
Karena kekenyangan Audi tidur dengan begitu pulas. Dia tidak makan dengan tenang karena kedatangan beberpaa pria yang membuat nafsu makannya menurun. Ketika dia melihat masakan yang lezat dia begitu lahapnya menyambar setiap makanan yang ingin di makannya.
Ada ingatan yang samar-samar melintas di mimpinya. Respon perasaannya tidak nampak bagus, membuatnya mengigil ketakutan. Hm. Sepertinya dia bermimpi tentang sesuatu yang telah belalu.
Ingatan manis, bercampur dengan kenyataan pahit, seakan menjadi dua hal yang saling bertubrukan satu sama lain di pikiran Audi, hingga terbawa hingga mimpi. Mungkin tanpa bantuan dari orang yang berada di dekatnya saat ini, mungkin trauma bisa memecah ke pribadiannya, atau menghilangkan nyawannya sendiri.
Kenangan manis di masa lalu, pasti sangat membekas di memori Audi, kehadiran Hansen di tengah dirinya di hina habis-habisan, baginya Pria itu adalah malaikat penolongnya.
Menjalin cinta, berjanji, akhirnya berujung sia-sia.
Kim Dan duduk di sebelah ranjang milik Audi, sambil mengompres dahi Audi, gadis itu tengah demam, entah karena kekenyangan, atau karena dia tengah bermimpi buruk.
Audi berjanji, tidak ada rahasia lagi antara dirinya dengan Kim Dan, tapi masih ada begitu banyak rahasia yang masih dia sembunyikan pada pria itu. Bukan karena dia tidak percaya pada Kim Dan, namun hatinya belum begitu serius untuk menjalin hubungan yang lebih serius, menikah misalnya.
Hatinya belum sepenuhnya yakin untuk menikah, mungkin kali ini adalah hal yang harus di lawan olehnya. Rasa takut, pernikahan akan gagal.
"Au...di..." panggil Leon sambil membuka pintu kamar milik Audi.
Kim Dan yang tengah tertidur sambil duduk, serta handuk basah yang membantu Audi untuk menurunkan demamnya.
Kim Dan terbangun karena kedatangan Leon, namun Audi masih tertidur dengan lelapnya.
"Minggu depan aku akan keluar negeri, aku ingin mengajaknya," kata Kim Dan.
"Gadis itu... akan pergi ke Prancis juga. Sebaiknya dia ikut denganku saja," kata Leon.
"Kau lagi tidak..."
"Aku tidak menyukainya, benar-benar tidak menyukainya. Aku melihatnya sebagai Almarhum Adikku saja. Lagi pula dia akan menjadi adik angkatku," kata Leon berdebat dengan Kim Dan.
"Ya... ya.. ya... kau akan menjadi kakak iparku," kata Kim Dan seketika melihat senyuman iblis Leon. "Mengapa kau tersenyum seperti itu?"
"Ahaha... kau harus mendapatkan restuku untuk menikah dengannya," kata Leon.
.
.
Sarapan pagi terhidang di meja, Audi pun tidak menyadari jika dia demam semalam. Sarapan pagi yang mewah, karena dia tinggal berdua dengan Kim Dan, terkadang mereka hanya sarapan roti, tapi sarapan di rumah memang paling menyenangkan menurut Audi.
"Audi..." panggil Ayah Leon. "Kami ingin mengadopsimu sebagai adik Leon, apa kamu setuju?" tanya Ayah Leon.
__ADS_1
"Benar, aku ingin kau jadi putriku," kata Ibu Leon.
Audi menghentikan makannya, suara yang begitu tulus dan terdengar hangat. Audi melihat tidak ada rasa benci di dalam keluarga itu padanya, yang ada hanyalah sebuah kehangatan keluarga yang tulus.
Kemampuan Audi, sungguh dia sangat bersyukur memilikinya karena dia bisa mengetahui sifat orang lain dari masa lalu yang di lihatnya.
Tanpa sadar, air matanya seketika mengalir di pipi lembutnya itu.
"Eee... Kenapa..."
"Tidak... Aku... aku hanya bahagia..." kata Audi sambil menghapus air matanya.
Andai dia lebih dulu bertemu dengan keluarga sehangat ini, menerimanya masuk ke dalam keluarga yang penuh dengan cinta, andai saja... dan andai saja...
Audi masih memikirkan hal itu, dia begitu bahagia, sebelumnya tidak pernah ada sebuah keluarga yang mau menerimanya, namun kali ini keluarga yang ada di hadapannya dengan begitu hangatnya menginginkan Audi untuk menjadi bagian dari keluarganya.
Air mata masih saja mengalir, sudah sejak lama dia tidak memiliki keluarga. Ya, sudah lama sekali. Air mata yang mengalir adalah air mata kebahagiaan.
Sesuatu yang hilang itu... Kini di ganti melebihi dari yang hilang itu.
"Jadi mulai sekarang kau adalah putri kami..." kata Ibu Leon.
"Kau adalah adikku..." kata Leon pada Audi. "Dan... aku adalah kakak iparmu..." kata Leon sambil memegang bahu Kim Dan, dan meremas menggunakan sedikit tenangannya.
"Mulai sekarang kau pakai marga keluarga kami, namamu menjadi Auditya Park," kata Ayah Leon.
"Paman..."
"Bukan paman Audi... Ayah," kata Leon menegaskan jika dia harus memanggil Ayah.
"Em. A... aa... ayah..." Audi berucap dengan terbata-bata, agak kaku, dan belum terbiasa.
"JIka belum terbiasa, lebih baik jangan dulu menyuruhnya memanggil seperti itu..." kata Ibu Leon, yang kini menjadi Ibu Angkatnya.
"Begini... bisakah aku masih memakai namaku yang sekarang?"
"Apa kau tidak...
"Bukan... Ada sesuatu yang harus aku lakukan..."
"Sebulan lagi, akan ada acara perusahaan untuk mengumumkan Presdir Perusahaan, bagaimana jika kita..."
__ADS_1
"Iya, aku tidak masalah, bulan depan sepertinya cukup untuk menyelesaikan sesuatu yang ingin aku kerjakan," kata Audi.
Apakah benar-benar dia tidak bisa hidup tenang seperti dulu, kini dia malah semakin masuk ke dalam keluarga-keluarga chaebol yang berpengaruh. Apa benar, dia tidak bisa lari dari kenyataan hidup yang ada saat ini?
Kini, Joona tidak ada lagi untuk menemaninya, gadis itu kembali mengejar impiannya untuk menuju puncak karirnya yang telah tertunda.
Keluarga anggara yang akan menjadi besan keluarga Kim, sungguh takdir begitu lucu, akan mempertemukan Audi pada keluarga yang membuatnya mengalami penderitaan.
Pengumuman resmi hubungan Julian dan Tiandra tinggal dua minggu lagi. Akan ada sorotan dunia kepada keluarga Kim, pastinya akan membuatnya menjadi soroton lagi.
Audi berjalan-jalan di halaman belakang yang penuh dengan bunga-bunga yang tengah bermekaran. Ada kolam ikan di sana.
"Audi... rindu...." sebuah suara dari seberang terdengar, suara Joona.
"Bagaimana syutingmu?" tanya Audi.
"Hm. Lumayan melelahkan, hari ini sampai dua hari kedepan aku akan libur. Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu," kata Joona.
"Aku ada ikut kegiatan amal, di panti asuhan,"
"Panti asuhan? Aku ikut. Aku ikut..." kata Joona begitu semangat mendengar kata panti asuhan.
"Aku rencana akan menginap dan berkemah di hutan dekat panti ,"
"Tidak masalah, aku akan tetap ikut... kesempatan seperti ini tidak pernah ada sebelumnya," kata Joona.
Joona memang selama dengan Audi hanya menjadi penjaga kasir, karena takut akan di kenali oleh penggemarnya.
Menghaiskan waktu berdua dengan Audi adalah hal yang sering terjadi, menonton tv, bermain game, dan curhat. Hanya aktifitas seperti itu selama Joona bersama dengan Audi.
"Kau... apa pergi menjeguknya?" tanya Audi.
"Aku hanya melihatnya dari jauh..."
"Tapi..."
"Itu sudah cukup kok..."
"Joona, sepertinya aku tidak bisa bersembunyi lagi..." kata Audi dengan nada pelan. "Tapi, yang aku takutkan, aku tidak bisa menjaga orang-orang yang sekelilingku saat ini," kata Audi lagi.
Joona mengerti bagaimana sifat seorang Audi. Gadis yang menyelamatkannya itu, di dalam hati gadis itu begitu merakyat, lebih mementingkan orang lain daripada dirinya, tidak merendah, dan tidak juga pamer.
__ADS_1
Mungkin, sifat yang seperti itu menarik perhatian laki-laki yang kini berada di sekitar Audi.
Laki-laki pun tahu, mana gadis yang baik, dan mana gadis yang tidak baik. Mana gadis yang cocok untuk di jadikan istri, dan mana gadis yang hanya di jadikan pemuas nafsu belaka.