Something Lost

Something Lost
Sesuatu yang Hilang


__ADS_3

Audi masih ingat tatapan mata itu, wajah itu,


"Kakak mengenalnya?"


"Ya, sangat mengenalnya, gadis ******* yang di sukai oleh Hansen,"


Audi mengepal erat tangannya, perasaan yang bercampur aduk kini berada di dalam hatinya. Beberapa kali dia mencoba untuk meredakan emosinya sendiri, tapi sepertinya semakin bertambah.


"Hei... Hansen masih mencarimu sampai sekarang, ternyata kau bersembunyi di sini... AKu tidak habis pikir, bagaimana bisa Hansen masih mencarimu setelah kau mengkhianatinya" kata pria itu. "Gadis p*lacur tetaplah p*lacur..." kata pria itu dengan nada keras.


Begitu banyak orang yang mendengarnya, membuat mereka penasaran dengan apa yang tengah terjadi. Termasuk keluarga Kim, Louis, Leon, Joona, dan juga Jessica serta Kang Yoo.


Kim Dan ingin menghampiri, tapi di tahan oleh Hyun Joo dan juga Louis. "Jangan dulu...."


"Kau itu wanita *******... Aku harus memberitahu pada Hansen jika kau bersembunyi di sini..." kata Faisal sambil mengeluarkan Ponselnya.


"Hah! Ternyata kau tidak berubah sama sekali... Masih saja *******..." kata wanita yang bernama Laras.


"Faisal..." panggil Audi dengan pelan sambil menatap wajah pria yang di panggilnya Faisal itu. Ponsel milik Faisal di tepisnya, hingga terjatuh.


Audi langsung menginjak-injak ponsel itu.


"Kau gila... kau pikir uangmu cukup untuk membeli ponsel ini?" tanya Faisal dengan begitu geram pada Audi.


"Audi... beraninya kau..." Audi melihat ke arah Laras dengan tatapan tidak suka.


"Hanya ponsel dan kalian marah padaku?" tanya Audi.


Tatapan mata yang begitu dingin, seakan Audi benar-benar tidak bisa menahan emosinya. Audi beranjak dari tempat duduknya.


"Kalian marah hanya untuk sebuah Ponsel... Kalian berdua pikir bagaimana perasaanku saat kalian memperlakukanku seperti dulu?" tanya Audi.


"Mengatakan aku seorang *******... menyiramku dengan air kotor... mengurungku di toilet..." Audi melangkah ke arah Laras pelan-pelan. "Aku tidak ingin ribut dengan kalian..." kata Audi sambil pergi meninggalkan Faisal dan asiknya.


Audi memendam perasaan, yang sulit untuk di jelaskan, kehadiran dua orang itu seakan ingin membuat luka lamanya tergores kembali. Namun dia harus menahan emosinya, disana begitu banyak orang.

__ADS_1


Nyonya Kim menatap Audi dari kejauhan, matanya seakan ada sesuatu yang sulit untuk di jelaskan.


"Siapa gadis itu, kurang aja seperti itu," kata Kakek Faisal mengumpat, pria tua itu bernama Dowongso


"Dia Cucu menantuku..." kata Kakek Kim melihat ke arah Dowongso.


"Ah... Aku tidak tahu dia cucu menantumu..." kata Dowongso, dia melihat ke arah gadis itu seakan wajah Audi tidak asing baginya.


Laras datang ingin mengadu. "Kakek, gadis ******* itu..."


Nyonya Kim menatap Laras dengan tatapan tidak suka. "Diakah gadis itu?" gumam Nyonya Kim.


"Audi.. " panggil Nyonya Kim dengan lembut.


Laras tersentak, Nyonya besar dari keluarga Kim memanggil gadis yang di panggilnya ******* itu dengan panggilan lembut.


Mata Audi tertuju pada Dowongso, pria itu kini benar-benar ingat dengan gadis yang baru saja datang itu.


Pria itu menjadi gugup, tidak beraturan. "Bagaimana dia bisa menjadi menantu di keluarga ini..." gumam Dowongso membatin.


"Nona Laras, anda menyebut menantuku *******?" tanya Nyonya Kim.


Audi melihat mata Nyonya Kim, tatapan lembut, seakan tidak ada pertanyaan untuk Audi. Di dalam pikiran Nyonya Kim,


Kegiatan amal kini menjadi kacau seketika, hingga keluarga Dowongso pamit. Nyonya Kim menatap Audi. "Diakah gadis itu? Jika dia gadis itu, bukankah seharusnya hidupnya bahagia?" gumam Nyonya Kim membatin.


Dia melihat Audi yang tengah bersama dengan putra-putranya itu, dia mengepalkan tangannya. "Apakah mereka sejak awal di takdirkan bersama?" gumam Nyonya Kim.


Wanita paruh baya itu menatap Audi, air mata Nyonya Kim menetes. Audi yang merasa jika ada seseorang yang tengah mengamatinya, membuatnya melirik ke arah belakang, namun di belakangnya tidak ada siapapun.


Anak-anak tengah berkumpul mengelilinginya, mereka mengajak Audi untuk bermain dengan mereka, namun Audi menolak. Matanya melihat ke arah bayi yang tengah di gendong oleh suster.


Perasaan yang hangat, ketika melihat sosok bayi mungil. Dulu... yang menguatkannya adalah sosok kehidupan yang berada di dalam perutnya, Walaupun saat itu dia di lemparkan begitu banyak kesalahan, cacian, hinaan, dan orang-orang yang tidak menyukainya. Tapi dia berusaha bertahan.


Ya, bertahan, walaupun pria pada malam itu tidak di ketahui olehnya, dia benar-benar bertahan. Tapi, gadis yang di anggapnya sebagai sahabatnya itu sama sekali tidak memberikan dia kesempatan untuk hidup tenang sampai dia benar-benar menderita.

__ADS_1


Berkali-kali berusaha untuk bunuh diri, karena tidak sanggup dengan beban yang dia derita. Tanpa mereka yang peduli padanya.


Saat itu, dia berpikir jika Tuhan sangat tidak adil pada dirinya, dia harus kehilangan mereka yang sangat berarti baginya,


Sesuatu yang hilang itu, adalah mereka yang sangat berarti di dalam kehidupannya. Ayah, Ibu, adiknya, awalnya meninggalkan dirinya. Hingga dia bergantung pada sosok Hansen Anggara, kemudian mencoba berteman dengan gadis itu. Namun, pria yang selama ini bertahan dengannya, akhirnya tidak mempercayainya, dan tidak menerimanya. Sahabatnya yang paling dia percayainya, mengkhianatinya. Semuanya benar-benar hilang. Terus apa gunanya dia hidup? Dorongan dari penderitaan membuatnya ingin bunuh diri, namun dia selalu selamat.


Entah Tuhan punya cerita, atau Tuhan punya skenario tentang hidupnya. Tahun ini, begitu banyak hal yang berasal dari masa lalunya kembali hadir, tapi hatinya belum cukup untuk bertahan.


Kim Dan, dia ingin sekali lagi bergantung pada seseorang. Tapi, dia tidak berani. Mengingat masalalu, dan mengingat dirinya tidak bisa membaca apa yang pria itu pikirkankan, apakah dia benar-benar bisa mengandalkan pria itu. Bolehkah? Bisakah? Apakah pria itu akan menerimanya, dengan segalanya ketika pria itu mengetahui mengapa dia di tinggalkan oleh orang tuanya.


Nyonya Kim, masih saja memperhatikan Audi. Seketika dia teringat dengan kejadian yang begitu lama keluarganya kubur dalam-dalam. Wanita paruh baya itu menghela nafasnya.


Joona menghampiri Audi.


"Kau baik-baik saja?" tanya Joona pada Audi.


"Huh!" Audi menghela nafas kasar. "Aku ingin mencari lubang untuk bersembunyi..." kata Audi pada gadis di sampingnya itu.


"Sampai kapan kau harus menahan emosimu? Jika marah, kau marah saja," kata Joona. "Jangan pikirkan apapun yang orang lain katakan, tentang mengapa kau marah, karena mereka tidak mengenalmu lebih dekat, jadi kau tidak perlu memperdulikan mereka," kata Joona.


Audi bersandar di bahu milik Joona.


"Joo... Pria yang menghancurkan pernikahanku dulu adalah Kim Dan," kata Audi dengan suara melemah. "Pria yang di pakai mereka untuk menjebakku adalah Kim Dan. Apa aku harus mempercayainya?" suara Audi begitu penuh dengan keputusasaan.


Jessica yang sejak tadi tengah menguping, begitu terkejut. Jessica tidak menyangka, jika Kim Dan pernah menghancurkan pernikahan orang lain.


"Kini aku memikirkan begitu banyak hal yang aneh-aneh, apakah alasan dia bertunangan denganku karena dia takut jika aku akan membuatnya dalam masalah,"


"Apalagi tentang keluarga Dowongso yang ternyata memiliki hubungan baik dengan keluarganya,"


Joona mengerutkan keningnya, gadis yang tengah di sampingnya itu kini penuh dengan begitu banyak kecurigaan dengan orang-orang di sekitarnya.


Kecurigaan yang mendasar, tentang Kim Dan, beberapa isu yang jika pria itu begitu benci dengan gadis, bahkan ada seorang gadis yang pernah membuatnya mabuk, dan merencakan hal yang tidak di inginkan. Nasib gadis itu berada di rumah sakit jiwa.


"Kim Dan... Apa aku benar-benar bisa mempercayaimu?" gumam Audi di dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2