Something Lost

Something Lost
Kamu, adalah Takdirku!


__ADS_3

Sebuah foto di keluarkannya dari dompet miliknya. Seketika membuat Kim Dan terbelakak kaget, karena gadis di dalam foto itu adalah Audi.


“Jika kau tidak selingkuh di belakangku, aku tidak menikah dengan orang lain,” kata Hansen dengan suara lirih penuh keputusasaan.


Kim Dan hanya bisa mengepal erat tangannya. Dia belum pernah melihat gadis miliknya itu tersenyum seperti di foto itu. Mungkin, lebih tepatnya dia tidak ingin jika ada pria lain yang menyimpan foto milik Audi.


“Siapa gadis itu?” tanya Kim Dan tiba-tiba.


Hansen terkejut karena tidak menyadari sama sekali pria yang menghampirinya.


“Seekor rubah yang tidak bisa hilang dari ingatan,” kata Hansen. “Dia menghilang tiga tahun lalu,” kata Hansen lagi sambil menatap foto milik Audi itu.


Kim Dan mengerutkan keningnya.


“Dia mengelapkan dana perusahaan miliyaran rupiah,” kata Hansen. “Tapi bodohnya diriku, masih ada sebuah rasa di dalam hati,” kata Hansen tertawa kecut.


Kim Dan tengah berpikir tentang gadis yang tengah menjadi miliknya itu, bagaimana bisa gadis itu mengelapkan uang. Sedangkan hidupnya sederhana seperti itu. Hm.


“Aku penasaran dengan gadis yang menjadi tunangan anda, aku rasa pilihan anda adalah yang sempurna. Tapi, aku jamin tidak mengalahkan dirinya,” kata Hansen sambil kembali menatap foto Audi.


“Tidak mengalahkan apaan, itu bahkan dirinya yang menjadi tunanganku,” gerutu Kim Dan dalam hati.


“Dia gadis yang pendiam, namun di sengani oleh orang-orang, tatapan matanya begitu dingin, dia tidak ingin berbicara dengan banyak orang, tapi dia orang yang ceria pada orang-orang yang baik padanya. Aku akan memperkanalkan dirinya jika anda berada di negaraku,” kata Kim Dan. “Aku berencana akan segera menikah dengannya,” kata Kim Dan sambil tersenyum dan menyerup sisa wine di gelasnya.


“Jika kau tahu siapa tunanganku, kau mungkin akan sangat terkejut,” kata Kim Dan dalam hatinya.


Kim Dan menatap dingin pria yang memiliki foto Audi itu. Dia tersenyum dalam hatinya, ingin memberikan kejutan menarik keluarga itu.


Julian menghampri kakak sepupunya, ingin membahas tentang keinginannya agar segera mengikat gadis yang di sukainya itu secepatnya.


“Kau menyukai gadis itu?” tanya Kim Dan.


“Iya,”


Sebenarnya dia tidak ingin adiknya itu berhubungan dengan keluarga Anggara, apalagi adiknya jatuh cinta dengan adik Hansen yang menjadi rivalnya.


Sebuah deringan telfon di Ponsel miliknya.


“Kita bicara lagi nanti, sebaiknya kau pikirkan baik-baik apa kau benar menyukainya, atau apakah gadis itu gadis baik-baik,” kata Kim Dan sambil memperingatkan Julian.


“Pasti kakak ipar ya...” goda Julian.


Nomor yang dari beberapa hari ini dia tunggu-tunggu untuk menelfon. Setelah mereka telah berbaikan sebelum Kim Dan berangkat ke Indonesia. Akhirnya menelfon juga.


“Jika pulang. Tolong belikan rempah-rempah dari sana,” kata Audi saat Kim Dan menelfon.


Raut wajah yang bahagia saat mengangkat telfon, berubah datar. Dia tidak habis pikir gadis itu tidak merindukannya.


“Apa kau menelfonku untuk itu?”


“Tentunya tidak. Aku ingin mengatakan sesuatu saat kau kembali,” kata Audi sambil memasukan bahan masakan ke dalam panci.


Saat ini dia tengah memasak makanan.


“Sudah berapa lama kau tidak bertukar tubuh dengan Eldian?” tanya Audi.


“Dua minggu...” jawab Kim Dan.


“Setelah kembali, baru aku jelaskan tentang kondisimu,” kata Audi.


Audi tengah menikmati keindahan Seoul di siang hari di atas gedung perusahaan. Hyun Joo datang menemaninya karena telah di telfon oleh gadis itu. Pastinya, semua yang di lakukannya di ketahui oleh Kim Dan, karena Pria itu meminta seseorang mengawasinya.


Mereka jarang bertemu karena kesibukan keduannya. Audi berjanji untuk membantu Hyun Joo menyelesaikan kasus itu.

__ADS_1


“Aku penasaran tentangmu, kenapa aku tidak mendapatkan informasi apapun tentang dirimu, atau negara mana kau berasal,”


“Seseorang yang ku tolong membantuku,” jawab Audi. “Aku ingin hidup tenang di negara ini tanpa gosip. Tapi, sepertinya aku sudah masuk ke dalam hutan belantara,”


Awal kedatangan Audi ke Negara Gingseng itu agak unik, sudah lama dia tidak bertemu dengan pria yang membantunya itu selain kakek Joe. Pria yang berpengaruh di kedua negara, kedutaan besar Indonesia di Korea. Mungkin keberuntungan tengah berpihak padanya, walaupun Audi tengah berada di dasar jurang.


Dia masih ingat, bagaimana pria paruh baya itu di tolongnya menyelesaikan masalah yang telah bertahun-tahun di keluarga pria itu.


Itu adalah pertama kali Audi menolong orang lain mengunakan kemampuannya. Dan pria itu pun yang membantunya meredakan gosip tentang dirinya, dan hidup di negara gingseng dengan tenang.


“Jojo...” panggil Audi dengan nada lirih pada Hyun Joo mengunakan nama panggilan yang di berikan pada pria itu.


“Apa kau memikirkan sesuatu?” pria itu melihat sebuah kesuraman di wajah milik Audi.


“Em. Jika kau mengetahui tentang diriku di masa lalu, apa kau akan tetap menjadi temanku dan tidak jijik padaku?" tanya Audi sambil menunduk.


Nada bicara yang keluar dari mulut Audi penuh dengan kekhawatiran. Dia begitu takut, jika pria yang di anggapnya teman itu akan pergi meninggalkan dirinya.


“Apa kau takut jika kakakku dan keluargaku tidak akan menerimamu karena masa lalumu?”


Audi masih menundukan kepalanya. tiba-tiba kepalanya di usap dengan lembut oleh Hyun Joo.


"Sekalipun kakak dan keluargaku membencimu, kau masih memilikku berdiri dan membelamu,” kata Hyun Joo sambil tersenyum. “Dan juga mereka...” kata Hyun Joo sambil menunjuk ke arah mereka yang tengah menguping sejak tadi.


Audi tidak menyangka jika ada yang tengah menguping pembicaraan mereka. Yayan, linlin, Evye, Bok Joon, Aulia dan juga Hanna. Sejak awal, Hyun Joo tidak hanya datang sendiri namun dengan mereka semuanya.


Tatapan wajah Hanna tidak suka dengan sikap Hyun Joo pada Audi yang memperlakukan gadis itu dengan spesial.


“Bagaimana jika kita pergi ke bar malam ini?” tanya Evye.


“Jojo tidak bisa, bagaimana jika ke tempat karaoke saja?” Audi memberikan sarannya.


Hanna makin tidak menyukai Audi karena memanggil Hyun dengan sebutan Jojo, bahkan dia yang selama ini meyukai pria itu tidak pernah berani memanggil Hyun Joo dengan nama lain.


Di ruangan VIP, teman-teman Audi tengah bergembira sambil menyanyi penuh dengan semangat.


“Aku tidak enak badan, aku ingin pulang,” kata Hanna sambil mengambil tas miliknya dan pergi dari ruangan itu.


Linlin berjalan menuju toilet karena dia ingin buang air kecil.


Kriet!


Pintu toilet di bukanya, yang di dapatkannya sebuah pemandangan yang tidak baik. Tubuhnya bergetar hebat karena ketakutan melihat apa yang di hadapan matanya itu. seorang gadis tengah berdarah.


“Panggil Ambulance...” kata Audi dengan nada begitu pelan.


Dia menelfon Yayan memberitahu.


“Dokter.... dokter... dokter berdarah....” kata Linlin sambil tergagap.


“Apa yang kau bilang sih,”


“Ku bilang dokter di bunuh...” teriak Linlin.


Yayan terkejut, dan memberitahu kepada meraka yang berada di sana.


Darah menyebar di lantai, Audi tergeletak di lantai toilet tempat itu, sambil berlumuran darah. Audi masih sadar, semua orang datang melihatnya.


Hyun Joo datang memeriksa, dengan kesadaran yang sisa sedikit itu Audi membisikan sesuatu ke telinga Hyun Joo kemudian tidak sadarkan diri.


Ruang operasi dengan teman-teman Audi yang menunggu di depan pintu itu merasa was-was.


Ibu Kim Dan datang, begitu pula dengan Ketua Kim—Kakek Kim.

__ADS_1


Seorang suster keluar dari ruang operasi.


“Permisi, apa kalian keluarga pasien?”


“Iya,” jawab mereka serentak.


“Kami membutuhkan darah AB resus negatif,”


Semua orang tengah berpandangan, di antara mereka tidak ada yang memiliki golongan darah itu. hingga seorang pria datang untuk menawarkan dirinya memberikan darahnya untuk Audi.


Ketika Audi tengah berjuang di meja Operasi, Kim Dan mengetahui sebuah fakta yang lebih mengejutkannya.


“Aku dapat... Gadis itu, aku sudah tahu siapa gadis itu,” kata David sambil berlari ke dalam kamar Kim Dan.


“Apa yang kau dapatkan?”


“Gadis itu, gadis yang di gunakan untuk mengancammu dulu,”


“Siapa dia?”


tanya Kim Dan dengan sangat penasaran.


“Nona Audi...”


Kim Dan terkejut, sampai dia beranjak dari tempat duduknya.


“Apa kamu yakin jika gadis itu Audi?”


“Iya, aku yakin. Aku mencari tahu siapa kekasih dari Hansen yang sebenarnya, ternyata kekasihnya adalah Nona Audi. Karena malam itu, mempelai wanitanya di ganti oleh sahabat Nona Audi sendiri,”


Kim Dan seketika tersenyum, gadis yang kini berstatus tunangannya itu sudah lama memiliki jalan takdir dengannya.


“Siapkan penerbangan, aku ingin kembali sekarang. Aku akan mendaftarkan pernikahanku dengannya," kata Kim Dan sambil tersenyum.


"Kamu, adalah takdirku. Aku tidak akan melepaskanmu, aku akan membiarkanmu selalu di sisiku, saat ini, besok, dan seterusnya," kata Kim Dan membatin.


David melihat sahabat serta bosnya itu ikut tersenyum, seakan takdir baik tengah berpihak pada mereka.


Hingga deringan telfon membuat kebahagian itu buyar, ketika mereka di kabarkan jika Audi tengah berbaring di meja operasi karena tusukan pisau.


Di dalam pesawat pria itu begitu gelisah, sambil memandang sebuah hadiah yang akan di berikan untuk gadisnya.


“David, surat kontrak itu robek saja,” kata Kim Dan memberi perintah agar kontrak pertunangan dengan Audi di robek dan di bakar, agar tiidak jadi permasalahan di lain hari untuknya.


Hyun Joo begitu sibuk mencari keberadaan Hanna, dia yang mengambil kasus penyerangan yang terjadi pada Audi.


Audi tengah terbaring lemah di ranjang rumah sakit kamar VIP, setelah beberapa jam berada di ruang operasi.


Waktu sudah pukul 8, ketika dia membuka matanya, pastinya dia sadar jika dia berada di rumah sakit.


Audi benar-benar sial, begitu banyak sesuatu yang tidak baik tahun ini datang padanya, dan ini adalah kesekian kalinya dia masuk ke rumah sakit lagi.


Dia tidak mengira jika gadis itu, nekat menusuknya di tempat umum seperti itu. Audi mengaku jika dia memancing kemarahan Hanna, dan membuatnya tertusuk pisau.


Luka tusukan di perutnya agak besar, dan membuat ususnya di potong beberapa cm. Seorang pria menertawainya, dia adalah seniornya di rumah sakit membuatnya agak kesal.


“Sepertinya nasibmu tidak baik belakangan ini,” kata senior Audi.


Audi hanya mendengus nafasnya. Diapun berpikir, tidak ada yang mau terluka, bahkan masuk rumah sakit segala.


Bok Joon tengah kesal, dan memarahi gadis itu. audi hanya tertawa kecil, dia sungguh ingin ada orang yang mengomelinya. Sedangkan Aulia hanya menangis karena melihat Audi terluka.


Tingkah Aulia masih sama seperti yang Audi bayangkan, begitu manja. Bahkan, Audi tidak pernah bisa marah gadis remaja itu.

__ADS_1


__ADS_2