SLAVE to PANGERAN VAMPIRE

SLAVE to PANGERAN VAMPIRE
EPS. 37


__ADS_3

"Saya akan berhati-hati dalam berbicara," kata Lucy.


"Oke, sekarang, mari kita cari ayahmu"


"Tunggu, aku ingin mengucapkan selamat tinggal pada pamanku untuk yang terakhir kalinya terlebih dahulu," kata Lucy.


Lucy membuka kembali kain yang menutupi tubuh pamannya. Ia ingin melihat pamannya untuk yang terakhir kalinya.


"Maafkan Lucy uncle, maaf jika sampai saat ini belum banyak yang aku perbuat. Kau orang baik dan Tuhan lebih menginginkanmu untuk tinggal di surga-Nya daripada di sini." Air matanya kembali menetes, teringat akan masa kecilnya yang penuh dengan bermain bersama pamannya. Kini, pamannya terbaring mati dengan luka-luka yang tidak wajar.


"Semoga uncle senang dapat merasakan surga-Nya lebih dulu. Oh ya, kapan-kapan datanglah dalam mimpiku dan beritahu bagaimana rasanya di alam sana. Sekarang aku harus mencari ayahku, doakan aku agar bisa menemukannya ya, uncle?"


Ketika Lucy hendak menutup kembali kain itu, tiba-tiba, ia melihat sesuatu yang berkilauan dari dalam tubuh pamannya.


Dia memasukkan tangannya ke dalam rongga dada pria tak bernyawa itu dengan tangan kosong.


Lauden mengerutkan alisnya, melihat tingkah Lucy yang tidak biasa.


"Tunggu. Apa yang kau lakukan?" Tanya Lauden.


Lucy tidak menjawab. Dia terus mengarahkan tangannya ke dalam luka menganga pada dada sebelah kiri pamannya.


"Jangan lakukan itu! Gunakan ini," kata Lauden sambil melemparkan sebuah sarung tangan.


Dia kemudian menggunakannya kembali ke rongga dada pamannya. Dia menarik kembali tangannya dan menunjukkannya kepada Lauden.


"Apa itu?" Tanya Lauden dengan mata berbinar.


"Kepingan perak," kata Lucy setelah melihatnya.


Lucy mengamati serpihan perak di tangannya yang berlumuran darah dalam diam.


"Serpihan ini sepertinya tidak disengaja oleh si pembunuh," kata Lauden.


"Ya, memang begitu. Sepertinya seseorang tidak sengaja," jawab Lucy.


"Mungkinkah dalam anatomi tubuh manusia, mereka memiliki serpihan perak?" Tanya Lauden.


"Itu pertanyaan yang bodoh." Kata Lucy sambil menggelengkan kepalanya. Dia membalas dendam pada Lauden yang mengatakan bahwa dia bodoh karena berpikir bahwa vampir tidak bisa hidup di siang hari. Sekarang, giliran Lucy yang menghina Lauden karena mengira ada potongan-potongan perak dalam tubuh manusia.


Pertama-tama ia memasukkan kepingan perak itu ke dalam kantong plastik dan memasukkannya ke dalam kantung bajunya.

__ADS_1


"Ayo kita pergi," kata Lauden.


Lucy menganggukkan kepala dan mengikuti Lauden.


Mereka berdua ingin meninggalkan ruangan tersebut namun, saat pertama kali membuka pintu, mereka berdua langsung disambut oleh puluhan pasukan kerajaan yang siap mengepung.


"Angkat tangan kalian!" Teriak seorang komandan kelompok.


Terlihat wajah Lauden dan Lucy pucat pasi. Apa yang dikhawatirkan Lauden akhirnya terjadi. Mereka pasukan kerajaan vampir berhasil menangkap mereka. Hal ini dikarenakan Lauden telah melanggar beberapa poin.


"Tuan putra mahkota, kau ditangkap atas tuduhan pencurian harta. Kau juga mengkhianati kerajaan vampir dengan tidak memberitahukan keberadaan vampir baru, yang pada akhirnya mengakibatkan jatuhnya korban manusia. Kuharap kau tidak melawan karena kita berada di tempat umum manusia," kata pria itu.


Lucy mengangkat tangannya saat mereka memerintahkan. Dia menelan ludahnya karena terkejut. Ini bukan pertama kalinya pasukan vampir menangkapnya, jadi dia tidak setakut yang pertama kali, tetapi dia masih terkejut.


"Bagaimana mereka tahu kita ada di sini?" Lucy berbisik pada Lauden.


"Dari baumu." Kata Lauden.


"Kau mempermalukan tubuhku?"


"Tidak. Kedua dokter itu sudah mencium bau badanmu,"


Dugaan Lauden ternyata benar. Kedua vampir yang telah memasukkan cairan ke dalam tubuh paman Lucy ternyata bisa mencium bau manusia milik Lucy dari dalam lemari. Dan karena indera penciuman itulah, mereka akhirnya melirik ke arah celah lemari.


Jadi, mereka keluar terlebih dahulu untuk memberitahukan apa yang mereka temukan di kamar mayat pada raja vampir dan membiarkan penguasa kerajaan selatan itu yang bertindak.


Lauden awalnya ingin melawan pasukan kerajaan yang dikirim ayahnya. Tapi ketika matanya melihat kearah sekitar, dan mendapati kerumunan manusia tengah menatap aneh kearahnya sambil berbisik heboh, Lauden pun memilih menyerah. Tidak mungkin juga dia membuat keributan ditengah khalayak ramai kan? bagaimana jika manusia-manusia itu menandai wajahnya di kemudian hari untuk diburu?


"Kau tidak sanggup melawan mereka?" bisik Lucy heran saat melihat raut pasrah Lauden.


"Sudah waktunya untuk menyerah. Terlalu banyak manusia di tempat ini," jawab Lauden.


Melihat situasi yang akan dihadapinya, Lucy segera memeriksa kantongnya dan berharap mereka tidak mengambil kepingan perak yang mungkin bisa menjadi petunjuk pertama dalam pencariannya. Mereka semakin merapatkan barisan, Lauden sudah terlihat pasrah. Tidak ada harapan bagi Lucy untuk keluar dari situasi itu tanpa menyerah.


"Sekarang kamu harus menuruti kami," kata pria itu sambil menyuntikkan sesuatu yang membuat Lucy dan Lauden tidak sadarkan diri.


Pandangan Lucy tiba-tiba kabur. Tubuhnya lemas meski ia berusaha memberontak. Dia teringat saat pasukan Lethia menangkapnya saat itu. Ini adalah hal yang sama yang mereka gunakan. Lucy tahu apa yang mereka gunakan, tetapi, dia pikir obat yang mereka gunakan hanya bekerja untuk manusia tetapi juga vampir. Dalam hati Lucy merutuk saat melihat Lauden kehilangan kesadaran.


...****************...


Dari kejauhan, Vladimir melihat tuannya ditangkap oleh pasukan dari kerajaan vampir.

__ADS_1


"Oh my! apa yang harus ku lakukan sekarang? menerobos pasukan itu akan membuat ku seperti pemberontak. Tapi jika tidak, bagaimana nasib tuan muda?" Keluh Vladimir.


Setelah berperang dengan hatinya, akhirnya dia pun mengurungkan niatnya. Ia yakin Lauden akan dapat lolos dari tuduhan yang menderanya dengan kecerdasan dan kemampuannya dalam berbicara.


Vladimir akhirnya menuruti perintah dari putra mahkota untuk mencari Damien sebelum mereka menemukannya lebih dulu.


Pria itu akhirnya pergi meninggalkan tempat itu, meninggalkan Lauden dan Lucy yang tertangkap.


**************


Topeng emas dan topeng perak bertemu lagi di hutan Dysis. Mereka berdua berjalan dengan penuh wibawa.


"Kudengar, Lauden telah tertangkap oleh pasukan kerajaan." kata si topeng emas.


"Itu benar, Tuan."


Si topeng emas tertawa kecil.


"Kali ini, dia pasti tidak bisa bergerak lagi. Rencana kita akan membuat seolah-olah dia tidak bisa menjadi pemimpin yang baik. Karena tindakannya telah membahayakan umat manusia, melihat kejadian ini rakyat vampir pasti tidak akan menginginkan dia lagi sebagai penerus kerajaan." Kata si topeng emas.


"Dia ditangkap dengan tuduhan pengkhianatan dan membahayakan umat manusia karena berpihak pada penjahat. Tapi bagaimana dengan Lucy?"


"Dia akan ditangkap bersamanya pada saat yang sama."


"Sayang sekali, wanita secantik dia harus berada di penjara."


Mereka berdua bertanya secara bersamaan, "jadi, siapa yang sebenarnya membunuh paman Lucy?"


Keduanya tertawa dan kemudian menjawab pertanyaan mereka sendiri dengan alibi, "semua vampir sedang mengadakan pesta malam itu. Hanya Damien yang mungkin bisa melakukan itu."


Keduanya tertawa terbahak-bahak.


.


.


.


.


BERSAMBUNG.!!!

__ADS_1


Jangan lupa like, koment, share, vote dan rating karya othor ya bestie๐Ÿ’œ๐Ÿ™๐Ÿป


__ADS_2