Something Lost

Something Lost
Memilih Gaun


__ADS_3

“Kau pakai ini, biar orang-orang tidak mengenalimu,” kata Kim Dan sambil memberikan semua baju. Ketika Audi melihat merek dan harganya, begitu membuat Audi menelan ludahnya sendiri.


Pakaian yang begitu mewah untuknya, itu yang dia pikirkan saat dia memakainya. Apalagi dia harus memakai sepatu yang tidak pernah dia pakai sebelumnya, rasanya tidak begitu nyaman terlihat sangat jelas dari wajahnya tidak menyukai barang yang di berikan oleh Kim Dan.


Berada di lantai 30 gedung itu, membawa kesan tersendiri bagi Audi.


Rambut yang tergerai, dres berwarna merah muda, anting yang begitu indah, kalung, serta kacamata kini tersemat di tubuh gadis itu. Dia bahkan tidak mengunakan make up, namun wajahnya begitu cantik terlihat, memberikan kesan jika wanita indonesia tidak kalah cantiknya dengan wajah wanita-wanita di sana.


“Siapa gadis itu?”


“Cantik sekali. Dia tidak memakai make up,”


“Bahkan yang di pakainya sangat mahal,”


Semua orang memandang ke arah mereka, tangan Audi menggandeng Kim Dan, dan berjalan di tengah banyak orang. Kim Dan bisa merasakan jika Audi mencengkram lengannya dengan erat, menandakan jika dia tengah gugup.


Audi telah biasa di bicarakan seperti itu. Namun, kali ini sangat berbeda apalagi dia berjalan bersama dengan seorang laki-laki.


Robin, asisten Kim Dan berada di belakang mereka berdua. Pria yang menjadi asisten itu berdarah Indonesia, mungkin dia adalah TKI.


Mobil milik Kim Dan, kini melaju di jalan raya membaur dengan mobil-mobil lainnya. Seorang sopir, bisa di taksir seumuran dengan Robin. Hingga tidak menyadari jika mobil berhenti pada sebuah butik pakaian wanita.


“Oh ini dia, menantuku sudah datang,”


Audi hanya tersenyum paksa.


“Aku akan kembali ke kantor,” kata Kim Dan.


“Sebagai tunangannya, anda harus duduk dan ikut memilih pakaian yang akan dia kenakan,” kata seorang pelayan butik itu.


Walaupun Kim Dan tidak menyukai hal itu, namun dia tetap menjatuhkan diri di atas sofa dan ikut memilih pakaian yang akan Audi gunakan.


Pakaian-pakaian megah, mewah berjijir rapi. Harganya pun, sangat mahal. Begitu berat Audi mencoba pakaian yang dia kenakan itu, rasanya dia tidak sanggup untuk memakai pakaian yang bernilai uang begitu banyak.


“Pakaian-pakaian ini begitu mahal, aku bisa membeli makanan dan pakaian yang banyak untuk mereka,” kata Audi membatin.


Karena terbiasa hidup sendiri, dan berjuang sendiri. Dia telah tahu, bagaimana susahnya mencari uang, ketika dia berhadapan dengan situasi ini dia hanya membatin jika uang yang di keluarkan sangat di sayangkan dan lebih baik di pakai untuk kebutuhan amal. Ya, seperti itulah Audi.


Satu helai baju, dua helai, tiga helai, sampai begitu banyak pakaian yang di cobanya. Namun, tidak ada satupun cocok di mata orang yang sejak tadi menunggunya memilih pakaian yang di gunakan untuk pesta sebentar malam.


“Bibi... Bisakah, aku saja yang memilih?” tanya Audi ragu-ragu.


“Ya sudah, pilihlah,” kata Ibu Cha.


Audi melangkah melihat-lihat pakaian itu, dari harga yang begitu murah sampai harga yang sangat mahal.


Untuk pakaian seorang Audi, yang tidak terlalu suka dengan pakaian yang mengunakan banyak perhiasan, dia memih sebuah dress dengan panjang sampai di atas mata kaki, tanpa manik-manik, dan bagian atas agak terbuka dengan bagian bahu terdapat dua tali penghubung ke bagian dada, berwarna blue ice.


Sebuah kalung dengan liontin kecil, dan juga sebuah sebuah tusuk sanggul berwarna blue ice.


Kini pakaian, anting, tusuk sanggul itu berpadu dengan warna kulitnya yang cerah. Terlihat sederhana, namun elegant untuk seorang Audi.

__ADS_1


“Oh my God, you are so beautiful. Baby,” kata Ibu Cha ketika melihat Audi yang baru saja keluar dari tempat ganti pakaian.


Mata Kim Dan pun, tidak bisa berpaling dari gadis itu untuk sejenak, dia membatin jika gadis itu sungguh sangat cantik.


“Em. Lumayan,” kata Kim Dan membuat kedua wanita itu menatap tajam ke arahnya.


“Mungkin Kim Dan, malu mengatakannya jika Nona Audi sangat cantik,” kata Robin.


“Kapan aku...”


“Coba lihat, wajahmu bahkan memerah,” kata Robin menggoda Kim Dan.


“Kau... Gaji di potong selama dua bulan,” kata Kim Dan, membuat Asistennya itu berhenti menggodanya. “Aku masih ada kerjaan di kantor. Aku pergi dulu,” kata Kim Dan, sambil merapikan dan mengancingkan Jasnya, kemudian melangkah keluar dari tempat itu.


Ibu Cha masih memuji kecantikan gadis itu. Tanpa sadar, Audi menangis.


“Apa? Kenapa? Apa gaun ini kekecilan?” tanya Ibu Cha melihat Audi menangis.


“Tidak, aku hanya bahagia. Aku tidak pernah tahu, jika ternyata semenyenangkan ini belanja,” kata Audi sambil menangis tersedu-sedu.


Salah satu pelayan, mengambil inisiatif memberikan tisu untuk Audi, agar gadis itu menghapus air matanya.


“Apa kau belum pernah belanja seperti ini?”


“Tidak, belum pernah,” kata Audi.


Ibu Cha hanya tertegun, karena melihat kepolosan serta air mata yang begitu tulus mengalir di pipi gadis itu. Ketika dia mengingat, jika gadis itu mengatakan dia tidak memiliki orang tua, rasa sayangnya bertambah dengan sendirinya.


Audipun, merasakan kenyamanan dan kehangatan dari setiap tindakan yang diberikan oleh Ibu Cha padanya. Berbeda, ketika dulu dia berada di Indonesia.


“Andai, semua orang yang berada bisa seperti ibu ini,” kata Audi membatin.


Semua pakaian, yang tadi di coba Audi, di bayar oleh Ibu Cha, tidak tanggung-tanggung harga yang di keluarkan oleh Ibu itu. Belum lagi, sepatu, kalung, anting, serta hiasan kepala di berikannya untuk gadis itu. Audi seperti mendapatkan berlian secara tiba-tiba.


Audi memakai salah satu pakaian yang di pilihnya tadi, tidak terlalu mencolok, namun begitu pas di pakai olehnya.


“Aku ingin membawamu ke suatu tempat,” kata Ibu Cha sambil membawa Audi.


Mereka masuk pada sebuah restoran terkenal dan mahal, terlihat beberapa ibu-ibu dengan sangul dan juga dandanan yang mencolok dan mewah tengah mengobrol satu sama lain.


“Hallo semuanya, maaf aku terlambat,” kata Ibu Cha.


Hm, seperti dugaan Audi dia akan di bawah dan akan di kenalkan kepada ibu-ibu itu.


“Oh Nyonya Kim. Kau sudah datang,” kata seorang Ibu. “Tapi siapa dia?” tanya Ibu itu lagi.


“Ah, ini. Seperti yang aku katakan pada kalian, akan mengenalkan calon menantuku pada kalian semua,”


Audi memalingkan muka sejenak kemudian mengembungkan pipinya. Seperti dalam drama korea yang sering di nontonnya, akan terjadi saling sindir dan membanggakan menantu mereka masing-masing, pastinya Audi akan terpojok karena dia berasal dari keluarga tidak lengkap, atau bisa di katakan hidup sendiri.


“Orang tuamu pemilik perusahaan apa?”

__ADS_1


Ck. Benar saja, kini mereka menanyakan orang tua Audi.


“Oh orang tuanya...” Ibu cha agak tergagap, karena bingung untuk mengatakan apa tentang orang tua Audi.


“Aku tidak punya orang tua,” kata Audi.


“Benarkah? Aku sungguh minta maaf,”


Audi sengaja menjawab, karena Ibu Cha di lihatnya bingung menjawab pertanyaan yang diberikan oleh ibu-ibu itu.


“Apa pekerjaanmu? Kerja di perusahaan apa?”


Audi sejenak terdiam sebelum menjawab, dia melihat masa lalu ibu-ibu itu.


“Aku mahasiswa kedokteran,” kata Audi.


“Oh. Masih mahasiswa,”


Ibu-ibu memamerkan anak-anak mereka masing-masing. Dari pacar, kuliah, serta barang-barang mewah.


“Hm, setidaknya aku tidak seperti anak-anak kalian, dan pacar mereka. Yang menghambur-hamburkan uang, tanpa bekerja mendapatkan uang itu sendiri. Selalu mengandalkan dan menjadi bayangan di belakang orang tua mereka masing-masing. Kuliah, memiliki barang dari hasil kerja sendiri itu lebih baik daripada mengandalkan orang lain,” kata Audi membuat ibu-ibu terbungkam tidak berani bicara lagi.


Ibu cha yang melihat itu, tersenyum bangga melihat apa yang di katakan oleh Audi pada orang-orang itu.


“Kami permisi dulu. Ayo sayang,” kata Ibu Cha sambil meraih tangan Audi untuk segera meninggalkan tempat itu.


Sepanjang perjalanan pulang, Ibu Cha tertawa dan bercerita tentang teman-temannya itu. Dia merasa bahagia ketika Audi membuat wanita-wanita itu di buat tidak bisa berkata-kata lagi. Bahkan, ketika sampai di rumah dia masih bercerita pada mertua dan suaminya tentang Audi.


.


.


———————— To Be Continued ————————


Kritik & Saran di kolom komentar.


Instagram : dih_nu


Baca juga :


- A Cold Frozen Heart


- Undercover


- Cinta yang Datang Terlambat


- Jiwa yang Terbagi


Terima kasih telah membaca karya saya yang tidak seberapa ini!


Jika kalian menyukai novel ini tolong berikan Vote sebanyak-banyak untuk mendukungku. dan Jangan lupa klik ♥️ untuk selalu mendapatkan Update cerita selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2