
Melihat ekspresi terkejut Lucy membuat Lauden mengigit pipi bagian dalamnya karena gemas.
"Kenapa wajahnya imut sekali?" batinnya.
Pria itu semakin tertarik pada budaknya. Tapi, sebagai vampir yang tidak pernah jatuh cinta membuat Lauden bingung harus bagaimana. Jadilah dia memaksa, mengerjai, dan mengekang kebebasan Lucy. Terdengar jahat memang, tapi inilah yang dia bisa agar Lucy selalu berada disampingnya.
"Sudahlah, saya harus keluar terlebih dahulu. Untuk malam pertamanya usahakan sebaik mungkin, begitu saya kembali kita bisa memulainya."
Setelah berujar demikian, Lauden pergi keluar. Meninggalkan Lucy seorang diri dikamar.
"Ya Tuhan, dimana Arthur?" gumamnya risau. Gadis itu sedari tadi kerjanya hanya mondar-mandir didalam kamar, wajahnya panik dengan keringat yang mulai membasahi pelipis dan juga telapak tangannya.
Tidak sabar menunggu, gadis itu pun keluar. Tapi tujuannya bukan aula, bukan juga dapur untuk membantu persiapan upacara seperti hari-hari sebelumnya. Melainkan ke sebuah ruangan diujung lorong yang tak jauh dari kamar milik tuannya.
Meski banyak maid vampir yang berpapasan dengannya, tapi tidak ada satupun yang sempat menyapanya karna memang mereka sibuk membawa nampan berisi anggur atau darah, entahlah. Lucy tidak perduli.
Lucy juga merasa bersyukur karna Arthur mengajaknya kabur dimalam ini, malam dimana semua orang sibuk dengan upacara Big Bang.
"Arthur... lihat saja jika kamu berani menipuku. Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri." Geram Lucy sebab sudah beberapa lorong terlewati belum juga ada tanda-tanda kemunculan pria itu.
"Hei, i'm immortal nona. Kamu tidak akan bisa membunuhku." seru Arthur dari belakang.
"Brengsek!" Lucy mengepalkan tinjunya marah dengan spontan karna suara Arthur membuatnya kaget.
"Hahaha..." pria dengan kemampuan teleportasi itu tertawa lepas melihat raut takut sekaligus kesal wanita didepannya.
Lucy mendelik.
"Darimana saja kau?"
"Dari mata turun ke hati," jawab Arthur asal.
"Aku serius, sialan! kenapa kau sangat lambat, pun. Dengan kemampuanmu itu, bisa tidak jangan selalu mengagetkanku?"
Tangan pemuda itu bergerak cepat untuk mencubit pipi Lucy dengan gemas.
"Baiklah, maafkan aku ok? aku sedang ada urusan mendesak yang harus ku selesaikan sebelum kita pergi," jelas Arthur dengan pandangan teduh. Mata sejernih air laut itu menatap intens manik hazel milik Lucy, hingga si empunya pun merasa salah tingkah karna dipandang seintens itu dalam jarak dekat.
"Lepaskan tanganmu itu dari pipiku, kau membuatnya semakin lebar tahu?" Lucy dengan sungkan menepis tangan Arthur dari pipinya, lalu menutup kedua benda itu dengan tangannya sendiri demi menyembunyikan rona merah bekas tersipu malu.
"Are you ready?" Tanya Arthur kemudian.
Lucy menatap Arthur, melihat seberapa serius pemuda itu ingin membantunya. Ketika yakin, barulah gadis itu menganggukkan kepala antusias.
__ADS_1
"Pasti, aku siap. Bahkan benar-benar siap! karna jika sampai aku gagal malam ini, matilah aku."
Arthur tertawa melihat antusiasnya Lucy ingin kabur dengannya, pemuda itu pikir Lucy terlampau senang karena bersamanya. Tanpa tahu bahwa Lucy bisa seantusias itu karna kepikiran full servis yang Lauden minta sebelumnya.
"Kamu tidak akan pernah mati selama aku hidup,"
"Yah, karna kamu tidak bisa mati." timpal Lucy sambil tertawa.
"Dan kita berdua akan hidup bersama selamanya,"
...****************...
Aula sudah dipenuhi oleh berbagai klan vampir dari sisi selatan kerajaan. Lauden dan ayahnya memang memberi sedikit undangan untuk tetangga sebelah sebagai bentuk solidaritas sesama vampir.
Lauden berdiri dengan gagah didepan, di singgasananya. Sementara Merqueen memberikan beberapa patah kata sebagai sambutan atas hadirnya tamu undangan mereka sebelum kegiatan inti dimulai.
Disisi lain.
Lucy dan Arthur mulai berjalan menuju ruang atas, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Mereka terpaksa melewati lorong atas karna aula berada dilantai dasar.
Dari lantai atas, Lucy dapat melihat seberapa anehnya upacara yang digelar oleh raja dan putra mahkota itu.
"Arthur," panggil Lucy tanpa mengalihkan tatapannya pada prosesi upacara.
"Kamu yakin tidak ingin ikut upacara itu?"
"Kamu yakin tidak ingin menyelamatkan mereka juga?" Arthur membalas Lucy dengan struktur kalimat yang sama.
"Nope?" jawabnya.
"Kenapa? bukankah mereka juga berasal dari klan yang sama denganmu?"
"Memang,"
"Lalu kenapa? ku pikir kamu akan bersimpati,"
Lucy lalu tertawa sumbang. "Menyelamatkan diri sendiri saja aku selalu gagal, bagaimana mungkin aku memiliki pikiran untuk menyelamatkan orang lain?"
Tanpa Lucy sadari, Arthur menyeringai mendengar jawabannya. Entah apa maksud dari seringai itu.
Bukannya tidak memiliki rasa empati terhadap sesama manusia, hanya saja. Lucy berusaha bersikap rasional saat ini. Dia yang selama ini selalu gagal untuk melarikan diri berfikir bahwa dia juga akan gagal menyelamatkan orang lain.
"Apa kamu juga berpikir jika manusia kriminal pantas mati, seperti Lauden?" tanya Arthur.
__ADS_1
Lucy menoleh, memberi seluruh atensinya kepada pria yang juga sama menatapnya. "Bukan begitu juga konsepnya, Arthur!"
"Lalu?"
"Aku hanya bertindak logis dan rasional saja. Coba kau pikir, aku sudah berapa lama tertahan disini dan segala macam cara kulakukan untuk bebas. Tapi hasilnya? nihil, aku selalu gagal dan gagal lagi."
"Kamu juga mengatakan ini budaya nenek moyangmu kan, yang artinya jika aku melanggar, aku bisa mati apapun alasannya."
"Menarik," gumam Arthur pelan.
"Kalau kamu bisa menghindari masalah, kenapa mesti mempersulit diri?" tambah Lucy.
"Baiklah, mari kita lanjutkan perjalanan." Ujar Arthur mengubah topik ke rencana awal.
Lucy sudah akan beranjak dari sana sebelum matanya tanpa sengaja menoleh lagi ke arah aula karna sorakan dan gemuruh vampir yang melakukan selebrasi menarik perhatiannya.
Deg!
Matanya membelalak, kakinya membeku dan darahnya berdesir hebat. Lucy merasa jantungnya akan berhenti berdetak saat melihat sosok yang familiar baginya hadir ditengah-tengah korban sajian.
"Ada apa? kenapa berhenti?" Arthur yang merasa tidak ada balasan saat dirinya fokus menuntun jalan, menoleh.
Lucy diam membisu. Membuat Arthur penasaran dan mengikuti arah pandang gadis itu. fokusnya menatap kearah seorang pria paruh baya yang memiliki kulit seputih susu, hidung mancung dan lusuh diantara puluhan sajian. Pria itu berdiri dengan tatapan kosong.
"Siapa?" tanya Arthur lagi.
"Ayahku?" desis Lucy pelan. Matanya memicing, berusaha mengenali objek penglihatannya.
"Oh my God, Ayah..." teriak Lucy histeris setelah berhasil mensinkronkan pandangannya dengan fakta.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG.!!!
Jangan lupa like, koment, share, vote dan juga ratingnya ya bestie๐๐๐ป
__ADS_1