SLAVE to PANGERAN VAMPIRE

SLAVE to PANGERAN VAMPIRE
EPS. 17


__ADS_3

"Siapa?" tanya Arthur lagi.


"Ayahku?" desis Lucy pelan. Matanya memicing, berusaha mengenali objek penglihatannya.


"Oh my God, Ayah..." teriak Lucy histeris setelah berhasil mensinkronkan pandangannya dengan fakta.


Teriakan melengking itu bergema dilantai atas dengan nyaring tapi tidak sampai ke aula dasar karena para vampir sedang heboh dengan kegembiraan mereka.


"Kemuliaan bagi kerjaan vampir!"


"Hidup yang mulia Merqueen."


Baik rakyat mau petinggi kerajaan melakukan cheers untuk melambangkan bahwa mereka tengah gembira dengan adanya upacara tersebut.


Dalam hati, Lucy tidak habis pikir tentang keberadaan sang ayah disini. Kenapa dia bisa menjadi salah satu korban sajian, bukankah Arthur bilang tradisi ini menggunakan orang-orang kriminal? lantas, apa yang telah dilakukan ayahnya sehingga mereka juga menyeretnya sebagai korban sajian? mungkinkah mereka salah mengira?


Lucy mengucek kuat matanya berulang kali, berharap pria yang tengah diamatinya adalah hanya kemiripan semata. Gadis itu berharap ada kesalahan dengan penglihatannya.


"Mungkin hanya fisiknya saja yang mirip," katanya dalam hati. Berusaha menyakinkan diri bahwa pria itu bukan ayahnya. Tapi, semakin lama dia memperhatikan, maka semakin pula dia tahu bahwa pria itu memang benar ayahnya.


Di aula, Lauden hanya duduk di singgasananya. Dia tidak ikut memangsa manusia karna ini juga kali pertamanya mengikuti upacara Big Bang.


"Demi nenek moyang para vampir yang telah memberi kami cinta abadi, terimalah persembahan kami ini..." kata Delila, sesepuh yang memimpin upacara. Mengangkat tangannya tinggi dan melakukan beberapa gerakan menyembah diikuti oleh para petinggi dan rakyat vampir sekalian.


"Hentikan!" Lucy berteriak sekuat tenaga tapi diabaikan. Entah karna suaranya kekecilan sehingga para vampir tidak mendengarkan, atau memang sengaja mengabaikannya.


Matanya berkaca-kaca, tubuh bergetar dan hati terasa ngilu saat melihat seorang vampir dengan beringas menggigit kulit leher ayahnya hingga tembus dengan taring mereka.


Dengan pikiran kalut dia berlari menuruni tangga bahkan sampai harus bertabrakan dengan para maid saking tergesa-gesa nya dia.


"No, Lucy!" teriak Arthur ikutan panik.

__ADS_1


Lucy sudah berada dipertengahan tangga yang mengarah ke aula tengah saat Arthur datang dan menghadangnya. Dengan cepat pria itu mencekal lengan Lucy untuk menghentikan laju langkahnya.


"Hei, stop it!" Sentak Arthur keras. Matanya memerah dengan otot rahang mengeras sepenuhnya.


"Ingatlah bahwa kamu juga manusia, Lucy. Jika kamu menerobos masuk, bukan hanya ayahmu yang mati. Kamu juga."


"Tetapi... Dia ayahku, Arthur! Keluargaku... Bagaimana bisa, hiks... Hiks..." Rengek Lucy.


"Aku tahu, tapi nyawamu akan sangat terancam jika kamu mengacau di sana." Kata Arthur tanpa melepaskan cekalan tangannya.


"Jika kamu tidak bisa membantu, setidaknya lepaskan aku! Persetan dengan upacara ini. Aku hanya ingin menyelamatkan ayahku," Lucy memberontak, melepas paksa cekalan tangan Arthur dari lengannya.


Arthur kemudian mengangkat kedua tangannya keatas. Posisi ketika seseorang terciduk oleh polisi. Dia tidak lagi berniat untuk menghalangi dan tidak juga membantu gadis itu menjalankan rencana gilanya.


"Jangan lakukan hal yang percuma dan membuang tenaga mu, Lucy!" Peringat Arthur.


Dia tidak percaya bahwa manusia akan kehilangan akal sehatnya dan bisa begitu nekat mempertaruhkan nyawanya untuk orang yang dicintai. Batinnya bertanya-tanya, apakah semua manusia sama seperti Lucy yang rela mengorbankan hidup mereka untuk orang lain.


"Tidakk... Kumohon jangan sentuh ayahku," pekik Lucy seraya menuruni tangga yang entah kenapa rasanya jauh sekali.


Tepat saat kakinya menyentuh lantai aula, saat itu juga detak jantungnya seakan berhenti berdetak. Dia tidak pernah berpikir akan melihat sesuatu yang mengerikan seperti ini selama hidupnya.


Menyaksikan ayahnya mati karna vampir didepan mata sendiri tanpa mampu melakukan apa-apa adalah hal paling hina yang yang ia rasakan.


"Kenapa begini ya, Tuhan?"


Dia ingin menyelamatkan ayahnya, tapi kenapa seakan waktu dan dewi fortuna tidak berpihak kepadanya?


"Dasar bedebah, keparat kalian semua! Kalian iblis, violent." Teriak Lucy sambil menangis kejer. Dia tidak kuasa menahan sesak di dadanya. Dia marah sebagai ekspresi kecewa karna tidak bisa melawan kerajaan vampir itu untuk menyelamatkan ayahnya.


Dari singgasananya, kening Lauden berkedut ketat saat mendengar sumpah serapah yang Lucy lontarkan.

__ADS_1


"Ada apa dengan gadis itu?"


Dia tidak mengerti kenapa Lucy bisa menjerit histeris dan meminta upacara ini dihentikan.


"Bagaimana kalian begitu kejinya melakukan semua ini kepada kami? Tolong, jangan sentuh ayahku... Hiks... Hiks..."


Lauden yang tadinya duduk dengan kebingungan pun seketika bangkit. Matanya membelalak tak percaya ketika lucy mengatakan ada ayahnya diantara ratusan manusia yang hadir sebagai korban sajian.


Melihat sang putra mahkota bangkit dengan wajah tegang dari tempatnya pun, para penghuni aula berhenti sejenak dari aktivitas mereka. Dan menoleh ke arah Lucy.


Lucy bergerak mundur dengan sisa tenaga yang ada. Jantungnya berdetak hebat, dengan suhu tubuh yang meninggi.


Ditatap oleh ratusan pasang mata dengan pandangan haus dan lapar membuat matanya tiba-tiba mengabur. Perlahan, kegelapan mulai merasuki matanya.


Jiwa dan juga logikanya kaget melihat tubuhnya ayahnya tergeletak bersimbah darah tak berdaya ditangan seorang vampir.


Dia tidak tahu apa yang kemudian terjadi padanya karna tiba-tiba tubuhnya terasa sempoyongan, dan...


.


.


.


.


.


BERSAMBUNG.!!!


Jangan lupa like, koment, share, vote dan rating karya othor seikhlasnya ya bestie๐Ÿ’œ๐Ÿ™๐Ÿป

__ADS_1


__ADS_2