
Sejak Arthur keluar dari kamar Lauden, maka sejak saat itu pula Lucy berdiri di balkon kamar. Kamar Lauden yang berada di puncak menara membuat Lucy bisa melihat seberapa luasnya hutan Dysis.
Gadis itu berdiri dengan tatapan kosong, fokusnya memang mengarah kedepan, tapi hati dan raganya seolah telah kehilangan jiwanya.
Gadis itu berencana membunuh dini dengan cara terjun bebas kebawah sana. Ia mulai meringsek maju ke ring pembatas balkon, dan mulai menaiki pegangan itu dengan satu kaki masih menjuntai di lantai.
Tidak ada lagi yang dapat Lucy pikirkan saat itu selain kematian. Satu-satunya alasan ia masih bertahan selama itu adalah karna dipikirannya masih ada yang menantinya pulang. Tapi ternyata tidak.
Ayahnya meninggal karna digigit vampir, ibunya bunuh diri karna depresi. Lalu apa lagi yang dapat Lucy jadikan alasannya hidup?
Lucy kembali menangis kala ingatannya terbang ke masa lalu. Masa dimana keluarga mereka hidup harmonis, tertawa bersama dan sering menghabiskan waktu untuk membincangkan masa depan.
"Apa artinya aku tanpa ibu dan ayah? Bahkan untuk bernafas pun rasanya sesak sekali," kata lucu sambil menghapus air matanya.
Lauden yang baru saja menyelesaikan urusannya di aula berniat kembali ke lantai atas, ke kamarnya. Tapi ditengah perjalannya ia melihat siluet seseorang yang separuh badannya telah keluar dari ring pembatas balkon kamarnya.
Seseorang dengan tatapan kosong, wajah kusut, dan tampak rapuh. Dia tidak memiliki kemampuan untuk membaca pikiran orang lain, tapi dia memiliki kemampuan analisa yang baik diantara vampir yang lain. Dan jika berdasarkan analisanya saat ini, maka dapat disimpulkan bahwa orang yang sedang diamatinya itu hendak mengakhiri hidupnya sendiri.
"Maafkan aku Tuhan, aku tahu semua manusia tidak akan diuji dibatas kemampuannya. Tapi ini terlalu berat bagiku, aku tidak bisa hidup tanpa cinta dari kedua orang tuaku. Tolong ampuni segala dosaku, dan selamat tinggal dunia..." Kata lucu sebelum akhirnya menjatuhkan diri.
"Brengsek! Apa yang gadis itu lakukan?" Maki Lauden geram namun tak urung pun ia langsung berlari dengan kekuatan vampirnya dan ikut menjatuhkan diri kearah Lucy.
Tangganya terulur kearah Lucy, dan ketika jarak keduanya sudah dekat ia menarik tubuh Lucy kedalam pelukannya.
"Ayah, ibu. Tunggu aku," bisik Lucy yang tidak sadar jika kini dirinya tengah berada di dalam dekapan tuannya.
Lucy pikir dirinya sudah berada di alam lain, tapi setelah berapa lama mengambang di udara, dia tidak kunjung merasakan sakit pada tubuhnya atau paling tidak ada sesuatu tempatnya berpijak, tapi ini tidak. Keningnya mengkerut, apa memang dia mati secepat itu hingga tidak merasa sakit atau remuk pada tubuhnya?
"Apa yang gadis ini pikirkan?" Kata Lauden gemas didalam hati melihat kerutan serta raut wajah yang nampak bingung dari Lucy.
"Kau belum mati, bukalah matamu itu." Kata Lauden setelah mereka mendarat dengan selamat.
"Eh?" Lucy sontak membuka suara saat suara serak itu menembus telinganya.
"Apa yang kau lakukan?" Pekik Lucy marah. Dia memang sempat merasa takut saat akan mati, tapi dia juga kesal karna lagi lagi dia diselamatkan oleh orang yang paling dibencinya.
Lauden memutar bola matanya malas. Dia adalah tipikal orang yang tidak sabaran dan tidak terbiasa dengan nada tinggi lawan bicaranya.
"Kamu! Seharusnya saya yang bertanya, apa yang kau pikirkan, hah?" Balas Lauden teriak juga.
"Itu bukan urusanmu!" Ketus Lucy.
"Jelas itu urusan saya,"
"Kenapa?"
__ADS_1
"Karna kamu adalah budak saya, MILIK SAYA!"
"Cih! Aku budak siapapun," Lucy membuang mukanya ke sembarangan arah.
"Lucu sekali dirimu ini, kamu bahkan tidak lagi memanggil saya tuan seperti sebelum-sebelumnya." Lauden terkekeh masam. Ia sebenarnya merasa lelah karna beberapa hari yang lalu sibuk dengan persiapan big bang, belum lagi kejadian di upacara tadi dan sekarang dia juga harus menghadapi tingkah lucu yang cukup merepotkan.
"Kamu adalah tuan yang paling menyebalkan, sangat menyebalkan melebihi dosen gila di fakultas ku. Kamu hanya bisa mencampuri urusan yang bukan urusanmu,"
"Apakah begini caramu berterimakasih kepada orang yang telah menyelamatkanmu?"
Lauden menyeringai, entah kenapa, ada sesuatu dalam dirinya yang merasa tidak terima saat Lucy menudingnya mengurusi urusan yang bukan ranahnya. Itu terkesan sedikit berlebihan menurutnya. Meski faktanya begitu.
"Penyelamat? Kamu lebih pantas diberi gelar perusak rencana daripada putra mahkota," cibir Lucy.
"Maksudnya, kamu merencanakan kematian, begitu?" Tanya Lauden yang makin keras mencengkram pinggang Lucy yang belum dilepas sedari tadi mereka mendarat.
"Jika memang iya kenapa? Ada masalah denganmu?" Kata Lucy dengan bangga sambil menatap mata coklat yang tengah menghunus tajam kearahnya.
"My slave, saya peringatkan kamu untuk tidak lagi mencoba membunuh diri seperti ini lagi." Teriak Lauden dengan nada yang sama seperti ketika dia memerintah para ajudannya.
"****!"
Lucy reflek menutup telinganya dengan kedua tangannya saking kencangnya pekikan Lauden.
"Kau bisa merusak gendang telingaku sialan!" Maki Lucy
"Jika kau tak lagi ingin mendengar suara cerewet ku ini, maka biarkanlah aku mati."
Tanpa kata Lauden langsung menarik Lucy ke pundaknya, mengangkat wanita itu bak karung beras ke kamarnya.
"Apa yang kau lakukan? Turunkan aku, sialan! Hei brengsek, ku bilang turun kan aku," teriak Lucy yang kesal karna diperlakukan kasar lagi oleh tuannya.
Beruntung perdebatan mereka itu terjadi di malam hari, para tamu juga sedang merayakan pesta jauh dari kamarnya. Kalaupun ada yang melihat, mereka akan berpura-pura tidak mendengar keributan Lucy dan juga Lauden. Terlebih ini adalah hutan, jadi Lauden tidak perlu merasa khawatir akan ada yang menjudge jelek citranya.
Sesampainya di kamar, Lauden langsung mengeluarkan sebuah borgol dari dalam laci meja di samping ranjangnya tanpa menurunkan Lucy.
Dia melilitkan rantai itu di kepala ranjangnya barulah dia menurunkan Lucy di kasurnya dengan keras.
"Arghh..." Pekik Lucy yang tersentak mendapat perlakuan demikian.
Kondisi itu langsung Lauden manfaatkan untuk memborgol tangan Lucy.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku! Biarkan aku pergi dari neraka ini, aku ingin mati." Lucy berontak dan menarik-narik tangannya yang sudah terpasung, berusaha meloloskan diri.
"Kamu adalah budak saya, tidak akan saya biarkan kamu lolos sebelum saya puas." Jawab Lauden sambil smirk.
__ADS_1
Cuih!!!
Lucy meludahi wajah tampan Lauden, Lauden terlihat menarik nafas dalam. Kemudian membuka jubah dan bajunya santai dihadapan Lucy. Membasuh sisa ludahan Lucy dengan bajunya.
"Bunuh saja aku!"
"Kenapa saya harus membunuhmu jika tubuhnya yang saya inginkan?" Lauden langsung menjatuhkan tubuh toplesnya di atas tubuh mungil Lucy. Tidak kuat menindihnya, karna ia bertumpu dengan tangannya sendiri.
"Heh mau apa kamu?" Tanya Lucy panik.
"Mau apa, Hm? Tentu saja menghukum budak nakal seperti kamu, apalagi?"
Lucy bergerak gelisah melihat tatapan teduh Lauden, jika dia sudah terbiasa dengan nada dingin dan tatapan tajam seperti yang selama ini berikan. Sekalinya dapat tatapan teduh begitu terasa mengerikan baginya. Ia berontak, meliuk-liukan tubuhnya gelisah.
"Terimalah hukuman mu, little girl." Kata Lauden sambil menyentuh bibir Lucy dengan gerakan sensual.
"Singkirkan tanganmu itu, brengsekk!"
"Kamu milik saya. Yang berhak atas tubuh juga jiwa kamu adalah saya dan hanya saya, dengar?"
"No, please jangan!" Lucy menggelengkan kepalanya ribut saat Lauden membawa wajahnya mendekat.
Lauden pun merasa kesal dengan pemberontakan Lucy akhirnya menarik paksa wajah itu agar mau menghadapnya. Begitu wajah keduanya berhadapan pria itu lantas membordir bibir mungil itu dengan ciuman kasar nan menuntut.
"Hah... Huh... Kumohon maafkan aku, aku salah karna memberontak. Tapi tolong hentikan ciuman ini, itu first kiss untuk suamiku." Pinta Lucy dengan nafas terengah-engah.
Bak telah menjadi candu, Lauden tidak mengindahkan rengekan Lucy dan kembali melahap habis bibir merah cerry tersebut dengan ganas.
"Eunghhh..."
Lucy melenguh singkat disela ciumannya dengan Lauden. Dia lelah memberontak, dan tidak munafik. Ciuman Lauden memang senikmat itu untuk pemula sepertinya.
.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG.!!!
__ADS_1
Jangan lupa like, koment, share, vote dan juga rating ya bestie๐๐ป๐