Something Lost

Something Lost
Masa Lalu Nona Muda Kim!


__ADS_3

“Carikan aku informasi tentang tunangan Kim Dan,” kata Louis berbicara pada seseorang di telfon.


Mobil milik Kim Dan melaju di jalanan menembus kepadatan kendaraan di malam hari. Kim Dan mengantar Maona kembali.


Masih dengan tatapan dingin, Kim Dan hanya berbicara sedikit kata pada gadis itu.


“Besok datanglah bekerja,” kata Kim Dan sambil menutup kaca mobilnya.


Gadis itu merasa kesal karena sikap dingin Kim Dan padanya.


Maona bertekad untuk merebut hati pria dingin itu. Siapa yang tidak ingin hidup mewah dan tersohor. Baginya, hanyalah orang bodoh yang tidak menyukai kemewahan.


Kim Dan masih berpikir, kenapa gadis itu tidak mengeluarkan kartu kredit yang dia berikan. Bahkan tidak menelfonnya untuk meminta bantuan.


“Apa aku belum memberikannya kartu kredit padanya?”


“Sudah, tapi selama ini tidak ada transaksi apapun di kartu atas nama Nona,”


“Mengapa dia tidak mengunakannya?”


“Sepertinya Nona tidak ingin di ketahui oleh orang banyak jika dia adalah tunanganmu. Lagi pula kartu itu hanya sedikit yang miliki di negara ini, dan hanya keluarga inti perusahaan yang memilikinya, dan juga bukan sifat nona Audi jika pamer,”


“Tapi dia baru saja memamerkan uangnya padaku,”


“Jika aku lihat, dia tidak ingin kau malu karena belanjaannya di bayarkan oleh kedua orang itu,”


“Hm,”


“Louis Choi sepertinya tertarik pada tunanganmu,” kata David. "Kalian sudah lama bermusuhan, dia ingin mengambil apapun yang kau miliki,”


“Aku tidak akan membiarkan dirinya menyentuh Audi,”


“Oh iya, apa kau sudah tahu tentang hal spesial pada Audi?”


“Apa maksudmu hal spesial?”


“Sepertinya kau belum mengetahuinya. Sekilas aku pernah mendengar tentang dia bercerita pada Eldean jika dia bisa melihat masa lalu orang lain. Kasus yang membuatnya di tusuk oleh Hanna karena dia bisa melihat masa lalu Hyun Joo,”


“Batalkan rapat malam ini, dan kembali ke rumah,” kata Kim Dan.


“Rumah mana? Rumahmu atau rumah Audi?”


“Audi,” kata Kim Dan. “Gadis itu, beraninya dia menyembunyikan sesuatu seperti itu,” gerutu Kim Dan membatin.


Audi duduk sambil memikirkan Uang yang dia habiskan, sambil melihat paperbag di depannya.


Di rumah besar Kim, Nyonya Cha menceritakan tentang Audi. Beberapa pelayan menyediakan minuman serta makanan kecil.


“Setelah dia membeli semua barang di toko itu, di dalam mobil dia menangis sambil mengacak rambutnya dan mengatakan jika dia menghamburkan uang dengan sia-sia,” kata Nyonya Cha sambil tertawa.


“Dia bahkan tidak meminta bantuan dariku, atau mengatakan jika dia adalah menantu kita, dia memilih memakai uangnya sendiri daripada kartu yang di berikan Kim Dan padanya,”


“Sepertinya aku harus membelikannya pakaian,” kata Kakek Kim.


“Kakak Audi tidak suka pakaian, dia menjual pakaian yang pernah di berikan Mama padanya, dan dibelikan ratusan pakaian anak-anak. Memberinya pakaian lagi, sia-sia saja,”


“Maaf nyonya, jika saya menyela pembicaraan. Menurut saya, Nona Audi berbeda dengan gadis-gadis lain, bahkan saat di sini dia tidak segan memasak dan bergabung dengan kami,” kata pelayan itu.


Memang, Audi sifat aslinya membaur dengan orang yang menolongnya.


“Oh Iya, aku lupa. Saat di kampus tadi dia mengatakan hal hebat,”


“Benarkah? Cucu menantuku melakukan hal apa?”


“Dia mengatakan hal bijaksana, jika kesuksesan dari perusahaan bukan pada presidennya, tapi pada kemampuan karyawan dan kemampuan presdir yang strategis dalam bisnis dan mengontrol perusahaan,”


Nyonya Cha, sepertinya merasa sangat bersemangat bercerita tentang gadis itu. Bahkan tidak berhenti membanggakan gadis itu.


“Aku seharusnya ikut agar melihatnya,” kata Kakek Kim.


“Nikahkan saja mereka,” kata Ayah Kim Dan. “Semua orang tidak akan meremehkannya lagi. Jika Kim Dan sudah menikah, maka aku bisa pensiun dari jabatanku,” kata Ayah Kim.


Audi menghempaskan nafasnya dengan sangat kasar, angin malam berhembus lembut menerpa tirai penutup pintu balkon milik Audi.


Audi tidak menyadari kedatangan Kim Dan yang tengah berdiri di belakangnya.


“Ah sudahlah, memikirkannya membuatku frustasi,”


“Apa segitu frustasinya kau?” tanya Kim Dan tiba-tiba.


“Uang itu tidak sedikit, aku bisa membeli banyak makanan dan memberikannya pada orang banyak,” kata Audi.


“Em. Mengapa kau tidak mengatakan padaku tentang kemampuanmu bisa melihat masa lalu?” tanya Kim Dan dengan tiba-tiba pada Audi.


Audi melihat kim Dan yang tengah di belakangnya sambil menengadah ke atas. Wajah Kim Dan terlihat begitu tampan.


“Tenang saja, aku tidak bisa melihat masa lalumu. Hanya kau yang tidak bisa ku lihat masa lalumu saat ini. Kau sulit untuk ku lihat,”


“Apa lagi yang kau sembunyikan dariku?”


“Banyak. Masih sangat banyak,” kata Audi. “Apa kau masih ingin mengajakku menikah walaupun banyak yang ku sembunyikan dariku?”

__ADS_1


“Ya. Aku masih tetap ingin menikahimu, banyak rahasia semakin seru,” kata Kim Dan sambil mengecup lembut dahi milik Audi.


“Kau bisa mencari wanita lain yang lebih baik dariku untuk mendampingimu,”


“Tidak ada yang lebih baik darimu. Aku tidak bisa menemukan orang yang seperti dirimu. Menguasai bisnis, seorang dokter, mandiri dan peduli pada anak yatim piatu. Jika aku punya dirimu mengapa harus mencari orang lain?”


“Kita kan hanya kontrak, pasti menikah denganmu akan menekan perjanjian kontrak lagi,”


Perkataan Audi memang agak sedikit merubah suasana hati milik Kim Dan.


“Aku sudah membakar kontraknya, aku ingin memulai hubungan denganmu secara benar, tanpa kontrak,”


“Tapi aku tidak layak untukmu,” kata Audi menundukan kepalanya.


Sebuah mobil berhenti di rumah Audi, di kursi belakang turun dua orang yang usianya sekitar 45an tahun. Sepertinya mereka adalah sepasang suami istri.


“Apa ini rumahnya?”


“Iya tuan,”


Bel pintupun berdering. Aulia pergi membuka pintu itu untuk kedua orang itu.


Pakaian mewah, serta perhiasan yang mahal terlihat tengah di pakai oleh kedua orang itu.


Mata Aulia terbelalak kaget, ketika melihat orang yang datang, tentunya dia kaget karena yang datang adalah orang tuanya.


“Papa... Mama...”


“Hm. Ikut pulang sekarang,” kata Mama Aulia.


“Tidak, aku tidak ingin pulang. Aku masih ingin di sini,” kata Aulia.


Suasana ribut di bawah sana, membuat Audi turun.


“Aulia, siapa yang datang me...”


Belum selesai dia mengatakan apa yang ingin dia katakan, matanya tertuju pada orang yang datang itu.


“Kal... kalian...”


“Aa... Audi...” pekik wanita yang di panggil Mama itu. “Mengapa kau ada di sini?”


“Ini rumahku,”


“Ayo kita pulang... Sekarang...” kata Ibu Aulia menarik anak gadisnya itu.


“Aku tidak ingin pulang... Aku suka di sini dengan kak Audi...” ronta Aulia.


Suami dari wanita itu hanya diam, dia melihat Audi dengan tatapan kasih sayang.


“Mama mengenal kak Audi?”


“Mama sudah katakan dia bukan kakakmu, kamu tidak punya kakak. Dia hanya gadis yang kami pungut di depan pintu rumah,”


Audi tidak menyangka jika kalimat itu akan keluar dari mulut wanita itu. Wanita yang telah merawatnya dari kecil. Kim Dan mendengar semuanya dari balik dinding.


Aulia memandang Audi sangat lama, dia tidak menyangka jika gadis itu adalah kakak angkatnya.


“Aku akan ikut mama pulang. Tapi biarkan aku berbicara dengan kak Audi,”


“Baiklah,”


“Apa kakak sudah tahu saat aku pertama kali datang?”


“Iya,”


“Apa anak kecil dalam foto itu adalah aku?”


“Iya,”


“Mengapa tidak memberitahuku, mengapa tidak menceritakannya padaku?”


“Melihatmu sebesar, dan secantik ini. Membuatku senang,”


“Apa kakak membenciku? Apa kakak membenci kehadiranku?”


“Tidak, aku tidak bisa membenci gadis kecil sepertimu,”


Aulia menangis sejadi-jadinya. “Apa aku boleh menemuimu lagi?”


“Boleh,”


“Kau tidak akan membenciku kan?”


“Aulia ayo kita pulang,” bentak Ibu Aulia.


“Kenapa ribut sekali sih, aku tidak bisa tidur,” kata Kim Dan berbohong, mencoba untuk meredakan situasi yang tengah memanas.


“Tuan muda kim... Me... mengapa...”


“Aku tinggal di sini bersama tunanganku,”

__ADS_1


“Siapa yang adan maksud tunangan anda?”


“Nona Audi... Kalian datang mengganggu waktu istirahat kami...” kata Kim Dan.


“Maaf, kami akan segara pergi. Ayo, Aulia kita pulang.”


Wanita yang di panggil Ibu oleh Aulia itu sungguh merasa segan karena kehadiran Kim Dan.


Suasana rumah menjadi sunyi, karena mereka yang tinggal di sana sudah tidak ada lagi. Tersisa Audi dan Kim Dan yang menempati rumah itu.


Audi terdiam, dia ingin menangis namun di tahannya. Wanita yang dulunya di panggil Mama dan menyayanginya menyebutnya seperti itu.


Kim Dan memeluknya.


“Jika ingin menangis, menangis saja. Ada aku disini,”


Selama ini dia telah bersikap baik, bahkan entah kesalahan apa yang di buatnya hingga dirinya di terantarkan.


Di dalam pelukan Kim Dan yang memiliki sifat dingin, nyatanya lebih hangat dari yang di perkiraan.


Audi berucap lirih. “Mereka selama ini ada di sini...”


Di dalam kamar yang sederhana itu, Audi meringkuk di sofa sambil memgang segelas minuman panas yang di buatkan oleh Kim Dan.


Perasaan di terlantarkan bertahun-tahun lalu, masih sangat menyakitkan, berkerja untuk mempertahankan hidup, namun masih di hina dan di caci maki. Hidup Audi begitu tragis.


“Gadis ini kenapa tidak menceritakan kisah hidupnya padaku,” batin Kim Dan masih melihat Audi dari ranjang.


“Aku duduk di bangku SMP kelas 2, saat itu aku terlibat pada sebuah kasus karena melindungi seseorang yang aku sukai. Sebulan setelah itu, mereka mengajakku ke taman bermain dan aku tidak menemukan mereka lagi, mereka hanya menulis surat, ayah memberiku sedikit uang untuk bertahan hidup selama beberapa bulan,”


“Gadil kecil itu terlalu mengemaskan untuk di benci olehku,” kata Audi sambil tersenyum.


“Aku punya rumah yang di tinggalkan oleh mereka. Sepulang sekolah aku mencari pekerjaan, pekerjaan apapun itu asal yang bisa menghasilkan uang untukku,”


“Melewati masa-masa itu sungguh sulit untukku saat itu di usia yang masih belia. Aku hampir menjadi perdagangan penjualan manusia, di tuduh mencuri, di hina habis-habisan oleh mereka. Bahkan tidak memiliki teman untuk ku ajak bercerita,”


“Aku tidak pernah habis membagi waktu sekolah, belajar dan bekerja. Mereka yang se usiaku dulu menghabiskan waktu mereka dengan bermain dan liburan, tapi berbeda denganku. Tidak bekerja, aku tidak bisa makan,”


“Hansen Anggara...”


Kim Dan agak terkejut mendengar nama pria itu di sebut.


“Dia orang pertama yang mengulurkan tangannya untukku, saat aku di hina oleh banyak orang dan menjadi teman pertamaku. Aku bergantung padanya, semua ku lakukan bersamanya, kehadirannya saat itu membuat duniaku penuh kekelahan sedikit berwarna,”


“Pria itu menjadi sandaran hidupku untuk bertahan hidup,”


“Saat itu kami saling mencintai, dan berjanji menikah. Namun karena statusku, keluarganya memberikan syarat, jika aku bisa membantu mereka masuk ke dalam perusahaan besar, mereka tidak akan menentang lagi hubunganku dengan Hansen,”


“Walaupun usiaku 17 tahun saat itu, aku sudah masuk ke dalam perusahaan dan membantu keluarganya. Karena ketertarikanku ke dalam dunia bisnis, aku bisa mengerti sedikit demi sedikit tentang ekonomi. Meningkatkan penjualan, dan menaikan saham adalah kemenanganku yang pertama,”


“Dan di usiaku 20thn, aku duduk di kursi direktur sedangkan dia menjadi presiden termuda yang ku topang dari belakang. Dan dalam waktu satu tahun aku membuat perusahaan milik mereka menempati urut pertama di Indonesia sebagai perusahaan muda dan sukses,”


Audi masih menundukkan kepalanya, dia bercerita tentang kehidupan masa kecilnya.


Kim Dan lagi-lagi terenyuh dengan kisah gadis itu. Dia selalu hidup dengan kemewahan, sedangkan wanita di hadapannya berjuang untuk hidup dengan tubuh kecilnya itu.


David di luar kamar mendengar semuanya, dia hanya bisa dengan tenang tetap mendengar kisah gadis itu.


Kini dia mengerti, semua sikap yang Audi perlihatkan oleh mereka, bukan di buat-buat, namun karena sejak awal seperti itu.


“Bukankah kau punya hak untuk mengambil kembali apa yang seharusnya milikmu?” tanya Kim Dan seakan ingin menyemangati, namun secara bersamaan ingin gadis itu balas dendam.


“Ada gadis itu yang membantu mereka,”


“Sahabat yang mengkhianatimu?”


“Iya, aku yang menjadikannya sebagai sekertaris Hansen saat itu, karena aku percaya padanya,”


“Dan dia yang merebut semua usahamu dengan instan termasuk pria yang kau sukai,”


Audi terkekeh sejenak, sambil melihat ke arah Kim Dan.


“Ya, karena itu aku benci menjalin hubungan dan berteman dengan mereka yang bisa mengkhianatiku,”


“Menikah denganku, dan aku akan membantumu mengambil alih perusahaan itu,”


Audi menghempaskan dengan kasar nafas miliknya itu. Sambil berpikir tentang perkataan Kim Dan.


Lagi-lagi pria itu berbicara tentang pernikahan dengannya. Andai dia bisa melihat masa lalu di dalam ingatan Kim Dan, mungkin dia bisa mengetahui apa yang sebenarnya trik yang tengah di mainkan oleh pria itu.


Sikap hati-hati yang di berikan setiap saat adalah pertahanannya untuk tidak mempercayai pria itu.


Mereka berdua selalu bertengkar, terkadang berbaikkan seperti sekarang, terkadang pula seperti anak kecil. Namun di dalam hati milik Audi merasa hangat bersama dengan pria itu, begitupun dengan Kim Dan. Mengetahui kisah gadis itu membuat tekadnya begitu kuat untuk melindungi gadis yang tengah mewarnai hatinya.


“Kita bicarakan hal ini nanti,” kata Audi sambil beranjak dari tempat duduknya dan keluar ke balkon kamarnya.


Tubuh mungil milik Audi terlihat jelas di mata Kim Dan, padahal baru saja gadis itu menceritakan tentang masa lalunya, namun gadis itu kembali dingin lagi padanya.


Ada pembatas yang tengah membatasi pria itu agar lebih dekat dan mendapatkan kepercayaan penuh seorang Audi.


Kim Dan melangkah ke arah Audi dan memelu gadis kecil itu masuk ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Biarkan seperti ini," kata Kim Dan sambil mendekap Audi dari belakang. "Biarkan aku yang melindungimu, dan berada di sisimu," ucap Kim Dan dengan penuh perasaan.


__ADS_2