SLAVE to PANGERAN VAMPIRE

SLAVE to PANGERAN VAMPIRE
EPS. 24


__ADS_3

"Saya tahu saya tampan, tapi tidak selama itu juga menatapnya." Kata Lauden sambil menyentil pelan kening Lucy.


Jika biasanya Lucy akan mengamuk, tapi tidak kali ini. Gadis itu hanya mengusap pelan keningnya dan tersenyum.


"Aku tidak tahu. Tapi, aku menyukai semua yang kau katakan malam ini."


Tiba-tiba, Lauden menarik tangan Lucy ke salah satu tangannya, mendekatkan jarak keduanya sedang yang lain memegang pinggul gadis itu agar semakin rapat.


"Apa yang kau laku~"


Belum sempat Lucy menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya sudah melayang bak daun kering yang jatuh akibat angin badai saking rapuhnya dia.


Dengan kemampuan vampirnya, Lauden membawa Lucy pergi dari sana.


"Lauden, kau bisa membuatku kehabisan nafas jika membekap kepalaku dalam jubahmu begini." Protes Lucy dalam dekapan Lauden.


Pria itu tersenyum kecil, berasa jadi koala menopang anak dalam perutnya. Dia memang sengaja menyembunyikan Lucy dalam jubahnya, tujuannya agar gadis itu tidak ingat jalan pergi dan pulang. Meskipun Lauden yakin, jika ingat pun Lucy tidak akan berani pergi jauh seorang diri.


"Dimana ini?" Tanya Lucy saat keduanya mendarat di suatu tempat yang gelap, lembab dan kumuh. Persis seperti penjara bawah tanah yang berusia ratusan tahun umurnya.


"Tempat yang akan menjadi salah satu alasan kamu harus tetap hidup. Jika pun kau ingin mati, setidaknya hiduplah demi dia." Kata Lauden sambil menunjuk kearah dimana serpihan cahaya bulan purnama menimpa siluet seseorang yang familiar bagi Lucy.


"Ayah?" Lirih Lucy pelan setelah berhasil mengidentifikasi siluet gagah dengan kulit putih dan perawakan tinggi itu adalah ayahnya.


Dia mematung. Antara senang dan terkejut. Awalnya dia kira tidak akan pernah bertemu dengan pria yang dia klaim telah mati karna tragedi big bang, dia bersyukur karna ayahnya masih hidup dan nampak baik-baik saja.


Gadis itu dengan tidak sadarnya berlari kearah pria itu, ingin memeluknya. Namun, langkahnya langsung terhenti saat seseorang mencekal langkahnya.


"Jangan mendekat, he is dangerous!" Bisik Lauden.


Lucy menatap Lauden tak suka dan melepaskan cekalan pria itu dari tangannya.


"Lelucon macam apa itu? Dia adalah ayahku, kenapa dia berbahaya?" Protes Lucy dengan kedua alis saling menukik tajam.


"Kau lupa atau memang sengaja abai terhadap fakta bahwa ayahmu telah tergigit oleh vampir?" Cetus Lauden.


"Iya aku tahu, tapi apa hubungannya? Aneh sekali dirimu," Bantah Lucy.


"Gigitan itulah yang membuat ayahmu berbahaya! Dia berada dalam masa transisi saat ini, dia sedang merotasikan sel manusianya menjadi vampir. Dan kau tahu kenapa dia berbahaya?"


"Kenapa?"


"Karna vampir baru yang terinfeksi belum menerima pelatihan untuk meminum darah hewan sebagai pelepas dahaga, mereka akan mengikuti naluri vampir mereka untuk meminum darah manusia." Jelas Lauden panjang lebar.


"Aku putrinya, bagaimana mungkin dia melukai anaknya sendiri?" Tolak Lucy.


"Jangan bodoh, Lucy! Mau kau anaknya, istinya atau buyutnya sekalipun, dia tetap akan menyerangmu." Geram Lauden yang terlihat mulai kesal karna Lucy sulit mengerti.


"Itu tidak masuk akal! Dia tidak akan melukai aku,"


Tak menggubris larangan Lauden, Lucy kembali berlari mendekati ayahnya dan...


"Rawrrr..." Pria itu mengerang seolah-olah ingin menerkam Lucy.

__ADS_1


"Arghhh..." Pekik Lucy terkejut dengan langkah mundur spontan.


Tubuhnya gemetar melihat ekspresi mengerikan ayahnya. Dia merasa pria yang ada didepannya ini bukanlah ayahnya.


Untung saja pria itu diikat dengan tiga lapisan borgol di kakinya, sehingga tidak bisa mencapai jarak Lucy.


"See?" Lauden langsung memblokir kontak mata Lucy dengan ayahnya dengan berdiri tepat di depannya.


"Ayahku... Kenapa dia begitu? Aku putrinya," kata Lucy sambil terisak. Gadis itu menangis karna takut pada ayahnya.


Lauden membawa gadis itu ke dalam dekapannya dan menepuk punggungnya pelan, sambil mengeluarkan kata-kata pemenang.


"Tenanglah, itu reaksi normal dalam masa transisi. Dia hanya butuh waktu penyesuaian, hm?"


Lucy mendongak, menatap Lauden dengan mata berkaca-kaca. Penjelasan Lauden barusan memang menenangkan, tapi tak dipungkiri rasa sedih itu tetap ada.


Dia sedih karna ayahnya bukan lagi manusia seutuhnya, tapi. Di sisi lain dia juga senang karna masih bisa bertemu ayahnya meski dengan cara berbeda.


"Bagaimana bisa ayahku masih hidup?" Tanya Lucy setelah emosinya stabil. Karna setahunya, berdasarkan penjelasan Arthur beberapa waktu lalu, upacara big bang tidak dimaksud untuk menciptakan vampir baru. Korban persembahan akan dihisap habis darahnya untuk mencegah adanya spesies baru dari klannya.


"Pikirlah sendiri kenapa ayahmu masih hidup," goda Lauden.


"Karna kau yang menyelamatkannya?" Tebak Lucy.


Lauden menganggukkan kepalanya dan tersenyum tampan.


Tanpa pikir panjang, karna merasa sangat senang Lucy langsung menubrukan tubuh keduanya dan masuk kedalam gendongan Lauden. Memeluk erat tubuh pria itu sembari mengucapkan kata terimakasih berulang kali. Mengungkapkan apa yang dia rasakan saat itu.


Lauden yang mendapat serangan tiba-tiba itu pun oleng karna terkejut. Beruntung dia memiliki otot yang kekar sehingga berhasil menahan bobot keduanya agar tidak jatuh.


"Entah dengan apa harus ku simbolkan kata terimakasih ini agar bermakna, tapi percayalah. Aku tulus berterimakasih padamu," kata Lucy sambil tersenyum manis.


Pria yang mengklaim tidak memiliki hati itu pun terdiam. Ada sesuatu yang terasa hangat dalam dirinya saat melihat senyum Lucy. Dia tahu perasaan apa itu, namun tidak cukup yakin jika itu cinta.


"Jangan konyol, vampir tidak memiliki hati. Kami tidak akan mungkin merasakan emosi yang disebut cinta" tekan Lauden dalam pikirannya.


Lauden berdehem sebentar sambil melirik Lucy yang tampak betah dipelukannya.


"Ekhem..."


Lucy yang mengikuti arah pandang Lauden pun tersadar dan melepaskan pelukannya pada pria itu. dan berkata, "maaf aku kelepasan." Ringisnya sungkan.


"Ya." Jawab Lauden singkat.


"Saran saya, jangan terlalu percaya diri karna itu tidak baik. Asal kau tahu, saya menyelamatkan pria itu bukan karna dirimu" Cetus Lauden.


"Tidak mengapa. Aku tetap mengucapkan terimakasih walau kau bilang itu bukan untukku. Tapi..."


"Tapi?"


"Tapi kenapa kau membawanya ke tempat seperti ini?" Tanya Lucy yang merasa kasihan melihat kondisi bangunan menyedihkan ini dijadikan rumah bagi ayahnya.


"Karna..." Lauden menjeda kalimatnya. Memilah yang paling sederhana agar budaknya yang lemot itu tidak gagal faham.

__ADS_1


"Tidak ada satu pun vampir dari kerajaan Selatan yang tahu tempat ini,"


"Tapi kamu tahu," bantah Lucy polos.


Oh ingatkan Lucy bahwa kesabaran Lauden itu seperti tisu dibelah empat. Tipis.


"Kenapa kau bodoh sekali? Jika saya membawamu kemari, itu artinya tempat ini milik saya. Kenapa tidak ada yang tahu, karna saya yang menemukan tempat ini lebih dulu." Desis Lauden.


"Ohh begitu?" Jawab Lucy santai.


"Kira-kira apa yang akan terjadi jika ada yang tahu bahwa ayahku masih hidup?" Pertanyaan absurd itu berhasil mengusik ketengan Lauden. Biar kata dirinya putra mahkota, ingat masih ada satu tingkat kuasa yang lebih tinggi darinya. Yaitu ayahnya,


"Jika pun ketahuan, palingan nanti saya dan ayahmu akan mati. Tahu sendiri lah bagaimana ketatnya aturan kerajaan, kan?"


Lucy mengangguk. Ingatannya seketika kembali ke masa dia hampir mati karna menjadi saksi dari tindakan Lauden yang menolongnya dari preman.


"Kenapa kamu tidak memberitahuku sejak awal jika ayah ku masih hidup?" Kejar Lucy.


"Itu karna saya belum yakin ayahmu bisa bertahan sejauh ini, fisik dan imun seseorang yang tergigit oleh vampir itu berbeda-beda. Beruntung ayahmu tergolong orang dengan kekebalan tubuh yang sempurna sehingga ia selamat. Lagi pun, saya tidak memberitahumu sedari awal karna takut kau akan kecewa jika ternyata ayahmu tidak selamat,"


Lucy terenyuh, merasa tersentuh dengan kata-kata Lauden. Pria yang selalu di kecam buruk, sombong, dominan, egois dan suka memerintah seenak hati olehnya ternyata adalah orang baik dan berhati lembut.


"Lauden, bagaimana aku harus berterimakasih padamu?" Kata Lucy dengan mata berkaca-kaca, merasa haru.


"Kamu ingin membalasnya?"Lauden bertanya balik.


Tiba-tiba Lucy bingung harus menjawab apa. Wajah serius dengan nada dalam, Lucy khawatir jika Lauden akan memintanya melakukan sesuatu yang diluar kendalinya.


"Tergantung," jawab Lucy.


"Terimakasih macam apa itu?"


"Kenapa pikiranmu selalu buruk tentang saya?" Tuduh Lauden yang kesal karna niat baiknya selalu dicurigai oleh budaknya sendiri.


"..."


"Saya hanya ingin kamu tetap hidup dan selalu ada di samping saya selama kamu bernafas. Berhentilah bodoh dan jangan mati sebelum waktunya."


.


.


.


.


.


BERSAMBUNG.!!!


So sweet nya babang Aden kita satu nih eh🤭 semoga lucynya ngga bandel ya bang.


Selamat malam Minggu bestie tercinta😍 ritualnya sepeti biasa ya? Koment, like, share, vote dan rating karya othor ya🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2