
Sebuah memori di masa lalu, tentang bagaimana kehidupannya membuatnya membatasi diri, apalagi ketika dia mengetahui tentang masa lalu orang lain. Terlihat sangat mengerikan, apalagi jika di dalamnya terdapat pembicaraan mereka mengenai hal buruk tentang dirinya.
Makan bersama dengan teman-teman seperti kebanyakan orang lakukan adalah hal paling menyenangkan dan ini adalah kali pertamanya, makan bersama dengan teman di halaman tempatnya menuntut ilmu.
“Mungkin, aku harus berani menerima orang lain,” kata Audi membantin.
Mungkin kenangan yang ingin dia hilangkan adalah kenangan saat itu. Entah apa salah dirinya, selalu di perlakukan tidak adil, bullyan selalu di terima olehnya. Hanya karena dia tidak memiliki orang tua, dan karena dia seorang anak angkat yang di temukan di depan pintu. Tapi, siapa yang menginginkan lahir seperti itu?
“Aku harus mengurus cuti,” kata Audi.
“Em, sudah kok. Ini,” kata Evye sambil menyerahkan sebuah dokumen yang terbungkus dalam map berwarna cokelat.
“Eee... kapan kau...”
“Tuan Kim Dan menyuruhku mengambilnya,” kata Evye.
“Dasar pria menyebalkan, bahkan aku tidak melihatnya beberapa hari ini,” kata Audi membatin.
“Jojo...”
Mata Audi tertuju pada seorang pria yang menuju ke arahnya.
“Siapa Jojo?” tanya Evye.
“Dia, Hyun Joo. Terlalu panjang aku memanggilnya. Jadi lebih baik memangilnya Jojo saja,” kata Audi.
Hyun Joo hanya merasa malu, mendapatkan nama panggilan dari Audi.
“Aku sudah mengumpulkan semua tentangnya, menanyakan langsung kepada orang tuanya. Aku ingin segera mengungkapkan hal ini, agar aku tidak bingung lagi,” kata Hyun Joo pada Audi.
.
.
Sebuah makan malam, di rancang oleh Audi untuk Hyun Joo dan dr. Hanna.
“Hanna, kita berdua telah bersahabat sejak lama, kau begitu banyak membantuku. Banyak hal yang telah terlewati sejak kita berteman. Banyak orang yang mengagumi kecantikanmu, kepintaranmu sejak dulu. Termasuk diriku,” kata Hyun Joo dengan nada pelan.
“Apa yang ingin dia katakan? Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya,”
“Hanna, aku ingin mengatakan sesuatu padamu,” kata Hyun Joo terbata-bata.
Hanna terdiam sejenak, wajahnya begitu gugup dan memerah.
“Apakah dia akan menyatakan cinta padaku, makanya dia mengajakku makan malam? Ba...bagaimana ini, aku sangat gugup,” Hanna membatin.
“Ak..aku... Sebenarnya...” Hyun Joo tergagap ingin mengucapkan sesuatu pada Hanna.
“Ayo cepat katakan, jika kau menyukaiku. Sudah lama, aku menantikan moment ini,”
“Sebenarnya... aku... aku... Aku menyukai... Audi,”
Hanna terkejut ketika mendengar apa yang baru saja pria di hadapannya itu katakan.
“Bantu aku untuk lebih dekat dengannya. Kau kan sahabatku, bisakah?”
Hanna mengenggam erat garpu dan pisau yang tengah di pakainya itu. Perasaan benci, dan kesal tergambar jelas dari raut wajahnya.
__ADS_1
“Menyebalkan. Aku sudah mengira dia akan menyatakan cinta padaku, ternyata dia menyukai gadis ****** itu,” lagi-lagi Hanna membatin.
“Dia tunangan kakakmu,”
“Mereka hanya berpura-pura, jadi bantu aku,” pinta Hyun Joo memohon.
“Aku tidak akan membiarkanmu dekat dengan pria yang ku sukai, aku akan mengajarimu jadi gadis yang baik,” kata gadis itu membatin.
“Hanna... bagaimana? Kau mau membantuku?” tanya Hyun Joo lagi.
Tiba-tiba Hyun Joo teringat tentang kejadian beberapa hari lalu saat dia tengah bersama dengan Audi.
“Jika menangkap ikan yang besar, kita harus tenang dan penuh perhitungan. Dr. Hanna bukan orang mudah di hadapi,” kata Audi menyerup minumannya. “Bisa-bisa aku menjadi target kecemburuannya,” kata Audi membuatnya tiba-tiba mendapatkan sebuah ide.
“Itu dia. Aku akan menjadi umpannya,” kata Audi membuat orang-orang yang berada di sampingnya terkejut.
“Maksudmu?”
Audi tersenyum dengan sinis, seakan dia begitu mendapatkan ide yang sangat cemerlang. Pastinya membuat mereka saling berpandangan, apa ide yang ada di dalam pikiran gadis itu.
“Kau yakin ide ini akan berhasil?” Tanya Hyun Joo pada Audi sambil berbisik.
“Aku jamin,” kata Audi sambil mengirim sebuah pesan, mengajak Hanna untuk makan malam bersama.
“Aku percaya padamu,” kata Hyun Joo membatin.
“Iya, aku akan membantumu,” kata Hanna dengan terpaksa sambil mengukir senyum kekesalan.
“Terima kasih, kau memang sahabatku paling baik di dunia ini,” kata Hyun Joo mencoba untuk menyanjung Hanna yang tengah kesal. “Tapi Hanna, aku tidak bisa membelamu, jika kau melakukan hal yang tidak benar,” kata Hyun Joo lagi dengan nada dan tatapan dingin kepada Hanna. “Karena kau adalah temanku, aku tidak bisa melihatmu salah arah,” kata Hyun Joo sambil tersenyum
“Ahahah... Tidak mungkin aku salah arah dan membunuh orang,” kata Hanna seketika kecoplosan.
Hanna berkeringat dingin, apalagi dia menyadari jika keceplosan.
Saat itu, Hyun Joo duduk di bangku SMP, tidak punya teman untuk di ajak berbicara karena dia baru saja pindah ke sekolah itu. Lee Hanna yang pertama menjadi temannya. Bagi seorang Hyun Joo, Hanna tidak lebih dari seorang teman dan adik baginya.
Hyun joo menatap sahabatnya itu, seakan masih belum percaya dengan cerita yang Audi katakan padanya tentang gadis yang pernah dekat dengannya. Siapa yang mengira, jika gadis di hadapannya itu membunuh semua gadis yang berdekatan dengannya.
Lima tahun yang lalu...
Saat itu, musim dingin mulai tiba. Mahasiswa begitu sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Termasuk Hanna dan seorang gadis.
“Hyun Joo ingin mengajakku bertemu dengan orang tuanya, untuk membicarakan pertunangan kami. Kau, harus menemaniku memilih gaun, oke,” kata gadis itu sambil tersenyum bahagia.
“Kau sangat menyukainya?” tanya Hanna pada gadis itu.
“Tentunya. Setelah menikah nanti, kami akan tinggal di desa. Dia sudah janji padaku,”
“Bagaimana bisa Hyun Joo terpikat pada gadis seperti dia. Sedangkan aku sudah lama bersama dengan Hyun Joo, dia menganggapku sebagai adiknya. Ba... ba... bagaimana gadis ini...”
“Hanna... apa yang kau pikirkan? Kau sakit?”
“Tidak,”
Hanna mengepal erat tangannya, karena tidak menyukai gadis itu. Alice—nama gadis itu.
Seminggu telah berlalu...
__ADS_1
Di kamar Apartement, Alice sedang duduk sambil merias. Gadis itu tersenyum, dia ingat kejadian dua tahun lalu dimana dia mendorong gadis yang berwajah sama dengannya di sebuah sungai. Saat itu mereka berdebat hebat. Entah siapa yang Alice sebenarnya. Kedua gadis itu, identik satu sama lain.
“Maaf kak Alice, mengambil namamu dan identitasmu, aku mencintai Hyun Joo sedangkan kakak mencintai Kim Dan tidak lain hanya untuk hartanya,” gumam Alice sambil melihat cincin yang melingkar di tangannya. Nama aslinya adalah Eldian.
Seseorang dari luar memencet sandi pintu Apartement itu.
Alice pergi memeriksa siapa yang datang. Hanna, dia melihat Hanna membawa sebuah koper.
“Hanna... Apa ada kasus?”
Hanna hanya diam, mengikuti Alice dari belakang.
Buk!
Hanna memukul bagian belakang leher Alice agar pingsan. Kemudian menyuntikkan sesuatu tepat di kulit kepala gadis yang tidak sadarkan diri itu.
Samar-samar Alice membuka mata, terlihat Hanna yang tengah berjongkok di sampingnya.
“Sudah sadar Nona Eldian?”
Sontak saja, gadis yang di panggil Eldian itu terkejut.
“Ba... ba... bagaimana...”
“Haruskah aku mengatakan bagaimana aku mengetahuinya?”
Hanna duduk santai di sofa, sedangkan Alice tengah terbaring karena badannya begitu lemas.
“Tidak perlu banyak bergerak, aku sudah menyuntikmu dengan obat pelumpuh,”
“Ka... kau...”
“Aku tidak suka gadis sepertimu, kau tidak cocok dengan Hyun Joo. Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa dia menyukaimu. Sedangkan, aku yang sejak dulu menyukainya tidak pernah di lirik sebagai seorang perempuan di matanya. Dan, kau bukan Alice. Gadis yatim piatu, beraninya kau merebutnya dariku,”
Hanna mendekat ke arah gadis itu. Sambil memegang sebuah pisau.
“Karena hari ini, hari pemeliharaan CCtv, jadi aku bisa membunuhmu seperti gadis-gadis itu sebelumnya,”
Sayatan demi sayatan Hanna buat di lengan gadis itu, di iringi dengan suara ringisan kesakitan. Tampa rasa kasihan, Hanna menyayat-nyayat lengan gadis itu.
“Tenang saja, karena aku yang akan mengotopsimu. Jadi, aku bisa merekayasa hasilnya,”
Hanna duduk sambil mengamati gadis itu, mengamati masa-masa terakhir kehidupan gadis itu.
Darah mengalir di lantai, nafas Alice mulai lemah seiring berjalannya waktu hingga detak jantung berhenti. Rasa puas terlihat di wajah Hanna.
Di waktu yang bersamaan, saudara kembar Alice mengalami penurunan detak jantungnya, diapun meninggal selang beberapa menit setelah saudara kembarnya meninggal.
Hanna keluar dari kamar Alice setelah menghapus segala kemungkinan dia akan jadi tersangka pembunuhan itu.
Hyun joo yang tengah menunggu bersama dengan keluarganya sejak tadi merasa gelisah, gadis yang di sukainya itu belum juga datang. Hingga diapun menyusul, namun hal mengerikan yang dia lihat.
Lengan yang berlumuran darah, wajah pucat gadis yang tengah rebahan di lantai.
Seketika kakinya gemetar melihat itu. Dia tidak bisa berkata-kata sejenak, langkahnya sempoyongan sambil menopang di dinding melangkah ke arah gadis yang tengah terkapar.
Suara erangan kehilanganpun menggema di ruangan itu.
__ADS_1
Sekitar 5 menit, polisi datang ke TKP, bagian forensikpun datang 10 menit setelah polisi mengamankan TKP, pastinya Hanna ikut mengambil bagian sebagai dokter forensik.
Audi menceritakan kisah itu pada Hyun Joo. Kisah yang agak rumit. Pertama kali bagi Audi untuk memakai kemampuannya memecahkan kasus orang lain.