
“Jul... Julian Kim,” pekik Evye, Yayan, dan Linlin secara bersamaan, sedangkan Audi hanya terdiam tidak terpengaruh.
Siapa sih yang tidak mengenal seorang Julian Kim, seorang artis yang mendapatkan penghargaan apalagi dengan begitu banyak pengemar. Paras tampan rupawan milik pria itu menghipnotis setiap gadis yang melihatnya. Sepertinya yang tidak mengenalnya adalah Audi.
“Kakak Ipar...” pekik pria itu sambil berlari ke arah Audi, dia ingin memeluk Audi.
Audi menatap pria yang memanggilnya kakak ipar itu dengan tatapan aneh, bagaimana tidak sedangkan dia tidak mengenal pria itu dan tiba-tiba dia di panggil kakak ipar oleh pria itu.
Kim Dan menahan pria itu, dengan menarik kerak baju milik pria itu. Agar tidak memeluk Audi.
“Mengapa pelit banget sih, aku hanya ingin memeluk dan mengenalnya saja,” kata Julian dengan wajah penuh manja itu.
“Jangan memperlihatkan wajah menjijikkan itu padaku,” kata Kim Dan sambil memukul kepala Julian.
“Kakak Ipar... coba lihat, dia begitu kejam padaku,” rengek pria itu.
Gadis-gadis yang melihatnya merasa agak aneh melihat tingkah pria itu.
“Dia sepupuku dari sebelah ibuku, Jualin Kim namanya, dia tidak datang ke acara pertunangan kita berdua karena dia lagi syuting di luar negeri. Kau pasti mengenalnya,” kata Kim Dan mencoba memperkenalkan sepupunya itu.
“Aku baru melihatnya,” kata Audi dengan nada polosnya itu membuat orang yang di sekelilingnya merasa percuma memperkenalkan pria itu pdanya.
“Kakak Ipar tidak mengenalku? Aku adalah artis yang populer beberapa tahun ini, loh. Aku memiliki pengemar di seluruh dunia, aku mendapatkan banyak penghargaan,” Julian tengah menyelidik bagaimana ada orang yang tidak mengenalnya di dunia ini.
“Apa aku harus mengenalmu? Aku bahkan tidak menonton drama ataupun tahu artis-artis yang tengah populer saat ini,”
Julian merasa jika dirinya belum cukup terkenal, karena masih ada yang belum mengenalnya, jiwa artisnya meronta.
Kim Dan merasa gadis miliknya itu begitu berbeda dengan kebanyakan gadis lainnya, sedangkan Julian tengah duduk berjongkok karena harga dirinya terluka, karena masih ada orang yang tidak mengenalnya.
David tengah menertawakan pria yang tengah terluka harga dirinya itu. Pria yang memamerkan pesona artisnya, seketika tidak ada artinya di hadapan Audi.
Selama ini, Audi hanya fokus pada kuliah, kerja, dan menghasilkan uang banyak. Jadi tidak heran dia tidak tahu apapun tentang dunia entertaiment.
Pipi Audi masih merah, namun tidak merah seperti tadi. Dia masih meletakan kompres es di pipinya.
“Apa Jessica memukulmu dengan kuat?” tanya Kim Dan sambil melihat pipi Audi.
‘’Oh Tuhan, apakah dunia akan kiamat? Aku baru melihat Kim Dan seperti ini,” kata Julian, terkejut karena dia baru pertama kali melihat seorang Kim Dan memperlakukan seorang wanita seperti itu.
Kim Dan menatap Julian dengan sinis.
“David, bawa dia keluar. Jika dia ingin mati, buang dari jendela saja,” kata Kim Dan.
Semua orang keluar dari ruangan itu memberikan kesempatan untuk Audi dan Kim Dan.
“Aku baru pertama kali melihat Direktur seperti itu, ternyata dia bukan seorang gay,” kata Linlin dengan ceplas-ceplos.
“Hai adik kecil, karena aku tidak bisa mengajak kakak ipar, bagaimana jika kita pergi makan. Aku akan mentraktir kalian,”
Yayan, dan Linlin baru pertama kali melihat secara dekat artis terkenal itu. Rasanya mereka sangat beruntung bisa berada di samping seorang Audi.
“Soal tadi... Sssttt...” kata Julian memberi isyarat agar tidak membicarakan apa yang mereka lihat tadi.
“Kau benar-benar membuatku menjadi tameng,” kata Audi dengan raut wajah lelah.
“Apa yang kau bisikan tadi padanya?”
“Bersaing denganku, secara sehat. Karena kau hanya tunanganku, bukan suamiku. Jadi mereka punya hak bisa mendapatkanmu,” kata Audi.
“Kau pikir diriku ini rendah, dan kau membuat hal seperti itu, dan kau ingin bersaing dengan gadis lain untuk mendapatkanku,” Kim Dan marah dengan apa yang tengah terjadi.
“Kau jangan seenaknya mengatakan hal itu pada orang lain, kau harus tahu tentang kontrak yang telah kita sepakati, kau tidak lebih dari tameng buatku untuk menyingkirkan gadis-gadis menjijikan itu. Tapi kau malah membuat satu permainan agar mereka mengejarku, kau pikir kau siapa?” kemarahan Kim Dan memuncak.
Audi hanya terdiam, rasanya ada yang aneh di dalam hatinya ketika pria itu mengatakan tentang kontrak dengannya.
Ada secercah rasa sakit di dalam hatinya, ketika mendengar perkataan itu. Mungkin secercah rasa sakit itu adalah harapan yang terwujud di malam traumanya kembali, rasa sakit yang hadir dari harapan seseorang yang mempercayainya, mendukungnya, dan melindunginya.
__ADS_1
Audi mengepal erat tangannya, mungkin dia yang tiba-tiba berharap jika pria itu benar-benar mempercayainya.
“Tenang saja, aku akan menjauhkanmu dari gadis-gadis yang mengodamu,” kata Audi dengan pelan.
Deg!
Suara jantung milik Kim Dan berdetak, dan terasa aneh. Dia tidak menyangka Audi mengatakan hal itu, sepertinya jawaban Audi bukanlah yang dia inginkan.
Kim Dan menghilang di balik pintu ruangan milik Audi. Namun masih berdiri di balik pintu.
Audi memilih untuk membuat proposal yang akan di ajukannya. Ponselnya dalam keadaan mode diam, dia tidak ingin di ganggu oleh siapapun, lebih tepatnya dia ingin sendiri menenangkan pikirannya yang tengah kacau.
Dia tidak ingin kembali ke rumah, karena dia tinggal serumah dengan Kim Dan. Satu per satu lampu di matikan di setiap ruangan, hanya tersisa ruangannya yang belum juga mematikan komputer miliknya. Dia tertidur saat tengah membuat proposal.
Sudah beberapa hari Audi tidak bertemu dengan Kim Dan, dia memilih untuk menghindari pria itu, menyelesaikan proposal dan juga pergi ke rumah sakit untuk bekerja seperti biasa, tidak lupa dia menyempatkan diri untuk pergi ke Universitas dan memberikan privat.
Jadwalnya agak sedikit di kuranginya, karena tidak bisa di handel lagi olehnya. Sesekali Jessica datang bertemu dengannya dan membuat masalah.
Audi mendapatkan undangan dari kampusnya untuk menghadiri sebuah seminar.
Kim Dan mengawasi Audi melalui CCtv yang di pasangnya, walaupun saat ini dia tengah berada di luar negeri.
“Keluarga Anggara, berhubungan dengan masa lalu Nona Audi. Apa aku harus menyelidikinya lebih lanjut lagi?” tanya David.
“Tidak perlu, asal aku tahu siapa yang membuatnya seperti itu, aku akan menanyakan langsung padanya saat pulang,”
“Evy, mengatakan nona akan menghadiri acara seminar di kampus beberapa hari lagi,”
Angin malam di negera beriklim tropis itu berhembus sangat lembut menerpa rambut perak milik Kim Dan. Dia tengah berada di acara keluarga milik salah satu anak perusahaan miliknya.
Status Kim Dan lebih dari seorang Direktur Perusahaan, walaupun statusnya hanya seorang direktur namun dia yang telah membuat perushaan mereka bisa masuk ke dalam daftar perusahaan terbesar di dunia.
David berbisik pada Kim Dan, jika keluarga Anggara tengah berada di pesta yang sama dengan mereka.
Rasanya kejadian di masa lalu yang di perbuat oleh keluarga Anggara masih sangat membekas di dalam ingatan seorang Kim Dan. Ketika mengetahui jika musuh Audi adalah orang yang sama, rasanya dia ingin membuat keluarga itu menderita perlahan-lahan.
Hansen Anggara tengah berjalan sambil menggendong seorang gadis kecil.
“Tapi aku dengar, sebenarnya gadis itu bukan kekasih Tuan Hansen. Dia mengantikan kekasih asli Tuan Hansen,”
“Benarkah?”
“Ini gosip lama ya, kekasih Tuan Hansen dua hari sebelum pernikahan tidur dengan seorang pria,”
“Kasihan Tuan Hansen. Tapi Tuan Hansen beruntung mendapatkan istri yang baik seperti gadis itu,”
David mengerutkan keningnya mendengarkan gosip-gosip dari gadis-gadis itu. david berpikir keras siapa kekasih asli dari Hansen.
Kim Dan melangkah memasuki kerumunan tamu Undangan di pesta itu. Setelah jas mahal, jam tangan, sepatu mahal miliknya itu begitu menyatu dengan wajah tampan rupawan miliknya yang kini berada di bawah paparan lampu. Mata merah miliknya itu menatap dingin, tidak terlihat ada emosi di dalamnya.
Pesta keluarga bergengsi, tidak menutup kemungkinan jika banyak gadis-gadis dari kalangan atas yang hadir di sana. Namun semuanya tidak ada yang bisa mengalahkan pesona seorang Audi di mata pria berambut perak itu.
Semua orang melihat ke arahnya, seorang tuan muda di keluarga terpandang. Termasuk istri Hansen, terpesona dengan pria itu.
“Lama tidak jumpa, Presiden di balik Presiden," kata seorang pria menyapa Kim Dan.
Hansen Anggara, postur tubuhnya di idamkan banyak gadis-gadis walaupun dia berstatus suami saat ini.
Kim Dan masih ingat dia pertama kali bertemu dengan Hansen di acara pernikahan Hansen tiga tahun lalu, Hansen mendapatkan sebuah undangan Pernikahan dari seseorang.
Tatapan matanya pun terasa kosong, walaupun dia tengah di temani oleh istrinya yang tidak kalah cantik dengan gadis-gadis lain.
Seorang wanita datang dengan membawa seorang gadis kecil menghampiri Hansen dan Kim Dan. Anak kecil itu memanggil Hansen dengan sebuatan Ayah.
Kim Dan ingat gadis itu, gadis yang selalu di sisi Hansen sejak dulu sebagai sekertarisnya.
“Lebih cantik Audiku, daripada gadis ini,” kata Kim Dan membatin.
__ADS_1
Melihat pria itu tengah tersenyum dengan wanita lain, rasanya Kim Dan ingin sekali memukul wajah itu. Dia ingin melampiaskan amarah Audi, namun dia memilih untuk bersandiwara lebih dulu dan membiarkan gadisnya yang menghukum keluarga itu.
Bagaimana mengatakannya, jika kesuksesan keluarga Anggara tidak pernah lepas dari campur tangan Audi yang membawa keluarga itu masuk ke dalam jajaran perusahaan besar di Indonesia.
Dari kejauhan suara riuh terdengar, seseorang datang, dengan pesona hampir sama dengan seorang Kim Dan. Julian Kim, datang bersama seorang gadis di acara itu.
“Bukankah itu artis terkenal itu...”
“Apa mereka pacaran?”
“Rasanya aku patah hati,”
Bisik-bisik gosip pun langsung melambung dengan sangat cepat.
Julian menghampiri Kim Dan, dan memperkenalkan gadis itu. Kim Dan hanya bersikap dingin, bahkan tidak sudi melihat ke arah gadis itu.
“Yayayaya... Semua gadis sama di matamu, kecuali kakak ipar,” kata Julian Kim.
“Kakak Ipar? Apa Tuan Muda Kim sudah menikah?”
“Aku tidak tahu jika Tuan Kim sudah memiliki tunangan,” kata Hansen.
“Kenapa tidak mengajak kakak ipar?” tanya Julian.
“Dia tidak bisa datang karena masalah kesehatannya memburuk,” jawab Kim Dan.
“Apa gadis yang kau katakan padaku waktu itu, yang tidak mengenalmu?” tanya gadis itu Julian, hanya anggukan pertanda benar yang diberikan oleh Julian.
“Sepertinya gadis yang menjadi pendamping Tuan Muda Kim, berasal dari keluarga berada,”
Tiandra Anggara, adalah artis seperti Julian Kim, dia adalah adik dari Hansen Anggara. Gadis itu tidak berani melihat ke arah Kim Dan, dia begitu ketakutan. Apalagi dua pasang mata yang melihat Kim Dan semakin bertambah ketakutan.
“Aku ingin mengadakan acara pertunangan secepatnya dengan Tian,” kata Julian seakan ingin memperjelas hubungan keduanya ke publik.
“Terserah kamu, asal jangan di Indonesia. Kakak Iparmu tidak bisa datang jika di negara ini,” kata Kim Dan sambil meninggalkan keramaian pesta.
Kim Dan mengepal erat tangannya, trik yang di pakai oleh keluarga Anggara menurut Kim Dan masih saja sama seperti dulu. Dia ingin menekan agar keluarga itu tidak berulah, dan berani mempermainkan harga diri keluarga Kim lagi.
Seorang anak perempuan berdiri di depan Kim Dan, sambil menarik baju pria itu. Gadis kecil itu seakan ingin dekat dengan Kim Dan.
Kim Dan sejenak melihat ke arah gadis kecil itu. Tatapan matanya begitu teduh, rambutnya di kuncir dua.
“Paman aku ingin di gendong olehmu,” kata gadis kecil itu dengan penuh wajah manja.
Kim Dan hanya bisa menuruti keinginan gadis kecil itu. Siapa yang bisa menahan godaan dari pesona anak kecil yang begitu imut dan mengemaskan.
“Siapa namamu?” tanya Kim Dan.
“Delva, tapi aku lebih suka di panggil Momo,” kata gadis
“Jika aku segera menikah dengannya, apa aku bisa memiliki anak seperti ini?” kata Kim Dan membatin sambil mengendong anak gadis kecil itu.
Hansen tengah menyalakan rokoknya di balkon, tanpa menyadari jika Kim Dan pun berada di sana.
Suara tawa gadis di dalam hatinya masih terukir jelas di ingatannya, rasanya waktu dan hatinya tengah berhenti ketika mengingat gadis itu.
Tatapan yang sangat menyedihkan untuk seorang Hansen, entah apa yang tengah di pikirkan olehnya.
Ada sebuah senyuman yang tidak bisa hilang dari ingatannya, namun sekaligus menyakitkan untuk di ingat.
Bagaimana tidak menyakitkan, ketika gadis yang akan segera di nikahinya di lihatnya tengah berbaring di ranjang tanpa pakaian sedikitpun kecuali selimut yang menutupi tubuh gadis itu.
Ketika gadis yang di lindunginya itu, malah menyalahkan orang lain. Ketika, gadis itu mengelapkan uang perusahaan miliknya, hadirnya benci di dalam hatinya, namun rindupun juga ada di sana. Audi—nama gadis itu.
Sebuah deringan ponsel miliknya.
“Apa kau sudah menemukannya?” tanya Hansen pada seseorang di seberang telfon.
__ADS_1
Wajahnya melemas, sepertinya dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Sudah lama dia mencari gadis itu, namun belum menemukan apapun. Dia tidak tenang, selama tiga tahun ini. Dia ingin gadis itu menderita karena selingkuh di belakangnya, dan akan mengikat gadis itu agar tidak pergi dari hadapannya.
Emosi, dan dendam kini mempengaruhi pikiran pria itu ketika mengingat wajah gadis itu, namun di saat bersamaan gadis itu masih mengambil alih hatinya.