
“Apa kau percaya jika aku mengatakannya?” tanya Audi sebelum melanjutkan apa yang ingin dia katakan.
“Apa maksudmu?”
“Jika sahabatmu bersalah, apa kau akan menghukumnya? Atau membiarkan dia?”
“Jika dia salah, dia harus di hukum,” jawab pria itu dengan tegas.
“Aku harap kau tepati janjimu,” kata Audi sambil menatap Hyun Joo yang penasaran dengan apa yang akan Audi katakan. “Saat melihat foto di rumah abu, aku melihat seorang gadis yang menjadi pelakunya. Dia mengiris lengan kekasihmu, dan gadis yang ku lihat itu adalah... dr. Hanna,” kata Audi dengan nada pelan tapi serius.
“Tidak mungkin... Aku harus bertanya langsung padanya,”
Hyun Joo tidak percaya tentang apa yang di katakan oleh Audi. Dia telah bersahabat dengan dr. Hanna sejak lama, dia tahu sifat orang itu. Seperti itu adalah pikirannya. Sulit mempercayai, apalagi ternyata orang itu adalah sahabat dekat kita.
“Kau gila? Kau ingin mengatakan jika aku yang mengatakannya?” Audi berusaha untuk mencegah Hyun Joo.
“Aku harus menanyakan langsung padanya,” kata Hyun Joo.
“Sejak awal, kau percaya padaku. Berharap jika dia benar-benar tidak bunuh diri, namun di bunuh. Karena itu, kau memilih percaya dan membawaku ke sana. Kau sama saja dengan mereka. Kau tahu pintu keluarnya sebelah sana bukan? Silahkan keluar,” kata Audi dengan nada marah.
Audi tahu, sulit untuk orang lain bisa mempercayai kemampuan yang dia miliki.
Audi tidak menuntut untuk di percaya atau tidak, tapi dia pun penasaran tentang hal yang dia lihat itu, karena itu dia memerikan kesempatan pada Hyun Joo.
Hyun Joo melangkah untuk keluar. Raut wajahnya, begitu sulit untuk di katakan.
“Dia bukan kekasihmu... Wanita yang meninggal itu...” kata Audi membuat langkah kaki Hyun Joo terhenti. “Kau bisa mengingat-ingat kembali. Saat kau yakin, datang padaku. Aku berikan kau kesempatan,” kata Audi lagi sambil memejamkan matanya.
Di luar sana, Bok Jon dan Aulia mendengar apa yang Audi katakan. Saat Hyun Joo keluar, membuat mereka melihat ke arah pria itu.
“Apa yang dia katakannya selalu benar. Kau pasti pernah mendengar rumor tentang seseorang yang bisa melihat masa lalu. Seseorang itu adalah dia. Banyak orang-orang penting tahu tentangnya,” kata Bok Jon. “Terserah padamu kau ingin mempercayai siapa,” kata Bok Jon. “Em. Jika tidak percaya aku bisa katakan satu orang yang bisa kau tanyakan langsung. Tapi aku sekarang tidak ingin memberitahumu,” kata Bok Jon.
Bagi seorang Hyun Joo, akan sulit baginya menerima kenyataan yang Audi katakan padanya. Dengan langkah yang pelan, dia melangkah ke kursi taman rumah sakit. Memikirkan apa yang di katakan oleh Audi.
.
.
Audi melangkahkan kakinya, menuju suatu ruangan, dr. Alexandreon Pato. Umurnya sekitar 50an tahun.
Tok. Tok. Tok.
Audi mengetuk pintu, kemudian masuk.
“Ah, rupanya dokter kedatangan Pasien,” kata seorang pria ketika melihat Audi masuk ke ruangan tersebut.
__ADS_1
Seorang pria muda bisa di taksir umurnya sekitar 23thn, dengan warna rambut berwarna cokelat tengah duduk di situ.
“Dia... Dia bukan pasien. Dia dokter di sini...” kata dr. Alex memperkenalkan Audi.
Pekerjaan misterius Audi adalah seorang dokter. Dia mengambil dua studi sekaligus, membuatnya menjadi seorang dokter Psikiater di usianya yang bisa tergolong muda itu.
Ketika pria itu pergi, Audi mengatakan jika dia ingin masuk kerja lagi.
“Dokter... Saat anda di Inggris, anda mengatakan jika anda pernah menangani seorang pasien D.I.D,” kata Audi dengan terbata-bata.
“Iya! Dia orangnya, dingin, tegas, dan IQ nya tinggi. Kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Em. Aku bertemu dengan seorang pria yang sama, tapi raut wajah, tatapannya begitu berbeda. Aku berpikir tentang dia mengalami gejala halusinasi. Tapi, ini berbeda. Aku melihat dua memori yang berbeda. Caranya memperlakukanku, saat pertama kali bertemu dia begitu dingin, tegas, dan berwibawa. Saat aku bertemu untuk kedua kalinya, dia begitu sopan, tutur katanya begitu lembut, aku bertanya namanya dia menjawab Eldean,” kata Audi.
dr. Alex, terkejut ketika Audi menyebut nama Eldean. Kemudian dr. Alex menjelaskan siapa sebenarnya pria itu. Audi mendengarkan pria tua itu dengan baik, tanpa menyela.
.
.
Hyun Joo mencari Audi di kamarnya, tapi kamar yang di dapatinya kosong.
“Kau kembali?” tanya Audi dari arah belakang Hyun Joo.
“Aku percaya, kali ini aku tidak akan meragukanmu,” kata Hyun Joo.
Suasana taman agak sunyi di jam seperti ini, karena itu mereka lebih memilih untuk berbicara di tempat seperti itu. Terlihat gedung-gedung pencakar langit, perkotaan serta lautan dari gedung itu.
“Aku minta maaf soal aku tidak mempercayaimu, ketika aku memikirkannya semalam, sebenarnya aku pun mencurigai hal itu. Tapi aku menyangkal karena aku takut,” kata Hyun Joo.
“Aku bisa mengerti,” kata Audi.
“Tapi, apa maksudmu wanita yang meninggal itu bukan kekasihku?”
“Aku melihat wanita yang sama di depannya,”
“Maksudmu dia kembar?” tanya Hyun Joo.
“Aku tidak yakin, apakah mereka kembar atau salah satu dari mereka melakukan operasi,”
“Bagaimana kau yakin jika dia bukan kekasihku?”
“Ada moment yang hanya kau dengannya yang tahu, sedangkan gadis itu tidak memilikinya,” kata Audi. “Ada sesuatu yang aneh menurutku. Jelas-jelas mereka bukan orang yang sama. Tapi, satu yang pasti. Jika dr. Hanna adalah pelaku pembunuhan itu.
Pria berambut perak itu agak heran dengan topik pembicaraan yang Audi dan Hyun Joo katakan, namun dia tidak ingin bertanya.
__ADS_1
“Kita bicarakan di rumahku, sebaiknya kau kumpulan kembali berkas kasusnya, jika kau memiliki foto kalian saat pertama pacaran, ada baiknya. Mungkin itu bisa membantu,” kata Audi. “Oh iya. Aku ingin menanyakan sesuatu,”
“Hm. Tanya apa?”
“Kakakmu punya kembar?” tanya Audi.
“Tidak,” Hyun Joo langsung menjawab menyangkal.
“Kau pasti sudah tahu, tapi masih bertanya padaku,” kata Hyun Joo.
Pria berambut perak itu lagi-lagi bingung dengan apa yang di telah di ketahui oleh Audi.
“Aku akan membayarmu...”
“Tidak perlu... Kau hanya perlu mentraktirku,” kata Audi. “Aku ingin kembali ke kamarku,” kata Audi lagi sambil pergi meninggalkan Hyun Joo.
Audi masuk ke ruangan loker, tempat baju prakteknya berada. Walaupun tangannya masih dalam keadaan menggunakan gips, namun dia ingin tetap bekerja.
Sebuah deringan Ponsel terdengar.
Nomor tidak di kenal.
“Hm. Siapa?” Audi membatin sambil mengangkat telfon.
“Apa boleh kita bertemu? Aku berada di depan rumah sakit,” kata seseorang dari seberang telfon.
Audi bergegas menemui orang tersebut, dia begitu penasaran dengan yang baru saja menelfonnya.
Mata Audi tertuju pada sebuah mobil yang begitu mahal, seorang pria baru saja keluar dari mobil itu. Rambut perak, bola mata merah.
————————To Be Continued————————
Kritik & Saran di kolom komentar.
Instagram : dih_nu
Baca juga :
- A Cold Frozen Heart
- Undercover
- Cinta yang Datang Terlambat
- Jiwa yang Terbagi
__ADS_1
Terima kasih telah membaca karya saya yang tidak seberapa ini!
Jika kalian menyukai novel ini tolong berikan Vote sebanyak-banyak untuk mendukungku. dan Jangan lupa klik ♥️ untuk selalu mendapatkan Update cerita selanjutnya.