
Entah apa yang terjadi di dalam sana, Audi tidak memperdulikannya lagi. Dia memilih untuk menenangkan dirinya.
Audi sangat yakin, jika tunangannya kini di kelilingi banyak orang yang ingin dekat dengannya. Walaupun dia tidak menyukainya, namun pria itu sungguh sangat istimewa di mata orang lain.
Apakah tidak masalah, jika dirinya berdiri di samping pria itu. Apakah benar-benar tidak akan terjadi sesuatu hal di kehidupan mendatang.
Mungkin, berada di sisi pria itu adalah hal benar.
Seorang pria melangkah dengan pelan, sambil menutupi bagian dada Audi dengan jaket miliknya. Senyuman terukir ketika melihat Audi. Pria itu adalah Louis.
Entah apa yang tengah di lakukan oleh Pria itu berada di dekat Audi, bahkan menaruh mata-mata di dekat Audi.
Deringan ponsel membangunkan Audi. Panggilan dari Mertuanya—Nyonya Kim yang mengajaknya untuk makan siang bersama.
"Siapa yang memberikanku jaket. Ini bukan jaket milik Kim Dan, apa ada orang yang ada di sini?" kata Audi membatin sambil melihat sekeliling.
Louis tengah berada di mobil memperhatikan gadis itu dari kejauhan.
Audi menulis dan di simpan di saku jas itu. "Terima kasih,"
“Aku akan makan siang bersama Ibu,” kata Audi menelfon Kim Dan.
"Baiklah," kata Kim Dan.
David melihat Kim Dan dari kaca mobil.
"Kenapa tidak mengajak Nona Muda untuk makan?" tanya David.
"Dia bersama dengan wanita itu, mereka tengah makan siang,"
"Maaf Tuan David, siapa yang anda maksud Nona Muda? Setahuku di dalam keluarga Kim tidak memiliki anak perempuan," kata Moana begitu penasaran.
"Ternyata anda begitu tahu tentang keluargaku,"
"Bukan seperti itu..." kata Maona dengan terbata-bata.
"Nona Muda adalah tunangan Tuan, saat seminar tadi dia hadir juga kok," kata David.
"oh begitu ya," Maona mengangguk.
Namun di dalam hatinya begitu kesal, dan marah.
Hidangan makan siang telah di tata rapi di meja. Ibu Cha memperhatikan menantunya itu, sedangkan Audi tengah lahap memakan makanannya itu.
“Bukankah gadis itu yang menfitahmu?”
Audi menghentikan makannya.
“Iya,”
“Mengapa kau membiarkan gadis itu di sampingnya?”
“Aku tidak cemburu pada gadis yang mengodanya tapi jijik, aku hanya cemburu jika dia yang memulai semuanya. Aku percaya pada Kim Dan, seperti Ibu mempercayaiku,” kata Audi.
“Tapi kau sebagai tunangannya harus memberi pelajaran pada gadis yang seperti itu, agar dia tahu batasannya,”
“Karena itu, Kim Dan meminta izinku menjadikannya sebagai sekertasrisnya, Bu,”
“Kim Dan yang meminta izinmu?”
“Iya,”
“Kapan kalian akan melangsungkan pernikahan dan mengumumkannya pada semua orang?” tanya Nyonya Cha.
Audi hanya terdiam, entah apa yang akan dia katakan untuk menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh calon mertuanya itu.
“Aku ingin mengenalnya lebih dekat. Aku bisa saja mendaftarkan pernikahan kapanpun yang kami inginkan. Untuk sekarang, aku ingin membuat diriku sejajar dengannya dengan kerja kerasku,” kata Audi.
__ADS_1
Audi melihat masa lalu wanita itu, tidak ada dendam untuknya. Berbeda dengan wanita yang dulu, yang selalu menghinanya.
Ingin rasanya Audi mengatakan hal yang ingin dia katakan pada wanita itu, dia ingin bermanja pada wanita itu.
“Bolehkah aku bermanja padamu?” tanya Audi dengan terbata-bata.
“Pft. Aku ini ibumu, kau bisa bermanja, menangis, dan bercerita padaku,” kata Nyonya Cha.
“Benarkah? Apa boleh seperti itu?”
“Boleh. Jika itu kamu, semuanya boleh. Bahkan jika Kim Dan menyakitimu, katakan padaku, aku akan memarahinya,” kata Nyonya Cha pada Audi.
“Apa aku benar-benar pantas berdiri di samping putramu? Aku bahkan tidak tahu siapa aku sebenarnya, aku hanya takut jika aku akan membuat keluarga kalian malu nantinya,”
“Audi, walaupun Kim Dan tidak menyukaiku sebagai ibunya. Tapi, aku baru pertama kali melihatnya seperti itu pada seorang perempuan, dia selalu menjauh pada gadis manapun. Ketika dia mengatakan jika dirimu adalah kekasihnya, itu sangat mengejutkan keluarga kami. Jadi, kami percaya pada pilihannya, dia tidak akan mengambil keputusan yang salah,” Nyonya Cha menggenggam lembut tangan Audi.
“Siapapun dirimu, kau adalah kau yang saat ini. Tidak ada yang bisa merubah hal itu, sekalipun mereka adalah orang tua kandungmu,” kata Nyonya Cha.
Audi menangis, kata-kata yang baru saja keluar dari mulut wanita di depannya itu terasa hangat untuknya. Apalgi, ketika wanita itu menarik Audi untuk masuk ke dalam pelukkannya.
Kehangatan seorang ibu yang telah lama tidak di rasakannya, kini begitu nyaman ketika dia berada di pelukan wanita itu.
“Inikah kehangatan seorang ibu?” batin Audi.
“Benar tidak apa-apa, jika hanya egois sedikit untuk kebahagian diri sendiri. Walaupun suatu saat aku akan kehilangan kehangatan ini, tidak apa-apa, setidaknya aku bisa menikmati masa-masa yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Audi, tidak apa egois untuk diri sendiri,”
“Bagaimana jika kita pergi belanja. Sepertinya kita belum pernah belanja pakaian,”
“Em. Itu... Ibu...” Audi berucap dengan terbata-bata.
“Ada apa?”
“Baju yang pernah...”
“Aku sudah tahu... Aku tidak marah padamu,”
Audi menatap semua baju, desainnya cukup sederhana, tapi menarik perhatian. Selera fashion Audi memang hanyalah memakai pakaian sederhana. Ketika Audi melihat pakaian itu, harganya cukup mahal.
“Hei, jangan menyentuh itu, pakaian itu sangat mahal harganya, aku bahkan tidak bisa membelinya,”
Audi menatap gadis yang menjadi pelayan itu.
“Apa tidak bisa melihat-lihat saja?”
“Bagaimana jika kau merusaknya?” kata gadis itu dengan meremehkan.
Audi memang mengganti pakaiannya sebelum menemui mertuanya. Walaupun pakaiannya tidak bermerek, dia lebih nyaman seperti itu.
Beberapa saat Audi berdebat dengan pelayan wanita itu. Walaupun Audi memiliki uang untuk membayar, tapi baginya begitu sayang untuk menghabiskan begitu banyak uang untuk sebuah gaun walaupun dia menyukainya.
“Anda tidak punya uang untuk membeli pakaian ini, silahkan pergi dari sini,” kata pelayan wanita itu.
Dari kejauhan mertuanya tengah memperhatikannya.
“Kau tidak berhak menilaiku dari pakaianku," bentak Audi saat pelayan itu menariknya untuk keluar dari tempat itu.
“Jika kau tidak punya uang, sebaiknya katakan saja,” kata pelayan itu dengan sinis.
“Hm, gadis ini cukup menarik. Gadis-gadis lain, melemparkan tubuhnya pada Kim Dan untuk mendapatkan kemewahan dan popularitas, tapi tidak dengan dirinya. Bahkan, dia bisa saja mengunakan statusnya sebagai tunangan Kim Dan untuk membungkam semua orang yang menghinanya,”
“Apa aku harus membantunya?” gumam Nyonya Cha.
Seorang pria datang membuyarkan semua orang yang datang ke pusat pembelanjaan itu. Pria itu adalah Louis.
“Aku akan membayar gaun ini untuk nona ini,” kata Louis.
“Terima kasih Tuan Louis, tapi maaf saya tidak bisa menerima kebaikan tuan,”
__ADS_1
Tidak jauh dari tempat Louis terlihat Kang Yoo yang tengah memperhatikan Audi. Pastinya Kim Dan pun ada di sana di temani oleh Maona. Kang Yoo ikut campur dalam hal itu. Audi hanya terdiam.
“Bagaimana jika aku juga akan membayarkan semua pakaian untuk Nona Audi?” tanya Kang Yoo.
Kedua pria itu menatap Audi.
“Dasar Audi, begitu pintar menggoda. Bahkan kedua orang itu ingin membelikannya pakaian. Memang benar apa yang di katakan oleh orang-orang jika dia telah menjual tubuhnya,” kata Maona dengan sengaja membuat Kim Dan agar membenci Audi.
“Tidak perlu,” kata Audi. “Aku akan membayar pakaian ini. Semua pakaian yang ada di sini, semuanya,” kata Audi sambil menunjuk seluruh pakaian yang ada di sana. Dari tas, pakaian, sepatu, dan perhiasan. “Pakaian kartu ini,” kata Audi sambil memberikan sebuah kartu pada gadis itu. “Isinya tidak sebanding dengan gajimu selama setahun kerja di sini,” kata Audi sambil melirik pelayan yang menghinanya.
Kartu yang dia berikan pada pelayan itu adalah sebuah kartu tabungan miliknya, walaupun Kim Dan memberikannya kartu untuk dia gunakan.
Di dalam hatinya Audi merasa kesal, harus memakai uang itu.
“Uangku...” rintih Audi di dalam hatinya.
Audi melangkah ke arah pelayan itu dengan tatapan dingin.
“Hanya karena tidak berpakaian dengan merek terkenal, bukan berarti tidak memiliki uang yang banyak. Pakaian hanya formalitas yang gampang menipu orang banyak. Kau seharusnya tidak meremahkan, merendahkanku, dan menghinaku, aku bisa membuatmu kehilangan pekerjaanmu jika aku mau,”
Pelayan itu gemetaran, dia tidak menyangka jika dia telah menyinggung orang seperti Audi.
Audi melihat sekeliling, dia melihat dengan sangat jelas jika Kim dan berada di sana, termasuk mertuanya.
“Sepertinya kehadiran dua orang penting seperti kalian berdua menambah kegaduhan di sini,” kata Audi.
“Aku hanya membantu, bagaimana bisa seorang wanita terhormat seperti anda di hina oleh pelayan seperti dia,” kata Louis.
“Kenapa tidak menyuruh dia saja, bahkan dia bisa membantumu?” tanya Kang Yoo.
“Hm, hal seperti ini dia tidak perlu turun tangan,” kata Audi.
“Gadis yang menarik...” kata Louis membatin.
“Gaun ini, segera bungkus untukku, dan pakaian itu juga. Aku hanya butuh ini, sisanya silahkan berikan pada mereka yang ada di sini,” kata Audi.
“Atas bantuannya tadi terima kasih, aku akan mentraktir kalian kapanpun kalian ingin,”
Nyonya Cha hanya tersenyum melihat cara menantunya itu membalas orang yang menghinanya.
Audi buru-buru keluar dari sana, dan mencari tempat sepi untuk melampiaskan kekesalannya.
“Aku menghabiskan uang tabungan yang selama ini ku kumpulkan,” kata Audi sambil mengacak rambutnya.
“Jika kedua orang itu tidak datang aku bisa menyelesaikan semuanya sendiri. Tapi... karena mereka ingin membelikanku semua itu, aku pasti tidak mengeluarkan banyak uang...”
“Argh... Uangku...” pekik Audi.
“Hhm. Gadis aneh, tidak ingin di bayarkan belanjaannya. Tapi ini jadi semakin menarik, aku belum pernah bertemu gadis seperti ini,” kata Louis yang tengah mengikuti Audi diam-diam.
Kring...
Suara telfon Audi berdering.
“Audi... Ibu menunggumu di parkiran bawah tanah,” kata Nyonya Cha dari seberang telfon.
“Iya bu... aku akan segera ke sana,” kata Audi.
“Kali ini, biarkan diri sendiri menikmati apa yang tengah ada. Benci pada orang lain, membalas apa yang mereka lakukan, dendam pada orang lain. Setidaknya, sudah cukup sebuah besi tua yang di panaskan, dan di timpa berkali-kali, mungkin ini adalah saatnya untuk besi itu menjadi sebilah pedang yang sangat tajam dan mengagumkan orang-orang yang melihatnya,” kata Audi membatin sambil melangkah ke arah mertuanya itu.
Tapi pikirannya melayang-layang karena telah menghabiskan tabungannya.
“Uangku... oh uangku...”
Louisi tertawa kecil melihat gadis itu merasa frustasi karena kehilangan uangnya.
Dendam yang tidak di balaskan, akan menjadi sebuah penyakit yang mendarah daging. Tidak apa-apa, membalas kejahatan mereka, agar mereka tidak lagi semenah-menah pada orang lain.
__ADS_1