
"Bagaimana rasanya?"
"Hmm... Rasanya~"
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tubuh Lucy limbung. Untung Arthur dengan sigap menangkap tubuhnya dan bergegas membawanya ke kamar pemuda itu.
Seperti vampir pada umumnya, Arthur juga bisa berlari dengan kekuatannya. Jadi dalam waktu beberapa detik saja mereka sudah tiba di kamar Arthur.
Dia meletakan tubuh Lucy dengan sangat hati-hati di atas tempat tidur dan mencari ramuan atau wewangian yang biasa digunakan ibunya untuk membangkitkan kesadaran saat dirasa akan pingsan.
Sambil menaburkan rerempahan semerbak di area hidung, leher dan pelipis. Arthur memperhatikan wajah polos Lucy. Mata terpejam rapat dengan bibir sedikit terbuka. Mirip seperti putri tidur yang memerlukan ciuman dari pangeran untuk bangun.
"Sayang sekali kamu sudah menjadi milik Lauden,"
Arthur duduk di samping sisi kosong tempat tidur, menatap wajah cantik yang terbaring kaku di tempat tidurnya, menunggu hingga Lucy sadar.
Beberapa saat kemudian, Arthur teringat akan penyebab pingsan nya Lucy karena gadis itu takut dengan kontak fisik. Menyadari hal ini, keningnya seketika mengkerut. Merasa ada yang aneh pada Lucy dan juga Lauden.
"Siapa gadis ini sebenarnya bagi Lauden? istrinya kah? seperti yang dia katakan pada rakyat kemarin, atau. Budaknya? seperti katanya padaku saat di hutan tadi?"
Dalam pengamatannya, Arthur menyadari bahwa Lucy belum pernah di sentuh oleh pria manapun. Termasuk Lauden, suaminya.
Ditengah pikirannya yang galau ribut, Arthur tidak menyadari saat Lucy mulai membuka matanya. Pandangan gadis itu pertama-tama merasa gelap pada lingkungan sekitar, dan mulai menemukan cahaya itu menjadi nyata barulah ia membuka mata sepenuhnya.
Pandangan yang pertama Lucy lihat setelah sadar dari pingsannya adalah langit-langit kamar, kemudian tatapannya beralih ke samping dan menemukan seorang pria tengah duduk di sebelahnya dengan tatapan fokus.
"Aarghh..." Lucy spontan berteriak karena kaget sekaligus membangunkan Arthur dari euphorianya.
Arthur yang kaget karena teriakan Lucy yang cukup kencang itu pun reflek membawa tangannya untuk membekap mulut Lucy dan membisikkan kata-kata penenang.
"Ssttt... Tenanglah, ini aku."
Lucy buru-buru mengelus lehernya saat ingat bibir merah merona di depannya tadilah yang menyebabkannya pingsan. Tapi, dia tidak merasa adanya bekas gigitan atau sakit pada lehernya. Yang ia rasakan hanyalah kepalanya memberat dan pusing.
"Hmm...Hmm..." gumam Lucy tidak jelas karena mukutnya masih dibungkam.
"Berhentilah berteriak! aku tidak akan menyakitimu,"
Kedua bola mata mereka saling bertemu dalam satu tatapan. Lucy mulai menggunakan logikanya untuk berfikir, dan menyadari bahwa Arthur memang tidak menyakitinya. Kalaupun ingin, pria itu sudah melakukannya saat dia pingsan tadi. Tapi nyatanya dia baik-baik saja sekarang.
Lucy kemudian mengangguk setelah tenang.
__ADS_1
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuat mu takut."
"Nope!"
"Aku bisa membantumu jika kamu butuh bantuan,"
"Apa maksudmu?" tanya Lucy sambil membenarkan posisinya dan duduk berhadapan.
"Bukankah kamu berencana keluar dari kastil ini?"
"Hah?" Lucy masih tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Kamu ingin menolongku, kenapa? apakah ini hanya tipuan untuk membodohi ku? katakan yang sebenarnya, kamu juga mengincar darah manusia ku, kan?" cecar Lucy. Matanya memicing, berusaha menembus mata biru milik Arthur untuk melihat kejujurannya.
"Tentu saja tidak!" bantah Arthur,
Lucy mengendiakan bahunya acuh.
"Kenapa kamu selalu miliki pikiran buruk terhadapku? kau tahu itu sangat menyebalkan,"
"Entahlah. Tapi juga karna sikapmu begitu mencurigakan, aku bukan siapa-siapa bagimu, kita juga tidak memiliki ikatan darah. Tapi kenapa kamu dengan entengnya menawarkan bantuan tanpa imbalan. Lantas, apa sebaiknya yang kupikirkan jika bukan karna kamu menargetkan darahku?" Jelas lucu panjang lebar.
"Aku melakukan itu karna... Hmm.." Arthur menggaruk tengkuknya dan terlihat malu, lebih tepatnya kebingungan mencari kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya.
Meski sulit untuk dipahami, Lucy berusaha mengabaikan fakta bahwa Arthur juga bagian dari kastil ini saking semangatnya melihat ada harapan untuk kabur.
"Bagaimana caranya?" tanya Lucy to the point'.
"Kita akan keluar saat bulan purnama tiba," jawab artur.
"Kenapa harus menunggu bulan purnama? kenapa tidak sekarang?" desak Lucy dengan tidak sabaran.
"Karna ada satu upacara yang luar biasa di sana," artur menjawab sambil terkekeh melihat semangat Lucy, padahal sejak tadi ia mirip seperti boneka tanpa nyawa.
"Upacara apa?" pikir Lucy, hanya manusia yang memiliki upacara bendera di setiap hari Senin, ternyata vampir juga.
"Bagi vampir yang telah bersumpah untuk tidak meminum darah manusia perseribu tahun, ini adalah saat yang tepat untuk balas dendam dan menikmati makanan terlezat dimuka bumi." Jelas Arthur.
Lucy yang tidak mengerti akan rumusan dan aturan keluarga vampir hanya menganggukkan kepalanya.
"Jika kamu membantuku melarikan diri pada saat itu, maka kamu akan absen dari upacara tersebut?" tanya Lucy yang masih tidak mengerti kenapa Arthur begitu kekeh membantunya dan rela tidak mengikuti upacara kerajaan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Cinta lebih berharga dari makanan, kan?"
Andai saja Lucy manusia yang baperan, mungkin saat ini dia sudah kejang-kejang karna manisnya kata dan senyum Arthur.
"Jadi?"
"Oke, ini rencananya~"
Arthur pun menjelaskan rencananya tentang cara melepaskan Lucy dari kastil. Arthur dan Lucy akan memanfaatkan momen makan besar saat upacara karna saat itu pasti semua orang akan sibuk dengan pesta dan urusan masing-masing, hingga mereka tidak sadar dengan kaburnya Lucy dari sana.
"Bagaimana jika mereka menghukum mu, ketika tahu anggota kerajaan lah yang membantuku melarikan diri?"
Meski ragu akan perasaan Arthur padanya, Lucy juga merasa khawatir pada pemuda itu jika nanti ketahuan dialah yang telah melepaskan Lucy.
"Tenangkan dirimu, kamu tidak lupa siapa aku kan? aku vampir, aku bisa berlari dalam hitungan detik dan kembali ke sini sebelum mereka menyadari hilangnya kamu." kata Arthur sambil meremas lembut jari Lucy yang entah sejak kapan ada digenggaman tangannya.
"Bagaimana jika~"
"Shhh..."
Arthur meletakan jari telunjuknya di depan bibir Lucy agar gadis itu berhenti mengkhawatirkan dirinya.
"Jangan khawatir. Semakin kamu mengkhawatirkan aku, semakin rendah pula perasaanku tentang kemampuan yang kumiliki."
"Tapi kamu anaknya Lethia, sulit dipercaya bahwa aku dibantu oleh putra dari orang yang sangat ingin aku mati."
"What? ibuku ingin membunuhmu? aku belum pernah mendengar berita itu sebelumnya," Arthur tersenyum seolah tidak mengkhawatirkan apapun.
Lucy menghela nafas berat dan membatin, " Bisa kah aku keluar dari kastil ini?"
"You can!"
.
.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG.!!!
Jangan lupa like, koment, share, vote dan rating karya othor ya besti๐๐๐ป