SLAVE to PANGERAN VAMPIRE

SLAVE to PANGERAN VAMPIRE
EPS. 9


__ADS_3

Melihat tatapan kasihan yang Lucy berikan ketika ia mengatakan ingin mati membuat Lauden kesal. Lelaki itu merasa Lucy meremehkan ketangguhannya sebagai laki-laki.


"Lucy... Lucy... Namamu Lucynda spenser kan?" tanya Lauden sambil mengangkat dagu gadis itu dengan jari telunjuknya agar Lucy mau menatapnya.


"Jika kamu sudah mengetahui namaku, kenapa masih bertanya? aneh sekali," ketus Lucy.


Lauden menyeringai, berfikir apakah gadis didepannya ini pantas disebut sebagai budak atau tidak? budak mana yang selalu melawan tuannya? budak mana yang selalu memiliki kata untuk membantah? namun anehnya, bukannya murka dan menghukum sang budak. Lauden justru semakin merasa tertantang untuk membuat Lucy menyerah padanya.


"Saya tahu segalanya tentangmu, sekali lagi kamu melarikan diri, mungkin bukan hanya kamu yang mati. Tapi... Semua keluargamu di Xandified juga." kata Lauden tenang.


"Xandified? bagaimana bisa dia tahu dimana keluargaku tinggal?" batin Lucy bertanya.


"Dasar penguntit! Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?"


Lauden meringsek maju, mendekatkan jarak keduanya dan sedikit menunduk agar tingginya setara dengan pendeknya badan Lucy.


Melihat wajah Lauden semakin maju membuat tubuh Lucy bergetar hebat, ia kira Lauden akan menggigitnya sebagai hukuman karena telah membantah perintahnya. Jadilah ia menutup mata dan mendengar suara serak di samping telinganya.


"I want everything from you (Aku mau apapun yang ada padamu)"


"Heh?"


"Saya bisa menggunakan mu sesuka hati karena..."


Lauden memundurkan wajahnya dan membingkai wajah Lucy dengan satu jarinya mulai dari dahi turun ke mata, menyeberang kearah hidung dan terakhir pada bibir kecil milik Lucy.


"Semua yang ada padamu adalah milik saya, kamu adalah Milik saya."


Lucy tidak menjawab atau melakukan respon yang berarti. Tubuhnya membeku dan bibirnya kelu. Sentuhan Lauden diwajahnya membuat Lucy merinding. Sudah dikatakan bahwa sejak kejadian malam itu dia trauma dengan kontak fisik kan?


Meski dengan tangan gemetar, dengan keberanian yang seadanya gadis itu menghempas kasar jari tangan Lauden dari wajahnya.


"Beraninya kau..." pekikan Lucy terhenti ketika Lauden bertepuk tangan, mendatangkan banyak pelayan ke kamarnya.


"Ada yang kau butuhkan tuan muda?" tanya Lenore begitu sampai di kamar Lauden.


"Saya dan istri akan pergi berburu, segera persiapkan perlengkapannya untuk kami." titah Lauden.


Lucy melongo.


"what the hell man? apa katanya tadi? istri? sejak kapan kita menikah?"


Lucy memicingkan matanya menatap Lauden, logika dan hatinya mulai bertanya-tanya tentang tujuan Lauden membawanya serta berburu. Akankah Lauden membawanya ke tengah hutan dan membiarkannya mati sendirian di kegelapan malam karna dimakan hewan buas?


Lucy bergidik ngeri dengan bayangannya sendiri.


"Apa yang kau pikirkan?"


Lucy tersentak dan meringis karena ketahuan berpikir yang tidak-tidak.


"Segera cuci otakmu menggunakan detergen mahal agar berhenti memikirkan hal kotor, saya hanya butuh teman untuk berburu."

__ADS_1


"Bagaimana bisa~" belum sempat Lucy memberikan sanggahan atas tuduhan Lauden yang mengatakannya berfikiran kotor, sudah ditutup lebih dulu oleh Lauden.


"Segeralah ganti pakaianmu atau..."


"Atau apa?"


"Atau kamu ingin tebar pesona pada orang hutan, iya?"


"Enak saja!"


Lucy merenggut, merasa jengkel dengan ucapan Lauden. Ya kali wajah semanis ini menggoda orang hutan.


Lucy mengambil beberapa helai pakaian hangat dari dalam lemari dan berjalan menuju walk in closet. Gadis itu tidak bisa fokus mengganti pakaian karena pikirannya sudah penuh tanda tanya.


"Apa benar kami hanya pergi berburu? atau, jangan-jangan ini hanya triknya untuk membunuhku?"


Lucy bingung sekaligus takut dengan maksud Lauden mengajaknya berburu. Selain karna tidak mengetahui rencana di pikiran Lauden, ini juga malam hari. Maksudnya begini loh, ini kan sudah 2023, teknologi sudah berkembang pesat. Semua kebutuhan akan langsung terpenuhi dengan sekali klik. Tapi kenapa Lauden yang notabenenya adalah seorang putra mahkota rela bersusah payah pergi ke hutan untuk berburu jika tidak memiliki tujuan lain?


Tok...Tok..Tok...


Suara ketukan membuat Lucy sadar dari pikirannya.


"Iya sebentar,"


Setelah memastikan tubuhnya hangat dan nyaman buru-buru ia keluar dan menjumpai Lauden dengan raut kesalnya.


"Apa yang kau lakukan, kenapa lama sekali?"


"Ck! sudahlah, jangan cerewet. Pastikan semua peralatannya lengkap." kata Lauden lalu pergi lebih dulu. Meninggalkan sebuah tas besar yang isinya entah apa untuk Lucy bawa.


"Oh Tuhan, tragis sekali hidupku." gerutu Lucy seraya menenteng tas perlengkapan Lauden dan berlari menyusul pemuda itu.


Sepanjang perjalanan yang telah mereka lewati, Lucy baru menyadari bahwa kastil milik keluarga Lauden berada jauh dari pusat kota. Mungkin Maps juga tidak akan menemukan tempat ini dalam denahnya karna yang ia lihat sepanjang jalan hanyalah pepohonan dan semak rimbun.


Lucy tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya jika tadi berhasil keluar dari kastil, dia sudah pasti tersesat dan menjadi santapan hewan buas di hutan.


"Heh siput! kenapa jalanmu lamban sekali? cepat ikuti saya," Lauden kesal sendiri sebab Lucy yang tertinggal jauh darinya tidak mendengarkan semua arahan yang dia perintahkan.


"Kamu buta? tidak lihat seberapa susahnya aku menggendong tas milikmu yang ukuranya lebih besar daripada tubuhku?" balas Lucy garang.


"Salahkan saja hormon mu, kenapa tidak bertumbuh semestinya."


"Kenapa juga kamu pergi berburu dimalam hari? kenapa tidak diwaktu siang? ini sangat merepotkan kau tahu?"


Lauden bisa melihat raut kesal Lucy dibawah cahaya bulan yang samar-samar. Bibir mengerucut lucu, nafas ngos-ngosan dengan beberapa anak rambut yang tergerai. Mengemaskan!


"Sebenarnya yang tuan disini siapa? kenapa kau terus menggerutu dan memerintah saya?"


"Kau tuannya, tapi apakah kamu tidak takut gelap?" tanya Lucy lagi. Meskipun Lauden telah menyatakan bahwa dirinya tidak boleh berbicara tanpa izin dari lelaki itu, tapi rasa takut dan penasaran yang menjadi satu seakan membuatnya bebal.


"Gelap tidak akan membuatmu mati, kan?" jawab Lauden sambil mengeluarkan anak panah dari balik punggungnya, dan bersiap membidik targetnya.

__ADS_1


"Jadi untuk apa kamu berburu? kamu seorang putra mahkota, tentu istana akan menyediakan kebutuhannya kan?"


Lauden yang tadinya sedang berkonsentrasi dan bersiap menembakan anak panah akhirnya urung karna fokusnya pecah.


"Berhentilah mengoceh, suaramu membuat telinga saya sakit, bodoh!" jawab Lauden dengan geram.


"Lalu untuk apa kau mengajak ku kemari jika aku tidak diperbolehkan bersuara? bukankah lebih baik kau pergi sendiri saja?" sela Lucy.


"Saya ingin darah segar, kau faham?"


Lucy yang berdiri dibelakang Lauden akhirnya memahami satu hal lagi dari vampir, dia mengerti bahwa vampir tidak meminum sembarang darah manusia seperti yang ditayangkan oleh film-film yang pernah dia tonton untuk memuaskan dahaganya.


"Apa~"


"Sepertinya saya sudah terlalu baik padamu hari ini, sehingga kamu kehilangan rasa takut dan terus berbicara." kata Lauden sambil menembakan anak panahnya.


"Aku kan hanya~"


"Sstt..." desis Lauden, memberi isyarat untuk diam dan melihat semak bergoyang.


Lucy dan Lauden bergerak menuju arah semak dan melihat ada seekor anak rusa yang terkapar karna anak panah Lauden berhasil melukai kakinya.


Prok... Prok... Prok...


Tanpa sadar Lucy bertepuk tangan gembura karena Lauden bisa melakukan hal yang luar biasa untuknya. Gadis itu terkagum-kagum dengan apa yang Lauden lakukan dan seolah-olah lupa bahwa Lauden adalah musuhnya.


Lauden ikut tersenyum melihat ekspresi bahagia Lucy.


Sejenak, baik Lucy maupun Lauden lupa akan siapa mereka. Ditengah harunya keadaan, tiba-tiba datang seorang pria berkuda yang tidak Lauden harapkan kehadirannya.


"Tembakan yang lumayan bagus," katanya.


Lucy terkejut dan berbalik untuk bisa melihat wajah si pemilik suara. Dan ketika dia berbalik, dia melihat seorang pria tampan tengah tersenyum manis kearahnya.


Lucy menoleh kearah Lauden, raut wajah yang tadi tersenyum berubah menjadi datar dan tatapannya menjadi dingin. Kenapa mood Lauden berubah drastis setelah kemunculan pria berkuda itu.


"Siapa dia?" tanya Lucy dalam hati.


.


.


.


.


.


BERSAMBUNG.!!!!


Jangan lupa like, koment,share, vote dan juga rating ya bestie๐Ÿ’œ๐Ÿ™๐Ÿป

__ADS_1


__ADS_2