
Cahaya lampu di atas langit-langit kamar perlahan mulai terasa cahayanya, menembus memasuki retina mata gadis yang tengah berbaring di ranjang besar sebuah kamar beraroma maskulin pekat .
Di atas tempat tidurnya, Perempuan itu beberapa kali membuka dan menutup matanya untuk menyesuaikan kesadarannya yang tadi hampir menghilang.
Dia memegangi kepalanya yang terasa berat dan pengar. Dari aroma yang menguar ke Indra penciumannya, gadis itu menyadari ada dimana dirinya berada.
Kamar Lauden.
Lucy membangunkan diri, posisi yang tadi terbaring kini menjadi duduk.
"Akhirnya kau sadar juga,"
Suara bariton dengan intonasi lembut itu membuat Lucy tersentak kaget.
"Aarrghh..."
"Hadeh, Lucy! Ini aku, Arthur." Arthur yang sejak tadi duduk di sofa pojok ruangan pun berjalan mendekat.
"Ish, kau ini. Selalu saja membuatku spot jantung." Maki Lucy seraya melempar bantal kearah Arthur. Bagaimana tidak kaget, ini kamar Lauden, tapi orang pertama yang menyapanya ketika sadar justru orang lain.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Menunggu mu sadar, pikir mu apalagi?" Sergah Arthur tak terima menerima tatapan curiga dari Lucy.
Lalu, ingatan Lucy pun membawanya kembali ke kejadian beberapa saat kau. Saat dimana seorang vampir dengan buasnya menerkam leher sang ayah hingga pria paruh baya itu jatuh tak berdaya.
"Dimana ayahku? Arthur, katakan dimana ayahku,"
Lucy tiba-tiba menjerit histeris yang membuat Arthur takut ikutan panik.
"Hei, tenanglah."
Arthur datang semakin dekat dan merengkuh tubuh mungil itu kedalam pelukannya. Membuat pola turun naik pada punggung gadis itu, berharap dia bisa sedikit tenang.
"Arthur... T-tolong, ayahku... Hiks... Hiks..." Pinta Lucy dengan tatapan memohon. Tubuhnya bergetar, air mata mengalir deras dan bibir yang sudah membiru.
"Tolong," bisik Lucy sembari mengeratkan cengkeramannya pada kaki jubah milik Arthur, menyalurkan rasa takut sekaligus sedihnya di sana.
"Tenanglah, tubuhmu begitu rapuh. Tapi kenapa sering sekali menangis? Selama aku mengenalmu, sudah dua kali dirimu pingsan." Canda Arthur. Berusaha membuat Lucy lupa akan kesedihannya.
Lucy diam tak menjawab. Karna memang tubuhnya serapuh itu. Dulu saja ketika masih duduk di bangku sekolah menengah, saat jam pelajaran olahraga dia selalu meminta ijin. Karna jika dipaksakan, makanya akan berujung pingsan dan menghabiskan waktu di unit kesehatan.
"Tolong bawa aku kembali ke aula, aku harus membawa ayahku pergi dari sini." Rengek Lucy pada Arthur.
"Jangan gegabah Lucy,"
Lucy menganggukkan kepalanya, dari respon pria itu Lucy bisa tahu bahwa dia enggan membantu.
__ADS_1
"Baiklah, biarkan aku pergi sendiri saja."
"Apa yang hendak kamu perbuat? Upacaranya hampir selesai, dan kita terlambat." Sentak Arthur keras sambil mendudukkan Lucy kembali ke atas ranjangnya saat gadis itu berusaha keluar dari sana.
"Tidak mungkin?" Lirih Lucy. Gadis itu menepis kuat tangan Arthur dari pundaknya dan kembali berlari kearah pintu kamar. Lagi dan lagi, Arthur berhasil mencekalnya sebelum gadis itu meraih kenop pintu.
"Kamu gila? Kamu juga manusia, Lucy! Kamu akan dijadikan korban sajian selanjutnya jika mengacau." Kata Arthur, matanya memerah, otot rahang menegang ketat dan gigi yang bergemelutuk satu sama lain. Dia marah, entah karna khawatir akan keselamatan Lucy, atau marah karna titahnya tidak dituruti.
"Di sana ada ayahku, bagaimana aku bisa tenang dan duduk manis saja bersamamu?"
"Kamu sudah cukup beruntung bisa keluar dari aula tanpa ada yang menyentuhmu. Akan sangat fatal jika kamu menerobos sekarang,"
Arthur dan Lucy saling berhadapan. Mata keduanya bertemu pada satu titik fokus. Lucy tidak percaya dia akan mendengar kalimat ini lagi.
"Lauden telah mempersiapkan upacara ini sejak lama, apa kau tega mengacaukan semua kerja kerasnya selama ini? Belum lagi cemoohan rakyat terhadapnya karna istrinya tantrum ditengah acara, lalu diadili seperti kejadian lalu?"
Bukannya tenang, Lucy justru semakin mengamuk ketika mendengar nama Lauden. Dia menyalahkan segala yang terjadi pada hidupnya hingga hari ini kepada Lauden, tanpa tahu kejadian yang sebenarnya.
Tiba-tiba, dia teringat akan keluarganya yang lain di Xandified.
"Bolehkah aku meminjam ponselmu?" Lucy memandang penuh harap. Dia yakin bisa mendengar suara ibunya dan mengatakan bahwa ayahnya ada di rumah dan baik-baik saja. Dia berharap, pria yang dilihatnya ada di aula itu bukan ayahnya.
"Ponsel?" Tanya Arthur dengan alis naik sebelah.
"Ya, aku harus menghubungi ibuku untuk menanyakan keadaan ayahku,"
"Termasuk kamu?"
"Iya."
"Kenapa kamu tidak memiliki ponsel?"
"Kenapa juga aku harus memiliki ponsel?" Tanya Arthur balik. Dia yang memiliki kemampuan yang berbeda dari manusia merasa tidak membutuhkan alat komunikasi tersebut. Begitu juga vampir lainnya. Bagi mereka, ketika memiliki sesuatu yang penting untuk disampaikan, mereka tidak membutuhkan banyak waktu untuk bertemu dan menyelesaikannya.
"Oh Tuhan, tinggal di era apa kalian ini?" Desis Lucy kesal.
Dia berjalan ke sisi lain tempat tidur dan mulai mengacak-acak lemari, dan perkakas Lauden. Berharap bisa menemukan alat atau sesuatu yang bisa menghubungkannya dengan keluarganya.
"Kenapa kau terobsesi sekali pada ponsel?" Tanya Arthur yang merasa lelah melihat pergerakan Lucy.
"Aku harus menelpon ibuku dan bertanya bagaimana keadaan ayahku. Aku ingin mendengar suaranya, karna aku berharap orang yang ada di aula itu bukan ayahku, itu sebabnya aku membutuhkan ponsel."
"..."
"Jika kamu menemukan ponselku lebih dulu, tolong ambilkan untukku." Kata Lucy tanpa mengalihkan fokusnya dari mencari ponsel.
"Ibumu sudah meninggal,"
__ADS_1
Tangan Lucy yang sedari tadi sibuk mengobrak-abrik isi lemari pun terhenti.
"Kamu pasti berbohong kan? Bagaimana kamu mengetahui ibuku sudah meninggal jika bertemu pun tidak pernah."
Lucy tertawa hambar. Dia tidak percaya pada apa yang Arthur ucapkan. Jika pun benar demikian, dia akan berpura-pura tuli dan menolak bahwa itu fakta.
Arthur menunduk, mengirup nafas dalam dan menghembuskan nya perlahan sebelum berusaha menguatkan Lucy tentang kematian ibunya.
"Kamu tidak lupa dengan kemampuan yang ku miliki, kan?" Tanya Arthur.
Lucy diam.
"Aku telah membaca pikiran orang yang kau sebut sebagai ayahmu, tadi."
"Lalu?"
"Dia berkata: Garneeta Spenser, istriku. Tunggu aku sebentar lagi, aku akan menyusul mu ke surga. Apa artinya surga jika bukan karna ibumu telah tiada?" Tutur Arthur panjang lebar.
Lucy terduduk lemas, jadi. Laki-laki yang di aula itu beneran ayahnya?
"Bagaimana ibuku bisa mati?" Bisik Lucy.
"Garneeta Spenser bunuh diri karna frustasi mencari anaknya yang hilang."
"Apa?"
"Maaf, tapi itulah yang ada di benak pria tadi. Dilihat dari perangainya, dia tampak seperti dewa. Apa yang menyebabkan pasukan Lauden membawanya kemari, ya?" Pancing Arthur. Dia ingin melihat seberapa murkanya Lucy.
"Bagaimana bisa aku menjalani hidup tanpa mereka?" Gumam Lucy dengan tangan terkepal marah.
Arthur ikutan jongkok dan menggenggam kepalan tinju Lucy. Memberi pijatan di sana, di rasa Lucy sudah sedikit tenang barulah dia berujar, "Kamu tidak sendiri. Kamu masih punya aku disisi mu."
"Berhentilah menangis dan persiapkan diri sebaik mungkin, karna kita akan membalaskan dendam mu dan menghancurkan Lauden hingga berkeping-keping."
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG.!!
Jangan lupa like, koment, vote dan rating karya othor ya bestie๐๐๐ป
__ADS_1