
"Lauden De Pompadour!" Lethia berteriak.
Wanita itu datang dengan pasukan. Lauden terkejut. Kemudian, pasukan itu mengepung Lauden dengan senjata mereka.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Lauden, tidak mengerti mengapa wanita itu tiba-tibq menyerangnya.
"Setelah mengkhianati kerajaan kau masih berpura-pura tidak tahu?" kata Lethia mencibir.
"Apa maksudmu?" Tanya Lauden, pria itu benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi sehingga dia dikejar oleh pasukan Lethia, Dengan kekuatan supranatural vampirnya, Lauden melawan pasukan Lethia. Dan pertarungan sengit pun terjadi antara pasukan Lethia dan Lauden.
Karna jumlah pasukan Lethia yang menang jumlah melawannya mengakibatkan Lauden sedikit kewalahan, alhasil beberapa kali tubuhnya terkena senjata dari pasukan Lethia. Namun, Sayatan itu sama sekali tidak membuatnya kalah karena kulitnya langsung kembali ke keadaan semula dalam hitungan detik.
Lethia mengeluarkan pedang peraknya dan menusukkannya ke leher Lauden dan seluruh pasukannya.
"Jangan melawan lagi, atau akan terjadi perang di sini?" Teriak Lethia.
Lauden terdiam. Matanya memandang ke sekelilingnya. Dia bisa saja menurunkan seluruh pasukan Lethia dan melawan wanita itu. Namun, apa yang diteriakkan Lethia ada juga benarnya. Jika dia melawan, akan ada perang besar di sini.
Lauden akhirnya menyerah. Dia menjatuhkan pedangnya kebawah dan mengangkat tangan tanda mengalah.
"Sudah, apalagi mau mu?"
"Follow me," kata Lethia.
"Ikat dia!" kata Lucy kepada kepala pasukannya.
Lauden akhirnya menurut dan mengikuti Lethia dengan tangan terikat. Beberapa pasukan Lethia menariknya seperti keledai.
Mereka pergi ke hadapan raja. Raja Vampir yang sedang berlatih membidik panah terkejut melihat putra mahkota kembali disekap oleh Lethia, sebelumnya, Lethia juga pernah mencoba menjatuhkan Lauden saat dia menyelamatkan Lucy. Sekarang, sang raja bertanya-tanya apa lagi yang telah dilakukan Lauden untuk menyeret Lethia hingga membawanya ke tempat ini dengan kondisi bak tawanan.
"Apa ini? Apa yang sedang terjadi?" Tanya sang raja.
"Saya ingin melaporkan pengkhianatan Lauden, Yang Mulia." Kata Lethia.
"Apa maksudmu?" Tanya sang raja bingung.
"Seperti yang kita tahu, semua manusia yang dijadikan sebagai persembahan kriminal, kita harus membunuh mereka sampai mati karena jika tidak, mereka akan menyebabkan masalah ketika mereka menjadi vampir," kata Lethia.
__ADS_1
"Baiklah, aku mendengarkan." Kata sang raja sambil menaruh busurnya.
Lauden menatap bibinya dengan miris, sebab sepertinya sangat terobsesi untuk menangkapnya saat ini.
"Menjadi vampir tidak akan mengubah sikap kriminal mereka ketika menjadi manusia. Seorang penjahat dengan kekuatan supernatural akan melakukan kejahatannya dengan lebih mudah," kata Lethia.
"Kita semua tahu itu. Jadi di mana masalahnya?" Tanya sang raja.
"Mereka harus mati. Namun, Lauden telah melakukan pelanggaran. Dia membantu salah satu dari mereka sehingga mereka menjadi vampir seperti kita. Bukankah akan berbahaya bagi kita semua jika hal itu terjadi? Apakah ada vampir yang memiliki jiwa kriminal? Mungkin dia bisa menghancurkan dunia manusia dan dunia vampir," jelas Lethia kenapa dia menangkap Lauden.
Raja terkejut dengan laporan Lethia yang baru saja didengarnya. Sang raja menatap wajah anaknya dengan tatapan tajam. Namun, ia melihat Lauden tanpa ekspresi. Sekali lagi sang raja menatap wajah Lethia.
"Bukankah kita semua melihat orang-orang persembahan itu mati?" Tanya sang raja.
"Ada satu yang hilang, Yang Mulia. Saya tidak tahu bagaimana Lauden menolongnya, tapi yang jelas kelakuannya itu telah melanggar aturan." Kata Lethia.
Lauden tertawa, "apakah ada bukti bahwa saya yang menyelamatkan manusia itu?"
Bola mata Lethia gerak gelisah.
"Katakan saja yang sebenarnya! Apa yang kukatakan itu benar, kan?" Lethia berteriak.
"Katakan padaku, Lethia, di mana Lauden menyembunyikan manusia yang dia selamatkan? Aku akan mendukungmu jika kau benar, meskipun Lauden adalah anakku," tanya sang raja, yang juga mempertanyakan buktinya.
Bola mata Lethia terangkat ke atas. Ia juga tidak tahu di mana Lauden menyembunyikan manusia itu. Lethia hanya tahu bahwa Lauden telah menyelamatkan ayah Lucy. Informasi yang ia terima sangat terbatas sehingga ia hanya bisa terdiam beberapa saat.
Lauden menyeringai dan bertanya, "Anda tidak punya bukti, bukan?"
"Saya hanya tahu motivasinya, Yang Mulia. Pangeran Lauden menyelamatkan pria itu adalah karna dia ayah dari gadisnya. Mungkin cinta telah membutakannya. Mungkin itu juga sebabnya dia menentang tradisi big bang." Kata Lethia.
"Cinta?" Teriak sang raja sambil tertawa.
"Benarkah itu, Lauden?" tanya raja pada Lauden.
"Tidak mungkin. Kerajaan vampir adalah prioritasku. Saya adalah abdi negara ini sekarang, bagaimana mungkin saya mengkhianati kerajaan saya sendiri?" Kata Lauden membantah tuduhan Lethia dengan mudah.
Raja menganggukkan kepalanya, merasa puas akan jawaban tegas lauden. Sejauh ini dia percaya kepada putra semata wayangnya itu.
__ADS_1
"Lethia, aku tahu kau ingin menjatuhkan Lauden, kan? Lain kali bawalah bukti yang lebih nyata saat kau ingin menjatuhkan anakku," kata Merqueen yang berhasil membuat Lethia terdiam.
"Tidak... saya mengatakan yang sebenarnya, Yang Mulia." Lethia menambahkan.
"Kalau begitu, buktikanlah!" geram raja kesal. Dia terlalu lelah menghadapi Lethia yang kekanak-kanakan. Selalu saja mencari perkara dengan anaknya, Lauden.
"Saya akan berada di pihak kamu jika kamu dapat memberikan buktinya," kata raja.
Lauden menambahkan, "bahkan jika ada vampir yang dulunya adalah manusia dengan catatan kriminal, itu tidak akan mengubah apa pun kecuali tebakanmu benar bahwa vampir itu telah menghancurkan dunia. Bukankah begitu?"
Wajah Lethia memerah. Dia diliputi kemarahan. Jika saja Lauden mau mengakui apa yang telah dilakukannya, dia tidak akan merasa malu seperti ini dihadapan sang kakak. Namun, bukti yang dimilikinya juga tidak cukup menyakinkan raja bahwa apa yang dikatakannya tentang Lauden adalah kebenaran.
Lauden membalikkan tubuhnya untuk menghadap Lethia dan berkata. "Jika tidak ada lagi yang ingin dikatakan, saya akan pergi. Ada banyak hal yang harus saya urus untuk memajukan kerajaan vampir."
Lauden meninggalkan Lethia dengan bangga. Bahunya telah melewati bahu Lethia yang masih menghadap raja ketika ayahnya itu meminta bibinya itu untuk kembali ke kamarnya dan tidak lagi mengganggunya bermain panah.
Lauden berbisik, "Anda sangat konyol onty!"
Lethia mengepalkan tinjunya. Bisikan Lauden membuatnya semakin marah.
Lethia yang kesal karena tidak berhasil menangkap Lauden berjalan kembali ke kamarnya. Di tengah perjalanan, ia berpapasan dengan Lucy.
Lethia melihat Lucy dari kejauhan kemudian melangkah mendekati gadis itu.
Lucy juga melihat Lethia dari kejauhan. Awalnya, ia takut pada wanita yang menginginkan kematiannya. Apalagi wajah Lethia yang memakai make-up tebal membuat Lucy selalu merinding. Ketika keduanya saling berhadapan, jantung Lucy semakin berdegup kencang.
Ia ingin menghindar, namun ia mengepalkan tangannya terlebih dahulu, "aku harus bisa menghadapi apapun di kastil ini. Dia tidak bisa membunuhku lagi karena aku tidak akan lari dari sini."
.
.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG.!!!
Jangan lupa like, koment, share, vote, dan rating karya othor ya bestie๐๐๐ป