Something Lost

Something Lost
Kekayaanmu, Aku tidak Butuh!


__ADS_3

Audi melangkah masuk ke dalam sebuah gedung perkantoran yang tingginya lebih dari 20lantai. Dia menggunakan pakaian yang biasa dia gunakan, Evye tidak menemaninya.


Semua orang melihat ke arahnya, tatapan mata penuh dengan aura tidak menyuikai.


“Apa bisa bertemu dengan direktur Kim Dan?” tanya Audi kepada repsesionis.


Mata resepsionis itu sangat tidak menyukai Audi ketika bertanya. Mungkin, dalam pikirannya tidak pantas bagi Audi untuk bertemu dengan Kim Dan.


“Direktur lagi rapat, kau bisa menunggunya di sana,” kata Resepsionis itu sambil menunjuk sebuah sofa.


Audi mengikuti apa yang di katakan oleh gadis itu.


Kim Dan tengah duduk sambil memeriksa sebuah dokumen yang di berikan oleh David padanya.


“Kenapa dia belum juga datang?” tanya Kim Dan sambil melihat jam tangan miliknya.


Saat itu, dia tidak sedang sibuk ataupun tengah rapat. Jelas-jelas resepsionis itu membohongi Audi.


Waktupun berlalu, Audi tertidur sedangkan waktu makan siang sudah dekat.


David lebih dulu berada di lantai bawah, karena harus menyiapkan mobil. Dia melihat Audi yang tertidur, membuatnya terkejut.


“Mengapa kalian tidak memberitahu jika Tunangan Direktur ada di sini,” kata David dengan suara tinggi.


“Tu... tunangan. Ka... kami...”


“Diam,” bentak David yang saat itu tengah menelfon Kim Dan. “Dia ada di lantai bawah,” kata David ketika telfonnya tersambung.


Kim Dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya dan menuju ke lantai bawah dengan sangat tergesa-gesa. Apalagi, ketika mendengar apa yang baru saja di katakan oleh David.


“Gadis bodoh ini, merepotkan saja,” kata Kim Dan sambil melangkah mendekat.


Dia melepaskan jas miliknya untuk menutupi tubuh bagian depan milik Audi, kemudian mengendong Audi.


“Aku tidak suka dengan cara kerja kalian berdua,” kata Kim Dan dengan tatapan tidak suka kepada kedua resepsionis wanita itu.


Semua orang tahu bagaimana seorang Kim Dan, sosok yang begitu dingin dan tatapan matanya yang kejam. Walaupun begitu banyak wanita yang menyukainya, namun belum ada yang pernah di perlakukan seperti itu oleh pria berambut perak itu.


“Kenapa dia tidak menelfonku,” gumam Kim Dan.


“Aku tidak memiliki nomor kontakmu,” kata Audi tiba-tiba. “Bisakah kau menurunkanku?” tanya Audi yang tengah berada di pelukan Kim Dan.


Kim dan, menuruti perkataan Audi hanya saja pria itu melepaskan Audi dari pelukannya dengan sangat kasar.


“Aaww... Kau ingin membuatku mati ya?” tanya Audi dengan geram.


Kim Dan, tanpa rasa bersalah hanya diam sambil memasang wajah dingin miliknya itu. Audi menatap pria itu dengan tatapan menjengkelkan. Dia tidak habis pikir bagaimana bisa pria itu menjadi tunagannya untuk beberapa waktu ke depan.


Suara isak tangis terdengar oleh Audi, kemudian mencari asal suara itu.

__ADS_1


“Mereka kenapa?” tanya Audi pada David sambil berbisik.


“Mereka tidak memberitahu soal kedatanganmu, dan Kim Dan memecatnya,” kata David menjelaskan.


“Hanya itu?”


“Em...” jawab David sambil menganggukkan kepalanya.


Audi menatap sinis ke arah pria dingin dan menyebalkan itu. Walaupun memiliki wajah yang tampan, dan sisi dingin yang membuat para gadis terpesona bagi Audi pria itu tetaplah menyebalkan.


“Mengapa kau memecat mereka?” tanya Audi.


“Mereka tidak profesional,” jawab Kim Dan dengan nada dingin.


“Tapi kau tidak berhak untuk memecat mereka hanya karena hal sepeleh seperti itu,” kata Audi dengan nada kesal.


“Kau membela mereka?” pria berambut perak itu mendekat membuat Audi mundur beberapa langkah ke belakang dan tubuh belakang milik Audi tersandar di tembok.


Wajah pria itu begitu dekat dengannya, pria itu lagi-lagi menindas dirinya.


“Jika aku tidak memecatnya, bagaimana aku mendisiplinkan karyawan di perusahaan ini,” kata Kim Dan.


Audi mendorong pria itu, agar menjauh dari dirinya, apalagi mereka tengah di lihat begitu banyak pasang mata.


“Biarkan mereka bekerja untukku di sini, jangan memecat mereka,” kata Audi dengan nada tegas.


“Kalian ambillah cuti beberapa waktu, aku akan menghubungi kalian lagi,” kata Audi dengan nada pelan.


Keadaan yang tidak pernah lepas dengan bisik-bisik tetangga, terdengar dari begitu banyak argumen dan spekulasi dari kejadian itu.


“Apa kalian kurang kerjaan, dan berkerumun seperti semut di sini,” gertak Kim Dan membuat karyawannya itu bubar.


Audi mengikuti langkah pria itu, dia berjalan di belakang.


“Apa kau ingin jadi pengawalku, berjalan di belakangku?” tanya Kim Dan sambil meraih tangan gadis itu menuju mobil miliknya yang telah di siapkan.


Audi, masih belum mengerti, mengapa pria itu ingin bertunangan dengannya. Mereka bahkan tidak begitu dekat, setidaknya Audi lebih dekat dengan Aldean.


Mobil melaju di jalanan Seoul, menuju ke arah sebuah restoran yang berdekorasi china klasik.


Beberapa makanan telah terhidangkan, sepertinya telah di pesan lebih dulu.


“Tidak heran, mereka takut dan mengagumimu di waktu yang bersamaan,” kata Audi memecah kesunyian di antara mereka.


“Mengapa tidak datang bersama dengan Evye?”


“Aku tidak terlalu suka ada seorang asisten, sepertinya agak ribet,” kata Audi.


Bukan soal ribet bagi Audi, tapi dia tidak sepenuhnya percaya pada gadis yang Kim Dan berikan padanya sebagai asisten, sebuah pengalaman di masa lalu membuatnya tidak ingin ada seseorang yang mendampinginya kemanapun dia pergi.

__ADS_1


Ketika itu, dia memilik sebuah asisten, nyatanya dia malah terperangkap ke dalam jebakan.


“Aku hanya tidak nyaman, memiliki asisten orang-orang akan menganggapku memiliki kekuasaan, dan kekayaan, dan itu aku tidak ingin,” kata Audi dengan lirih sambil menikmati makan siangnya.


Kim Dan, sejenak menghentikan makananya dan melihat ke arah gadis itu. Tatapan yang biasanya dingin, terlihat hangat untuk gadis itu. Ada sesuatu yang aneh, yang dia rasakan ketika gadis itu mengatakan hal yang di anggapnya 1:1000 di kehidupannya.


Semua gadis yang menggodanya karena ingin kekayaan yang dia miliki, sedangkan gadis yang ada di depannya ini tidak tergiur dengan segala yang dia miliki. Bahkan, baju yang di belikan pria berambut perak itu, sebagian telah di jual oleh gadis itu dan uangnya di berikan ke panti asuhan.


Pakaian yang di pakai gadis itu pun, tidak begitu mahal dan tidak begitu murah, bahkan ketika gadis itu berada di dalam rumah dia memilih untuk mengunakan pakaian yang tidak bermerek sama sekali.


“Apa kau tidak bosan di hina, dan di remehkan oleh mereka yang menindasmu di kampus?” tanya Kim Dan.


“Huh!” gadis itu mengela nafasnya dengan sangat keras. “Aku punya cara sendiri untuk balas dendam, uang bukan segalanya dalam melakukan balas dendam. Memberikan mereka cinta yang tulus, menghormati mereka, membalas keburukan dengan cinta,” kata Audi sambil menyerup minuman dinginnya.


“Kejahatan itu...”


“Semua orang butuh kesempatan berubah, satu kali itu mungkin tidak di sengaja, kedua kali mungkin karena khilaf, dan ketiga kali mungkin itu karena marah. Tapi, jika terjadi lagi, maka kita berhak untuk balas dendam. Karena kesempatan itu cukup untuk tiga kali saja,” kata Audi.


“Em. Daripada aku menjadi asistenmu, bagaimana jika kau membuatku sebuah ruangan dan sesuai dengan keahlianku,” kata Audi.


“Apa maksudmu?”


“Maksudku, aku kan seorang dokter, jadi biarkan aku bekerja di sini sesuai dengan profesiku,” kata Audi. “Aku merasa, jika perusahaan butuh dokter sepertiku, bekerja terlalu lama mereka butuh konseling dari seorang psikiater,” kata Audi. “Aku membaca beberapa artikel jika begitu banyak karyawan perusahaan yang meninggal karena stress akibat dari pekerjaan mereka, bahkan ada juga karena di bully. Karena itu biarkan aku menjadi dokter untuk mereka. Memeriksa kesehatan mental, dll,” kata Audi.


“Apa kau tidak ingin selalu di sampingku?” tanya Kim Dan sambil menggoda Audi.


Ada alasan mengapa dia ingin menjauh dari hal-hal seperti itu, kejadian di masa lalu membuatnya tidak ingin ikut ke dalam hal-hal yang berhubungan dengan data-data perusahaan. Dia hanya takut, kejadian di masa lalu mungkin akan terulang kembali.


“Aku tidak ingin ya, selalu dekat-dekat dengan seorang vampir sepertimu,” kata Audi dengan nada judes.


“Aku akan bicarakan di rapat minggu ini,” kata Kim Dan. “Barang-barangmu, aku akan menyuruh orang untuk memindahkannya ke apartementku,”


“Tidak perlu, aku hanya akan membawa pakaian dan beberapa buku milikku,” kata Audi. “Lagi pula, aku tidak akan lama di sana, jadi untuk apa aku membawa barang-barangku ke tempatmu,”


Kim Dan, duduk dan memandang gadis di hadapannya itu. Gadis itu tidak ada nafsu atas kekayaan, bahkan bergitu berpikir luas.


“Kim Dan-ssi, aku bisa saja membayar ganti rugi barang yang aku pecahkan. Tapi, tetaplah menjadi sponsor di panti asuhan itu,”


Dia bertahan hidup karena nyawanya di selamatkan oleh pria yang di hadapannya itu, dengan dendam untuk menjadi lebih baik ketika dia kembali untuk membalaskan semua penghinaan yang di berikan oleh orang-orang itu, dia harus memiliki uang yang banyak lebih dulu.


“Aku tidak tertarik dengan kekayaan yang kau miliki ataupun keluargamu, karena aku memiliki cukup uang,” kata Audi. “Aku menjadi dokter pribadimu, karena alasan lain dan bukan untuk mengodamu. Aku bahkan tidak tertarik pada pria yang di sukai banyak gadis yang melemparkan tubuh mereka padamu,” kata Audi.


“Katakan apa alasannya?”


Pria itu dengan anggunnya, menyelesaikan makan siangnya seperti seorang bangsawan, tidak heran dia memiliki ranting tinggi untuk ukuran pria sepertinya.


“Aku sudah katakan, alasannya setelah aku menyembuhkanmu,” kata Audi.


Alasannya dia ingin membantu pria di hadapannya, tidak lain karena rasa terima kasihnya untuk pria berambut perak itu, karena telah menyelamatkan nyawa miliknya saat Audi berusaha untuk bunuh diri.

__ADS_1


__ADS_2