
“Kini aku mengetahui alasannya...” kata Audi membantin sambil melihat seseorang di seberang jalan.
“Alasannya adalah...”
“Untuk menemukanmu...”
Deg!
Deg!
Deg!
Audi terus melihat pria itu, mengikuti setiap langkah.
“Apa aku aku ucapkan terima kasih padanya sekarang?”
Audi berpikir sejenak.
“Tapi, bagaimana cara mengatakannya. Bagaimana jika aku tidak di kenalnya?”
“Hhmm. Sudahlah, setidaknya aku tahu siapa yang menolongku,” kata Audi sambil terus melihat pria itu! “Akan aku pikirkan cara mengucapkan terima kasih padanya,” kata Audi sambil pergi.
-----------------------------------------------------
Seorang gadis tengah menarik kopernya. Dia berdiri di sebuah bangunan tua di depannya. Bangunan itu memiliki tingkat.
Rambutnya terikat, pakaiannya tampak mahal, sepertinya dia melarikan diri dari rumahnya.
“Aku pesan ini, ini, dan ini,” kata gadis itu menunjuk beberapa menu.
Tiba-tiba matanya terbelalak melihat sebuah selembaran yang terpampang di dinding.
“Sewa Kamar...”
“Apa kamar yang di sewa kan di sini?” tanya Gadis itu.
“Iya benar,”
“Aku ingin menyewa di sini,” kata gadis itu. “Berapa sewanya? Akan aku bayar sekarang,” kata gadis itu.
“Baiklah. Silahkan isi formulir ini,” kata wanita yang melayani gadis itu dia adalah pemilik restoran yang menyewa gedung milik Audi–Kim Bok Joon.
“Eee... Ini! Apa pemilik gedung ini...”
“Pemilik gedung ini bukan saya. Tapi Auditya Crala Xiaoli,” kata Bok joon.
“Uwa. Aku tinggal di gedung milik senior terpopuler di kampus,” kata gadis itu dengan gembira.
“Siapa namamu?” tanya Bok Joon.
“Aulia Clara Xiaoli,” jawab gadis itu.
“Eeee.... Kok...”
“Namaku dengan Senior Audi mirip kan? Karena itu aku beruntung bisa menyewa kamar di sini,” kata Gadis yang menyebut namanya sebagai Aulia. “Apa dia kakakku ya?”
“Lupakan, dia tidak punya adik. Orang tua saja tidak ada, gimana mau punya adik,” kata Bok Joon.
-----------------------------------------------------
Angin malam berhembus begitu dingin. Saat malam hari di musim semi memang dingin.
Suasana perkotaan masih tampak ramai, laulalang kendaraan masih sangat ramai begitu juga dengan orang-orang yang berjalan di trotoar. Ada yang baru saja pulang dari kantor, ada yang duduk bersama, dan aktivitas lainnya di malam hari.
Drap!
Drap!
Drap!
Suara langkah kaki terdengar. Audi merasa jika dia tengah di ikuti oleh seseorang. Ketika dia melihat ke belakang tak ada siapapun yang mengikutinya.
“Mungkin hanya perasaanku saja,” katanya sambil terus berjalan.
Tuuuuutttt!
Suara klakson mobil terdengar membuat Audi terkejut.
“Agashii... Butuh tumpangan?” tanya seseorang dari dalam dalam mobil.
“Oh kamu...”
Dia adalah pria yang bertemu dengan Audi tadi siang. Audi yang melihat pria itu langsung berlari.
__ADS_1
“Agashii... Tunggu...”
Audi berlari, berusaha agar tidak bertemu dengan pria itu.
“Ha... Haaa... Haaa...” nafas Audi tersengal-sengal karena berlari. “Mengapa pria itu masih mengejar ku?” tanya Audi membatin.
“Agashii... Tunggu sebentar,” panggil Pria itu mencoba bernegosiasi dengan Audi.
“Hosh!”
“Hosh!”
“Hosh!”
Pria itu dan Audi masih terus kejar-kejaran.
“Agashii mengapa kau lari?” tanya pria itu pada Audi yang ketakutan dan berlari ketika melihatnya tadi.
“Dan mengapa kau mengikutiku?” tanya Audi balik.
“Aku sungguh tidak memiliki niat buruk padamu,”
“Aku tahu... Karena itu aku menghindar darimu,”
Kkkrrrroookkk...
“Ppffftt...” pria itu tertawa kecil.
Suara perut Audi berbunyi. Audi baru sadar, jika dia sedari tadi mengikuti pria itu dan belum mengisi perutnya.
“Sebaiknya kita bicara di tempat lebih bagus sambil makan malam,”
Audi hanya memanyunkan bibirnya.
“Kebetulan aku belum makan malam,” kata pria itu. “Aku yang traktir,”
Mendengar kata traktir Audi menyetujuinya, kata traktir rasanya seperti menang lotre bagi Audi.
“Oke. Aku setuju! Ini karena kau mengatakan akan mentraktirku,” kata Audi dengan malu-malu.
Pria itu hanya tersenyum mendengar apa yang di katakan oleh Audi.
Audi memilih restoran yang cukup kecil. Tidak terlalu ramai.
“Audi kau sudah pulang?” sapa seseorang, dia adalah Bok Joon.
“Iya. Aku pesan dua ini dan ini,” kata Audi.
“Aku sudah menyiapkan makan malam mu di atas,”
“Aku dengan temanku. Dia sedang memarkirkan mobilnya,” kata Audi.
Kring!
Seseorang masuk.
“Ehem.... Teman pria ya,” goda Bok Joon. “Silahkan duduk,” kata Bok Joon memberikan salam pada pria yang tengah bersama dengan Audi.
“Kau yakin ingin makan di sini? Apa tidak mencari tempat makan lain saja?” tanya pria itu.
“Iya, makan di restoran mahal membuatku tidak kenyang,” kata Audi lagi-lagi membuat pria yang bersamanya itu tertawa kecil.
“Aku tidak bisa menghamburkan uangmu hanya karena mentraktirku makan. Lagi pula, susah mencari uang,” kata Audi.
“Aku tidak masalah,”
“Em. Ini restoran kenalanku di lantai atas adalah kamarku,” kata Audi.
“Apa?”
“Kau tinggal di sini?”
“Ya!”
“Silahkan di makan...” kata Bok Joon sambil menaruh makanan yang di pesan oleh Audi tadi di atas meja.
“Apa ada Soju atau bir?” tanya pria itu.
“Ah maaf. Pemilik gedung ini tidak mengizinkan untuk minuman seperti itu. Jika minuman bersoda ada,” kata Bok Joon.
“Ah seperti itu ya. Aneh dan unik pemilik gedung ini tidak mengizinkan yang menyewa gedungnya...”
“Aahahhaa... Dia sebenarnya pemilik restoran ini, aku hanya mengelola untuknya,” kata Bok Joon. “Dia tidak tahu, jika pemilik gedung ini ada di depannya,” kata Bok Joon membatin.
__ADS_1
Audi terus menyantap makanan yang di pesannya tanpa memperdulikan apa yang di katakan oleh pria itu.
“Aku pemilik gedung ini!” kata Audi sambil melihat ke arah pria itu.
“Eee... Kau pemilik gedung ini?” tanya pria itu.
Pria itu hanya terdiam, seseorang yang tadi dikatakan unik dan aneh ternyata mendengar apa yang dia katakan sedari tadi.
Pria itu hanya cengengesan. Mungkin menahan malu.
Audi tidak mempermasalahkan hal itu, dia dengan lahapnya terus menyantap makanannya.
“Kim Hyun Joo. Panggil saja Hyun Joo,” kata pria itu memperkenalkan namanya.
“Auditya Crala Xiaoli, Audi,”
*Siang tadi....
Pria itu membatu karena berusaha untuk mencerna apa yang baru saja dia dengar.
Sebuah rahasia tiga tahun lalu yang telah lama dia tidak ingin ingat. Hari di mana dia melihat kekasihnya tergeletak kaku bersumpah dari karena melakukan bunuh diri dengan mengiris lengan tangannya sendiri.
“Bagaimana bisa dia tahu...”
“Aku bahkan tidak mengenalnya,”
“Tapi bagaimana dia bisa tahu...”
Pria itu berpikir keras tentang kejadian yang baru saja dia alami.
“Apa dia ikut dalam penyelidikan saat itu?”
“Tapi...”
Dengan buru-buru dia balik ke kantor Polisi.
“Hormat!”
“Letnan Kim,” sapa seseorang.
“Mengapa anda balik lagi?”
“Ada yang tertinggal,” kata orang tersebut memanggilnya dengan sebutan Letnan.
Sebuah mana di carinya menggunakan server kantornya.
Auditya Crala Xiaoli, umur 25th.
“Mahasiswa Fakultas Psikologi Criminal tahun ke-3 di Seoul National University,”
Pria itu semakin bingung dan berpikir keras tentang apa yang baru saja terjadi.
“Apa kalian pernah bertemu dengan seseorang, kemudian tiba-tiba mengetahui rahasiamu? Padahal belum bertemu sebelumnya,”
“Tidak,” jawab Tim pria itu dengan serentak.
“Tapi aku pernah mendengar isu, ada seorang yang di kenal oleh atasan-atasan kita, bisa melihat masa lalu seseorang. Katanya dia sangat misterius,” kata seorang pria di Timnya. “Tapi itu hanya isu yang beredar, tanpa dasar yang benar,” katanya lagi.
“Oke. Aku pergi dulu,” Sambil menulis alamat Audi. “Aku akan menanyakan langsung padamu,” katanya membatin**.
“Kau bisa melihat masa lalu?” tanya pria itu dengan spontan membuat Audi berhenti mengunyah makanannya.
Deg!
Deg!
————————To be continued————————
Kritik & Saran.
Instagram : dih_nu
Baca juga :
- A Cold Frozen Heart
- Undercover
- Cinta yang Datang Terlambat
- Jiwa yang Terbagi
Terima kasih telah membaca karya saya yang tidak seberapa ini!
__ADS_1
Jika kalian menyukai novel ini tolong berikan Vote sebanyak-banyak untuk mendukungku. dan Jangan lupa klik ♥️ untuk selalu mendapatkan Update cerita selanjutnya.