tertawa.

__ADS_1


"Yang Mulia, karena Nona Lucy tinggal di kastil ini, bagaimana jika dia kita diubah menjadi vampir juga?" Penasihat kerajaan menyarankan.


Raja memejamkan mata lalu tangannya mengelus dagunya, berpikir apa yang disarankan oleh penasihat istana itu ada benar juga.


"Lauden tidak akan setuju dengan ide ini," kata raja ketika ingat sang putra. Jika bukan Lauden sendiri yang menghendaki, pria itu pasti akan berontak meski itu perintah sang ayah.


"Seorang manusia yang tinggal di kastil vampir bukankah lebih baik jika gadis itu menjadi vampir sepenuhnya?"


"Aku tahu. Apapun posisi Lucy bagi Lauden, tidak mungkin mudah menjadi seorang manusia diantara para vampir? Begitu juga dengan semua vampir di kastil ini."


Tiba-tiba, seorang prajurit meminta izin. Untuk masuk ke dalam ruangan, dia adalah vampir yang diutus untuk menyamar menjadi manusia dan tinggal di kota demi sebuah penelitian.


Sang raja mengabulkan permintaannya.


"Apa yang ingin kau laporkan?" Tanya sang raja ketika vampir itu masuk.


"Ada keributan di Xandified," kata pria itu.


"Apa yang terjadi?" Tanya sang raja yang tidak mengerti.


"Saya mendengar bahwa ada seorang vampir yang membuat masalah di sana," kata prajurit itu, membuat sang raja segera berdiri dari singgasananya.


"Telah terjadi kekacauan di Xandified. Baru saja terjadi kasus pembunuhan secara sadis yang menghebohkan publik. Dan para penyidik manusia menemukan kejanggalan pada tubuh korban pembunuhan itu, oleh karena itu mereka menduga bahwa bukan manusia yang melakukannya." Kata pria pembawa pesan itu.


"Kau yakin?" Tanya sang raja.


"Begitulah sekiranya yang hamba dengar yang mulia,"


"Jika seorang vampir yang melakukan pembunuhan itu, maka aku sendiri yang akan memusnahkan vampir itu." Kata raja.


"Untuk saat ini


Belum ada kabar siapa pelakunya," jawab pria pembawa pesan.


"Penasihat raja, buatlah tim investigasi sesegera mungkin untuk mencari tahu siapa pelaku pembunuhan itu. Jika benar pelakunya adalah vampir, seret dia kemari. Kemudian, jangan lupa untuk menghilangkan jejak vampir tersebut. Buatlah seolah-olah korban bunuh diri," perintah raja.


"Baik yang mulai."


"Tunggu. Bukankah semua vampir mengikuti pesta Lethia malam ini? Apakah ada vampir baru di antara kita?" tanya raja. Dia mengerutkan alisnya dan mengangkat alisnya.


"Kecuali ada vampir lain."


"Jangan-jangan..."


.


.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG.!!!


Jangan lupa like, koment, share, vote dan juga rating ya bestie๐Ÿ’œ๐Ÿ™๐Ÿป


__ADS_2