
Kehidupan tengah berpusat pada Audi. Seakan Audi adalah pusat kehidupan mereka. Segala masa lalu mereka berhubungan dengan Audi, dan semua masa kini berhubungan dengan Audi.
Masa tiga tahun serasa masa liburan bagi Audi, kini perlahan-lahan masa lalunya di ketahui, orang-orang yang paling di hindarinya akan segera menemukannya.
Dokter Alex, datang memeriksa kondisi Audi. Suasana di lantai bawah agak ramai, karena Joona tengah live streaming menyapa pengemarnya.
Audi membuka matanya, suara yang tidak asing di dengarnya tengah berbincang-bincang dengan Kim Dan. Waktu menunjukan pukul 8 malam. Entah telah berapa lama dia tidak sadarkan diri.
“Ugh. Dokter...” panggil Audi sambil berusaha untuk bangun.
Pria itu meneteskan air matanya, teringat sesi hipnotis Audi bebeapa tahun lalu yang membuat hatinya terenyuh untuk menolong gadis itu.
“Ah sial, mataku terkena debu,” kata Dokter Alex.
Audi hanya menunduk.
Dulu, ketika dia trauma, tidak ada seorang pun di sampingnya hingga membuatnya berusaha untuk bunuh diri karena tidak sanggup untuk menahan kekejaman dunia padanya.
Kini dia di temani oleh seorang pria yang setiap di membuka matanya wajah pria itu selalu di lihat olehnya. Bahkan melihat sisi menyedihkannya.
“Hampir saja membela kepribadian,” kata dokter Alex pada Audi.
“Sakitnya 8 dari 10,” kata Audi pada dokter Alex.
“Hm. Sepertinya begitu sakit,”
“Aku ingin terbiasa mendengar nama negara itu,”
“Tidak, kau akan kesakitan seperti tadi,” kata Kim Dan.
“Dokter, aku ingin melawan ketakutanku mendengar nama itu, aku tidak ingin ke kendalikan oleh rasa takutku sendiri,”
“Hm. Aku akan memberikan obat penenang padamu, jika kambuh kau bisa segera menyuntiknya ke tubuhmu,” kata dokter Alex sambil memberikan beberapa botal obat penenang. “Jika tidak berhasil. Resikonya fatal, kau akan membagi kepribadianmu,”
“Dokter, dulu aku hanya tidak berusaha untuk sembuh, dan bersembunyi, aku menjadikan rasa takut sebagai tameng. Seperti Kim Dan yang ingin sembuh, aku juga ingin sembuh. Jika bukan mulai saat ini, aku takut jika kehidupan besok berubah lebih mengerikan daripada saat ini jika aku terus-terusan bersembunyi,”
“Aku ingin sekali lagi mempercayai, sekali lagi ingin menantang diriku sendiri. Mempercayai, melakukan hal yang ku sukai, marah, dan jika aku di khianati aku akan hadapi dengan kekuatanku. Aku ingin menjadi besi, yang di bakar, dan di timpa agar membentuk sebuah alat,”
“Kau yakin?”
“Iya, aku yakin. Jika di khianati sekali lagi, tidak apa-apa, asal aku memiliki satu orang teman yang tidak mengkhianatiku itu lebih dari cukup,”
“Semua orang mencari takdirnya butuh pengorban yang tidak sedikit. Mungkin, masa yang lalu itu, adalah sesuatu yang harus aku korbankan,”
“Aku akan menjadi diriku sendiri, yang telah di timpa dengan ujian itu, aku cukup kuat saat ini,”
“Dan kau memilikiku...” kata Kim Dan tersenyum sambil mengelus lembut rambut milik Audi.
“Hmm... Tapi, apa kalian tidak terlalu kejam padaku?” tanya dr. Alex yang melihat mereka berdua tengah bermesraan.
“Percaya diri dan yakinkan kau punya mereka yang menemanimu, walaupun mereka akan mengkhianatimu suatu saat,”
Setelah beberapa saat kemudian, dr. Alex meninggalkan rumah Audi.
Kim Dan hanya menatap wanitanya itu. Dulu di lihatnya begitu tangguh, tapi ketika melihatnya lebih dekat, hampir sama seperti dandelion yang di terpah angin, begitu rapuh.
“Apa alasanmu takut kau akan berbuat hal merugikan perusahaan jika kau masuk ke dalam management perusahaannya, karena hal itu?”
“Iya,” kata Audi sambil melihat ke arah Kim Dan. “Hm. Kamu Eldean, bukan Kim Dan,”
Audi memandang pria itu dengan lama, dia baru menyadari jika pria itu bukanlah Kim Dan melainkan Eldean.
“Sejak kapan kau menyadarinya?” tanya Eldean.
“Baru saja,”
“Aku yang membawamu ke kamarmu, mereka tidak menyadarinya,”
“Kau kenapa tidak muncul,”
__ADS_1
“Apa Kim Dan yang mengatakannya padamu? Aku, beberapa kali mengantikannya saat berada di Indonesia kok,” kata Eldian.
Eldean menyebut Indonesia, namun respon Audi tampak tidak seperti sebelumnya.
“El, coba sebut nama itu lagi,”
“Nama siapa?”
“Negara tadi, coba sebut lagi,”
“Indonesia?”
“Iya, sebut lagi...”
“Indonesia... Indonesia... Indonesia...” kata Eldean mengulang lagi-dan lagi kata-kata itu.
Audi tertawa dia tidak merasakan tubuhnya bergetar dan kepalanya sakit.
“Aku... aku... aku tidak lagi merasa tersiksa...” kata Audi sambil memeluk Eldean.
Mereka yang berada di bawah, mendengar tawa Audi datang ke atas, dan melihat pemandangan yang membuat mereka canggung, jika Audi dan pria yang berambut perak itu lagi berpelukan.
“Sepertinya kami masuk di saat yang tidak tepat,” kata David sambil pelan-pelan akan menutup pintu.
“Tidak, kalian datang tepat waktu,” kata Audi.
David tengah berpikir, bagaimana datang di waktu yang tepat, sedangkan mereka datang dan melihat kemesraan. Apalagi bosnya tengah melihatnya, bisa-bisa dia mendapatkan omelan dari pria itu.
“Amandia Joona, coba sebut negara itu...” kata Audi sambil tersenyum.
“Ee.. kau baru saja...” belum selesai Joona ingin mengatakan apa yang akan di katakannya, sudah di potong oleh Audi.
“Cepat... coba sebut...” kata Audi dengan semangat.
“Apa tidak masalah?” tanya Joona.
“Ayolah... coba kalian yang menyebutnya...” pinta Audi.
“Iya, Indonesia... sebut lagi,” kata Audi..
“Indonesia...” kata Evye.
“Lagi... lagi... sebut lagi...”
“Indonesia...” kata Leeana.
“Aku benar-benar tidak seperti sebelumnya,” kata Audi.
“Aku lihat, kau tidak takut lagi,” kata Joona sambil memeluk Audi.
“Kau sembuh, kau benar-benar melawan ketakutanmu,”
Audi mengangguk di dalam pelukan Joona, sedangkan mereka yang berada di sana ikut tersenyum bahagia, dengan kabar itu.
Aulia datang dan memeluk Audi sambil menangis. Apakah ikatan batin gadis kecil itu begitu sangat dekat dengannya? Sampai, air mata Aulia tidak pernah berhenti melihat Audi yang belum juga tak sadarkan diri.
Malam yang cukup panjang, dan bahagia. Audi masih saja menyuruh Eldian untuk menyebut nama itu. Sampai, Audi capek dan lelah hingga membuatnya tertidur. Eldean pun ikut tidur di atas kursi di dekat ranjang milik Audi. Beberapa saat setelah pria itu terlelap, Kim Dan kembali dan melihat gadis miliknya tengah tertidur.
Suara kicauan burung terdengar, matahari telah menyinari sebagian dataran di bumi.
Kim Dan terlihat tengah tidur di samping Audi, tepatnya di ranjang milik Audi dan tengah memeluk gadis itu.
Audi membuka matanya, merasa jika ada sesuatu yang tengah memeluknya, begitu terkejut gadis itu melihat wajah Kim Dan tengah berhadapan dengannya.
“Uwa....” pekik Audi sambil menendang Kim Dan dan memeriksa pakaian miliknya.
“Auw... Apa kau tidak bisa tidak menendangku,”
“Apa yang kau lakukan padaku?”
__ADS_1
“Tidur denganmu...”
“Kau... Dasar mesum...” teriak Audi membuat mereka yang menginap di rumah Audi membuka kamarnya dan melihat pemandangan yang tidak seharusnya di lihat.
Audi yang tengah di tutup mulutnya oleh Kim Dan, agar tidak berteriak.
“Silahkan lanjutkan...” kata David sambil kembali menutup pintu kamar milik Audi.
Audi menggigit tangan Kim Dan.
“Kau menyebalkan, mereka salah paham jadinya," kata Audi mendorong Kim Dan.
Pria itu hanya tersenyum, seakan dia menyukai jika mereka yang melihatnya, salah paham dengan yang mereka lihat.
Joona menyiapkan saran, sedangkan Audi duduk diam dan menikmati makanannya, mereka menatap Audi dengan tatapan aneh.
“Jika kalian tidak ingin makan, aku makan semuanya milik kalian,” kata Audi.
Kim Dan baru saja keluar dari kamar Audi, pria itu baru selesai mandi. Dia agak kesal melihat Audi tidak melihat ke arahnya.
Kim Dan tersenyum sambil duduk dan mengambil makanan miliknya.
“Aku sangat lelah setelah beraktifitas semalaman,”
Semua orang yang mendengar langsung terkejut termasuk Audi.
“Sungguh aktifitas panas yang membuatku lelah,” kata Kim Dan.
Audi menatap Kim Dan dengan penuh kekesalan.
“Memangnya apa yang terjadi kenapa kak Kim Dan lelah?” tanya Aulia dengan polosnya.
“Kim Dan, kau...” Audi tengah membatin sambil menggepal erat tangan miliknya.
“Aku sudah selesai makan, aku harus ke kantor,” kata Hyun Joo.
“Aku juga,” kata Joona, sambil menarik tangan Aulia. “Kau sebaiknya ku antar ke kampus,”
“Tapi, aku belum selesai,”
“Nanti ku belikan makan di jalan,”
“Kak Audi, harus datang ya sebentar ada Seminar,” kata Aulia menghilang dari balik pintu.
Satu persatu orang pergi meninggalkan meja makan.
Pria yang tengah bersama Audi itu membuat orang-orang salah paham dengan apa yang tengah terjadi.
“Kim Dan, kau...”
Kim Dan hanya tersenyum sinis menikmati sarapannya. Audi menahan emosinya. Menghempaskan nafasnya, kemudian mengaturnya agar tidak emosi pada pria yang tengah menjahilinya itu.
“Jadi tuan Kim Dan, saat aku tidur naik di kasur seorang perempuan yang lagi tidur,” kata Audi sambil menggoda Kim Dan membuat Kim Dan tersedak.
“Ini minumnya,” kata Audi dengan lembut sambil menyodorkan segelas air putih. “Hati-hati tersedak makanan lagi karena melihatku,” kata Audi membuat Kim Dan menjadi blushing dan memalingkan wajahnya ke samping.
“Kau...”
“Apa yang ingin Tuan muda katakan? Apa Tuan ingin sarapan lembut dariku? Sarapan ciuman misalnya,” kata Audi dengan sambil menatap pria itu.
Kim Dan, menghentikan sarapannya, dia tidak tahan dengan pesona gadis yang ada di hadapannya itu. Gadis itu kembali menjahilinya.
Pria itu berusaha untuk mengontrol dirinya, seketika beranjak dari tempat duduknya dan akan berangkat ke kantor.
“Kim Dan—ssi, kau meninggalkan sesuatu,” kata Audi sambil berlari ke arah Kim Dan.
Cup!
Sebuah ciuman mendarat di pipi kiri milik Kim Dan.
__ADS_1
“Kau melupakan sarapan pagimu,” kata Audi sambil meninggalkan pria itu yang masih terdiam di depan pintu.
Astaga, gadis itu membuat hatinya berdetak tak menentu. Pipinya merah merona keluar dari restoran milik Audi.