
"Tolong..."
"Yuhuuu..."
"Siapapun diluar sana tolong bantu aku,"
Teriak Lucy dari dalam kamar. Dia sudah lelah meronta dengan tangan terikat borgol. Dia pikir akan ada yang datang ketika mendengar suaranya. Tapi ini bahkan sudah hampir tiga jam lamanya dia berteriak tidak ada yang datang.
"Ah, sialan! Kenapa lelah sekali rasanya?" Rutuk Lucy. Mata yang tadi bersinar garang kini mulai meredup.
Tak lama kemudian, Lucy tertidur karna kelelahan.
Di lantai bawah.
"Selamat malam, tuan muda." Ucap Lenore, saat melihat putra mahkotanya masuk ke dalam kastil bersama tangan kanannya.
"Sudah dipastikan dia tidak keluar dari tempatnya kan?" Balas Lauden dengan bertanya balik.
"Aman tuan, nona Lucy sepertiya sedang tertidur karna kelelahan berteriak sedari tadi." Adu Lenore yang bertugas menjaga di depan pintu kamar Lauden.
"Hmm..."
Lauden hendak melangkah ke lantai atas, ke kamarnya. Tapi saat mendengar ada pergerakan lelaki itu pun berhenti dan menoleh kebelakang.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Lauden kepada ajudannya.
"Mengikutimu tuan muda?" Balasnya dengan polos.
Lauden berdecak pelan. "Apa kau ingin mendengar suara ******* istriku saat kami bercinta nanti?"
"Eh?"
"Tidak ada yang boleh naik keatas saat saya sedang bersama istri saya, ini tidak berlaku hanya untukmu, tapi katakan juga pada pelayan dan penghuni kastil lainnya. Mengerti?"
"B-baik tuan muda," ucapnya terbata-bata.
Si ajudan itu segera kembali keruang tengah dan membuat pengumuman dan mengumpulkan seluruh penghuni kastil di aula, dan memberitahu mereka sesuai apa yang Lauden perintahkan kepadanya.
Sedangkan Lauden, dia meneruskan perjalanan menuju kamar.
Karna tahu Lucy sedang tertidur, ia berusaha membuka pintu dengan gerakan sepekan mungkin agar tidak menimbulkan suara ketika terbuka.
Deg.
Kakinya terpaku ditempat melihat sesosok gadis yang tidur dengan mata sembab dan kondisi berantakan di atas ranjang king size miliknya.
Setelah memastikan pintu tertutup rapat, Lauden berjalan mendekat kearah ranjangnya.
"Kenapa kau bodoh sekali? Jika ayahmu mati, ya sudah biarkan saja. Kau boleh bersedih tapi jangan bertindak labil begini." Gumam Lauden.
Pria itu bergerak untuk melepaskan borgol dari tangan gadisnya, memperhatikan goresan yang lumayan dalam dipergelangan tangan Lucy.
"Apakah ini sakit?" katanya sambil mengusap pelan goresan berwarna merah muda dipergelangan tangan Lucy.
Lucy yang memang tipe orang perasa meski sedang tertidur pun bangun saat merasa ada sentuhan dingin pada tangannya. Dia terkejut mendapati Lauden berada disampingnya.
"Kau mengizinkanku pergi?" Tanya Lucy, tidak percaya akhirnya kebebasan itu menghampirinya juga.
"Yeah, tapi obati luka di tanganmu dulu,"
Lauden akan beranjak mengambil rerempahan yang biasa para tabib gunakan untuk menyembuhkan.
"Tidak perlu, aku baik-baik saja. Lihat? Tanganku masih bisa bergerak." Kata Lucy sambil menggerak-gerakkan tangannya.
"Kau pergi setelah di obati, atau tidak pergi sama sekali?" Tantang Lauden.
"No! Maksudku, baiklah. Aku akan obati tanganku,"
Lauden mengangguk dan mengeluarkan beberapa rempahan kering dari dalam kotak di bawah lemarinya.
"Biar aku saja," kata Lucy sungkan saat melihat Lauden sibuk meracik rempah untuk mengobatinya.
"Memangnya kau tahu rempah mana saja yang digunakan untuk meredakan nyeri pada luka basah?"
Triple kill. Lucy meringis di tempatnya. Dia berhenti mengoceh karna memang tidak tahu menahu soal rempah tradisional seperti Lauden.
__ADS_1
Di kota saja, saat sedang sakit obat yang dia tahu hanya Paracet@mol. Apapun sakitnya, pasti obat itu yang selalu menemani. Maklum lah ya, dia kan anak seni grafis jadi tidak paham soal obat-obatan.
"Terimakasih," ucap Lucy tulus saat Lauden telah selesai mengobati luka, ralat. Goresan ditangannya.
"Simpan saja untuk lebaran nanti,"
"Eh? Vampir ikut lebaran juga?" Tanya Lucy. Dia kira orang-orang seperti vampir tidak tahu apa saja perayaan yang ada di dunia manusia.
"Kau pikir kami hidup di zaman apa?" Sanggah Lauden, dia senang akhirnya keadaan Lucy akhirnya kembali seperti semula. Cerewet dan antusias.
"Bersiaplah, kita akan pergi ke suatu tempat malam ini."
"Kita? Kenapa juga kau harus ikut, aku bisa sen~"
"Karna saya melepas borgolmu, kamu pikir saya akan melepas jeratmu juga?"
Lucy yang tadinya merasa senang karna berpikir Lauden akan membebaskannya dari perbudakan ini pun merasa marah, kenapa juga dia bisa berfikir tuannya semurah hati itu?
Gadis itu murka, ia bangun dari ranjang dan hendak menyerang Lauden. Namun, tangannya keburu dicekal oleh pria itu sebelum menyentuh wajahnya.
"Sebelum kamu menyerang saya, kamu harus melihat sesuatu ini dulu."
"Mau dibawa kemana aku?" Tanya Lucy.
Lauden diam, tak berniat memberitahu dan sengaja membuat Lucy penasaran.
Dalam diam lelaki itu beranjak dari sana dan berjalan dari pintu rahasia yang ada di dalam walk in closetnya.
"Eh tunggu, katanya tadi kita. Kenapa aku ditinggal?" Gerutu Lucy seraya berlari mengejar punggung Lauden yang hampir menghilang.
Lama menyurusuri lorong gelap itu, akhirnya mereka tiba di pusat hutan. Lucy sedikit terkejut ada akses dari kamar Lauden menuju pusat hutan. Lebih lagi dia merasa heran kenapa pria itu seolah memberi celah untuknya melarikan diri. Apa dia tidak khawatir jika Lucy akan kabur menggunakan pintu itu suatu hari nanti?
Jelas tidak. Karna Lauden tahu Lucy tidak memiliki nyali sebesar itu, meskipun ada niat dari hatinya. Gadis itu pasti akan berpikir ribuan kali untuk keluar sendiri.
Lucy bergidik ngeri saat mendengar lolongan serigala yang saling bersahutan, ia bahkan beberapa kali menoleh kebelakang, kalau-kalau ada yang mengintainya.
Lauden yang berada di depan pun berbalik saat melihat gadis itu tertinggal jauh dibelakang.
"Kenapa lagi gadis itu?" Batin lauden saat menyadari budaknya berjalan terseok-seok. Pandangannya lalu tertuju pada kaki Lucy yang ternyata tidak memakai sepatu ataupun sendal.
Lauden pun berjongkok saat jarak keduanya sudah dekat.
"Naiklah," perintahnya.
"Hah?"
Lucy tidak mengerti apa maksudnya. Tapi, melihat posisi Lauden seperti menahannya, Lucy pun naik ke punggung pria itu.
"Apa aku berat?" Tanyanya sungkan.
"Sudah lebih ringan daripada saya harus mendengar suara cempreng mu itu," cetus Lauden.
"..."
**************
Mata Lucy membelalak karna ia mengira tidak akan ada lampu atau kota ditengah hutan begini. Tapi ketika mereka semakin dekat, ternyata cahaya itu bukan berasal dari lampu atau sejenisnya melainkan sebuah api yang membara.
Lauden menurunkan Lucy perlahan dari punggungnya.
"Itu adalah api suci, satu-satunya api abadi yang dapat membunuh De Pompadour family. Vampir dengan darah murni." Kata Lauden, menjelaskan tentang sistem dalam kerajaan vampir.
"Maksudnya?" Tanya Lucy yang tidak mengerti akan maksud dan tujuan Lauden menceritakan hal tersebut kepada orang wam sepertinya.
"Hanya api ini yang bisa membawa kami kepada kematian. Dan satu-satunya yang memiliki anugrah untuk mati adalah dia yang berhasil menjabat sebagai raja selama berabad-abad,"
"Jika kamu iri kepada manusia yang bisa bunuh diri kapan saja, kenapa kamu tidak menyebutkan diri kedalam api itu?" Tanya Lucy kesal karna Lauden terus saja membandingkan kehidupannya dengan vampir
"Kamu ingin melihat saya mati?" Tanya Lauden.
"Lakukanlah jika kamu ingin. Maka itu juga akan berlaku untuk ku," tantang Lucy.
Lucy menganggukkan kepala dan mulai masuk kedalam api. Tubuhnya terbakar.
"No!" Pekik Lucy.
__ADS_1
"Ku mohon keluar dari sana, astaga apa yang kau lakukan? Cepat keluar!"
Gadis itu menangis histeris, dia tidak menyangka Lauden akan mengikuti apa yang ia katakan.
"Kenapa?" Tanya Lauden.
"I am so sorry, okay? Aku tidak bermaksud membunuhmu. Aku hanya bercanda, Lauden. Kenapa kamu justru masuk sungguhan?"
"Kamu tidak senang jika saya mati?" Tanya Lauden sambil keluar dari api. Tubuh yang tadi terbakar hangus sudah pulih kembali hanya dalam hitungan detik.
"Bagaimana mungkin?" Kata Lucy dalam hati.
"Kenapa diam? Ayo jawab." Cecar Lauden.
"Sudahlah, ayo kita jalan lagi. Kamu terbakar..." Rengek Lucy.
Lucy merasa benci pada hatinya yang begitu lembut. Secara logika hatinya dia senang saat Lauden akan membakar diri, itu artinya dia akan bebas dari perbudakan. Tapi hatinya juga merasa sakit saat melihat Lauden hampir terbakar habis dalam kobaran api tersebut.
"Ini adalah salah satu alasan kenapa saya benci kamu menyia-nyiakan hidup. Hidup itu tidak harus selalu sejalan dengan rancangan mu, karna jika demikian itu bukan hidup namnya tapi mimpi." Sindir Lauden dengan sudut bibir naik keatas.
Merasa disindir, Lucy pun mencuatkan bibirnya lucu tanpa mendebat.
"Gunakan waktumu yang singkat itu dengan baik. Jangan bunuh diri hanya karna hal-hal yang berjalan tidak sesuai dengan keinginanmu, Hmm?" Kata Lauden sambil mempuk-puk sayang puncak kepala Lucy.
Seketika pipi Lucy merona dengan jantung berdebar cepat. Dia menekan dadanya agar tidak sampai terdengar oleh Lauden.
"Ya Tuhan, perasaan macam apa ini?" Batinnya.
"Kenapa wajah mu merona?" Ejek Lauden dengan seringai jahil dibibirnya.
"Ish..." Lucy menepis tangan Lauden dari puncak kepalanya.
Dia menghentak-hentakan kaki dan berbalik. Memunggungi Lauden, berjalan kesembarang arah. Ia menyesal telah menangisi pria menyebalkan yang setiap saat selalu berhasil membuatnya marah.
"Bukan di sana jalannya, tapi sebelah kiri." Kata Lauden saat Lucy akan berbelok ke jalan sebelah kanan.
"Aku tahu, tidak usah di jelaskan lagi."
Lauden tersenyum kecil mendapat respon ketus itu.
"Kenapa kita harus bersusah payah berjalan kaki jika kau memiliki kemampuan teleportasi?" Lucy berhenti dan duduk di bebatuan. Kakinya merasa lelah, tidak terhitung sudah berapa meter mereka berjalan tapi tidak sampai-sampai juga ditempat yang Lauden tuju.
"Payah!"
Meski mengejek tak urung Lauden pun ikut duduk, di depan Lucy.
Lucy menatap Lauden yang nampak biasa saja. Padahal mereka sudah berjalan cukup lama, tapi tarikan nafasnya masih teratur.
"Saya tahu saya tampan, tapi tidak selama itu juga menatapnya." Kata Lauden sambil menyentil pelan kening Lucy.
Jika biasanya Lucy akan mengamuk, tapi tidak kali ini. Gadis itu hanya mengusap pelan keningnya dan tersenyum.
"Aku tidak tahu. Tapi, aku menyukai semua yang kau katakan malam ini."
Tiba-tiba, Lauden menarik tangan Lucy ke salah satu tangannya, mendekatkan jarak keduanya sedang yang lain memegang pinggul gadis itu agar semakin rapat.
"Apa yang kau laku~"
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG.!!!
Loh, loh, si babang Aden nya mau ngapain tuh?
Penasaran sama apa yang Abang Aden lakuin sama neng Lucy? terus pantengin episode-episode mendatang ya gesπ
Oh iya, maaf nih othor menjadi sedikit tidak tahu diri, tapi karya ini lagi ikut event percintaan non human. Boleh ngga kalo othor minta like, vote, koment, dan ratingnya dikencengin?ππ»ππ
__ADS_1