
Beberapa menit sebelum Lucy pingsan...
Lauden berlari secepat yang dia bisa untuk menangkap tubuh Lucy agar gadis itu tidak sampai membentur dingin nya keramik.
Hap.
Dalam sekali sentakan tubuh Lucy masuk sempurna dalam rengkuhan hangat dada bidang sang putra mahkota.
"Ayahh... T-tolong ayahku," gumam Lucy ditengah kesadarannya yang hampir menghilang.
Dengan gendongan ala bridal style Lauden membawa Lucy ke dalam kamar yang mereka tempati berdua selama ini.
Sesampainya di kamar, Lauden langsung membaringkan tubuh Lucy dengan perlahan. Menarik selimut hingga batas dada, dan merapikan anak rambut yang sedikit berantakan agar Lucy nyaman.
Melihat wanita yang biasanya merepet tentang ini dan itu terkulai lemah, wajah pucat dan bibir membiru membuat Lauden merasa ada yang aneh dengan dirinya.
Yang juga membuatnya menyadari alasan kenapa gadis itu menangis dan menyerukan kata ayah sambil menjerit adalah karna ini merupakan kali kedua dia melihat kekuatan vampir.
Terlebih korban gigitan vampir bukan lagi seorang preman, melainkan ayahnya sendiri.
Tiba-tiba, wajah Lauden memanas. Rahangnya terkatup rapat dengan mata memerah. Sesuatu dalam dirinya marah melihat wajah polos Lucy dirundung kesedihan.
"Istirahatlah sebentar, kamu pasti syok dengan ini, kan?" Katanya sambil mengelus sayang surai hitam legam milik budaknya.
Tepat ketika Lauden keluar dari kamar, seseorang menyusup masuk.
**************
"Hentikan!!"
Seluruh kerumunan vampir yang tengah menikmati sajian itu pun kompak berhenti dan menoleh kearah Lauden tanpa melepaskan mangsa mereka.
Delila juga menatap heran kearah cucu sekaligus raja baru bagi kerajaannya.
"Saya bilang hentikan semua ini, kalian tidak dengar?" Pekik Lauden penuh emosi. Urat-urat lehernya bahkan hampir terlepas dari rongga-rongga daging lehernya.
__ADS_1
"Apa yang kau bicarakan?" Tanya Delila bingung.
"Masyarakat kita memiliki sesuatu yang disebut sebagai peradaban, kerajaan ini dibangun atas nama perdamaian. Aturan vampir dibuat juga agar vampir dan manusia bisa hidup saling berdampingan, kan? Tapi apa ini?" Kata Lauden menunjuk marah kearah lantai yang sudah berubah menjadi lautan merah.
Rakyat vampir yang tidak mengerti akan maksud dan tujuan dari perkataan Lauden barusan memilih diam.
"Saya baru menyadari bahwa tidak benar bagi kita untuk memburu manusia kemudian menjadikan mereka sebagai persembahan seperti ini. Kita salah! Ritual ini harus segera kita hentikan." Lanjut Lauden.
"Apa maksudmu? Itu bukan budaya kita yang mulia, apa kau sedang cosplay menjadi pemberontak sekarang?" Tanya Lethia.
Tidak ada seorang pun yang menyadari kapan wanita itu masuk. Sebab sejak dimulainya upacara dia tidak ikut dan baru menampakan batang hidungnya saat terjadi keributan ini.
"Jika budaya kita salah, apakah kita wajib meneruskannya? Hanya karna nama budaya dari para ancestor?" Sanggah Lauden.
"Lauden!!" Pekik Delila marah. "Beraninya kamu menghina para leluhurnya?" Sebagai orang yang taat akan aturan, perkataan Lauden barusan jelas membuat sang nenek murka. Delila merasa bahwa Lauden meremehkannya sebagai salah satu founder di kerajaan vampir.
"Kerajaan vampir dibangun karna sudah pasti benar. Sebab jika belum, maka para pendahulu tidak mungkin menekuninya selama berabad-abad, little boy?" Timpal Lethia.
"Tapi manusia-manusia itu masih memiliki waktu untuk menyesali perbuatannya. Kita salah karena telah menghakimi mereka secara sepihak, padahal hukum di dunia mereka saja tidak sekejam ini. Lalu kenapa kita yang mengambil alih perannya? Mereka pantas hidup berdasarkan hukum mereka sendiri." Kata Lauden menjelaskan alasannya kenapa tiba-tiba ingin upacara itu berhenti.
"Sayangnya mereka bahkan tidak perduli pada waktu yang Tuhan berikan, mereka melakukan korupsi, kolusi, nepotisme dan tindakan kriminal yang meresahkan lainnya." Ujar Delila.
"Saya tidak menyangkal karna itu faktanya, tapi kami lupa bahwa manusia berbeda dari kita. Mereka mempunyai keturunan berdasarkan garis darah, bukan karna gigitan yang infeksi seperti kita. Mereka juga mempunyai keluarga. Bisa onty banyangkan seberapa sedihnya keluarga mereka di rumah ketika tahu orang yang dinantikan kepulangannya telah tiada?"
"Andai saja mereka perduli dengan lingkungannya," Kata Delila. Nenek tua itu menolak dengan bibirnya meski ada bagian dalam dirinya juga menyakini perkataan Lauden barusan.
"Mereka memiliki masa hidup yang jauh lebih singkat jika dibandingkan dengan kita. Di dalam masa yang singkat itu, bagaimana jika mereka ingin bertobat? Akan lebih menjadi berdosanya kita jika tidak memberikannya waktu padahal mereka mau," kata Lauden.
"Lihatlah masing-masing kamu sekalian,"
Para peserta upacara menoleh ke kiri dan ke kanan mereka masing-masing tanpa sadar mengikuti instruksi dari Lauden.
"Apakah kamu bahagia sekarang? Apa yang membuatmu bahagia? Apa karna kamu telah berhasil menghukum orang jahat, atau karna darah yang enak? Tidakkah kamu merasa aneh karna merasa bahagia ketika mematikan hidup orang lain?"
Peserta upacara sontak melepaskan cengkraman mereka pada manusia-manusia sajian. Dan merasa bersalah saat melihat percikan darah mangsanya disekitar pakaian dan juga keramik tempat mereka berpijak.
__ADS_1
"Kita terlalu abai terhadap fakta, bahwa mereka bisa hidup lebih lama karna haus akan darah. Padahal, jauh di dalam lubuk sanubari ini, kita perduli terhadap mereka." Lanjut Lauden sambil menunjuk sisi kiri bagian bawah dari dadanya.
Tiba-tiba, suara tepuk tangan terdengar riuh dari kerumunan masyarakat yang hadir di sana. Mereka memandang Lauden dengan mata berkaca-kaca, merasa bangga pada pemuda itu karna pendapat dan keberaniannya menentang hukum para leluhur.
Melihat rakyat yang takluk akan kata-kata Lauden, anggota keluarga De Pompadour tidak ada yang berani menentang. Termasuk Delila, dan juga Lethia.
"Saya mengadakan agenda ini sebenarnya ingin mengajak kita semua untuk merefleksikan visi dan misi bersama..." Kata Lauden dengan intonasi yang sudah tidak Segarang awal tadi. Karna masyarakat sepertinya sudah menerima kritikan dan saran darinya.
"Hidup yang mulai Lauden!
"Semoga panjang umur pangeran De Pompadour!" Sorak para peserta upacara.
Seketika Lauden merasa merinding karnanya. Dia tidak menyangka wajah polos Lucy yang menyedihkan akan membawa pengaruh sebesar ini untuknya.
Awalnya Lauden kira dia hanya akan melakukan sesuatu yang konyol dengan melanggar tradisi mereka sendiri. Tapi siapa sangka kaum vampir justru membelanya?
"Malam ini, akhirnya ramalan tentang penerus era modern telah muncul." Bisik vampir satu dengan yang lain.
"Iya."
Ketika rakyat vampir terpesona dengan Lauden karna pikiran dan caranya menyampaikan perdamaian, hak asasi manusia dan kasi kepada manusia meskipun dia bukan dari sana.
Mereka dikejutkan dengan kedatangan sesosok pria gagah bertubuh besar dengan suara melengking ke dalam aula.
"Putra mahkota, apakah kamu sudah bosan hidup sehingga melawan tradisi?" Teriak Merqueen, mencabut pedangnya dan mengarahkan pada Lauden.
.
.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG.!!!
Jangan lupa like, koment, share, vote dan rating ya bestie๐๐ค๐๐ป