Something Lost

Something Lost
Aroma Vanilla & Citrus yang Menggoda


__ADS_3

Maona masih duduk menunggu Bosnya itu di lobi Apartement. Entah apa yang dia inginkan dari bosnya itu.


“Turunkan di depan saja,” kata Kim Dan.


Kim Dan menurup Audi dengan jaketnya, dan melangkah msuk ke dalam gedung Apartement bertingkat itu.


Seorang gadis yang duduk di lobi, di kenalnya. Gadis itu adalah Maona, sekertaris barunya.


Maona yang melihat gadis di dalam pekukan bosnya itu, mengepal erat tangannya.


“Mengapa kau ada di sini?” tanya Kim Dan dengan dingin pada Maona, sambil merapikan jas yang menutup Audi, agar tidak di kenali oleh Maona.


“Em. Itu, apa aku di pecat? Tanya Maona dengan terbata-bata.


“Apa Sekertaris Maona datang ke sini untuk bertanya hal itu?” tanya Kim Dan dengan nada diam. “Aku tidak menyukai ada gadis yang datang mencariku malam-malam saat jam kerja selesai, apalagi datang ke sini,” nada bicara Kim Dan seakan dia ingin menegaskan agar menjaga jarak darinya.


“Maaf, aku... aku...”


“Tidak perlu di jelaskan, kau tidak akan di pecat hanya karena masalah tadi, dan juga aku tidak akan pernah bisa memecatmu, karena kau di rekomendasikan oleh tunanganku untuk menjadikanmu sebagai sekertarisku,” kata Kim Dan.


Mata Maona membulat, mendengar hal itu.


“Aku minta maaf, dan ingin berterima kasih pada tunangan Tuan,”


“Sudah malam, kita akan bicara di kantor saja, dan juga jangan mencari masalah pada Audi dia adalah teman Tunanganku,” kata Kim Dan lagi.


Kim Dan meninggalkan Maona yang masih berdiri. Memang sangat sesuatu sekali, seorang gadis yang bersandiwara di depan orang-orang. Menjadi seorang bidadari di hadapan orang tertentu.


“Aku peringatkan lagi... aku paling tidak suka seorang gdis yang mencariku secara pribadi...”


Maona mengeretakkan giginya, tangannya di kenal erat-erat. Pria itu begitu dingin padanya, begitu susah untuk di hadapinya.


Gadis di dalam pelukannya itu, begitu sulit untuk di tebak olehnya. Terkadang tegas, dingin, dan terkadang pula begitu hangat.


Audi membuka matanya, melihat pria berambut perak itu mengendongnya, dia teringat jika dirinya berada di dalam bianglala.


“Turunkan aku...” ucap Audi mencoba melepaskan diri dari gendongan Kim Dan.


“Diam. Jangan bergerak...” perintah Kim Dan.


“Mengapa kau selalu memerintahku...”


“Karena aku suka,” kata Kim Dan membuat Audi mengembungkan pipinya merasa kesal dengan jawaban yang di berikan oleh Kim Dan.


Detak jantung milik Audi terdengar, wajahnya agak merah merona.


“Em. Berapa lama kau...”


“Sejak kau keluar dari bianglala, aku sudah mengendongmu...”


“Kau tidak meng...”

__ADS_1


“Persis seperti yang kau pikirkan... Aku mengendongmu selama sejam lebih,”


Audi merasa tidak enak karena Kim Dan mengendongnya selama itu. Tidak ada yang memulai pembicaraan sampai mereka tiba di dalam rumah.


“Aku masih belum menghukummu, karena tertidur di sana, dan memuatku ketakutan,”


“Apa maksudmu...”


“Hmm...” Kim Dan hanya mendehem, sambil meletakan Audi di sofa.


Tiba-tiba suara perut mereka berbunyi. Seketika membuat mereka berdua tertawa.


“Biar aku yang memasak,” kata Audi sambil beranjak dari tempat duduk dan menuju dapur.


Celemek pink di pakainya, begitu menyatu dengan tubuh ramping gadis itu. Rambutnya yang di gerai sekarang di ikatnya, memperlihatkan leher jenjang miliknya yang putih itu. Seketika Kim Dan yang melihat leher milik Audi hanya bisa menelan ludah dan menahan nafasnya sebentar.


Bahkan Kim Dan yang setiap saat melihat gadis-gadis, merasa tergoda ketika melihat Audi yang tengah mengikat rambutnya.


Pisau di tangan Audi begitu lihai memotong bahan makanan, sambil memasak. Kim Dan memperhatikan wanita itu, serasa kebahagian miliknya sangat terasa. Biasanya dia memasak untuk dirinya sendiri, kini ada seseorang yang tengah memasak di dapur miliknya.


Audi menaruh makan yang telah matang, tiba-tiba Kim Dan memeluknya dari belakang sambil meletakkan dagu miliknya di bahu milik Audi. Aroma khas Vanilla dan citrus di tubuh Audi menenangkan Kim Dan.


Jantungnya bergedub, aroma lembut Vanilla terasa manis, sedangkan aroma citrus yang segar menusuk hidungnya menenangkan pikirannya. Aroma tubuh milik Audi begitu mengodanya.


Kecupan lembut di bahu milik Audi diberikannya. seketika Audi mengeliat karena rasa geli yang di rasakan.


"Kim Dan... Stop. Oke. Aku sedang memasak,”


“Tubuhmu begitu wangi,” kata Kim Dan berbisik ke telinga Audi.


Hembusan nafas milik Kim Dan, meransang indra sensitif milik Audi, tubuh milik gadis itu bergetar, dan sebuah aliran hangat mengalir di dalam tubuhnya.


“Stop. Aku harus memasak...” pekik Audi mencoba untuk meloloskan diri Kim Dan.


Pelukan erat Kim Dan begitu sulit untuk di hindari.


“Salahmu... aku tidak bisa melihat lehermu yang jenjang,” kata Kim Dan sambil mengecup kembali leher milik Audi.


“Em...” seketika Audi mengeluarkan suara kecil.


Kim Dan tersenyum kecil.


“Dan aroma tubuhmu begitu mengodaku, sulit untuk menahan aroma tubuhmu,” kata Kim dan sambil membalikan tubuh Audi.


Kini mereka berdua saling berhadapan satu sama lain. Bibir mungil milik Audi begitu mengoda di mata Kim Dan. Padahal dirinya tidak berada dalam kendali obat. Tapi, gadis itu membuatnya tergoda.


Kim Dan mematikan kompor. Dan mengendong Audi menuju sofa.


“Kim Dan—si, aku harus memasak,” kata Audi mencoba untuk melepaskan diri dari Kim Dan.


“Kita memasak dalam bentuk lain saja,” kata Kim Dan sambil mencium Audi.

__ADS_1


“Em... Ki...m... Dan... Tidak... tidak...” rintih Audi.


“Aku tidak tahu, tapi kau begitu mengoda...” kata Kim Dan sambil kembali mencium Audi.


Aliran hangat di tubuh Audi mengalir dengan sangat cepat. Degupan jantungnya semakin tidak beraturan.


Pria yang tengah menindihnya itu, itu sudah di kendalikan oleh hawa nafsu.


“Ayo kita menikah...” ucap Kim Dan dengan suara yang terengah engah, tiba-tiba pria itu terjatuh ke dalam pelukannya.


“Kim Dan... Kim Dan... kau tidak apa-apa?” tnya Audi sambil mengguncangkan tubuh milik Kim Dan. “Ee... tertidur?” ketika memeriksa tubuh Kim Dan.


Audi hanya tersenyum.


“Sepertinya dia kelelahan...” kata Audi sambil menyelimuti pria itu.


Audi melanjutkan memasak dan dia terpaksa harus makan sendiri. Audi menelfon David menanyakan tentang apa yang terjadi ketika dia tertidur.


Sinar matahari masuk dari celah-celah tirai rumah Kim Dan. Audi tengah memasak, dengan pakaian mandi, dan juga rambut yang di bungkusnya di dalam handuk.


Kim Dan terbangun karena suara masakan Audi, tiba-tiba dia teringat tentang kejadian semalam. Seketika dia merasa malu karena tiba-tiba tertidur. Ingatan semalam makin jelas, ketka melihat Audi kembali, membuatnya menutup wajahnya karena gadis itu begitu menggodanya.


Kim Dan buru-buru masuk ke dalam kamarnya. Jantungnya bergedup sangat kencang. Pakaiannya basah karena dia langsung menguyur tubuhnya di bawah air shower yang mengalir.


“Dia... dia begitu menggoda di pagi hari... Jika seperti ini terus, aku lama-lama tidak bisa menahannya...” kata Kim Dan membatin.


Makanan tertata rapi di meja makan. Audi masih dengan pakaian yang sama, ketika Kim Dan keluar dari kamarnya.


“Pft, kenapa dia masih pakai pakaian seperti itu..” ucap Kim Dan sambil menutup hidungnya.


“Aku sarapan di luar...” kata Kim Dan.


“Eee... tapi, aku sudah memasak. Eem... tunggu... Aku akan menyiapkan bekal untukmu,” kata Audi sambil mengambil tempat makanan.


“Aduh. Kenapa gadis ini tidak mengerti sih. Bisa-bisa...”


“Sudah. Kau bawah ini ke kantor...” kata Audi sambil menyerahkan bekal yang di siapkan untuk Kim Dan.


Mataa Kim dan tertuju pada leher jenjang milik Audi. “Sial. Aku harus tahan godaan,” gerutu Kim Dan.


Cup!


Sebuah ciuman mendarat di pipi milik Kim Dan. “Sarapan pagi untukmu,” kata Audi sambil meninggalkan Kim Dan yang masih terdiam.


Kim Dan hanya tersenyum sambil keluar dan mengelus lembut pipinya yang di cium oleh Audi.


Kim Dan hanya tersenyum sambil keluar dan mengelus lembut pipinya yang di cium oleh Audi.


Di dalam mobil Kim Dan hanya tersenyum sambil menatap tempat makanan yang di berikan oleh Audi padanya.


Rasa malunya semalam, seketika hilang karena perlakuan Audi tadi pagi.

__ADS_1


__ADS_2