
“Apa yang terjadi?” tanya Kim Dan saat di dalam mobil.
“Em. Nona muda mengurung dirinya di dalam kamar dan tidak menyalakan lampu kamarnya sejak dia bangun,”
“Apa terjadi sesuatu padanya?”
“Evye hanya mengatakan dia meminum obat tidur,”
Kim Dan mengetutkan dahinya karena mendengarkan jika gadis itu meminum obat tidur, padahal dia baik-baik saja sejak tadi saat mereka bertemu.
“Apa kau sudah mendapatkan informasi tentang masa lalunya?” tanya Kim Dan.
“Tidak sama sekali,”
Lagi-lagi hal yang aneh tentang identitas gadis itu.
Audi masih di tempat yang sama, seakan masa lalunya tengah bermain peran di depannya membuatnya sesekali menangis sesekali berteriak dengan histeris, Evye yang menunggu di luar pun merasa takut jika hal buruk terjadi di dalam.
“Apa dia belum membuka pintu?” tanya Kim Dan saat masuk ke dalam.
“Belum,” jawab Evye sambil mengelengkan kepalanya. “Aku menelfon temannya, mungkin saja dia tahu apa yang tengah terjadi,”
Dia menekan tombol, dan memasukan sidik jarinya di pegangan pintu itu. Walaupun terkunci dari dalam, dia bisa masuk hanya dengan men-scenner sidik jari miliknya.
Kim Dan melihat seisi ruangan begitu gelap, sebuah sosok di sudut dinding tengah meringkuk dengan ketakutan. Kim Dan menyalakan lampu, membuat mereka melihat Audi yang tengah ketakutan, berkeringat dan sangat menyedihkan.
Sisi yang tidak pernah mereka lihat kini hadir di hadapan mereka. Langkah kaki Kim Dan penuh hati-hati mendekat ke arah gadis itu.
Audi sesekali bergumam sendiri sambil mengelengkan kepalanya dan meremas erat rambutnya.
“Audi...” panggil Kim Dan dengan nada pelan.
Oh Tuhan, pria yang dingin itu bisa memanggil seseorang dengan nada lemah lembut, adalah pertama kalinya. David dan Evye menunggu di luar.
“Aku tidak melakukan hal itu... Tidak... bukan aku...” racau Audi. “Percaya padaku... ku mohon... percaya padaku...” kata Audi lagi. “Aku tidak melakukannya...” kata Audi sambil menatap pria yang di hadapannya itu. “Aku benar-benar tidak melakukannya, ku mohon percaya padaku,” kata Audi lagi sambil menangis.
Hati Kim Dan tergugah melihat gadis yang di hadapannya itu, semenyedihkan itu. Biasanya sikap dingin, arogan, tegas, dan mandiri yang di lihatnya kini hanya bisa melihat sisi gelap.
“Aku percaya...” kata Kim Dan sambil mengusap lembut rambut gadis itu.
“Kau percaya padaku? Kau benar-benar percaya padaku kan? Aku benar-benar tidak melakukannya,” kata Audi sambil menatap Kim Dan, dia ingin meyakinkan jika dirinya tidak salah dengar.
“Aku benar-benar percaya padamu,” kata Kim Dan sambil bersandar di dinding menemani gadis itu dan mengangkat Audi agar berada di pelukannya.
“Benar ya...”
__ADS_1
“Aku akan selalu percaya padamu, aku akan melindungimu karena kau adalah tunanganku,” kata Kim Dan mencoba menenangkan Audi.
Audi sesekali meracau, di dalam pelukan Kim Dan gadis itu tenang, kehangatan di dalam pelukan itu Audi pun merasakannya, kedamaian dan perlindungan membuatnya tenang dan tertidur.
Sifat Audi yang seperti ini, seakan Kim Dan tengah bersama dengan anak gadis kecil yang tengah bermanja padanya. Dia tidak tahu, jika gadis itu memiliki sisi imut.
Bok Joon datang dengan tergesa-gesa, saat melihat Audi dia merasa tenang karena gadis itu telah tertidur.
Bok Joon memang telah lama bersama dengan Audi, dia tahu bagaimana kondisi sebenarnya gadis itu, dia tidak bisa mendengar nama Indonesia dari mulut orang lain atau dia akan di bawa ke Negara itu.
Kim Dan mengendong Audi, dan meletakkan gadis itu di atas kasur. Matanya menatap wajah gadis itu lama dan penuh perasaan.
“Panggil dokter kemari,” kata Kim Dan saat keluar dari kamar milik Audi.
Bok Joon hanya terdiam, melihat gadis yang telah di anggapnya adik itu menderita.
“Aku menyuntikan penenang untuknya, dia harus istirahat beberapa hari ke depan, usahakan jangan terlalu banyak pikiran. Aku hanya menyimpulkan, jika dia mengalami trauma dan ada yang memicu hal itu,” kata dokter itu. “Aku permisi karena ada orang lain yang sedang menungguku,” kata Dokter itu lagi.
Ruang tamu sejenak hening. Evye membuat minuman.
“Apa yang kalian berdua bahas tadi?” tanya Bok Joon.
“Tidak banyak, kami hanya makan siang, berbicara santai tentang dia akan kerja sebagi dokter,”
“Hal lain?”
“Ke luar negeri? Kemana?” tanya Bok Joon.
“Kenapa kau menanyakan hal tentang apa yang sedang kami lakukan, dan ke mana aku membawanya,”
“Ini penting. Kau boleh membawanya kemanapun, aku tidak larang. Asal jangan membawanya ke Indonesia atau menyebut nama Indonesia,” kata Bok Joon dengan nada tinggi pada Kim Dan.
Semua orang yang di ruangan itu terdiam.
“Apa yang salah? Mengapa...”
“Kau tidak perlu tahu...” kata Bok Joon sambil duduk meredakan amarahnya.
“Jika kau tidak memberitahuku, aku bisa mencarinya sendiri. Tapi, aku ingin kau menjelaskannya karena aku adalah tunangannya,” kata Kim Dan.
“Bukan negara itu yang di bencinya, hanya saja kejadian di sana yang membuatnya seperti ini. Dia datang ke negara ini, tidak lain karena ingin lari dari semua yang terjadi di sana dan membuat hidup baru,” kata Bok Joon, teman Audi itu hanya menceritakan sebagian besar saja.
“Aku tidak bisa memberitahumu lebih banyak, karena aku tidak percaya padamu. Kau bisa mencari tahunya, atau bertanya pada Audi langsung. Negara itu membuatnya berkali-kali ingin mati,”
“Jadi itu alasan kenapa dia tidak ingin ikut,” gumam Kim Dan.
__ADS_1
“Apa Audi yang menceritakannya padamu?” tanya David.
“Tidak, saat itu aku berada di Indonesia dan beritanya di siarkan dengan berkali-kali, karena itu aku mengetahuinya. Sekarang tidak ada lagi, karena berita itu telah di hapus,”
“Pantas saja aku tidak menemukan apapun. Kenapa bisa seperti itu?”
“Audi yang melakukannya, dia menyembunyikan tentang dirinya,”
“Siapa mereka? Siapa yang membuatnya seperti itu?” tanya Kim Dan dengan nada dingin tapi penuh dengan emosi. Mereka baru melihat ekspresi wajah seorang Kim Dan yang seperti itu. Seakan ingin membasmi semua orang yang melakukan kesalahan.
“Tanyakan pada Audi, karena aku tidak tahu siapa di balik semua itu, dan juga Audi tidak berniat untuk balas dendam,”
Percakapan yang cukup menegangkan di antara mereka, sedangkan Hyun Joo sejak tadi hanya duduk dan bersandar di dinding mendengar semua itu, dia tidak berani berkumpul karena di sana terdapat kakaknya—Kim Dan.
Hyun Joo tidak pernah tahu, gadis yang di kenalnya itu menyimpan banyak rahasia kelam seperti itu, dan hal yang paling aneh ketika kakaknya itu sangat bersimpati tentang kehidupan seorang gadis.
Walaupun usia pertunangan kakaknya itu baru sebulan, tapi dia merasa jika kakaknya itu menyukai dan telah mengenal Audi.
Kim Dan duduk sambil melihat Audi, dia mengelus lembut pipi milik gadis itu.
“Hansen, percayalah padaku. Aku tidak melakukannya,” racau Audi, sepertinya gadis itu tengah bermimpi.
Kim Dan mengepal erat tangannya, ketika dia mendengar nama seorang pria di sebut oleh gadis itu. Entah cemburu atau marah dia tidak tahu.
“Benarinya kau menyebut nama seorang pria di hadapanku, aku akan memberikanmu hukuman,”
Kim Dan tersenyum, kemudian mencium kening milik gadis itu. David sejak tadi mengintip apa yang di lakukan oleh temannya itu, dia yang telah lama bekerja untuk pria itu baru pertama kali melihat perlakuan Kim Dan pada seorang gadis begitu lembut, biasanya pria yang menjadi bosnya itu begitu dingin pada seorang wanita, namun berbeda dengan gadis yang kini berstatus sebagai tunangan sahabatnya.
David memilih untuk meninggalkan kedua orang itu, walaupun dia tidak punya pasangan namun dia tahu cara untuk membiarkan kedua orang itu menghabiskan waktu romantis berdua.
Samar-samar Audi membuka matanya, di lihatnya Kim Dan tengah berada di sisi samping kasur miliknya sedangkan tangan sebelahnya tengah memakai infus.
“Auw...” pekik Audi, ketika dia menarik sebelah tangannya namun tersangkut di selimut jarum infus yang terpasang membuat Kim Dan terbangun.
“Kau sudah bangun?” tanya Kim Dan ketika bangun.
“Kenapa kau ada di sini?”
“Ini rumahku, aku berhak ke kamar manapun, lagi pula kau yang tidak mengizinkanku keluar. Kau menggenggam tanganku dengan sangat erat,” kata Kim Dan sambil melihat ke arah tangannya yang tengah di pegang oleh gadis itu.
Seketika Audi terkejut dan melepaskan genggamannya.
“Apa terjadi sesuatu padaku?” tanya Audi dengan linglung.
“Kau ingin makan? Aku akan memasak makanan untukmu, kau belum makan,” kata Kim Dan mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Kim Dan memilih untuk tidak membahas tentang apa yang terjadi tadi, walaupun dia tahu jika perlahan-lahan gadis itu akan ingat apa yang terjadi.
Mengumpulkan informasi tentang gadis miliknya itu lebih penting untuk saat ini.