SLAVE to PANGERAN VAMPIRE

SLAVE to PANGERAN VAMPIRE
EPS. 8


__ADS_3

"Apakah kamu tuli? Saya bilang buka mulutmu, Bodoh!" kata Lauden geram sebab Lucy tidak mengikuti perintahnya. Sedangkan Lucy yang merasa sangat malu terus menutup matanya rapat.


Lauden sebenarnya merasa gemas dengan ekspresi yang Lucy tunjukkan saat dirinya meminta gadis itu untuk membuka mulut. Namun, ia berusaha menekan karakternya dan tetap menjadi seorang yang kuat, tangguh dan arogan.


"Ini makananmu." Lanjut Lauden.


"Eh?" alisnya mengkerut dengan kening bertekut ketat. Lucy pun perlahan membuka matanya setelah mendengar kata "makanan". Ternyata lelaki itu menyuruhnya membuka mulut sebagai ekspresi menyuruhnya makan, padahal dalam pikiran Lucy mengatakan sebaliknya. Apalagi, posisi mereka yang ambigu membuat pikirannya traveling kemana-mana.


Akibat kejadian malam itu, dia terlalu takut untuk dekat atau bersentuhan dengan mahluk spesies laki-laki. Terlebih bentukannya seperti Lauden. Dia trauma.


"Makanan?"


"Memangnya kamu pikir apalagi? bukannya kamu yang meminta para maid untuk mencarinya?" tanya Lauden sambil menunjuk beberapa prasmanan di depan Lucy.


Diam-diam, Lauden bertanya kepada Lenore kemana mereka akan pergi, dan kenapa membiarkan Lucy seorang diri tanpa ada yang mengawasi. Ternyata mereka semua keluar karena Lucy meminta makan. Dan yah, Lauden baru ingat jika Lucy belum makan apapun sejak gadis itu diseret masuk kedalam kastil yang penuh drama ini.


Karena Lauden tidak mungkin menunjukkan sisi lembut dan belas kasihan nya secara langsung kepada Lucy, jadilah dia berpura-pura memberikan makanan sebagai hukuman karena gadis itu mencoba melarikan diri.


"Karena kamu sudah seenaknya menyuruh para pelayan saya, kamu juga berusaha kabur dari kamar saya. Maka kamu harus di hukum. Kamu harus menghabiskan makanan ini dalam waktu sepuluh menit, tidak peduli bagaimana caranya." Titah Lauden telak.


Lucy seketika melorotkan matanya, terkejut dengan apa yang barusan didengarnya. Namun cara Lauden menyuruhnya makan membuat Lucy yang tadi takut berubah menjadi kesal. Lucy pikir Lauden sengaja mengerjainya dengan dalih hukuman karena ketahuan memerintah pelayan atas namanya. Padahal Lucy sendiri sebenarnya tidak menyadari jika ia lapar atau tidak saat itu saking semangatnya ingin kabur.


"Waktu... Mul~" Lauden hendak memulai dengan isyarat tapi tertunda karena interupsi dari Lucy.


"Tunggu dulu,"


"Kamu menyuruhku makan makanan sebanyak ini? Sendirian?"


"Kenapa? ada yang salah? ini semua makanan manusia kan?" balas Lauden dengan kening mengkerut, dia pikir para pelayan sudah melakukan tugasnya dengan baik.


Lucy melihat prasmanan yang tertata rapi di depannya, tidak ada yang salah memang. Semua layak dan biasa dikonsumsi oleh manusia pada umumnya. Ada berbagai jenis makanan pembuka dan penutup tersaji didepannya. Bagaimana para vampir memperolehnya? Lucy pikir akan sulit bagi mereka menemukan makanan manusia. Dan lagi dia pun tidak mungkin menghabiskan semuanya hanya dalam sepuluh menit.


"Are you crazy? (Kamu gila?), kenapa bukan kamu saja yang menghabiskan semua makanan ini? kamu juga pasti lapar kan?" tanya Lucy polos.


"Ckk... Berhentilah bertanya! suaramu membuat telinga saya sakit." Lauden mengusap wajahnya kasar, menurutnya perempuan itu merepotkan.


Lucy mengerucutkan bibirnya, merutuki ucapan Lauden yang mengatai suaranya berisik. Tidak tahu saja Lauden dulu dia adalah anggota paduan suara terbaik tingkat provinsi.


"Lebih baik kamu makan sekarang juga, atau...." serang Lauden dengan ancaman.


"Atau apa?"

__ADS_1


"Atau saya yang akan memakan mu."


"No! aku makan sekarang, oke?"


Setelah melewati sedikit drama antara tuan dan budak, akhirnya gadis itu berhenti mengoceh dan mulai memakan makannya dengan lahap.


Tanpa Lucy sadari, diam-diam Lauden menatapnya dengan kagum. Baginya, cara makan Lucy sangat unik dan lucu. Wanita itu seperti anak SD. Mata berbinar, pipi penuh mengembang dan wajah yang belepotan. Lauden bahkan menahan diri untuk tidak mencubit pipi lucy dan membersihkan sisa makanan disudut bibir Lucy dengan tangannya.


Lauden merasa takjub karena masih ada gadis di era ini yang begitu lugu seperti Lucy.


Setelah beberapa saat fokus dengan makanan didepannya, Lucy menyadari bahwa Lauden tengah menatapnya dengan serius.


"Sudah sepuluh menit? kenapa kamu terus melihatku dengan tatapan itu?"


"Masih ada waktu, berhentilah mengoceh dan segera habiskan makananmu." Kata Lauden acuh.


Beberapa menit berlalu Lucy sudah selesai makan. Senyum sumringah dana gerakan tangan di perut khas orang selesai makan reflek Lucy lakukan. Tapi hanya sebentar karena setelah ia sadar bahwa Lauden terus mengawasi membuatnya kurang nyaman.


"Apa yang kamu lakukan? berhentilah menatapku begitu," tegur Lucy sembari memalingkan wajahnya ke sembarang arah.


"Kamu takut?" Lauden bertanya dengan seringai menyebalkan.


"Cih, pede sekali dirimu? aku hanya takut kamu akan jatuh cinta bila terlalu lama menatapku seperti itu," ketus Lucy.


Lucy mengerjapkan matanya beberapa kali dan bertanya dengan polosnya, "Apa?"


"Tubuhmu."


"Tubuhku?" gumam Lucy. Dia kemudian menyimpangkan kedua tangannya di depan dada dan menatap Lauden yang juga tengah menatapnya bak predator.


"Dasar psikopat mesum!" pekik Lucy.


Lauden tertawa lepas, sangat bahagia melihat ekspresi Lucy yang ketakutan. Entah mengapa itu sangat mengemaskan baginya.


"Kamu benar-benar takut jika saya menyentuhmu, ya?"


"Coba saja jika kamu berani menyentuhku!"


Seorang Lauden di tantang? siap-siap kalah sebelum bertarung.


"Bagaimana jika saya tetap ingin melakukannya?" Lauden terus menggodanya.

__ADS_1


"Maka jangan salahkan aku jika besok namamu terpampang rapi di batu nisan," kata Lucy garang. Wajahnya menunjukkan kemarahan yang amat sangat.


"Tidakkah kamu ingat siapa saya?"tanya Lauden.


"Kau tahu, kamu adalah vampir jelek yang arogan. Vampir mesum yang menyeret ku masuk kedalam kastil tua ini, dan kamu juga~"


"Vampir tidak mati, meski saya ingin." potong Lauden.


Senyum jenaka dan bola mata yang berbinar ketika menggodanya tadi berubah sendu dan datar. Entah mengapa ketika lelaki itu mengatakan bahwa dia ingin mati, Lucy merasa kasihan.


Dia membayangkan hidup di dunia yang abadi seperti Lauden pasti mengerikan karena tidak memiliki ujung sebagai garis finisnya.


Lucy pernah membaca sebuah jurnal yang mengatakan di dunia ini mempunyai sindrom yang aneh. Namanya Sindrom Stockholm. Sindrom ini adalah keadaan emosi dimana korban merasa kasihan pada pelaku kejahatan. Dan itu terjadi padanya saat ini. Dia merasa kasihan hanya karena sepenggal kisah yang tak sengaja menyapa.


"No! aku tidak boleh kasihan padanya. Dia vampir jelek dan mesum. Aku harus memusuhinya." tekad Lucy dalam hati.


"Kenapa kamu diam?" tanya Lauden kepada Lucy yang tengah melamun.


"Siapa? aku tidak," sangkal Lucy.


Lauden menganggukkan kepala seolah percaya.


"Ngomong-ngomong, sudah berapa lama kamu hidup kesepian begini?"


"Itu bukan urusanmu. Jangan menanyakan sesuatu yang tidak relevan dengan mu." Jawab Lauden ketus. "Sebagai budak, kamu dilarang untuk melakukan atau berbicara tanpa izin dari saya. Mengerti?"


Lucy memutar bola matanya malas. Menurutnya Lauden begitu menyebalkan karna bersikap setengah-setengah. Terkadang baik, kadang juga meresahkan.


"Cepat sekali kembali ke setelan pabrik!"


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG.!!!


Jangan lupa like koment, share, vote dan rating ya bestie๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ’œ


__ADS_2