
Apa yang terjadi semalam masih membekas di ingatan Kim Dan. Bagaimana dirinya tidak bisa menahan untuk lebih mesra dengan tunangannya.
Di ruang rapat dia tersipu malu, sedangkan para bawahannya itu melihat Kim Dan yang terlihat berbeda merasa aneh. Apakah dunia akan kiamat, seorang Kim Dan memiliki ekspresi seperti itu. Biasanya Kim Dan hanya duduk diam, dingin, tatapan mata yang membunuh, serta ekpresi yang sama saja. Kali ini dia tampak berbeda, bahkan dalam rapat pun, dia terlihat bahagia.
Joona tengah membaca naskah untuk syuting, ini adalah syuting pertama setelah dia comeback. Dia diberi julukan wanita nomor satu di masa kejayaannya,
"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Leeana. "Pemeran utama prianya adalah pria itu," kata Leeana lagi.
Ada seseorang di dalam hatinya selama ini, berada di profesi ini harus begitu pandai menyimpan perasaan, begitu juga dengan Joona.
Audi meminta Evye untuk datang menjemputnya. Walaupun dia memiliki mobil yang diberikan oleh Kim Dan, tapi dia tidak bisa membawa mobil.
“David sudah memberiku informasi pria itu, dia seorang mantan polisi yang di narapidana karena menembak mati penjahat yang di kejarnya,”
“Siapa namanya?”
“Leondra Park, usianya 28thn, anak tunggal, ayahnya mengelola tempat pemancingan, sedangkan ibunya tengah terbaring di rumah sakit karena mengidap penyakit ginjal, dia tengah mengelolah tempat latihan karate, dan tekondo,”
“Hhmm...” Audi bergumam.
Apakah kali ini dia harus memutuskan untuk jadi lebih kuat? Apakah dia benar-benar menginginkan balas dendam? Pikirannya itu masih beputar, apakah jika balas dendam dia akan bahagia?
Saat ini hidupnya begitu bahagia, bahkan tidak ingin melakukan balas dendam. Namun kata-kata Kim Dan membekas di pikirannya. "Jika tidak ingin balas dendam, lakukan persiapan itu lebih baik,"
Dia menatap ke luar jendela mobil yang tengah melaju. Dia sungguh tidak ingin kehilangan apapun di kehidupannya yang baru ini. Antara menjaga dan balas dendam, apakah ada persamaan ataukah ada perbedaan?
Seorang pria duduk di ranjang rumah sakit, di lengan kirinya terpasang jarum infus. Tubuhnya yang kekar, serta wajahnya yang tampan rupawan, alisnya tebal, hidungnya mancung, serta bola mata yang hitam bersinar, dan rambut berwarna abu-abu.
“Tuan Leondra Park...” panggil Audi saat masuk ke dalam kamar rumah sakit VIP.
“Oh... kau...”
“Perkenalkan namaku Auditya Clara Xiaoli, aku berterima kasih padamu karena telah menyelamatku tadi malam. Aku membawa sedikit hadiah, semga kau menerimanya,”
Pria itu menatap Audi sejenak, pakaiannya Audi biasa-biasa saja, tidak mahal ataupun tidak murah, berada di standar harga, namun cara bicaranya agak tegas dan dingin, dengan agak lama berpikir pria itu kemudian menerima hadiah dari Audi. Pakaian yang Audi pakai tampak biasa-biasa saja, membuat pria itu heran, menerima hadiah yang harganya lumayan. Sebuah jas merek italy, edisi terbatas.
“Aku tidak tahu apakah hadiah dariku bisa bermanfaat untukmu,” kata Audi.
“Sepertinya nona memiliki tujuan datang kemari,”
Audi tersenyum. Pria itu begitu hebat, cepat menangkap tujuan sebenarnya kedatangan Audi.
“Benar, kedatanganku bukan hanya datang menjenguk dan mengucapkan terima kasih. Namun aku ingin menawarkan sebuah pekerjaan. Jadilah bodyguard ku, gaji 100juta/bulan tiga bulan di awal, dan juga biaya rumah sakit dan operasi pendonoran ginjal ibu tuan, akan aku tanggung semuanya. Semua fasilitas aku berikan, rumah, mobil, dan tempat usaha,,” kata Audi langsung menyampaikan apa yang ingin dia katakan.
Seketika dia terkejut mendengar semua yang di tawarkan untuknya. Seseorang yang memintanya menjadi pengawal pribadi, dan memberikan fasilitas untuknya. Tapi dari pakaiannya agar meragukan.
“Tapi...”
“Aku tidak peduli tentang pekerjaanmu sebelumnya, dan yang paling aku tawarkan adalah menangkap pria yang membunuh Adikmu. Bagaimana?”
"Bekerja denganku, kau tidak akan di hina lagi. Kau bisa merawat ibumu sampai sembuh, dan juga Ayahmu tidak perlu lagi bekerja di tempat pemancingan,"
Seketika pria itu langsung membulatkan matanya. Tawaran yang begitu mengiurkan untuknya. Dia tidak butuh semua yang di tawarkan oleh Audi, dia hanya ingin menangkap pria yang membunuh adiknya.
“Baik aku setuju...”
“Oke. Sepakat. Aku tidak perlu tanda tangan kontrak denganmu. Sekarang aku akan memanggilmu Kak Leon,”
“Terserah nona ingin memanggilku dengan sebutan apapun yang di sukai anda,”
__ADS_1
“Hm. Panggil Aku Audi untuk seterusnya, kecuali di jika aku membutuhkan pengawal, kau boleh memanggilku Nona,”
“Evy, minta mereka untuk segera memindahkan ibu kak Leon ke ruang VIP dan segera lakukan operasi dan sediakan tempat tinggal untuk mereka,”
“Operasi?” tanya Leon.
“Iya. Operasi ginjal, karena anda setuju untuk jadi Bodyguard ku,"
“Terima kasih. Boleh aku tahu, siapa kamu? Pakaian anda biasa-biasa saja, tapi...”
“Hm. Aku sebenarnya tidak ingin di ketahui, tapi karena kak leon bekerja untukku. Maka aku akan mengungkapkan identitasku. Aku Tunangan dari Kim Dan penerus perusahaan K2,”
"Em. Aku merasa tersanjung, karena telah di tawarkan langsung oleh Nona Muda keluarga Kim, karena semalam agak gelap jadi aku tidak bisa melihat dengan jelas jika pria itu adalah Tuan Muda Kim,"
"Aku punya syarat, yang harus kak Leon setujui,"
"Syarat?" tanya Leon.
"Iya, syaratnya mudah saja, jangan mengkhianatiku. Jika ingin mengkhianatiku, katakan lebih awal, agar aku bisa bersiap diri," kata Audi dengan nada tegas.
Ada nada bicara penuh rasa dengan sebuah ke khawatiran di dalam perkataan Audi barusan, rasa kecewa, sedih, dan pengharapan yang bercampur aduk di dalamnya. Dia pernah merasakan tentang bagaimana dia khianati oleh orang kepercayaannya.
Pria itu menatap wajah Audi. Tadi kepribadian gadis itu begitu hangat, sekarang berubah dingin dan tegas. Namun di saat bersamaan ada rasa sedih dan kesepian di dalamnya.
"Mengapa kau ingin memperkerjakanku? Padahal kau takut jika aku mengkhianatimu,"
"Orang yang pernah di khianati tidak akan mengkhianat pada orang yang membantunya, tapi jika kak Leon ingin berada di pihak lain, lebih baik katakan padaku lebih dulu," kata Audi sambil tersenyum.
"Kau..."
"Hmmm... Sebenarnya ada seseorang yang ingin membunuhku," kata Audi. "Dan juga aku wajib punya seorang pengawal, Melihat profil milik kak Leon, aku rasa kakak pantas untuk menjadi pengawal pribadiku," kata Audi lagi sambil tersenyum.
"Pengusaha memang punya musuh yang tidak terduga," ucap Leon.
“Untuk sementara ini, aku tidak membutuhkan pengawal, namun aku ingin kak Leon mengantikanku untuk melakukan pekerjaan,” kata Audi.
“Pekerjaan?”
“Iya. Di garasi bawah aku sudah menyiapkan mobil, dan juga ini alamat tempat tinggalmu untuk sementara ini, seseorang akan datang setelah aku menelfonnya, dan akan menemani kak Leon. Sebaiknya Kak Leon segera ke rumah sakit untuk menemani ibu kak loen,” kata Audi.
Sebuah amplop berwarna cokelat di berikan oleh Audi pada pria itu. Ketika di bukanya isi amplop itu begitu terkejutnya pria itu, pekerjaannya begitu sulit seperti membunuh orang tanpa masuk ke dalam penjara.
Kim Dan sudah mendapatkan informasi apa yang di lakukan oleh Audi. Dia hanya tersenyum. "Gadisku mulai memperlihatkan kemampuannya," racau Kim Dan sambil melihat sebuah berkas.
"Kau benar-benar..."
"Dia tidak akan membuat keputusan yang salah lagi, karena dia sudah pernah berbuat kesalahan. Aku cukup membantunya dari belakang. Dia ingin menjadi seorang pebisnis atau memilih profesinya saat ini," kata Kim Dan.
Maona yang berada di sana, tidak mengerti tentang apa yang di bicarakan oleh kedua orang itu.
“Maona...” panggil Kim Dan. "Jika seseorang yang pernah di khianati kemudian membalas dendam, bagaimana menurutmu?"
"Jika itu adalah diriku, aku akan membalas berlipat-lipat kali rasa sakit itu," kata Maona.
"Hhhmmm... Temani aku makan siang...” kata Kim Dan. "Apa kau bisa menemaniku memilih sebuah hadiah? Aku tidak pandai memilih hadiah, apalagi untuk seorang wanita,"
Maona merasa senang di ajak oleh Tuannya itu untuk makan siang. Tentunya David juga ikut.
Audi datang ke lokasi syuting untuk menemui Joona.
__ADS_1
"Oh Kakak Ipar..." panggil Julian.
"Sttt... Jangan menyebutku seperti itu di sini," kata Audi memperingati Julian.
"Tapi..."
"Audi kau sudah sampai..." sebuah suara.
Joona mendekat ke arah Audi yang telah sampai itu.
"Kakak ipar mengenali gadis kasar ini?" tanya Julian sambil menunjuk kepada Joona.
Ada tatapan tidak suka di mata Julian. Begitu pula dengan Joona. Audi mencuri pandangan melihat masa lalu di antara mereka berdua, sayangnya Audi tidak bisa membantu menyelesaikannya saat ini.
"Kita bertemu lagi di sini Nona Audi..." sebuah suara dari arah belakang. Suara yang tidak asing bagi Audi.
Louis Choi, pria itu seperti hantu yang muncul di mana-mana. Audi melihat pria itu sejenak.
"Audi... Aku akan menemuimu lagi, aku harus kembali syuting," kata Joona.
"Kakak Ipar... Tunggu di sini ya, aku akan segera kembali setelah syuting..." kata Julian. "Bisakah kau mengelusku seperti terakhir kali?" tanya Julian penuh harap.
Pria itu begitu imut di mata Audi. Tatapan Audi melihat pria itu penuh dengan kasih sayang.
"Baiklah... Kau seperti anak kecil..." kata Audi sambil mengelus lembut rambut Julian.
"Uwaaa... Lihat gadis itu? Apa dia kekasih Julian Oppa?"
"Ayo ambil gambar..."
Wajah Audi memang tidak terlihat.
Begitu banyak fans yang berkerumun di sana, mereka tengah menyaksikan proses syuting dan menyemangati idolanya. Melihat perlakuan Audi kepada idola mereka, mereka ingin menerobos melihat siapa gadis itu.
Hanna berada di antara para pengemar itu. Ada sesuatu yang dia sembunyikan di dalam jaket miliknya. Tatapan matanya juga terlihat kesal, dan penuh amarah kebencian pada gadis itu.
Dia berlari ke arah Audi sambil mengeluarkan pisau, Louis yang melihatnya mencoba untuk melindungi Audi yang tidak menyadari hal itu, dan Louis lah yang menerima tusukan pisau di bagian kanan belakangnya.
Suara teriakkan terdengar...
"Pembunuhan..."
Ada yang berlari, ada yang berteriak, dan ada pula yang mereka kejadian itu.
Hanna enarik Piisau itu, karena tidak mengenai Audi. Julian yang telah menyadari itu, langsung melindungi Audi. Tusukan kedua pun Julian yang menerimanya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Louis yang masih sadar itu.
"Ka... ka... kalian tidak apa-apa? Luka kalian bagaimana?" tanya Audi, air mata kini berada di pelupuk matanya.
"Audi... Kenapa kau tidak mati..." teriak Hanna.
Pengawal pun berada di sana untuk mengamankan Hanna yang mengila.
"Audi..." teriak Joona yang baru saja sampai itu.
"Joona... mereka terluka.. mereka terluka..." kata Audi sambil menangis.
Julian menahan rasa sakit di bahu miliknya itu, pisau masih saja menancap di tubuhnya. Louis di bantu Audi untuk menghentikan pendarahan yang ada di tubuhnya.
__ADS_1
"Uwaa.. apa yang yang harus aku lakukan..." Audi menangis sejadi-jadinya, kedua orang itu terluka karena dia.
Louis melihat gadis itu, masih menyunggingkan senyumnya. Louis bisa menahan sakitnya, sedangkan Julian telah pingsan karena luka tusukan itu.